Press Kraby Patty

            Salam Super! Sahabat-sahabatku yang super, kembali lagi saya hadir di hadapan anda sekalian untuk saling berbagi, menyelesaikan semua permasalahan anda dengan jawaban-jawaban dan solusi yang super.

Tentu anda agaknya kenal dengan salam pembuka tersebut, para pencinta motivasi, yang hidupnya perlu untuk di motivasi, kurang motivasi, galau berat, pastinya akan tahu tayangan apa yang saya maksud. Saya disini bukan bermaksud menceritakan tayangan tersebut, apalagi sang motivatornya. Sebab saya jarang nonton tayangan tersebut dan tentu saja saya tak kenal dengan sang motivator. Refleksi, motivasi serta ilmu bisa didapatkan dimana saja, barangkali dengan membaca sebuah buku, koran, tabloid, menonton televisi, film, video ataupun barangkali juga bisa dengan melamun dan bersemedi. Saya termasuk orang yang suka akan semua hal yang tersebutkan diatas, kecuali semedi tentunya. Judul tulisan ini yang akan saya ceritakan kepada anda sekalian, adalah tentang cerita dunia Bikini Bottom. Mari kita mulai!

Karakter-karakter di dunia bikini bottom

Karakter-karakter di dunia bikini bottom

Mr.Krab, orang kaya nan pelit yang selalu merasa kekurangan uang memikirkan cara untuk menambah pemasukkan restoran Kraby Patty miliknya dengan membuat sebuah iklan di koran. Saking pelitnya iklan yang ia bikin hanya berukuran super mini, ukuran 3×3 layaknya sebuah foto KTP. Ia lalu mengecek apakah iklan tersebut berhasil menarik pengunjung restoran semakin banyak. Jawabannya ternyata tidak. Koran tempat ia menaruh iklan adalah koran yang tak laku dibaca oleh warga Bikini Bottom. Ada satu koran favorit yang sangat laris manis, karena menyajikan berita-berita picisan tentang kehidupan bikini bottom. Mr.krab akhirnya tertarik untuk membuat iklan di media tersebut, ketika membaca tarif pemasangan iklan, ia terkejut bukan main dengan harga iklan yang sangat mahal. Dari sini ia mendapat ide yang lebih baik.

Idenya adalah membuat perusahaan Press Krabby Patty. Pelanggan restoran tersebut sembari makan dan minum dapat juga membaca kabar berita lewat koran Krabby Patty, dan ini juga menambah untung buat Mr.Krab. alhasil, ide ini langsung terealisasi keesokan harinya, si koki Spongebob Squareplants didapuk sebagai wartawan surat kabar Krabby Patty. Spongebob tentu senang sekali menerima tawaran ini, ia pun diberi kartu identitas wartawan oleh Mr.Krab lengkap dengan tustelnya. Spongebob pun senang bukan kepalang, namun ia bingung harus menulis apa di hari pertamanya kerja sebagai seorang wartawan. Mr krab lalu berpesan agar Spongebob mengamati segala fenomena yang terjadi di depan matanya, rekamlah dengan teliti lalu tuliskan menjadi sebuah berita.

Spongebob pun akhirnya berjalan menuju pusat kota. Ia mengamati segala macam fenomena yang terjadi disekelilingnya. Tepat di depan matanya ada pencurian, perampokan, pemukulan, pengrusakan properti milik orang lain, pembakaran toko, tak satupun ada yang ia catat. Ada alien sedang menangis disamping tong sampah juga tak ia catat. Lalu ia melihat sahabat karibnya si Pattrick sedang berdiri di samping tiang halte bus. Spongebob pun lalu menghampirinya, ia merasa ini adalaha berita bagus untuk korannya, lalu ia mewawancarai si Pattrick. Ia bertanya; apa yang sedang kau lakukan disini warga bikini bottom yang budiman, apakah kau sedang menunggu bus untuk berjalan-jalan? Lantas si Pattrick menjawab, tidak, aku hanya sedang mengamati tiang halte ini, apakah ia bergoyang ketika ada bus melintas didepannya.

