Zine Babebo; “Media Alternatif ataukah Media Perayaan Individualitas?”

Awalnya iseng, eh malah diseriusi. Berbekal kemampuan menulis dan menggambar dari masing-masing, akhirnya media ini berhasil terbit. Walaupun agak telat-telat alias gak berkala terbitnya, tapi cukuplah bagi kami; Keluarga Babebo untuk menuangkan ide agar tak beku di kepala. Membuat media ternyata mudah, perkara teknis saja yang agaknya memberatkan. Perkara teknis yang saya maksudkan adalah soal pendanaan dan distribusi. Ketika media yang dihasilkan hanya sebatas buletin hitam-putih, kecenderungan untuk jadi bungkus kacang atau malah serbet, sangat besar. Untunglah kemajuan teknologi memudahkan perkara teknis tersebut. Ini adalah sumbangan karya saya, walau tak dalam bentuk gambar dan ilustrasi, cukuplah membuat media ini punya bentuk yang khas. Oh, sekalian jangan lupa juga untuk menikmati karya-karya kami di sini. Atau bisa juga memulai percakapan di jejaring sosial di sini.

Tulisan ini pernah dipublish pula dalam blog awal babebo, namun sayang blog tersebut tak terurus dan akhirnya harus dimatikan. Silahkan menikmati, jangan lupa meninggalkan jejak.

Era liberalisasi media saat ini membuat banyak sekali komunitas-komunitas, aktivis pers mahasiswa hingga para siswa menerbitkan media-media alternatif yang mencermati fenomena-fenomena yang tidak dilirik oleh media massa umum atau lebih dikenal sebagai media mainstearm. Media alternatif digunakan komunitas, pers mahasiswa dan juga siswa sebagai bentuk perlawanan terhadap hegemoni media mainstream dan juga sebagai edukasi bagi para anggotanya dan lingkungan sekitarnya.

Lambat laun seiring perkembangan pesat teknologi membuat media alternatif yang dulunya berbentuk fotokopian –walau ada banyak juga yang sudah berbentuk cetak profesional layaknya media mainstream– sekarang berbentuk website dan juga blog. Tentunya ini merupakan kemajuan pesat buat para aktivis pers mahasiswa, komunitas dan juga para siswa. Namun ini bukan tanpa cela, media alternatif berbentuk website maupun blog ini membuat media alternatif yang berbasis komunitas tersebut kehilangan sisi komunitasnya dan cenderung menjadi personal. Apalagi tidak adanya sensor yang cukup ketat serta sifatnya yang instan membuat informasi yang disampaikan muncul dalam jumlah yang sangat banyak dan cenderung bersifat personal karena orang bisa bebas bicara apa saja dalam ruang maya.

Era 90-an dimana media mainstream lebih memilih posisi ‘aman’ untuk menginformasikan berita-berita kebaikan pemerintah daripada membuka keborokan pemerintah Soeharto, membuat aktivis pers mahasiswa bergerak untuk membombardir masyarakat dengan membuka borok dan bobroknya pemerintahan melalui media alternatif. Puncaknya pada tahun 98 dimana Soeharto akhirnya lengser dan hancurnya rezim Orde Baru. Hal ini kemudian yang dijadikan momentum media-media mainstream untuk lebih leluasa untuk menjalankan tujuan menginformasikan berita kepada publik sejelas-jelasnya. Pers mahasiswa yang saat itu merupakan aktor dibalik turunnya Soeharto pun ikut merayakan kebebasan bermedianya. Dengan jaringan yang sangat kuat di tiap-tiap kota di Indonesia disertai dengan kemampuan menulis layaknya seorang wartawan, media pers mahasiswa kala itu dianggap sejajar dengan media mainstream dalam membicarakan masalah-masalah umum. Namun tak bisa dipungkiri bahwa; sebaik apapun media pers mahasiswa, jumlah terbitannya tak akan sanggup menandingi pers umum ditambah lagi masalah-masalah umum tersebut ditulis melalui kacamata mahasiswa.

