Terminal Kopi

           Kopi apa yang sesuai dengan kepribadianmu hari ini?”

Secangkir kopi hitam pahit atau Kopi Jahe plus rempah yang memberikan kehangatan pada tubuh anda. Layaknya Filosopi Kopi Dewi Lestari di café ini, sajian kopi dituliskan pilihan-pilihan kopi yang pas menurut selera anda. Bedanya tak ada barista yang mengajak anda berbincang-bincang seputar pilihan kopi yang anda pesan. Ini bukan Starbucks dimana barista berperan ganda sebagai resepsionis. Ini adalah terminal kopi. Sebuah cafe di Jalan Karimata 195 A Jember.

         Terminal Kopi

Nama Terminal Kopi (Teko) dipilihnya sebagai penarik buat pelanggan. Ibu Sisil (pemilik cafe) ingin menawarkan café yang benar-benar berbeda dari café-café lainnya. Ada sebuah rak bermodel ketupat yang berdiri tegak di café ini. Rak tersebut berisi buku, majalah, komik hingga CD Film berjajar rapi. Pemilik Teko ini menuturkan; “Saya ingin café itu tak hanya sebagai sebuah tempat nongkrong saja, melainkan ada sesuatu yang berguna ketika pelanggan datang ke café. Terminal Education café sengaja saya pilih.”

Café seperti Teko memang masih sangat minim di Jember. Padahal setiap tahunnya jumlah mahasiswa baru, serta para pelajar datang ke Jember untuk menempuh studi selalu bertambah. Seperti di tahun 2012 ada 5583 mahasiswa baru yang resmi diterima di Universitas Jember. Jumlah ini naik 25% dibandingkan maba yang diterima di tahun lalu. Ini merupakan ‘pasar’ yang bagus untuk investasi. Pasar-pasar retail, café, butik dan distro semakin menjamur di area sekitar kampus. Investasi yang sangat menguntungkan serta membantu mengangkat perekonomian masyarakat Jember. Lingkungan sekitar kampus harusnya mendukung mahasiswa untuk giat belajar, namun malah budaya hedon yang berkembang. Seperti dua sisi mata uang.

“Tapi tak semata-mata saya kejar profit saja mas, saya juga ingin pengunjung café ini mendapat sesuatu ketika berada disini”, ujar pemilik Teko. Saya juga mempekerjakan mahasiswa di café ini, agar education café yang saya bangun benar-benar terwujud. Kebanyakan koleksi buku, majalah serta film di café ini kesemuanya adalah milik pribadi Ibu Sisil. Ada televisi dan pemutar CD yang disediakan di café ini jika pengunjung ingin menonton. Koleksi-koleksi tersebut tak boleh dibawa pulang, hanya bisa dinikmati ketika berkunjung di café ini. Terminal kopi yang berdiri sejak 2009 ini memang tak punya progam-progam diskusi atau acara rutin yang digelar. “Kesemuanya inisiatif dari pengunjung, kami hanya menyiapkan tempat dan perlengkapannya saja, ujar Ibu Sisil yang berhenti dari pekerjaannya sebagai pegawai swasta dan mencurahkan segala aktivitasnya di terminal kopi ini”.

Teko dari samping depan.

Tata letak café ini sebenarnya cukup menarik, Dengan bangku dan meja minimalis, dihiasi tembok berwarna orange dan lampu pohon natal yang dipasang di depan pintu masuk café membuat pengunjung betah di dalamnya. Warna-warna cerah membuat pengunjung merasakan kehangatan dan menambah semangat ketika membaca buku-buku koleksi café ini. Dengan jam buka mulai dari bada’ maghrib hingga jam 11 malam, café ini ramai dikunjungi pelanggan, khususnya mahasiswa. Namun pemilik teko merasa café ini masih sepi, hanya pelanggan tetap saja yang sering berkunjung. Promosi café ini memang tak gencar dilakukan, hanya mempergunakan sistim lama, yakni mulut ke mulut. Tapi itu pun cukup membuat café ini tak pernah sepi.

Tentang minuman di café ini tak kalah menarik. Seperti Wedhang Secang serta Bir Jowo ada di café ini. Kopi yang disajikan pun tak kalah menariknya. Ibu Sisil menambahkan rempah-rempah ke dalam kopinya. Ada jahe, kapulaga, kayu manis, cengkeh serta madu diracik ke dalam kopi. Nama-nama sajian kopi dibuat sedikit aneh. Seperti Rejoice Coffe; menawarkan kehangatan pada tubuh anda, ini adalah kopi plus jahe. Adapula Present Coffe; menghadirkan ketenangan pada tubuh anda yakni campuran kopi, cengkeh, kapulaga dan kayumanis. Adanya rempah tersebut memberikan sensasi yang berbeda ketika kita hanya minum kopi saja.

Menu Spesial

Sepintas kopi yang disajikan terasa serupa dengan kopi arab, dimana rempah juga menjadi campurannya. Namun pemilik café ini menuturkan; “kopi dan rempahnya saya racik sendiri, tidak instant. Bahan-bahannya saya dapatkan dari beberapa produsen kopi di Jember. Khusus untuk Wedhang Secang dan Bir Jowo, bahannya saya dapatkan langsung dari Jogja”. Sajian kopi di café ini memang tak menjelaskan secara gamblang tentang khasiat-khasiat yang didapat setelah meminumnya, sebab khasiat rempah sudah cukup banyak orang mengetahuinya. Nama menu yang tertera pun sudah cukup menjelaskan kegunaan rempah yang disajikan dengan kopi. Umumnya kopi dengan campuran kapulaga, cengkeh dan kayumanis yang banyak dipilih pelanggan.

Bagi pencinta minuman tradisional serta ingin merasakan sensasi rempah khas nusantara, tak salah bila anda mencoba mampir di terminal ini. Tak hanya minuman khas nusantara saja yang anda dapatkan. Anda juga akan mendapatkan pengetahuan dari koleksi buku, majalah serta film yang disediakan. Tak selamanya menunggu di terminal itu membosankan, Terminal kopi adalah salah satunya.[]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s