Keesokkan harinya Mr.Krab datang untuk melihat perkembangan bisnis surat kabarnya. Ia terkejut setengah mati melihat tak ada satupun koran yang terjual, lantas ia berusaha menawarkannya pada pelanggan restorannya, namun tak ada satupun yang berminta, sebab berita yang disajikan tidak menarik. Lantas ia segera membaca headline berita tersebut, tertulis; “Warga Kota Bikini Bottom Berdiri di samping Tiang Halte” dengan foto Patricck berdiri di samping tiang halte. Marah bukan kepalang, Mr.Krab berteriak memanggil Spongebob si wartawannya. Ia bertanya, kenapa kau menuliskan berita seperti ini, tak menarik sama sekali. Lantas aku harus menuliskannya seperti apa, tanya sang wartawan. Mr Krab menjawab tuliskan berita-berita tersebut dengan menggunakan imajinasimu yang liar, seperti ini contohnya. Mr.Krab lalu mengoret-oret cover headline berita tersebut dan menggantinya menjadi; “Warga Bikini Bottom mengawini tiang halte” dengan gambar Pattrick merangkul tiang halte lengkap dengan pakaian pengantin. Spongebob pun akhirnya mengerti apa yang diajarkan Mr.Krab. Ia pun lantas bekerja mencari berita.

Di tengah perjalanan ia mengamati Lobster merah kekar (saya lupa namanya) sedang berjalan-jalan, ditengah jalan ia bertemu seseorang yang jauh lebih pendek dari dirinya ingin sekali memukul perutnya yang kotak-kotak nan berotot. Sang lobster pun memberi ijin. Setelah dipukul sang lobster tak merasa kesakitan, tepat pada saat momen tersebut Spongebob memotretnya. Dan menuliskan judul; “Pria terkuat kalah hanya dengan sekali pukulan”. Tak disangka korannya laris habis terjual. Sang bos senang bukan main, Spongebob pun disuruh menulis berita yang lebih hebat lagi. Ia menulis sahabatnya Sandy si beruang coklat sebagai seseorang dengan otak yang sangat bodoh dan ia mendapatkan semua penghargaannya dengan cara curang. Berita tersebut juga laris bukan kepalang. Sang bos kembali senang bukan main, sang wartawan disuruhnya lebih giat untuk berimajinasi dalam menuliskan berita. Lantas Spongebob pun menulis berita tentang Plankton –si musuh sejati Mr.Krab–, ia menuliskan bahwa Plankton menggunakan cara-cara tak terpuji dalam menjalankan bisnis restorannya. Berita ini pun mendapatkan hasil yang luar biasa banyak untuk koran Krabby Patty, yang membuat ruang kerja Mr. Krab penuh dengan uang. Mr.krab senang luar biasa hingga ia tidur diatas tumpukan uang yang diperolehnya. Lain dengan Spongebob yang merasa bersalah atas apa yang dituliskannya dalam koran Krabby Patty.

Mr.krab tak tahu bahwa sang Lobster sekarang dilarang masuk ke gym, tempatnya berolahraga, ia tak diterima di komunitas orang kuat dan kekar. Sahabatnya Sandy si beruang coklat, semua penghargaanya disita oleh kepolisian. Restoran si Plankton disegel dan ditutup oleh pihak kepolisian untuk selamanya. Kegundahan ini melanda hebat Spongebob si wartawan koran Krabby Patty. Ia pun memutuskan untuk kali terakhir ini aku akan menuliskan berita yang benar-benar sesuai fakta dan tak dilebih-lebihkan.