Muncul pertanyaan terbesar bagi pers mahasiswa kala itu; pers mahasiswa mau berperan di tingkat mana? Apakah hanya berperan ditingkat kampus alias lebih kepada masyarakat kampus dan sekitarnya ataukah lebih dari itu. Persoalan pers mahasiswa tersebut masih belum terjawab hingga sekarang. Keinginan kuat pers mahasiswa untuk diakui keberadaannya oleh negara terus diperjuangkan hingga sekarang, walau banyak pula yang tidak sepakat akan keinginan tersebut. Daniel Dhakidae pun pernah menulis tentang pers mahasiswa yang pesan intinya; “Kita seolah-olah seperti singa yang berteriak-teriak sendirian di cagar alam yang luas dan tak ada yang mendengarkan, tetapi tetap harus dipelihara karena itu harus ada”. Lepas dari permasalahan tersebut ternyata banyak dari para aktivis pers mahasiswa yang telah ‘lulus’ mendirikan komunitas-komunitas berbasis literasi, contohnya KUNCI; Kultural Studies Center di Yogyakarta, NASI PUTIH; Zine produksi kata dan gambar di Jember. Tak hanya sebuah media-media informatif saja yang disentuh dan digarap para mantan aktivis pers mahasiswa tersebut, Fanzine misalnya. Fanzine Brainwashed yang digarap Wendy Putranto (jurnalis dan Manager The Upstairs, Jakarta) pada tahun 1996 berisi tentang informasi musik-musik keras –Underground–, berbagi hobi serta dokumentasi komunitas band Jakarta dan dipublikasikan serta didistribusikan ke daerah-daerah lain tak hanya di Jakarta saja. Dari sini bisa kita lihat bahwasanya kemampuan menulis dan bermedia para aktivis pers mahasiswa sangat besar sehingga bisa melahirkan banyak bentuk media alternatif.

Perlu untuk dipahami terlebih dahulu bahwasanya media alternatif bukanlah media umum layaknya Kompas, Tempo, Jawa Pos, Sindo dan sebagainya, media alternatif bisa dibilang merupakan media produk  sebuah komunitas, yang notabene prinsipnya ekslusif dan terbatas. Ekslusif disini artinya media tersebut dari, oleh dan untuk komunitas dan juga ‘biasanya’ diproduksi dalam jumlah terbatas. Pada dasarnya media komunitas harus ada dan tetap ada hingga saat ini, mengapa demikian? Media komunitas merupakan bentuk perlawanan terhadap hegemoni informasi dan komunikasi yang dipraktekkan oleh korporasi media mainstream di era kebebasan informasi saat ini. Praktek bermedia yang tersentralisasi pada kepentingan modal merupakan sasaran perlawanan media komunitas. Perlawanan lainnya adalah kritik terhadap pola pengembangan komunitas yang cenderung top-down tanpa memperhatikan energi dan daya komunitas. Walaupun banyak dari media umum sekarang melirik para komunitas-komunitas atau juga kaum muda untuk ikut berpartisipasi dalam media tersebut, Kompas Muda, Deteksi pada Jawa Pos adalah contohnya.

Media komunitas adalah media yang mengedepankan pola bottom-up dalam menghidupi komunitas. Dengan sistim partisipatif komunitas, media-media alternatif yang diproduksi tidak akan pernah mati karena semua berperan penting. Pendekatan komunikasi media komunitas adalah komunikasi partisipatif sebagai alternatif untuk membendung paradigima dominan (top down) atau dengan kata lain mengedepankan partisispasi basis komunitas dalam proses komunikasi. Dalam pendekatan partisipatif komunitas diharapkan mampu merancang standar dan prioritas yang khas untuk mengatasi masalah dalam komunitas. Komunikasi partisipatif setidaknya mampu mengembangkan identitas kultural, bertindak sebgai wahana ekspresi diri komunitas, menyediakan alat untuk mendiagnosa masalah, serta memfasilitasi artikulasi problem komunitas (Srinivas, 1991).

Kemunculan zine juga mewarnai perkembangan media alternatif di Indonesia. Bentuknya yang luwes, cool, sporadis, tidak kaku serta lain daripada media yang diterbitkan oleh para aktivis pers mahasiswa yang cenderung berisi teori-teori melangit, intelektualitas tinggi yang sebenarnya tidak terlalu penting, ditambah lagi bentuknya yang kaku, formal dan sangat bergantung dana kampus membuat zine lebih banyak diminati. Sebenarnya tulisan-tulisan dalam media pers mahasiswa lebih bagus karena teknik penulisannya dan format tulisannya mirip dengan pers umum seperti laporan investigasi sedangkan pada zine lebih banyak berbentuk opini, artikel.

