Lupa Mengingat; Perihal tulisan dan ingatan.

Dalam sebuah teks Plato dan juga Sokrates; Phaedrus, kisah antara Raja Thamus dan Theuth, tulisan dianggap sebuah ‘pharmakon’. Derrida dalam Dissemination (terdiri atas tiga esai panjangnya nan mbulet) di esai pertamanya mencoba membongkar “Plato’s Pharmacy”. Di sini kata pharmakon digambarkan mempunyai dua pengertian yang cukup bersimpangan. Pharmakon dalam bahasa Yunani bisa berarti ‘obat’ dan juga ‘racun’. Penemuan Theuth; Tulisan dianggap sebagai obat dan juga sebagai racun. Kok bisa? Saya sendiri masih tak begitu mengerti! Berikut saya akan coba cuplikan phaedrus:

                “Theuth berkata, ‘Keahlian ini (merujuk pada tulisan), wahai Raja, akan membuat orang-orang Mesir lebih bijaksana dan akan meperbaiki ingatan mereka. Penemuanku adalah resep bagi ingatan dan kebijaksanaan mereka”.

Sang raja lalu menjawab: “Wahai Theuth, sang pandai nan ulung, seorang yang diberkahi kemampuan menciptakan unsur-unsur keahlian, yang kerugian dan manfaatnya hanya dapat dirasakan oleh mereka yang menyebarkannya. Dan sekarang, karena engkaulah ayah dari aksara-aksar yang tertulis, niatan baikmu yang keayah-ayahan telah membawamu untuk menyatakan sesuatu yang berlawanan dari apa yang menjadi kekuatan sejati aksara-aksara itu. Penemuan ini sebenarnya akan membuat lupa jiwa orang-orang yang mempelajarinya, karena mereka tidak akan perlu melatih ingatan mereka. Mereka akan berpegang pada apa yang tertulis dan menggunakan rangsangan dari tanda-tanda eksternal yang asing pada diri mereka sendiri ketimbang kekuatan mandiri untuk mengingat segala sesuatu dengan pikiran. Dengan begitu, ia bukanlah obat bagi ingatan, melainkan alat untuk mengingatkan, yang telah engkau temukan”.

Penggalan dialog Raja dan Theuth dalam Phaedrus sebenarnya panjang, saya hanya memotongnya sedikit. Kalau dianalisa secar singkat, sebenarnya tulisan sangatlah membantu ingatan, dan juga ditegaskan Raja bahwa tulisan juga dapat merupakan alat bantu untuk mengingatkan ingatan. Walau sebenarnya yang coba untuk disentil oleh Derrida adalah bias makna dari Pharmakon. Patut diketahui bahwasanya bagi Plato, munculnya tulisan telah merusak fungsi ingatan dan jiwa sebagai cermin kebenaran. Begitupun dengan Sokrates, Plato sangat anti-tulisan dengan asumsi bahwa kebenaran adalah sesuatu yang hanya bisa diperoleh melalui tuturan dan kehadiran absolut. Bagi Plato, sebuah memo berfungsi untuk sewaktu-waktu mengingatkan kita, namun tidak diperlukan sepanjang ingatan kita masih sehat. Harus diingat juga bahwa titik tekan filasafat dalm konsepsi Platonis adalah pada dialog, yang tak lain merupakan perjumpaan dua bentuk tuturan.

Derrida menyentilnya dengan adanya bias makna dimana satu sisi tulisan bisa menjadi obat, di sisi lain tulisan bisa jadi sebuah racun. Dengan rumus difference. Asli saya masih bingung mengartikan kata difference yang dimaksud Derrida. Al-Fayyadl dalam bukunya mencoba menerjemahkannya sebagai penundaan. Definisi-definisi memang tak mutlak dijelaskan secara penuh, toh banyak sekali contoh serta penjelasan mengenai kata difference yang digunakan Derrida.