Keesokan harinya Mr.Krab datang dengan wajah riang masuk ke restoran yang juga tempatnya menjalankan bisnis koran. Ia terkejut dengan begitu ramainya orang-orang yang sedang berdemo sambil membawa-bawa koran Krabby Patty yang digulung hingga berbentuk pentungan. Ia pun lantas maju ke hadapan para pendemo serta memanggil Spongebob untuk menjelaskan apa yang terjadi. Lantas Spongebob menyuruh Mr.Krab untuk membaca koran hari ini. Headline beritanya; “Wartawan Koran Dibayar dengan Upah tak Rasional” isi beritanya menjelaskan bahwa koran Krabby Patty adalah koran yang menuliskan berita-berita bohong demi mendapatkan hasil yang berlimpah, sang wartawan dipaksa kerja keras hingga diluar jam kerjanya, rewards kerja tak dibagi kepada sang wartawan, digaji dengan sangat rendah pula.

Warga Bikini Bottom yang berdemo tersebut marah bukan main kepada pemilik koran Krabby Patty Mr.Krab, satu-persatu warga yang dirugikan oleh berita bohong koran tersebut meminta ganti rugi. Mr.Krab panik dan ketakutan luar biasa. Warga yang mengamuk akhirnya mendobrak pintu ruangan kerja Mr.Krab untuk mengambil kembali uang hasil penjualan koran Krabby Patty hingga hanya tersisa selembar saja. Mr.Krab mengaku bersalah dan meminta maaf pada Spongebob. Mr.Krab dengan langkah lesu memungut sisa selembar uang tersebut dan memandang mesin percetakan korannya. Tiba-tiba ia mendapatkan akal. Daripada mesin ini ngganggur tidak dipakai lagi untuk mencetak koran lebih baik kugunakan saja, pikirnya. Ia pun menaruh selembar uang tersebut di mesin percetakannya dan dicetaklah berlembar-lembar uang berukuran koran, Mr.Krab tertawa terbahak-bahak, ia senang bisa kembali lagi mendapatkan uang banyak hanya dengan modal selembar uang sisa tersebut. Koran Krabby Patty akhirnya tak berproduksi lagi, sebab mesin percetakannya sekarang digunakan untuk memproduksi uang.

Ceritanya habis sampai disitu, para penggemar serial Spongebob Squareplants tentu tahu episode yang saya maksudkan ini. Serial kartun yang ditujukan buat anak kecil dan remaja menyajikan tayangan yang tak selamanya datar-datar saja, hanya membuat penonton tertawa dan terhibur, melainkan ada maksud-maksud yang disampaikan. Barangkali saya masih tetap percaya dengan kekuatan komedi. Kartun-kartun komedi bagi saya semacam melihat dunia yang ideal; dimana semua masalah dapat terselesaikan sambil tertawa tak perlu terlalu serius.[]

Advertisements

Menyatu dengan Alam

            Charles Robert Darwin pernah menggemparkan Dunia dengan teori evolusi manusia. Dalam buku: “The Origin of Species”, Darwin menjelaskan tentang bagaimana mahluk hidup dapat hidup (teori evolusi) dan berkembang biak, serta teori tentang alam. Salah satu yang menggemparkan adalah hipotesisnya yang mengatakan bahwa manusia adalah binatang yang rasional. Beberapa contoh yang digambarkan dalam buku tersebut memuat bahwa manusia adalah evolusi dari kera.

Saya baru mengetahui buku ini (The Origin of Species) dan mengenal Darwin dengan lebih akrab ketika duduk di bangku perkuliahan. Agak terlambat memang. Saya akui! Semenjak menjalani bangku sekolah: SD, SMP hingga SMA, buku-buku Ilmu Pengetahuan Alam tak cukup lengkap untuk menceritakan tentang sejarah dan sedikit latar belakang penemunya. Barangkali hanya teori yang dikemukakan si penemu yang paling penting. Agaknya ini yang membedakan ilmu pengetahuan dengan filsafat.

