Menyatu dengan Alam

            Charles Robert Darwin pernah menggemparkan Dunia dengan teori evolusi manusia. Dalam buku: “The Origin of Species”, Darwin menjelaskan tentang bagaimana mahluk hidup dapat hidup (teori evolusi) dan berkembang biak, serta teori tentang alam. Salah satu yang menggemparkan adalah hipotesisnya yang mengatakan bahwa manusia adalah binatang yang rasional. Beberapa contoh yang digambarkan dalam buku tersebut memuat bahwa manusia adalah evolusi dari kera.

Saya baru mengetahui buku ini (The Origin of Species) dan mengenal Darwin dengan lebih akrab ketika duduk di bangku perkuliahan. Agak terlambat memang. Saya akui! Semenjak menjalani bangku sekolah: SD, SMP hingga SMA, buku-buku Ilmu Pengetahuan Alam tak cukup lengkap untuk menceritakan tentang sejarah dan sedikit latar belakang penemunya. Barangkali hanya teori yang dikemukakan si penemu yang paling penting. Agaknya ini yang membedakan ilmu pengetahuan dengan filsafat.

Untungnya saya hidup di era modern, di mana informasi dapat dengan mudah didapatkan. tak perlu susah untuk berjalan ke pusat informasi tersebut, tinggal menghidupkan komputer dengan jaringan internet dan klik informasi yang dicari dapat langsung kita dapatkan. Mungkin tak hanya informasi saja yang bisa kita dapatkan dengan hanya sekali klik, melainkan seluruh kebutuhan hidup manusia dapat terpenuhi tanpa harus keluar keringat dan keluar rumah. Ketika lapar dan haus tinggal pesan lewat telepon dan layanan pesan-antar siap membantu. Pendidikan, tak perlu lagi menyekolahkan anak ke instansi negeri atau malah swasta, tinggal bayar guru privat semua sudah teratasi. Hubungan manusia dengan manusia (Relasi sosial) makin lama makin pudar, apalagi hubungan manusia dengan alam. Agaknya ketika manusia sudah merasa nyaman dengan hidupnya, ia tak lagi peduli dengan sekitarnya.

Saya masih ingat ajaran guru IPA saya tentang adaptasi. Dan manusia adalah mahluk yang menduduki hirakri puncak diantara mahluk hidup lainnya yang mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya, dengan alam. Pengertian ini agaknya bermakna negatif. Menaklukkan alam juga bisa dimaknai sebagai proses adaptasi manusia. Jadi bisa dikatakan wajar jika jumlah lautan semakin sedikit, karena pertumbuhan manusia semakin meninggi. Jadi wajar pula jika jumlah hutan, lahan pertanian, cagar alam digantikan dengan perumahan, gedung-gedung hingga pabrik-pabrik. Ketika itu semua terjadi, keseimbangan alam tentu saja terganggu. Indikator yang paling mudah kita lihat adalah perubahan iklim yang tak lagi dapat diprediksi. Ketika ini semua terjadi, bencana-bencana alam mulai menghampiri dan mengancam kepunahan manusia. Mungkinkah manusia dapat mengalami kepunahan akibat rusaknya alam? Sangatlah mungkin itu terjadi. Contohnya sudah banyak di depan mata kita. Udara terlampau dingin di Eropa, maraknya angin puting beliung di Indonesia, berkurangnya dataran es di kutub utara, adalah segelintir contoh nyata kalau alam sudah benar-benar tak dapat dikendalikan oleh manusia.

Masih ada Harapan

            Tentu saja, tak semua teknologi itu berpotensi merusak alam. Banyak juga yang mampu digunakan untuk memprediksi kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di alam. Teknologi tersebut dapat dimanfaatkan demi keberlangsungan hidup manusia serta terciptanya keseimbangan alam. Manusia (masyarakat) memegang peranan penting demi terciptanya hal tersebut. Tak bisa dipungkiri, masalah yang mendera masyarakat saat ini tak hanya soal lingkungan saja. Ada kemiskinan, putus sekolah, masalah kesehatan, upah yang tak rasional dan banyak lagi hal yang membuat hak-hak dasar (hak asasi) manusia masih jauh dari harapan. Undang-undang  yang dibuat oleh negara yang menyangkut hak asasi manusia, baik itu UUD 1945, dan UU yang diperuntukkan demi kemaslahatan bersama masih jauh dari harapan. Cita-cita mulia dalam peraturan tersebut hanya tertulis rapi tanpa ada implementasi di lapangan.

Perlu adanya kesinambungan antara negara dan masyarakat untuk menjalankan amanah yang tertulis dalam undang-undang tersebut. Khususnya berkaitan dengan hak-hak asasi manusia. Salah satu undang-undang yang masih jauh dari harapan tersebut adalah UU No. 32 tahun 2009, tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Ada satu alasan genting mengapa UU ini saya anggap penting untuk dikawal implementasi di lapangan lebih ketat lagi, yakni masalah pemanasan global. Pertimbangan huruf e, dalam UU No. 32 tahun 2009: “Pemanasan global yang semakin meningkat mengakibatkan perubahan iklim sehingga memperparah penurunan kualitas lingkungan hidup karena itu perlu dilakukan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.”