Saya tak bermaksud mencoba bicara teori Dekonstruksi atau malah Plato, melainkan hal yang sederhana sekali. Baru-baru ini saya terlupa pin ATM saya ketika melakukan transaksi di mesin ATM. Tiga kali saya mencoba namun tetap gagal, dan hasilnya ATM saya terblokir secara otomatis. Bagi penggangguran seperti saya, ATM sangat penting sekali, walau tak pernah ada pemasukan, sebab lebih sering dikeluarkan, hehe. Saya sempat bingung, sebab buku tabungan saya berada jauh dari saya. Untunglah ada tuhan kecil bernama ponsel. Saya hubungi adik saya yang dekat dengan buku tabungan milik saya. Saya suruh ia ke bank untuk minta ganti PIN baru dan pemblokirannya dihapus. Eh, ternyata setelah dicoba, ternyata hasilnya, si pemilik ATM yang harus mengurusinya sendiri.

Alternatif yang coba ditawarkan adik saya adalah mengirimkan buku tabungannya, biar saya yang urus sendiri. Dasar saya tak mudah percaya walau sudah diutarakan lewat tuhan kecil ‘ponsel’, saya langsung merujuk ke bank dimana saya berada saat ini. Semua yang saya alami, saya ceritakan secara penuh kepada costumer service saat di bank. Dan ternyata bisa, saya tak perlu untuk menunggu kiriman buku tabungan saya, melainkan langsung saja ke ATM terdekat untuk melakukan transaksi. Blokir otomatis ATM saya sudah dibatalkan, dan ATM saya siap digunakan. Namun saya dipaksa untuk mengingat PIN ATM saya yang lama, sebab customer service saat itu menyarankan saya untuk mencoba kembali terlebih dahulu, apabila gagal lagi, barulah saya disarankan untuk mengganti PIN ATM. Customer service rada kalut dan bingung sepertinya, ketika saya bolak-balik tanya, jawaban yang dilontarkan selalu berputar-putar dan membingungkan.

Sebenarnya saya menyimpan nomor PIN ATM saya rapat-rapat dalam dompet. Namun karena ketakutan yang berlebih maka kertas tersebut saya buang dan tidak saya catat dimanapun. Sepenuhnya saya serahkan kepada ingatan untuk mengingat PIN ATM tersebut. Apa susahnya mengingat empat digit angka, toh selama ini saya selalu ingat dengan PIN ATM saya. Mungkin ini pengaruh PIN ATM saya PIN baru, karena saya baru saja mengganti buku tabungan dan ATM baru kira-kira 4 bulan yang lalu.

Andaikata saya mencatat hal-hal penting dalam sebuah memo atau barangkali diary. Sebenarnya saya punya, namun saya hanya mencatat alamat-alamat rekan saja, nomor-nomor penting tak saya catat. Ponsel saya pernah rusak, dimana tak bisa diperbaiki lagi, padahal seluruh simpanan nomor rekan dan ‘klien’ ada disitu semua. Terpaksa, jika ada yang telpon atau mengirim pesan singkat selalu saya tanyai dulu siapakah ini. Dari semua nomor telpon yang saya punyai saya hanya hafal dua, nomor saya sendiri dan nomor pacar. Nomor ortu dan adik saya bahkan saya tak hafal. Perkembangan teknologi bikin orang susah untuk mengingat. Dahulu ketika belum ada ponsel, telpon rumah yang sangat penting. Saya hafal nomor-nomor teman ketika masih mengunakan telpon rumah.

Barangkali benar apa yang dikatakan oleh Aristoteles. Ketika kita ingin mencapai kebahagiaan, maka kita harus terus mengusahakannya. Maka kalo digunakan pada Plato, kita harus melatih terus ingatan kita agar tidak usang, dan tulisan dapat digunakan sebagai alat bantu untuk mengingat. Singkat kata, saya masih terus berusaha untuk mengingat-ingat berapa nomor PIN ATM saya.[]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s