Rashomon

Judul di atas adalah film garapan Akira Kurosawa (Sutradara Terbaik Jepang yang mendapatkan penghargaan Lifetime Achivement Awards pada tahun 1991). Film ini diadopsi dari sebuah cerpen karya Akutagawa Ryunosuke yang berjudul “Yabu no Naka” (Di Dalam Belukar). Sebenarnya Akutagawa juga membuat sebuah cerpen yang berjudul Rashomon, namun yang diangkat menjadi film oleh Akira Kurosawa adalah cerpennya yang berjudul “Yabu no Naka”.

Pada mulanya saya tak tahu menahu tentang Akira Kurosawa dan Akutagawa Ryunosuke. Semenjak mendapatkan film ini dari teman satu kontrakan: Arman Dhani Bustomi, saya mulai tertarik untuk mencari tahu lebih banyak lagi. Peduli setan si Arman Dani mendapatkan film ini dari mana dan siapa. Yang jelas segala bentuk informasi bagi saya adalah pendidikan. Dan semua orang perlu untuk mendapatkan akses tersebut. Konon, gara-gara film ini, Oscar membuat kategori ‘Best Film Foreign’ untuk penghargaan-penghargaan selanjutnya.

Awalnya saya gerah setengah mampus melihat film ini. Warnanya hitam-putih, alurnya sangat lambat, tak seperti film-film semacam Misteri Gunung Merapi yang sedikit-sedikit berantem. Film ini berkisahkan sebuah peristiwa yang sama; tentang kasus pembunuhan di tengah hutan di dalam belukar. Ada tujuh orang tokoh yang menjadi saksi menceritakan peristiwa pembunuhan tersebut. Versi kesaksian yang berbeda-beda ditampilkan oleh ketujuh tokoh tersebut, ini yang membuat saya bingung serta berusaha mencari ‘kebenaran’ dari pernyataan siapa yang paling benar. Hal inilah yang diangkat si sutradara film, dimana gejolak batin saksi, korban dan tersangka dimainkan. Beberapa pengamat mengatakan film ini mengangkat sebuah tema universal dimana kebenaran sangatlah sulit digenggam atau ditemukan dalam kehidupan manusia.

Film ini mendapat Penghargaan Internasional di Venesia pada 1951. Akibatnya film-film Jepang lainnya mulai merambah ke dunia internasional. Efek lainnya, cerpen Akutagawa “Yabu no Naka” mulai banyak dibaca. Akira Kurosawa mengangkat naskah “Yabu no Naka” bukan tanpa alasan. Ia memilih cerpen ini dan menggantinya dengan judul Rashomon. Yang coba ditampilkan disini adalah tentang kebenaran hidup dan mati. Arti sebenarnya Rashomon sering dikaitkan dengan Rajomon; sebuah pintu gerbang di zaman Heian (tahun 794-1185). Kebenaran hidup-mati yang saya maksud disini adalah pernyataan dari ketujuh tokoh dalam film ini yang menceritakan kesaksiannya, dan bahkan salah satu tokoh kesaksiannya diutarakan setelah ia mati. Dari naskah Akutagawa, sutradara Akira Kurosawa sedikit merubah ending cerita, dimana ditampilkan sosok baru.

Tentang Akutagawa Ryunosuke

Akutagawa Ryunosuke adalah salah seorang penulis Jepang di era Taisho (1912-1926) yang mempunyai pembaca di luar Jepang yang sangat banyak. Era Taisho adalah era kesusastraan Jepang setelah periode Meiji (1868-1912) yang bercorak naturalisme. Era kesusastraan Jepang cepat sekali berubah-ubah, era Akutagawa Ryunosuke menandai kemunculan peralihan zaman Taisho dimana saat itu pelopornya dijuluki penganut paham intelektualisme. Ah, saya tak mengerti benar periode kesusastaraan Jepang yang paling benar dan runtut. Anda dapat menelusurinya sendiri melalui buku bacaan atau yang lebih instan tinggal cari saja di Internet.

Sedari kecil, Akutagawa menaruh minat yang besar terhadap karya-karya klasik Jepang dan Cina. Minat ini ia mulai semenjak bangku SD. Ia pernah berujar; bahwa tidak seorang pun yang menentang keinginannya menjadi sastrawan, karena orang-orang di sekitarnya juga menyukai kesusastraan. Ia menambahkan bahwa mungkin keluarganya akan menentangnya jika ia berkeinginan menjadi pengusaha atau teknisi. Kesukaannya ini dilanjutkan ke bangku SMU, dimana ia suka menghadiri diskusi-diskusi dan pameran sastra, bersama temannya. Perpustakaan umum dan perpustakaan kelilingpun ia jadikan tempat belajar sehari-hari.