Untungnya saya hidup di era modern, di mana informasi dapat dengan mudah didapatkan. tak perlu susah untuk berjalan ke pusat informasi tersebut, tinggal menghidupkan komputer dengan jaringan internet dan klik informasi yang dicari dapat langsung kita dapatkan. Mungkin tak hanya informasi saja yang bisa kita dapatkan dengan hanya sekali klik, melainkan seluruh kebutuhan hidup manusia dapat terpenuhi tanpa harus keluar keringat dan keluar rumah. Ketika lapar dan haus tinggal pesan lewat telepon dan layanan pesan-antar siap membantu. Pendidikan, tak perlu lagi menyekolahkan anak ke instansi negeri atau malah swasta, tinggal bayar guru privat semua sudah teratasi. Hubungan manusia dengan manusia (Relasi sosial) makin lama makin pudar, apalagi hubungan manusia dengan alam. Agaknya ketika manusia sudah merasa nyaman dengan hidupnya, ia tak lagi peduli dengan sekitarnya.

Saya masih ingat ajaran guru IPA saya tentang adaptasi. Dan manusia adalah mahluk yang menduduki hirakri puncak diantara mahluk hidup lainnya yang mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya, dengan alam. Pengertian ini agaknya bermakna negatif. Menaklukkan alam juga bisa dimaknai sebagai proses adaptasi manusia. Jadi bisa dikatakan wajar jika jumlah lautan semakin sedikit, karena pertumbuhan manusia semakin meninggi. Jadi wajar pula jika jumlah hutan, lahan pertanian, cagar alam digantikan dengan perumahan, gedung-gedung hingga pabrik-pabrik. Ketika itu semua terjadi, keseimbangan alam tentu saja terganggu. Indikator yang paling mudah kita lihat adalah perubahan iklim yang tak lagi dapat diprediksi. Ketika ini semua terjadi, bencana-bencana alam mulai menghampiri dan mengancam kepunahan manusia. Mungkinkah manusia dapat mengalami kepunahan akibat rusaknya alam? Sangatlah mungkin itu terjadi. Contohnya sudah banyak di depan mata kita. Udara terlampau dingin di Eropa, maraknya angin puting beliung di Indonesia, berkurangnya dataran es di kutub utara, adalah segelintir contoh nyata kalau alam sudah benar-benar tak dapat dikendalikan oleh manusia.

Masih ada Harapan

            Tentu saja, tak semua teknologi itu berpotensi merusak alam. Banyak juga yang mampu digunakan untuk memprediksi kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di alam. Teknologi tersebut dapat dimanfaatkan demi keberlangsungan hidup manusia serta terciptanya keseimbangan alam. Manusia (masyarakat) memegang peranan penting demi terciptanya hal tersebut. Tak bisa dipungkiri, masalah yang mendera masyarakat saat ini tak hanya soal lingkungan saja. Ada kemiskinan, putus sekolah, masalah kesehatan, upah yang tak rasional dan banyak lagi hal yang membuat hak-hak dasar (hak asasi) manusia masih jauh dari harapan. Undang-undang  yang dibuat oleh negara yang menyangkut hak asasi manusia, baik itu UUD 1945, dan UU yang diperuntukkan demi kemaslahatan bersama masih jauh dari harapan. Cita-cita mulia dalam peraturan tersebut hanya tertulis rapi tanpa ada implementasi di lapangan.

Perlu adanya kesinambungan antara negara dan masyarakat untuk menjalankan amanah yang tertulis dalam undang-undang tersebut. Khususnya berkaitan dengan hak-hak asasi manusia. Salah satu undang-undang yang masih jauh dari harapan tersebut adalah UU No. 32 tahun 2009, tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Ada satu alasan genting mengapa UU ini saya anggap penting untuk dikawal implementasi di lapangan lebih ketat lagi, yakni masalah pemanasan global. Pertimbangan huruf e, dalam UU No. 32 tahun 2009: “Pemanasan global yang semakin meningkat mengakibatkan perubahan iklim sehingga memperparah penurunan kualitas lingkungan hidup karena itu perlu dilakukan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.”

