Mati di Atas Bukit

“Bung, kesenangan itu tak bertambah atau berkurang. Kebahagaiaan yang mutlak tak memerlukan apa-apa di luar diri kita.”

Pernahkah anda membayangkan apa yang akan anda lakukan pada ayah kandung anda di masa tuanya. Pilihannya tentu banyak. Masing-masing orang punya strategi memperlakukan ayah di masa tua. Bobi memilih mengasingkan Barman ayahnya ke  villa di bukit. Jaraknya hanya satu jam perjalanan dari rumahnya di kota. Namun pemandangan, serta kehidupan di atas bukit jauh berbeda dengan kota. Seorang duda 65 tahun, anak-anaknya sudah besar dan mampu menjalankan usaha demi keberlangsungan hidup. Sudah barangtentu seorang anak yang berbakti tak pernah akan mau melihat ayahnya melakukan pekerjaan berat dalam rutinitas masa tuanya. Dan Bobi berpikir bahwa ayahnya Barman tak usah lagi bekerja terlampau berat dan barangkali sampai tak usah berfikir. Cukuplah dengan menikmati udara sejuk di atas bukit, dengan rutinitas kecil yang tak terlampau menyita pikiran.

Orang berpunya tentu tak akan menghabiskan waktu di villa di atas bukit hanya untuk berekreasi saja. Beberapa pasti memilih tempat peristirahatan ‘terakhir’ masa tuanya sembari menunggu waktu untuk berpulang. Bobi melengkapi peralatan dan perabotan villanya agar si Barman dapat dengan tenang untuk hidup di dalamnya. Tapi tentu saja Bobi tak mau meninggalkan ayahnya sendirian saja untuk hidup di villa tersebut. Bobi pun mengusulkan pada ayahnya untuk memilih wanita sebagai teman hidupnya yang terakhir. Alhasil, seorang perempuan muda, berkulit kuning, tinggi semampai, tak terlampau kurus atau pula gemuk, cukup prorporsional, dan tentu saja cantik. Popi namanya. Tak perlu waktu lama, Barman dan Popi resmi menjadi suami-istri. Dan mereka berdua langsung diasingkan di villa di atas bukit untuk menjalani kehidupan baru mereka. Bobi meminta tolong Popi untuk merawat ayahnya Barman (istilah dalam buku ini lebih tepatnya memelihara), anehnya Popi justru langsung mengiyakan tanpa meminta apapun untuk perjanjian ini.

Barman tak mau menyia-yiakan waktu sedetik pun untuk menikmati momen pernikahan barunya ini. Masa lalu hanyalah masa lalu, tak perlu diungkit-ungkit lagi atau dibicarakan lebih jauh, cukuplah mengingatnya sejenak. Dan ini pun jadi alasan Popi untuk menerima Barman, ia tak mau menatap ke masa lalu, dan masa depannya sekarang adalah bersama lelaki tua Barman. Popi pun tak perlu waktu lama untuk beradaptasi dengan Barman, walau mereka baru pertama kali bertemu dan langsung menikah. Selain cantik dan cepat beradaptasi, Popi adalah pemasak handal dan ibu rumah tangga yang sempurna, pekerjaan rumah mampu dikerjakannya secara cepat dan baik. Barman pun merasa tak salah pilih ketika Bobi mengenalkan Popi kepadanya. Kehidupan baru mereka jalani selayaknya pasangan yang sudah lama menikah.

Kehidupan Barman baik-baik saja sebelum bertemu dengan teman baru di atas bukit. Barman bahkan cinta mati kepada Popi, dan rela menghabiskan waktu untuk mematuhi segala perkataan Popi demi membahagiakan Popi, Toh ini juga ia lakukan demi menghabiskan masa tuanya. Lelaki tua itulah yang membuat pikiran Barman berputar-putar, perkataannya ibarat seorang filsuf, yang cukup aneh dan kadang tak masuk akal. Humam namanya. Pertemuan pertama Barman dengan Humam, membuat Barman kepincut ingin tahu lebih banyak tentang Humam. Perkenalan selanjutnya Barman tak menyia-yiakan waktu untuk mengenal lebih jauh siapa Humam ini. Lambat laun, Barman merasa tak ada gunanya ia berteman dengan Humam. Ia tak mau terlampau jauh disibukkan dengan urusan-urusan dan kegiatan yang menyita pikiran dan tenaga yang berlebih, maklum saja Barman sudah tak muda lagi.

Humam hidup seorang diri di sebuah villa yang tak jauh dari tempat tinggal Barman. Ia hidup sendirian, tanpa ada seorang pun yang mendampinginya bahkan tak ada satu pun masyarakat di sana yang mengenal Humam. Hanya Barman saja satu-satunya orang yang mengenalnya. “Keadaanku adalah Ketiadaanku”. Istri-Rumah-Anak sudah kutinggalkan semua”, ini adalah salah satu percakapannya dengan Barman. Barman tentu saja berasumsi bermacam-macam ketika mengetahui bahwa Humam hidup menyendiri di atas bukit ini. Tapi tak mampu untuk mengungkapkannya lebih lanjut ketika sedang bersama Humam. Barman tentu saja takjub dengan Humam. Di usia yang tak muda lagi, Humam sanggup melakukan kegiatan yang jauh lebih berat layaknya masih muda saja. Umur tak terlampau berpengaruh bagi Humam di mata Barman. Ujaran-ujarannya pun cukup aneh, dan terkesan di luar rasio. Ketakjuban Barman juga terpancar jelas ketika melihat muka Humam, yang memancarkan kedamaian serta ketenangan yang tak dimilikinya. Tatapan matanya pun membuat Barman tak bisa bicara banyak ketika sedang bercakap-cakap dengan Humam. Barman pun ‘berguru’ pada Humam. Dan mereka berdua bersepakat untuk menjadi sahabat di atas bukit.

