Tegesan si Rara Mendut (Perihal Novel dan Kebijakan ‘aneh’)

Perempuan paruh baya memakai kebaya memegang lintingan kulit jagung sembari jongkok dengan kedua kaki berjinjit. Namanya Rara Mendut. Di tangannya itu terselip sebatang rokok yang kita kenal dengan kretek. Itulah gambar sampul depan novel trilogi Rara Mendut karya Alm.Y.B Mangunwijaya atau sering kita kenal dengan sebutan Romo Mangun.

Pada buku pertama dari trilogi novel fiksi roman ini dikisahkan Rara Mendut  perempuan muda belia dengan kecantikan luar biasa namun miskin hendak dipersunting oleh Tumenggung Wiraguna Raja Mataram. Rara Mendut pun diboyong dari kampung nelayan pantai utara Jawa menuju Mataram. Namun Rara Mendut ternyata menolak dipersunting Tumenggung Wiraguna dengan alasan sang raja dinilai lebih pantas jadi kakeknya.

Sang raja tersinggung, dengan berbekal kekuasaan (layaknya Tuhan) maka rara mendut dikenakan upeti/pajak selama hidup dan tinggal di mataram. Rara Mendut tak kehabisan akal, bersama sahabatnya ia berjualan rokok klobot; lintingan kulit jagung yang diisi tembakau. Anehnya rokok klobot yang dijual terlebih dahulu disulut, dihisap, dimatikan lalu dijual ke masyarakat. Tegesan alias puntung rokok klobot yang dijual tersebut ternyata laris luar biasa. Lelaki Mataram banyak yang membelinya, dikarenakan si penjual rokok sangat cantik dan merupakan putri boyongan raja mataram.

Novel berlatarbelakang Jawa pada abad ke 17 ini menyajikan intrik politik, kekuasaan, cinta, hingga perbenturan budaya ini patut dibaca dan masih sangat relevan hingga saat ini.

Penemu Kretek

Haji Djamhari warga kudus yang diyakini sebagai penemu pertama meracik lintingan yakni; cengkeh untuk dicampur dengan tembakau. Beliau kemudian memproduksi lintingan ini secara massal yang kini sering kita sebut kretek.

Melinting merupakan bagian dari sejarah panjang kretek di Indonesia. Khususnya pada bagian mencampur tembakau dengan cengkeh, apabila cengkeh terlalu banyak maka rasanya akan sangat panas sekali di lidah, kalaupun terlalu sedikit akan sangat gatal sekali di tenggorokan. Kulit jagung sebagai kertas rokok (pembungkus) juga perlu perlakuan khusus saat melinting campuran racikan tersebut.

Proses menggulung kulit jagung tersebut hingga menjadikannya sebatang lintingan yang utuh dibutuhkan kesabaran serta ketrampilan yang mumpuni. Jika tidak tepat maka lintingan akan susah sekali untuk dihisap dan dinikmati. Belum lagi masalah ukuran (besar kecilnya lintingan) akan sangat berbentuk aneh ketika dalam proses melintingnya tidak tepat. Itulah sebabnya orang-orang tempoe doloe lebih sabar, telaten dalam melaksanakan rutinitas sehari-hari. Jadi bisa dikatakan proses awal pembuatan kretek adalah dengan melinting.

Untungnya saat ini sudah ada papir (kertas rokok) -menggantikan kulit jagung yang sangat susah untuk dilinting- serta alat pelinting buatan yang memudahkan penikmat lintingan untuk mengkretek. Jadi bagi para pemula pelinting dapat belajar dengan sangat mudah. Industri rumahan juga banyak memakai alat pelinting ini sehingga proses produksi rokok bisa lebih banyak dan cepat.

Pasca wafatnya Haji Djamhari industri rokok kretek semakin populer dan menjamur, yang dilanjutkan oleh Nitisemo yang membuat racikan kretek semakin nikmat. Racikan yang ia temukan diberi merk sendiri yakni Bal Tiga. Ada campuran tembakau, cengkeh dan juga saus. Manajemen industri Bal Tiga dilakukan dengan sangat terperinci, detail dan pembagian kerja yang sangat teratur serta disiplin. Hal inilah yang kemudian mendorong terciptanya ladang bisnis yang menjanjikan sehingga muncul banyak industri rokok kretek besar maupun kecil. Munculnya mesin produksi sigaret kretek mesin (SKM) memulai otomatisasi industri yang menghasilkan kapasitas produksi yang besar serta cepat. Perusahaan-perusahaan mulai bersaing meningkatkan kualitas dan kuantitas produk serta menjaga loyalitas para karyawannya. Modernisasi tak membuat industri Sigaret Kretek Tangan (SKT) mati, surut mungkin benar.

Bangsa Pelupa

Kita tentu masih ingat tentang produk budaya asli Indonesia; reog dan tari pendet yang sempat diklaim negara tetangga. Batik pun saat itu sempat ‘akan’ dicuri dan dipatenkan pula oleh negara tetangga tersebut. Untungnya pemerintah merespon cepat, sejak tahun 2008 Pemerintah melakukan penelitian lapang di 19 propinsi di Indonesia untuk menominasikan Batik sebagai warisan budaya Indonesia kepada UNESCO. Akhirnya pada 2 Oktober 2009 ditetapkanlah sebagai Hari Batik Nasional. Sebelum batik, wayang dan keris telah lebih dulu disahkan dan dipatenkan sebagai warisan budaya asli Indonesia pada tahun 2003.