Indonesia adalah salah satu negara Asia Tenggara yang tergabung dalam Konferensi antar negara sedunia dalam menanggulangi perubahan iklim. Salah satu kampanye dan progam yang dijalankan adalah REDD+; Reducing Emission from Deforestation and Forest Degradation. Progam ini dimaksudkan untuk mengurangi kadar emisi yang dihasilkan akibat adanya deforestasi (penebangan) dan degradasi hutan. Progam ini digalakkan demi mengurangi kadar emisi yang dapat menyebabkan rusaknya lapisan ozon, yang akhirnya membuat dunia semakin panas. Semakin panas karena disebabkan sinar matahari yang diterima tak lagi melalui lapisan ozon. Salah satu gas emisi yang coba untuk ditekan melalui progam REDD+ ini adalah karbon.

Progam ini satu dari sekian progam penggalakan lingkungan hidup, notabene memberi harapan bagi manusia di muka bumi ini untuk tidak punah. Progam REDD+ juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat di areal hutan. Tak tanggung-tanggung, negara-negara yang tergabung dalam Konferensi ini memberikan dana bantuan yang tak sedikit kepada Indonesia. Indonesia dianggap penting karena jumlah areal hutannya masih cukup banyak, walau sudah banyak pula berkurang akibat adanya pembangunan yang tak berwawasan lingkungan hidup. Masyarakat yang tinggal di area hutan menjadi faktor penting bersama Negara, LSM serta organisasi-organisasi lingkungan hidup untuk bersama mengawal berjalannya progam ini.

Pengurangan penebangan hutan, penggundulan hutan hingga pemanfaatan hutan yang tak berwawasan lingkungan hidup dapat sangat berpengaruh pada tingkat emisi yang dihasilkan. Otomatis peran serta masyarakat menjadi penting. Implementasi progam ini harus terus dikawal. Cara pandang masyarakat tentang pemanfaatan hutan demi keberlangsungan hidup dengan mengeksploitasi habis-habisan perlu untuk dirubah. Disini peran serta Negara, LSM, organisasi lingkungan hidup untuk mengedukasi mereka. Salah satu contohnya adalah Oxfam. ”Oxfam adalah Konfederasi Internasional dari tujuh belas organisasi yang bekerja bersama di 92 negara sebagai bagian dari sebuah gerakan global untuk perubahan, membangun masa depan yang bebas dari ketidakadilan akibat kemiskinan.”

Tak Ada Yang Tak Mungkin

            Pasca terpilihnya Jokowi-Ahok sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta. Salah satu progamnya adalah menanggulangi banjir. Ini tak sekedar janji belaka. Pemerintah DKI beserta jajarannya langsung turun tangan mengatasi masalah ini. Peran serta masyarakat DKI Jakarta juga dilibatkan. Salah satunya adalah progam pembersihan kali Ciliwung. Wakil Gubernur DKI bahkan melakukan langkah yang cukup berani, dengan tidak mempergunakan pihak ketiga (swasta) untuk membersihkan kali, melainkan membuka lowongan ini untuk masyarakat DKI Jakarta untuk melakukannya. Hal ini tentu sedikit dapat mengurangi jumlah penggangguran di Ibukota.

Progam penanggulangan banjir di DKI Jakarta tersebut, bisa menjadi cerminan bagi kota-kota lain di Indonesia. Pemerintah  kota dan masyarakat saling bahu-membahu, menanggulangi masalah banjir. Banjir yang dulunya dianggap masyarakat adalah siklus tahunan dapat ditanggulangi. Patut disadari juga, bahwasanya tak ada progam yang instan atau langsung terasa dampaknya. Perlu waktu untuk merasakan dampak tersebut. Progam-progam yang dibuat sebaik apapun ketika tak didukung dan diimplementasikan, tentu hanyalah sekedar progam tertulis belaka. Peran serta seluruh elemen yang ada patut dikerahkan. Pemerintah pusat dan Pemerintah daerah serta masyarakat yang dibantu LSM dan organisasi lingkungan hidup mempunyai andil besar demi terciptanya lingkungan hidup yang baik dan sehat. Agar Cita-cita mulia dan hak-hak asasi manusia yang terkandung dalam UUD 1945 tak sekedar retorika belaka. Tak ada yang tak mungkin ketika semua sama-sama bersatu demi kemaslahatan bersama. Agaknya manusia di muka bumi ini tak hanya mampu beradptasi dengan alam, melainkan mampu –dan harus– berintegrasi (menyatu) dengan alam. Ini semua demi terciptanya kualitas hidup manusia dan tentunya kualitas lingkungan hidup. Barangkali hal-hal inilah yang mampu mematahkan tesis Charles Robert Darwin bahwa manusia tak hanya rasional, tetapi memiliki hati nurani.[]