Indonesia adalah salah satu negara Asia Tenggara yang tergabung dalam Konferensi antar negara sedunia dalam menanggulangi perubahan iklim. Salah satu kampanye dan progam yang dijalankan adalah REDD+; Reducing Emission from Deforestation and Forest Degradation. Progam ini dimaksudkan untuk mengurangi kadar emisi yang dihasilkan akibat adanya deforestasi (penebangan) dan degradasi hutan. Progam ini digalakkan demi mengurangi kadar emisi yang dapat menyebabkan rusaknya lapisan ozon, yang akhirnya membuat dunia semakin panas. Semakin panas karena disebabkan sinar matahari yang diterima tak lagi melalui lapisan ozon. Salah satu gas emisi yang coba untuk ditekan melalui progam REDD+ ini adalah karbon.

Progam ini satu dari sekian progam penggalakan lingkungan hidup, notabene memberi harapan bagi manusia di muka bumi ini untuk tidak punah. Progam REDD+ juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat di areal hutan. Tak tanggung-tanggung, negara-negara yang tergabung dalam Konferensi ini memberikan dana bantuan yang tak sedikit kepada Indonesia. Indonesia dianggap penting karena jumlah areal hutannya masih cukup banyak, walau sudah banyak pula berkurang akibat adanya pembangunan yang tak berwawasan lingkungan hidup. Masyarakat yang tinggal di area hutan menjadi faktor penting bersama Negara, LSM serta organisasi-organisasi lingkungan hidup untuk bersama mengawal berjalannya progam ini.

Pengurangan penebangan hutan, penggundulan hutan hingga pemanfaatan hutan yang tak berwawasan lingkungan hidup dapat sangat berpengaruh pada tingkat emisi yang dihasilkan. Otomatis peran serta masyarakat menjadi penting. Implementasi progam ini harus terus dikawal. Cara pandang masyarakat tentang pemanfaatan hutan demi keberlangsungan hidup dengan mengeksploitasi habis-habisan perlu untuk dirubah. Disini peran serta Negara, LSM, organisasi lingkungan hidup untuk mengedukasi mereka. Salah satu contohnya adalah Oxfam. ”Oxfam adalah Konfederasi Internasional dari tujuh belas organisasi yang bekerja bersama di 92 negara sebagai bagian dari sebuah gerakan global untuk perubahan, membangun masa depan yang bebas dari ketidakadilan akibat kemiskinan.”

Tak Ada Yang Tak Mungkin

            Pasca terpilihnya Jokowi-Ahok sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta. Salah satu progamnya adalah menanggulangi banjir. Ini tak sekedar janji belaka. Pemerintah DKI beserta jajarannya langsung turun tangan mengatasi masalah ini. Peran serta masyarakat DKI Jakarta juga dilibatkan. Salah satunya adalah progam pembersihan kali Ciliwung. Wakil Gubernur DKI bahkan melakukan langkah yang cukup berani, dengan tidak mempergunakan pihak ketiga (swasta) untuk membersihkan kali, melainkan membuka lowongan ini untuk masyarakat DKI Jakarta untuk melakukannya. Hal ini tentu sedikit dapat mengurangi jumlah penggangguran di Ibukota.

Progam penanggulangan banjir di DKI Jakarta tersebut, bisa menjadi cerminan bagi kota-kota lain di Indonesia. Pemerintah  kota dan masyarakat saling bahu-membahu, menanggulangi masalah banjir. Banjir yang dulunya dianggap masyarakat adalah siklus tahunan dapat ditanggulangi. Patut disadari juga, bahwasanya tak ada progam yang instan atau langsung terasa dampaknya. Perlu waktu untuk merasakan dampak tersebut. Progam-progam yang dibuat sebaik apapun ketika tak didukung dan diimplementasikan, tentu hanyalah sekedar progam tertulis belaka. Peran serta seluruh elemen yang ada patut dikerahkan. Pemerintah pusat dan Pemerintah daerah serta masyarakat yang dibantu LSM dan organisasi lingkungan hidup mempunyai andil besar demi terciptanya lingkungan hidup yang baik dan sehat. Agar Cita-cita mulia dan hak-hak asasi manusia yang terkandung dalam UUD 1945 tak sekedar retorika belaka. Tak ada yang tak mungkin ketika semua sama-sama bersatu demi kemaslahatan bersama. Agaknya manusia di muka bumi ini tak hanya mampu beradptasi dengan alam, melainkan mampu –dan harus– berintegrasi (menyatu) dengan alam. Ini semua demi terciptanya kualitas hidup manusia dan tentunya kualitas lingkungan hidup. Barangkali hal-hal inilah yang mampu mematahkan tesis Charles Robert Darwin bahwa manusia tak hanya rasional, tetapi memiliki hati nurani.[]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s