Pada tahun 1913 ia masuk Jurusan Sastra Inggris Universitas Tokyo. Bersama teman-temannya ia menghidupkan kembali majalah sastra Universitas yang sudah mati. Ia mulai menerbitkan karya-karyanya lewat majalah tersebut. Karya pertamanya: “Balthasar” diterjemahkan dari karya France. Karyanya yang pertama kali hasil pemikirannya (yang bukan menerjemahkan) adalah “Ronen” (1914). Tahun berikutnya, 1915 ia menerbitkan “Rashomon” yang menjadi salah satu cerpen terbaiknya dan menjadi kumpulan cerpen (kumcer) yang pertama baginya. “Rashomon” mendapatkan cercaan dari teman-temannya sendiri. Salah satu kritikus bahkan menyuruh Akutagawa untuk tidak usah menulis lagi. Dari kritikan itulah, perubahan-perubahan dilakukan. Dan pada tahun berikutnya 1916 adalah tahun kesuksesannya, dimana cerpennya yang berjudul “Hana” dipuji oleh Natsume Soseki, salah satu empu sastra Jepang kala itu.

Tahun 1916 ia lulus dari Universitas Tokyo, ia lalu mengajar bahasa Inggris pada sekolah teknik kelautan di Yokosuka. Ia berhenti mengajar pada tahun 1919, karena ingin menghabiskan waktunya dalam dunia tulis-menulis. Pada Maret 1921 Akutagawa dikirim ke Cina selama empat bulan untuk menulis di majalah ‘Osaka Mainichi’. Kesehatannya perlahan-lahan mulai memburuk sewaktu berada di Shanghai, Cina. Setahun berikutnya, 1922 sepulang dari Shanghai, kesehatannya terus merosot. Ia menulis surat pada temannya dan mengeluh dirinya mengalami kelelahan syaraf, kejang-kejang perut, sakit kantung kemih dan punya masalah jantung. Karya-karya tak mandeg ketika ia sakit. Beberapa karyanya malah mengungkapkan gaya penulisan dan pengungkapan yang sama sekali baru daripada cerpen-cerpen terdahulunya. Seiring kesehatannya yang semakin memburuk, ia memfokuskan menulis novel-novel yang berdasarkan pengalaman pribadinya. Patut diketahui bahwasanya Akutagawa Ryunosuke adalah penulis cerita berlatar belakang sejarah. Cerita-cerita klasik Jepang diangkatnya dan diubah sesuai dengan kondisi kekinian. Cerita-cerita klasik menampilkan gagasan-gagasan luhur dan patut untuk diketahui seluruh orang, itulah sebabnya Akutagawa menampilkan kembali cerita-cerita klasik namun dalam kondisi kekinian.

Pada tahun 1927, di usianya yang ke 35 tahun, Akutagawa Ryunosuke benar-benar sudah tak kuat lagi menanggung kelelahan mental dan fisiknya yang semakin buruk. Akhirnya, di masa-masa kritis tersebut Akutagawa memilih untuk bunuh diri dengan menenggak obat tidur secara berlebih. Foto terakhirnya yang diambil di Juni 1927 menunjukkan wajahnya yang kurus, mata yang sayu, dahi berkeriput serta menunjukkan ekspresi putus asa dengan sebatang rokok yang masih menempel di mulut. Tanda-tanda ia akan menghabisi hidupnya sebenarnya sudah terlihat dari karyanya “Kappa”, sebuah dongeng penuh humor dan satir yang digarap beberapa bulan menjelang kematiannya. Bahkan surat yang ditulis sebagai catatan bunuh dirinya mengungkapkan ia tidak ingin mati dengan cara menggantung diri karena alasan estetika, surat ini diakhiri dengan catatan kecil yang mengatakan bahwa ia banyak membaca karya Empedocles yang ingin menjadi Tuhan.

Hidup Akutagawa Ryunosuke memang singkat alias pendek, hanya 35 tahun saja. Namun direntang waktu tersebut ia sudah banyak menghasilkan lebih dari seratus cerpen. Dan ia pun dinobatkan sebagai ‘Raja’ cerpen dalam kesusastraan Jepang modern. Atas dasar perjalanan karier, dan sepak terjangnya di dunia kesusastraan Jepang, salah seorang temannya; Kikuchi Kan mendirikan Penghargaan Akutagawa yang selanjutnya dikenal sebagai Akutagawasho pada tahun 1935. Sampai saat ini Akutagawasho menjadi penghargaan kesusastraan paling bergengsi bagi penulis-penulis baru.