Disiplin itu Indah; Cerita Perjalanan menuju Dies Natalis XIX Banjarmasin

Wajib hukumnya bagi para pengurus PPMI kota untuk menghadiri acara ini. Tak lupa pula para awak anggota PPMI (LPM) juga turut serta walau hukumnya Sunnah. Alhasil setelah proposal Dies XIX dikirim ke email persma Jember langsung saja saya keliling LPM untuk memberitahukan adanya acara tersebut. LPM pun segera mengurusi proposal ke fakultas masing-masing agar mendapat bantuan dan ijin untuk mengikuti acara tersebut. Seminggu sebelum Dies XIX akhirnya persma Jember sepakat memberangkatkan 7 orang delegasi.

Dies kali ini dilaksanakan di Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, mengingat ini pertama kalinya para delegasi dari LPM (anggota PPMI) bepergian jauh dari pulau Jawa. Masalah transportasi yang paling memberatkan para awak persma jember (berat di ongkos). Akhirnya saya mulai mencari-cari transportasi ke Banjarmasin yang paling murah, aman dan cepat.

Ada dua alternatif yang saya dapat dan langsung saya informasikan ke para delegasi persma jember. Pertama keberangkatan dengan kapal laut yang perjalanannya 20 jam dengan ongkos sebesar Rp.200.000,00 dengan beberapa catatan; biaya makan selama di dalam kapal mahal, belum lagi bahaya copet, mabuk laut serta preman ketika berada di pelabuhan dan di atas kapal laut. Kedua keberangkatan dengan pesawat terbang yang perjalanannya relatif singkat sekitar 50 menit dengan ongkos yang bervariasi mulai dari 200ribu – 350ribu, catatannya jarak bandara udara Syamsudin Noor Banjarmasin dengan kampus Unlam lumayan jauh. Akhirnya saya memaksa para awak persma Jember untuk berangkat dengan pesawat terbang, dan mereka pun setuju.

Seminggu sebelum acara saya pun memesan tiket pesawat terbang secara online, karena menurut banyak kawan kalau memesan tiket jauh-jauh hari lewat online akan dapat harga yang sangat murah dibandingkan memesan tiket lewat travel atau agen perjalanan. Alhasil saya berhasil membooking tiket dengan harga perorang Rp.270.000, tapi sayang booking saya hangus dikarenakan pembayaran tiket tersebut harus dilakukan 3-5 jam setelah membooking. Delegasi dari LPM Jember ternyata masih bermasalah dengan birokrasi kampus dimana bantuan dana delegasi masih belum turun. Hal ini yang sempat membuat saya stress karena acara sudah semakin dekat dan tiket pesawat masih belum kami dapat. Beberapa kali pun saya juga sempat memesan tiket pesawat online dengan harga di bawah 300ribu namun gagal lagi karena masalah dana yang belum turun.