Awal kemunculan zine di Indonesia sebenarnya terlambat dibandingkan kemunculannya di negara-negara kawasan Asia lainnya. Hal ini ditengarai karena masyarakat Indonesia jarang beropini sejak dini melalui sebuah tulisan dalam media, baik itu media alternatif maupun media umum. Awal kemunculan zine di Indonesia memang lebih banyak berisi tentang informasi musik, komunitas band-band metal dan underground baik lokal maupun internasional. Namun lambat laun zine berevolusi dan tidak lagi hanya berbicara tentang musik. Ada zine yang mengangkat profil Tan Malaka, tentang anti fasis-anti rasis, anarkisme, kiri, sosialisme, memuat tentang kondisi para buruh, pekerja, kaum termaginalkan, anti kapitalisme, dll. Intinya zine-zine yang diterbitkan merupakan propaganda-propaganda yang didalamnya diharapkan para pembaca dan pembuatnya bergerak, tidak statis dan merespon segala hal yang terjadi di lingkungan modern sekitar kita. Zine tidak hanya berisi kata-kata/tulisan saja, melainkan ada gambar, ilustrasi-ilustrasi propaganda, komik propaganda, foto-foto sehingga diharapkan pembaca tidak akan merasa bosan ketika membacanya. Zine juga terdapat bermacam-macam jenis dan klasifikasi isu yang diangkatnya, sehingga membedakan zine personal –yang notabene merupakan media perayaan individualitas– dengan zine komunitas.

Perkembangan teknologi yang semakin pesat membuat zine-zine yang dulunya cetak fotokopian dan didistribusikan terbatas sekarang berbentuk pdf dalam sebuah website ataupun blog. Sistem distribusinya dan akses mendapatkan zine pun sangat mudah, tinggal meng-‘googling’ lalu mengunduh file pdf zine tersebut. Beberapa pembuat zine baik komunitas maupun personal menyebarkan zine-nya secara gratis, beberapa lagi tidak. Perkembangan teknologi tersebut membuat aktivitas para pembuat zine menjadi lebih ringan daripada ketika harus mencetaknya dalam bentuk hard copy. Disisi lain perkembangan teknologi ini –versi online zine– membuat turunnya zine versi cetak dimana proses partisipatif mulai dari membuat hingga mendistribusikan hingga evaluasi sangatlah berbeda. Zine versi online baik itu website ataupun blog tidak memiliki sensor yang ketat, sifatnya yang sangat instan dan selalu dituntut untuk berubah mengikuti derasnya arus informasi yang sangat cepat dan banyak ditambah lagi sistim komunikasinya pun berlangsung di ruang maya sehingga dialektika yang tercipta cenderung satu arah. Ruang maya pun menyajikan kebebasan berbicara, berpendapat bahkan merayakan individualitas yang begitu besar dan itu terjadi dengan cepat dan instan. Perkembangan tersebut tidak diikuti oleh zine versi cetak, entah mengapa disaat yang satu begitu massif tetapi yang satu lagi menjadi passif –zine versi online dengan zine versi cetak–.

Terlepas dari perbedaan yang sebegitu besar antara media pers mahasiswa dengan zine. Kedua media tersebut adalah sama-sama media alternatif, sama-sama bergerak diluar media mainstream, sama-sama ekslusif –punya segmen tersendiri–, dan sama-sama melestarikan budaya literasi. Sama-sama bertujuan menciptakan dunia yang lebih baik lagi untuk saat ini dan untuk masa depan. Media alternatif menawarkan ide dari imajinasi-imajinasi liar, liyan untuk merubah pembaca agar peduli terhadap lingkungan sekitarnya. Media pers mahasiswa dan zine terus menerus melakukan perubahan bentuknya, bukan karena mengikuti perkembangan zaman, namun lebih karena ‘musuh’ yang kita hadapai semakin banyak nan gaib. Alhasil tradisi tulis menulis harus terus dilanjutkan dan dikembangkan. ZINE BABEBO pun lahir dari para aktivis pers mahasiswa Jember sebagai bentuk perlawanan dan respon terhadap lingkungan Jember dan tentunya Indonesia. Dengan segala keterbatasan dan segala kontradiksinya, zine Babebo ini hadir dengan sesuatu yang sangat penting untuk para pembaca dan kami –si pembuatnya–. Sesuatu itu adalah tujuan, mungkin akan sangat tidak mungkin untuk merubah dunia saat ini, namun setidaknya kami mencoba membuat dunia lebih baik lagi dengan adanya zine ini. Entah itu berarti dimulai dari merespon fenomena di lingkungan sekitar kita atau hanya diam saja menunggu datangnya ‘sang perubah’. Yang jelas kami akan selalu ada untuk jadi teman bermain dan melawan.[]

 

Bahan Bacaan;
–         Media Alternatif Untuk Pengembangan Komunitas; Blog Andre Yuris.
–         Tentang zine di Indonesia; Sangkakalam.blogspot.com
–         ZINE, to change the world, it may not work but it surely is fine trying; Bandung Creative City Blog
–         Jurnal Karbon Tiga Belasan; Dibalik Media Alternatif, terbitan 07-01-2006 Buku “Notes from Underground: Zines and Politics of Alternative Culture, World Zines

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s