Mencicipi Kopi Wonosobo (Part 1)

Pagi ini (20/7/2017) saya mendapat kiriman dua bungkus roast bean kopi dari saudara Akhmad Zaen. Beliau menghubungi tim minumkopi untuk mencicipi kopi hasil roasting manualnya. Saya bersyukur mendapat kesempatan pertama mencicipinya.

Grinder manual sebagai alat menggiling roast beans kopi Wonosobo @ Rizki AS

Saya buka kemasan kopi polos berwarna coklat terang kirimannya. Sleeeenng, bau wangi menyerbak hidung saya. Satu kantong wangi cokelat, satu lagi wangi bunga. Saya tak bisa menjelaskan bunga apa yang wanginya mirip kopi ini. Saya lantas mengambil grinder manual di tempat persembunyian rahasia saya. Grinder manual yang langsung rusak karena saat awal beli saya langsung menghajarnya dengan menggiling kopi setelan espreso, halus sekali. Saya harus menunggu beberapa bulan untuk mendapatkan burr, dan gerigi grinder sparepart pengganti. Akibat kejadian ini, saya menggiling kopi perlahan-lahan, dimulai dari setelan kasar hingga paling halus.

Roast Bean Kopi Wonosobo yang dikirim oleh kawan Wonosobo @ Rizki AS

Kopi pertama yang saya cicipi adalah kopi bulat kecil, bundar tidak lonjong, berwarna coklat kehitaman, berbau wangi cokelat dan ada sedikit bau mentega. Kamu gak tahu jenis kopi yang saya maksud ini, silakan googling sendiri yah. Buka Mozilla anda, ketik Google, lalu masukkan kata: kopi bulat kecil, bundar. Tet, anda akan ketemu banyak jawabannya.

Lanjut kerja. Saya giling beberapa kali dengan sangat berhati-hati, ya, harap maklumlah, saya takut grinder rusak lagi. Menunggu adanya sparepart pengganti grinder ini tuh lama beud.

Kopi sudah saya rasa pas untuk diseduh dengan french press alias plunger. Hari ini saya bangun terlalu pagi, dan sudah menghabiskan 300 ml kopi tubruk. Mencicipi kopi kiriman ini dengan tubruk, bisa modyar perut saya. Maka dari itu saya memilih menyeduh dengan french press.

Hasil gilingan grinder manual, saya giling sebanyak tiga kali dari kasar sampai ukuran medium @ Rizki AS

Sembari menunggu waktu selama 4 menit saya bekerja produktif dengan aktivitas memandang ampas kopi turun ke bagian bawah plunger. Sebuah pekerjaan menyenangkan. Lewat 4 menit, saya tekan plunger, dan saya tuang dalam gelas keramik kecil. Cangkir putih khas gelas ngopi di warung Jawa Timuran. Sayangnya gagang pegangannya masih lengkap, belum sempat saya tugel.

Seduhan kopi, berbau wangi, ada aroma anggur dan kacang-kacangan. Warna seduhannya tak terlalu hitam dop. Masih berwarna coklat gelap. Duh, penggambaran warna saya sungguh buruk, untung muka saya sedikit lebih baik.

Sruput pertama, rasanya kurang. Saya seruput lagi tiga kali. Kopi ini manis, padahal gak ada gula. Tak ada pahitnya, kecut pun enggak. After tastenya manis. Saya menunggu beberapa menit, agar suhunya sedikit mendingin. Saya sruput lagi. Ada sensasi berbeda, kini after tastenya berubah, menjadi sedikit pahit, manisnya masih terasa. Ini lidah saya kenapa sih. Saya tunggu beberapa menit kemudian sruput lagi. Rasanya kini sedikit kecut, aftertastenya pahit menyenangkan. Menyenangkan karena rasanya pahitnya tak seperti mengemut tablet parasetamol.

Saya penasaran, ingin tahu asal kopi yang saya cicipi. Saya langsung menjapri si pengirim, Akhmad Zaen. Balasan yang saya tunggu akhirnya…….(bersambung ya)

Saat dingin, kecutnya terasa kuat, aftertastenya pahit. Sensasi rasa yang saya bagikan ini tidak bisa menjadi patokan loh ya, karena setiap lidah punya kemampuan merasakan hal yang berbeda dengan yang saya rasakan. Lha, gimana, saya minum wiski aja berasa asin padahal gelasnya gak dikasih garam. Eh…

Pisang Goreng (gosong) Tanpa Kepalsuan

Sebelum tidur di waktu dini hari saya biasa makan remeh. Makan makanan ringan, kadang Indomie, kadang telur matang, atau juga buah. Semuanya tanpa nasi. Ya kalau pakai nasi bukan makan remeh, tapi makan ramah. Yha, ramah, Ra mashooook! Hmmm, apa sih. Kebetulan dua hari lalu, entah ada setan atau memang Kepala Suku sedang baik-baiknya. Saya dibikinin makanan remeh. Berikut percakapannya:

PEA: Sek Kik, ojo turu sek, tak masakno pisang goreng.

Iya mas. Ini lagi mbalesi chat para fans.

PEA: Guayamu Kik. Tak masakno spesial gawe kon mbek Adit.

Ok mas, ojok suwe-suwe loh. Seng penting enak rasane.

Kebetulan malam itu saya dan Adit sedang lembur tak bisa tidur. Dan PEA tentu saja baru bangun tidur dan merasa ngelih. Sebuah dalih untuk menutupi laparnya ia membuat makanan untuk saya dan Adit.

Pisang Goreng Tanpa Kepalsuan Foto oleh @Aditia Purnomo


PEA: Ini namanya “Pisang Goreng Tanpa Kepalsuan”, digoreng tanpa tepung, susu, apalagi campur gula. Coba kalian rasakan nanti yah.