Rabu 20 April 2011 saya pun mencoba menanyakan lagi dana keberangkatan masing-masing delegasi persma Jember, beberapa sudah selesai dengan masalah birokrasi dan dana sudah turun, namun beberapa lagi masih bermasalah. Alhasil saya pun menghanguskan bookingan tiket saya untuk keempat kalinya. Saya pun bertambah stress melihat harga tiket pesawat yang paling murah telah terjual habis. Tak kehabisan akal saya pun menghubungi Nuran (Anggota UKPKM Tegalboto) untuk meminta kontak agen perjalanan. Dari Nuran saya mendapatkan agen perjalanan yang paling murah dan paling baik (terima kasih yah Nuran).

Kamis 21 April 2011 masalah dari delegasi persma Jember telah selesai dan saya pun langsung menghubungi agen yang mengurusi tiket pesawat untuk memesan tiket pesawat untuk keberangkatan hari Jumat 22 April 2011. Awalnya saya ragu untuk mendapatkan harga tiket yang paling murah, namun keraguan saya ternyata salah total. Kami mendapatkan harga tiket pesawat Rp.247.000,00, langsung saja saya setujui dan bayar untuk 7 orang keberangkatan Jumat pukul 18.45 dari bandara Juanda Surabaya. Siang hingga malam saya menyuruh para delegasi persma Jember untuk packing-packing dan bersiap untuk berangkat.

Pukul 5 pagi kami  6 orang berangkat (Arif, Karin, Umi, Silvi, Affrin dan saya) dengan kereta api Logawa -yang satu lagi;Musa memilih naik motor- menuju Surabaya, tapi karena hari itu pas bertepatan dengan tanggal merah (Wafatnya Yesus Kristus) alhasil kereta yang kami tumpangi ramai dan penuh, hingga membuat sebagian dari kami terpaksa berdiri di bordes. Dasar mujur, pas di stasiun probolingo kami (sebagian yang berdiri) mendapatkan tempat duduk, walau sedikit berdesak-desakkan. Pukul 10 pagi kami sampai di Surabaya (stasiun Gubeng), kami pun istirahat sejenak di stasiun Gubeng sembari yang lain ke kamar mandi. Koordinator keberangkatan diserahkan ke pundak saya. Durasi sebelum pesawat lepas landas masih 8 jam lagi, akhirnya saya mengajak para delegasi persma Jember untuk mencari tempat beristirahat. Tempat pertama yang kami tuju adalah Sekertariat LPM Situs Unair Surabaya. Saudari Elly yang kebetulan Sekjen PPMI Kota Surabaya dan Anggota LPM Situs saya hubungi, dari dia saya dapati info bahwa hari libur sekret Situs sepi nan kosong. Gara-gara info tersebut saya terpaksa mengurungkan niat untuk beristirahat di LPM Situs. Sebagai gantinya saya mengajak persma Jember untuk mencari warung kopi untuk mengisi perut kami yang keroncongan.

Tepat di depan Graha Anumerta dan di samping kiri pintu masuk Unair kami mengisi perut dengan nasi bungkus dan kopi tentunya. Sembari makan saya pun menghubungi Elly untuk dapat ikut ngopi bersama kami. Elly pun datang sendirian dengan muka lesu yang nampak seperti orang yang baru bangun tidur dan belum mandi. Kami pun berbincang sejenak seputar keberangkatan para awak persma kota lain. Dari hasil perbincangan dapat disimpulkan bahwa sebagian besar awak persma kota lain memilih naik pesawat dan beberapa memilih naik kapal laut dengan Elly sebagai koordinatornya.

Setelah semua selesai menghabiskan makanan kami pun berpamitan dengan Elly untuk meneruskan perjalanan mencari tempat singgah. Sebenarnya Elly enggan untuk melepas kami dan menawarkan kosannya sebagai tempat singgah sementara. Usulan tersebut terpaksa saya tolak mengingat kami tidak suka merepotkan kawan Elly. Akhirnya saya memutuskan mengajak awak persma Jember untuk beristirahat di rumah saudara yang dekat dengan Bandara Juanda. Perjalanan pun kami lanjutkan dengan menaiki angkot sebanyak 2 kali dan becak 1 kali. Tepat pukul 13.00 kami sampai di rumah saudara saya. Beberapa awak persma Jember memilih untuk tidur dan beberapa lainnya memilih untuk membaca dan berbincang-bincang, saya pun memilih menghabiskan waktu menonton televisi. Tak lupa pula Musa yang memilih naik motor saya hubungi untuk bertemu di Bandara juanda 1 jam sebelum keberangkatan pesawat. Pukul 17.00 kami pun berangkat ke Juanda dengan diantar oleh saudara saya. Pukul 17.30 kami sampai di Juanda. Saya dan awak persma Jember berpamitan dan mengucap terima kasih kepada saudara saya.