Ada satu lagi percakapan Humam dengan Barman, yang agak aneh menurutku. Ketika Barman bertanya: Bahagiakah engkau? Humam menjawab, Penderitaan itu tak ada apa-apanya, kesenangan, penderitaan, sakit, bahkan mati itu bagian dari perjalanan kita. Hidup itu bergerak. Mati barangkali adalah sesuatu hal yang biasa, dan kita tak bergerak lagi. Saya siap menyambut kematian dengan kedamaian. Jujur saya mencampur beberapa ujaran Humam pada Barman, tak persis memang, namun Humam adalah sesosok manusia yang memandang kematian dengan senyuman. Dan memang di novel ini Humam mati dengan tersenyum damai, di atas kursi di dalam villanya, sendirian.

Renyah, mudah diikuti dan saya terhanyut ketika membaca novel Kuntowijoyo yang berjudul: “Khotbah di Atas Bukit”. Sinopsis cerita telah sedikit saya sampaikan dalam paragraf di atas. Barangkali kwan-kawan pembaca buku ini, terlebih lagi background bacaannya adalah bacaan filsafat akan sangat mengerti tentang novel ini. Saya yang tak terlalu paham filsafat, membaca novel ini semacam mendengarkan tokoh-tokoh berkhotbah tentang hidup. Saya merasa masing-masing tokoh dalam novel ini benar-benar hidup dalam realitas kita hari ini. Atau barangkali saya yang terlampau naif untuk mengatakan bahwa mereka hidup dalam realitas kita. Entah sengaja atau tidak, Kuntowijoyo menampilkan prosa tentang hidup. Tokoh utama memang Barman, tapi menurut saya, kesemua tokoh yang ditampilkan dalam novel ini adalah tokoh utama dan penting. Termasuk anjing dan kuda yang ikut main dalam novel ini.

Saya teringat perkataan Bruder William kepada novis mudanya; Adso dalam Novel Umberto Eco; In the Name Of Rose –yang menurut ST.Sunardi bisa diterjemahkan menjadi Nama Saya Mawar- dimana “Hal yang barangkali patut atau bahkan satu-satunya yang harus kita renungkan adalah Kematian”. Kalau dihubungkan dengan novel ini, barangkali Barman adalah sosok yang tepat. Tepat, dimana ia begitu bingung bagaimana menghadapi kematian, yang akhirnya ia menjadi naif ketika menghadapinya.

Agaknya hal itu yang memaksa saya secara pribadi menganggap novel ini pantas untuk judulnya dimaknai “Mati di Atas Bukit”. Kenapa Kuntowijoyo membuat judulnya dengan “Khotbah di Atas Bukit”, barangkali saja beliau menggangap bagian terpenting dalam novel ini ketika Barman menunggang kuda kesayangannya sembari diikuti oleh warga bukit dengan beriring-iringan panjang menuju puncak bukit, hanya untuk mendengarkan ‘Khotbah’ Barman tentang Kebahagiaan. Padahal di atas bukit si Barman tak banyak berkhotbah.

Tokoh favorit saya dalam novel ini, bukan Barman atau pula si Humam. melainkan saya memilih Popi. Wanita muda yang paham betul tentang filsafat (karena digambarkan Kuntowijoyo sebagai sarjana yang mengambil Filsafat sebagai ilmu yang ditempuhnya, |Mbulet!). Popi tak banyak berbicara dalam novel ini, Popi adalah sosok pekerja ketika disandingkan dengan Barman, dimana ia menghabiskan waktunya untuk mengurus rumah dan Barman suaminya. Ah, saya tak mau menyentil persoalan feminisme, atau malah tentang masa launya sebagai pelacur. Popi adalah seorang yang berfikir ke depan, dimana ia tak mau menengok lagi masa lalunya dan berkubang di dalam nya. Popi adalah seorang yang berfikir realistis dan mencari manfaat bagi dirinya dan kehidupannya ke depan. “Hidupilah Hidup, jangan berfikir!” Di akhir novel ini, Popi digambarkan meninggalkan villa dan hidup bersama seseorang yang baru dikenalnya di dalam truk pengangkut sayur-sayuran dari bukit menuju kota.

Lepas dari tokoh-tokoh yang hidup dalam novel tersebut, barangkali saya berani bilang bahwa novel ini adalah salah satu novel tentang perburuan spiritual. Patut untuk dijadikan renungan tentang makna hidup untuk para ‘calon’ pembaca selanjutnya. Ah, saya terlalu subjektif barangkali. Atau malah cenderung mengajari orang untuk membaca lalu merenungkannya. Barangkali efek yang ditimbulkan oleh pembaca-pembaca lain -selain saya tentunya-, pemaknaan akan novel ini tentu sangatlah berbeda. Ah, semuanya mungkin!

“Alam ialah yang mahabesar. Kita hanya bagian-Nya. Jangan sedih atau gembira. Kembalilah ke sana. Ia akan menerima kehadiranmu.”[]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s