Disiplin itu Indah; Cerita Perjalanan menuju Dies Natalis XIX Banjarmasin

Wajib hukumnya bagi para pengurus PPMI kota untuk menghadiri acara ini. Tak lupa pula para awak anggota PPMI (LPM) juga turut serta walau hukumnya Sunnah. Alhasil setelah proposal Dies XIX dikirim ke email persma Jember langsung saja saya keliling LPM untuk memberitahukan adanya acara tersebut. LPM pun segera mengurusi proposal ke fakultas masing-masing agar mendapat bantuan dan ijin untuk mengikuti acara tersebut. Seminggu sebelum Dies XIX akhirnya persma Jember sepakat memberangkatkan 7 orang delegasi.

Dies kali ini dilaksanakan di Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, mengingat ini pertama kalinya para delegasi dari LPM (anggota PPMI) bepergian jauh dari pulau Jawa. Masalah transportasi yang paling memberatkan para awak persma jember (berat di ongkos). Akhirnya saya mulai mencari-cari transportasi ke Banjarmasin yang paling murah, aman dan cepat.

Ada dua alternatif yang saya dapat dan langsung saya informasikan ke para delegasi persma jember. Pertama keberangkatan dengan kapal laut yang perjalanannya 20 jam dengan ongkos sebesar Rp.200.000,00 dengan beberapa catatan; biaya makan selama di dalam kapal mahal, belum lagi bahaya copet, mabuk laut serta preman ketika berada di pelabuhan dan di atas kapal laut. Kedua keberangkatan dengan pesawat terbang yang perjalanannya relatif singkat sekitar 50 menit dengan ongkos yang bervariasi mulai dari 200ribu – 350ribu, catatannya jarak bandara udara Syamsudin Noor Banjarmasin dengan kampus Unlam lumayan jauh. Akhirnya saya memaksa para awak persma Jember untuk berangkat dengan pesawat terbang, dan mereka pun setuju.

Seminggu sebelum acara saya pun memesan tiket pesawat terbang secara online, karena menurut banyak kawan kalau memesan tiket jauh-jauh hari lewat online akan dapat harga yang sangat murah dibandingkan memesan tiket lewat travel atau agen perjalanan. Alhasil saya berhasil membooking tiket dengan harga perorang Rp.270.000, tapi sayang booking saya hangus dikarenakan pembayaran tiket tersebut harus dilakukan 3-5 jam setelah membooking. Delegasi dari LPM Jember ternyata masih bermasalah dengan birokrasi kampus dimana bantuan dana delegasi masih belum turun. Hal ini yang sempat membuat saya stress karena acara sudah semakin dekat dan tiket pesawat masih belum kami dapat. Beberapa kali pun saya juga sempat memesan tiket pesawat online dengan harga di bawah 300ribu namun gagal lagi karena masalah dana yang belum turun.

Rabu 20 April 2011 saya pun mencoba menanyakan lagi dana keberangkatan masing-masing delegasi persma Jember, beberapa sudah selesai dengan masalah birokrasi dan dana sudah turun, namun beberapa lagi masih bermasalah. Alhasil saya pun menghanguskan bookingan tiket saya untuk keempat kalinya. Saya pun bertambah stress melihat harga tiket pesawat yang paling murah telah terjual habis. Tak kehabisan akal saya pun menghubungi Nuran (Anggota UKPKM Tegalboto) untuk meminta kontak agen perjalanan. Dari Nuran saya mendapatkan agen perjalanan yang paling murah dan paling baik (terima kasih yah Nuran).

Kamis 21 April 2011 masalah dari delegasi persma Jember telah selesai dan saya pun langsung menghubungi agen yang mengurusi tiket pesawat untuk memesan tiket pesawat untuk keberangkatan hari Jumat 22 April 2011. Awalnya saya ragu untuk mendapatkan harga tiket yang paling murah, namun keraguan saya ternyata salah total. Kami mendapatkan harga tiket pesawat Rp.247.000,00, langsung saja saya setujui dan bayar untuk 7 orang keberangkatan Jumat pukul 18.45 dari bandara Juanda Surabaya. Siang hingga malam saya menyuruh para delegasi persma Jember untuk packing-packing dan bersiap untuk berangkat.

Pukul 5 pagi kami  6 orang berangkat (Arif, Karin, Umi, Silvi, Affrin dan saya) dengan kereta api Logawa -yang satu lagi;Musa memilih naik motor- menuju Surabaya, tapi karena hari itu pas bertepatan dengan tanggal merah (Wafatnya Yesus Kristus) alhasil kereta yang kami tumpangi ramai dan penuh, hingga membuat sebagian dari kami terpaksa berdiri di bordes. Dasar mujur, pas di stasiun probolingo kami (sebagian yang berdiri) mendapatkan tempat duduk, walau sedikit berdesak-desakkan. Pukul 10 pagi kami sampai di Surabaya (stasiun Gubeng), kami pun istirahat sejenak di stasiun Gubeng sembari yang lain ke kamar mandi. Koordinator keberangkatan diserahkan ke pundak saya. Durasi sebelum pesawat lepas landas masih 8 jam lagi, akhirnya saya mengajak para delegasi persma Jember untuk mencari tempat beristirahat. Tempat pertama yang kami tuju adalah Sekertariat LPM Situs Unair Surabaya. Saudari Elly yang kebetulan Sekjen PPMI Kota Surabaya dan Anggota LPM Situs saya hubungi, dari dia saya dapati info bahwa hari libur sekret Situs sepi nan kosong. Gara-gara info tersebut saya terpaksa mengurungkan niat untuk beristirahat di LPM Situs. Sebagai gantinya saya mengajak persma Jember untuk mencari warung kopi untuk mengisi perut kami yang keroncongan.