Sial! Jam menunjukkan pukul 18.00 Musa belum juga datang (kawan yang memilih naik motor) padahal satu jam sebelum keberangkatan kami harus segera check-in dan mengambil tiket. Pukul 18.10 kawan yang ditunggu baru datang, secepat kilat kami masuk dan menuju loket tiket pesawat maskapai, namun gara-gara terlambat check-in kami pun diharuskan menunggu. 18.30 kami dikabari bahwa dari 7 orang yang bisa diberangkatkan hanya 5 orang (Affrin, Arif, Karin, Umi dan Silvi) dikarenakan permasalahan telat check-in, alhasil sebagai seorang koordinator yang baik dan bertanggung jawab saya pun memilih untuk tinggal dengan mengajak kawan Musa (Si-penyebab keterlambatan).

Saya dan Musa pun berdebar-debar menunggu kepastian apakah kami diharuskan membayar tiket lagi untuk dapat berangkat. Kami pun disuruh menunggu oleh salah satu pegawai maskapai. Akhirnya dengan sistim pelayanan yang cukup memuaskan pelanggannya, kami diberikan tiket keberangkatan Sabtu 23 April 2011 dengan gratis tidak membayar sepeserpun. Tapi masalah berikutnya kami harus tinggal dimana sembari menunggu keberangkatan pukul 7 pagi itu. lagi-lagi kami disuruh menunggu oleh pegawai maskapai. Setelah 20 menit kami menunggu dan ternyata kami diservis sangat bagus. Kami berdua dipesankan kamar hotel VIP (dengan ac dan televisi), diberi mobil pengantar (sebagai akomodasi pengantaran dan penjemputan Hotel-Bandara) serta diberikan 1 kali sarapan pagi di hotel sebelum keberangkatan pesawat. Benar-benar di luar dugaan awal kami yang mengira akan membayar lagi sebagai hukuman keterlambatan check-in pesawat. Alhasil kami pun benar-benar gembira -seperti kejatuhan durian berisi uang-, tak menyangka akan dilayani sebaik ini oleh pihak maskapai.

Saya dan Musa (Biang kerok)

Sebelum kami meninggalkan bandara dan menunggu mobil pengantar, saya dihubungi oleh Sekjend PPMI; Andi Mahifal yang saat itu kebetulan juga sedang berada di Juanda bersama kawan Fahmi (BP Nas Litbang) dan Defy (BP Nas Media). Nasib buruk menimpa Andi Mahifal dkk. Mereka juga mengalami nasib sama seperti kami, yakni sama-sama terlambat check-in. Namun sial bagi Andi Mahifal dkk, gara-gara kebijakan maskapai mereka yang menghanguskan tiket perjalanan apabila pelanggan terlambat check-in. Sangat berbeda dengan maskapai yang kami pakai (delegasi Persma Jember), padahal kami mendapat tiket yang murah sedangkan Andi Mahifal dkk mendapat tiket dengan harga yang mahal. Alhasil mereka pun misuh-misuh dengan keadaan tersebut –sebagai catatan ini yang kedua kalinya dialami saudara Andi Mahifal– dan iri dengan keadaan kami –saya dan Musa–. Akhirnya saya meninggalkan mereka dengan muka tersenyum dan dibalas dengan pisuhan dari Andi Mahifal dkk.[]

 

*Catatan lama, saya sebar lagi.