Setelah hampir setengah jam menunggu, makanan tersebut jadi juga. Saya dan Adit yang baru pertama melihatnya langsung ngakak kemekelen.

Iki pisang goreng tanpa kepalsuan, opo pisang goreng tanpa dibalik mas. Kok gosong kabeh ngene.

PEA: Dasar cah udik. Iku ancen ngono Kik, Dit. Itu bukan gosong, tapi gulanya keluar dan hampir jadi karamel. Coba rasakno disik.

Saya dan Adit melongo, manggut-manggut, ini ini beneran apa yah?

Saya ambil yang gosong satu, Adit juga ambil satu. Masih panas berkebul, saya tak sabar dan menggigitnya. Rasa isinya memang manis, namanya pisang kan manis toh. Tapi gula karamel yang gosong itu rasanya pahit, tetap pahit. Gak ada rasa gula, apalagi karamel. Saya diam saja, Aditpun demikian.

Karena masih panas, saya dan Adit butuh waktu 10 menit menghabiskan satu pisang goreng gosong tersebut.

Setelah habis, saya dan Adit mau mencoba lagi yang tidak gosong.

Bajingan! Baru sedilut kok wis entek ngene pisangnya Dit?

Piring pisang yang semula ada 8 buah, habis tak bersisa. Hanya ada remahan-remahan gosong yang tertinggal. Cen asuuuog.

Adit: Ya gak tau mas, saya makan satu yang gosong pula.

Sementara itu di sudut dekat jendela kantor, PEA menghisap rokok dalam-dalam sambil senyam-senyum sendiri.

Besok-besok saya mau kasih kepala suku: “kopi tanpa kepalsuan”. Biji kopi dikremus langsung tanpa air, gula, susu dan juga tanpa gelas. Kapan-kapan kubikinin kopi ini ya mas. Penak rasanya mas. Cobaen.

Memangkas Jalur Distribusi Kopi

Secara teori, semakin ke hilir memasarkan komoditas pertanian maka semakin banyak nilai tambah yang diperoleh petani. Namun, tidak mudah mewujudkan praktek perdagangan yang demikian. Kebanyakan petani terkendala dengan kurangnya informasi tentang pasar, pengolahan hasil panen yang sederhana, serta kuantitas produksi yang sedikit, sehingga mereka memilih memasrahkan hasil produksinya kepada tengkulak.

Tetapi sekarang, dengan berkembangnya teknologi informasi melalui internet, membuat kesempatan untuk menjangkau konsumen menjadi lebih mungkin dilakukan oleh petani.

Keluarga Surata, petani kopi di Bondowoso, bisa menjadi salah satu contohnya. Produksi kopi arabika Ijen-Raung miliknya tidak hanya dipasrahkan kepada distributor yang datang ke daerahnya. Tetapi, ia juga memasarkan produk kopinya, yang bermerek Nurtanio Coffee, langsung kepada konsumen di luar daerah.

Jika biasanya distributor mengambil biji kopi basah, kini ia bisa memasarkan dalam bentuk bubuk kopi yang siap diseduh oleh konsumen di hilir. Untuk melakukan penjualan ini, Surata dibantu oleh anaknya yang lulusan STIKOM Surabaya, Haris Nurtanio (24 tahun), dalam memasarkan produk Nurtanio Coffee.

Haris mulanya menjual kopi dari pintu ke pintu, ke instansi-instansi lokal di daerah Bondowoso dan sekitarnya. Namun karena saingan dalam pemasaran ini terlalu banyak, dan tingkat keterjualan produknya relatif sedikit, Haris kemudian mencoba memasarkannya via internet.

Haris memasarkan Nurtanio Coffee dengan menggunakan marketplace online, Bukalapak dan Tokopedia.

Tim-Ekspedisi-Kopi-Miko-bersama-Haris-Nurtanio

Tim Ekspedisi Kopi Miko bersama Haris Nurtanio

Menjual kopi lewat online. Hanya sedikit petani yang sanggup dan berani melakukannya. Berbekal ilmu yang diperolehnya di bangku kuliah, Haris memanfaatkan jalur ini. Ia paham jangkuan pemasaran ini justru lebih luas. Serta ia tidak harus berkeliling untuk memasarkan produk kopinya.

“Pesanan datang sendiri. Tidak rumit pula karena ongkos kirim pun sudah dihitungkan,” terangnya.

Seiring dengan waktu Kopi Nurtanio mulai mendapatkan pasarnya. Beberapa kedai kopi dan konsumen penikmat kopi mulai teratur memesan Nurtanio Coffee.

Seperti tanaman, pohon yang dirawat akan tumbuh dengan lebih baik. Demikian pula Haris mencoba memperlakukan pelanggannya. “Kualitas kopi harus terjaga. Juga stok harus tersedia sepanjang tahun,” katanya.

Dalam seminggu, Nurtanio Coffee terutama jenis Blue Mountain mampu terjual 50 bungkus dalam kemasan 175 gram. Perlahan tapi pasti, penjualan Nurtanio Coffee terus meningkat. Dalam sebulan, Haris kadang mampu menjual produk kopinya sebanyak 300 bungkus kopi.

Sembari menunggu pesanan kopi datang di lapak onlinenya, Haris masih bisa mengajar kelas multimedia dan menjalankan Nurtanio Music Studio and Coffee House yang baru dibukanya akhir Juli lalu di Jalan Kolonel Sugiono No 33, Bondowoso. Di malam hari, sebelum pukul 21.00 WIB, ia akan mendatangi jasa pengiriman untuk mengirimkan pesanan kopi kepada pelanggan.

banner-ekspedisi-kopi

Ekspedisi Kopi Miko 2016

Tulisan ini pertama kali ditayangkan di sini.