Tentang Yabu no Naka (Di Dalam Belukar)

Cerpen Akutagawa yang ditulis pada tahun 1922 ini diangkat oleh Akira Kurosawa dalam sebuah film yang diberi judul “Rashomon”. Cerpen ini diterbitkan  di majalah sastra Universitas Tokyo edisi Januari 1922. Dalam karyanya ini ditampilkan tujuh tokoh yang bercerita tentang kesaksiannya terhadap pembunuhan yang dilakukan di tengah hutan di dalam belukar. Kasus ini terbilang cukup rumit, dikarenakan ketujuh tokoh tersebut mempunyai versi cerita yang berbeda-beda. Ketiga tokoh disini menjadi sosok yang paling penting dalam kasus pembunuhan tersebut; Pasangan suami-istri Takehiro dan Masa serta Tajomaru, yang dikisahkan sebagai seorang pencuri.

“Yabu no Naka” ditulis berdasarkan cerita-cerita klasik Jepang yang termuat dalam “Konjaku Monogatari” yang berjudul; “Me wo Gu shite Tamba ni Iku Otoko, Oesan ni oite Shibararuru Monogatari”. Diceritakan sepasang suami-istri melakukan perjalanan untuk mengunjungi rumah mereka yang berada di kota. Dalam perjalanannya mereka bertemu dengan seorang lelaki muda (Tajomaru; si-pencuri) yang akhirnya ikut serta dalam perjalanannya tersebut. Di tengah-tengah perjalanannya inilah suami-istri tersebut dirampok dan disuruh berjalan ke tengah hutan oleh Tajomaru. Suaminya diikat di pohon sedangkan si istri (yang ketakutan setengah mampus) diperkosa oleh Tajomaru di depan hadapan mata suaminya yang terikat tersebut. Setelah diperkosa, Tajomaru memberikan janji pada istrinya Takehiro untuk tidak melawannya supaya mereka berdua dibiarkan hidup. Lalu si pencuri melenggang kabur membawa kabur kuda serta perlengkapan kedua suami-istri tersebut. Ini adalah cerita asli yang kemudian dikembangkan oleh Akutagawa dengan menambahi sedikit keruwetan dan gejolak batin di masing-masing tokoh dalam cerita tersebut.

Cerpen yang dikembangkan Akutagawa dari cerita klasik sastra Jepang tersebut ditambahi dengan beberapa gejolak batin antara suami-istri, si pencuri, serta dibalut dengan kesedihan yang dialami oleh si Istri, suami dan orang tua pasangan suami-istri tersebut. Cerpen ini oleh beberapa pengamat dimasukkan ke dalam cerpen psikologis. Gaya penulisan Akutagawa tak hanya dipengaruhi oleh cerpen-cerpen klasik sastra Jepang, melainkan ada beberapa pengaruh dari karya-karya penulis luar. Seperti Robert Browning dalam ‘The Ring and The Book ’, serta karya Ambrose Bierce dalam ‘The Moonlit Road’.

Karya Akutagawa yang satu ini dianggap karya yang paling banyak menuai kritik dari beberapa sastrawan Jepang kala itu. Beberapa mengatakan bahwa film ini tak layak ditonton sebab tak menjelaskan apapun, tak menghadirkan kebenaran dan penulis dianggap gagal menyampaikan pesan kepada pembaca. Beberapa yang lainnya justru memuji kecerdikan Akutagawa dalam memainkan emosi dalam karyanya tersebut.

Dalam proses penciptaan karyanya, Akutagawa adalah seorang yang perfeksionis. Akutagawa menganggap bentuk atau isi lebih unggul merupakan kesalahan. Ia menekankan bahwa mengutamakan bentuk sama buruknya dengan mengutamakan isi, dan dalam prakteknya bisa menjadi lebih buruk lagi. Dalam pandangan Akutagawa, seorang seniman harus senantiasa berusaha menyempurnakan karyanya. Jika tidak, pengabdiannya kepada seni tidak akan menghasilkan sesuatu.[]

 

 

Catatan:

-Saya sengaja tak menuliskan lengkap biografi Akutagawa dan karya-karyanya sebab semua itu bisa diperoleh melalui buku-bukunya dan juga lewat ber-internet-ria.

-Seluruh isi tulisan ini, beberapa saya dapatkan dari biografi Akira Kurosawa dari film, serta beberapa saya dapatkan dari buku: Akutagawa Ryunosuke “terjemahan dan pembahasan ‘Rashomon’, ‘Yabu no Naka’ dan “Hana”, penulis Bambang Wibawarta, Kalang, Jakarta.

-Saya sengaja juga tak memberikan foto atau ilustrasi dalam tulisan ini, sebab saya tak punya, hehe.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s