Tepat di depan Graha Anumerta dan di samping kiri pintu masuk Unair kami mengisi perut dengan nasi bungkus dan kopi tentunya. Sembari makan saya pun menghubungi Elly untuk dapat ikut ngopi bersama kami. Elly pun datang sendirian dengan muka lesu yang nampak seperti orang yang baru bangun tidur dan belum mandi. Kami pun berbincang sejenak seputar keberangkatan para awak persma kota lain. Dari hasil perbincangan dapat disimpulkan bahwa sebagian besar awak persma kota lain memilih naik pesawat dan beberapa memilih naik kapal laut dengan Elly sebagai koordinatornya.

Setelah semua selesai menghabiskan makanan kami pun berpamitan dengan Elly untuk meneruskan perjalanan mencari tempat singgah. Sebenarnya Elly enggan untuk melepas kami dan menawarkan kosannya sebagai tempat singgah sementara. Usulan tersebut terpaksa saya tolak mengingat kami tidak suka merepotkan kawan Elly. Akhirnya saya memutuskan mengajak awak persma Jember untuk beristirahat di rumah saudara yang dekat dengan Bandara Juanda. Perjalanan pun kami lanjutkan dengan menaiki angkot sebanyak 2 kali dan becak 1 kali. Tepat pukul 13.00 kami sampai di rumah saudara saya. Beberapa awak persma Jember memilih untuk tidur dan beberapa lainnya memilih untuk membaca dan berbincang-bincang, saya pun memilih menghabiskan waktu menonton televisi. Tak lupa pula Musa yang memilih naik motor saya hubungi untuk bertemu di Bandara juanda 1 jam sebelum keberangkatan pesawat. Pukul 17.00 kami pun berangkat ke Juanda dengan diantar oleh saudara saya. Pukul 17.30 kami sampai di Juanda. Saya dan awak persma Jember berpamitan dan mengucap terima kasih kepada saudara saya.

Sial! Jam menunjukkan pukul 18.00 Musa belum juga datang (kawan yang memilih naik motor) padahal satu jam sebelum keberangkatan kami harus segera check-in dan mengambil tiket. Pukul 18.10 kawan yang ditunggu baru datang, secepat kilat kami masuk dan menuju loket tiket pesawat maskapai, namun gara-gara terlambat check-in kami pun diharuskan menunggu. 18.30 kami dikabari bahwa dari 7 orang yang bisa diberangkatkan hanya 5 orang (Affrin, Arif, Karin, Umi dan Silvi) dikarenakan permasalahan telat check-in, alhasil sebagai seorang koordinator yang baik dan bertanggung jawab saya pun memilih untuk tinggal dengan mengajak kawan Musa (Si-penyebab keterlambatan).

Saya dan Musa pun berdebar-debar menunggu kepastian apakah kami diharuskan membayar tiket lagi untuk dapat berangkat. Kami pun disuruh menunggu oleh salah satu pegawai maskapai. Akhirnya dengan sistim pelayanan yang cukup memuaskan pelanggannya, kami diberikan tiket keberangkatan Sabtu 23 April 2011 dengan gratis tidak membayar sepeserpun. Tapi masalah berikutnya kami harus tinggal dimana sembari menunggu keberangkatan pukul 7 pagi itu. lagi-lagi kami disuruh menunggu oleh pegawai maskapai. Setelah 20 menit kami menunggu dan ternyata kami diservis sangat bagus. Kami berdua dipesankan kamar hotel VIP (dengan ac dan televisi), diberi mobil pengantar (sebagai akomodasi pengantaran dan penjemputan Hotel-Bandara) serta diberikan 1 kali sarapan pagi di hotel sebelum keberangkatan pesawat. Benar-benar di luar dugaan awal kami yang mengira akan membayar lagi sebagai hukuman keterlambatan check-in pesawat. Alhasil kami pun benar-benar gembira -seperti kejatuhan durian berisi uang-, tak menyangka akan dilayani sebaik ini oleh pihak maskapai.

Saya dan Musa (Biang kerok)

Sebelum kami meninggalkan bandara dan menunggu mobil pengantar, saya dihubungi oleh Sekjend PPMI; Andi Mahifal yang saat itu kebetulan juga sedang berada di Juanda bersama kawan Fahmi (BP Nas Litbang) dan Defy (BP Nas Media). Nasib buruk menimpa Andi Mahifal dkk. Mereka juga mengalami nasib sama seperti kami, yakni sama-sama terlambat check-in. Namun sial bagi Andi Mahifal dkk, gara-gara kebijakan maskapai mereka yang menghanguskan tiket perjalanan apabila pelanggan terlambat check-in. Sangat berbeda dengan maskapai yang kami pakai (delegasi Persma Jember), padahal kami mendapat tiket yang murah sedangkan Andi Mahifal dkk mendapat tiket dengan harga yang mahal. Alhasil mereka pun misuh-misuh dengan keadaan tersebut –sebagai catatan ini yang kedua kalinya dialami saudara Andi Mahifal– dan iri dengan keadaan kami –saya dan Musa–. Akhirnya saya meninggalkan mereka dengan muka tersenyum dan dibalas dengan pisuhan dari Andi Mahifal dkk.[]

 

*Catatan lama, saya sebar lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s