Proses pembuatan batik mulai dari mempersiapkan lilin, canting, kain, menggambar pola, membatik, mencuci, mengeringkan hingga akhirnya menjadi sebuah kain batik siap pakai semuanya menggunakan tangan, yang tentunya menyerap SDM yang tidak sedikit. Walau saat ini sudah banyak muncul otomatisasi pembuatan produk batik namun budaya membatik masih tetap ada dan eksis hingga saat ini. Simbol, gambar, tanda pada batik mengandung arti filosofis pada setiap detailnya, begitupun dengan proses membatik. Batik yang dulunya hanya dikenal oleh masyarakat Jawa sekarang dikenal luas oleh seluruh masyarakat Indonesia dan menjadi simbol kebanggaan tersendiri saat memakainya.

Pasca batik diakui sebagai warisan budaya Indonesia, pemerintah berusaha menominasikan produk budaya asli Indonesia lainnya untuk dipatenkan menjadi warisan budaya asli dari Indonesia, diantaranya angklung. Lalu bagaimana dengan melinting, apakah tidak bisa menjadi warisan budaya asli Indonesia?

Agak susah untuk menjawab pertanyaan tersebut. Melinting masih belum bisa dianggap sebagai produk budaya asli Indonesia, dikarenakan selain Indonesia ternyata negara-negara luar juga mengenal istilah melinting ini. Istilah melinting dan lintingan (produk akhir melinting) selalu berkesan negatif. Mengapa demikian, padahal sejarah terbentuknya kretek dimulai dari melinting? Stigma negatif ini muncul dikarenakan lintingan selalu dicurigai bukan rokok, melainkan ganja.

Entah siapa yang menemukan pengganti tembakau dalam sebuah lintingan dengan daun ganja. Oleh karena itu tiap kali ada razia narkoba barangsiapa membawa lintingan pasti langsung digelandang. Lintingan ganja sebenarnya merupakan alat pembius, penenang rasa sakit untuk para pengidap kanker, cara kerjanya pun sama dengan lintingan tembakau yakni dihisap. Lain dulu lain sekarang, awalnya sebagai obat tapi saat ini menjadi narkoba yang paling banyak digemari generasi muda. Untunglah kerja kepolisian dan pemerintah menanggulangi peredaran dan penggunaan narkoba berjalan cepat sehingga distribusi dan konsumsi narkoba berkurang dari tahun ke tahun. Namun sayang stigma lintingan terlanjur negatif di mata publik.

Apakah melinting sudah benar-benar menghilang atau punah di Indonesia? Jawabannya tentu tidak. Di berbagai daerah di Indonesia khususnya daerah penghasil tembakau, budaya melinting masih tetap ada. Petani tembakau, buruh tembakau, mahasiswa-mahasiswa –yang notabene uang bulannya seret– masih tetap melestarikannya. Beberapa masyarakat Madura hingga saat ini ketika menyambut tamu perokok selalu ditawari untuk melinting. Daerah-daerah penghasil tembakau seperti Madura dan Jember apalagi Temanggung tidak pernah bisa lepas dan melupakan budaya melinting. Sejarah panjang melinting, proses penciptaan kretek hingga akhirnya menjamur dan mewabah saat ini jangan sampai terkikis oleh arus globalisasi.

Pembatasan distribusi dan konsumsi tembakau dengan mengesahkan RUU Pengendalian Tembakau bukan jalan yang terbaik. Hal ini akan berakibat signifikan terhadap industri kretek dan sektor-sektor lain penunjang industri kretek ditambah pula hilangnya budaya melinting dan mengkretek. Mengapa demikian? tentu akan sangat panjang sekali alasannya. Kok bisa? Perkara pengendalian bisa berujung pada hilangnya budaya. Contoh yang paling mudah adalah televisi. Kehadiran televisi di satu sisi baik; sebagai sarana/media informasi. Namun disisi lain adanya televisi mengurangi intensitas manusia untuk saling bertegur sapa. Tak ada lagi nonton layar tancap. Tak ada lagi nonton siaran olahraga bersama-sama di rumah kepala desa. Analogi ini mungkin agaknya terlalu saya paksakan dengan kasus UU Pengendalian Tembakau. Kiranya kita juga harus membuka kemungkinan-kemungkinan terburuk dari adanya suatu keputusan. Keputusan yang dibuat tidak melalui suatu kesepakatan bersama, dan juga dilatarbelakangi adanya kepentingan segelintir kelompok pastilah tak akan bertahan lama.

Jangan sampai kita menjadi bangsa yang lupa akan sejarah budaya negeri kita sendiri, mari kita bersama-sama merawat ingatan, agar kita tidak mudah dikatakan sebagai bangsa pelupa. Lupa mana yang harus diperjuangkan.[]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s