Apa itu Media Persma

Saya pernah bergiat, lebih tepatnya mengalami alias berproses dalam UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) Pers. Satu-satunya UKM yang tak mau disebut UKM, melainkan ingin disebut sebagai Lembaga Pers Mahasiswa (LPM). Kenapa demikian? Agaknya UKM dianggap organisasi penyalur minat dan bakat semata, sedang Lembaga meminta lebih dari itu. Namun tak selamanya cita-cita atau lebih tepatnya harapan -mengusung nama Lembaga daripada UKM- tak terpenuhi. Banyak faktor yang menyebabkan hal tersebut terjadi. Ah, tiap tahun selalu saja ada problematika tersendiri yang harus dihadapi oleh awak UKM. Saat ini sepertinya UKM di Universitas Jember sedang bergelut dengan aturan Jam Malam.

Continue reading

Buku, Kamu dan Kamar

Aku lupa buku yang pertama kali kupinjamkan padamu untuk kau baca. Maklumlah, lelaki sepertiku susah untuk disuruh mengingat barang yang telah kupinjamkan dan kuberikan padamu. Apalagi tanggal, jam, hari, hingga baju yang pernah kau pakai, nama-nama tempat serta pesan singkat disaat kita jadian pertama kali, peringatan setahun jadian, atau juga saat pertama kali kita bertengkar walau akhirnya berdamai kembali. Mungkin sama dengan materi Raditya Dika saat sedang Stand Up Comedy, tapi memang aku seperti itu, lupa dengan hal remeh temeh yang justru penting maknanya bagimu.

Continue reading

Idols of the Minds

Setiap manusia pasti mengalami proses yang dinamakan berfikir, sebelum melakukan segala hal dan aktivitas. Berfikir adalah sarana , cara untuk menyelesaikan , mengatasi masalah, ilmiah, hal-hal besar maupun hal-hal kecil. Dalam proses berfikir seringkali kita dihadapkan pada suatu rintangan sehingga sasaran dan capaian yang mau dituju agak tersendat bahkan bisa sampai menyesatkan kita.

Francis Bacon (1564-1626) memberi contoh klasik tentang kesalahan berfikir yang disebutnya Idols of the minds yaitu :

1.      Idola Kesukuan (idols of the tribe)

Manusia dilahirkan di suatu golongan, ras, suku, dan lingkungan tertentu dan mereka merasa terikat disana. Manusia  cenderung suka bekerjasama dengan orang-orang yang mempunyai selera dan cara pandang yang sama dengan dirinya. Hal ini membuat manusia cenderung suka dengan hal yang berbau dirinya sendiri. Misal ketika kita dilahirkan sebagai pendukung fanatik Persib Bandung, apabila kita berpindah golongan karena sesuatu hal menjadi pendukung Persija Jakarta maka kita akan di cap pengkhianat.

2.      Idola Goa (idols of the cave)

Manusia ibarat sebuah gua (cave) yang memberikan identitas pada dirinya. Kita cenderung berfikir dan merefleksikannya pada diri kita sendiri, sehingga informasi yang paling benar adlah diri kita sendiri dan kita cenderung melebih-lebihkannya ketika kita membaca suatu buku atau suatu pengetahuan yang sama dengan kita.

3.      Idola Pasar (idols of the market-place)

Bahasa dan pemakaian kata- kata yang sering kita gunakan sehari-hari kadang juga dapat menyesatkan kita. Dualisme arti dari kata atau pun bahasa yang sering kita tulis atau kita pakai sehari-hari kadang bisa jadi sebuah persepsi negative di fikiran orang lain. Misal kata-kata macam gerakan kiri, gerakan komunis, gerakan Islam, gerakan radikal dll mengundang banyak persepsi dan argument, kadang-kadang emosi juga ikut terpancing, dan hal ini yang membuat sesat proses berfikir kita.

4.      Idola Teater (idols of the theater)

Pengaruh dan faktor keterikatan manusia pada partai, dogma, filsafat, agama, ideologi, isme-isme tertentu yang membuat kita menciptakan dunia kita sendiri. Sah saja ketika sistem yang kita terima begitu banyak dan banyak pula penganutnya ketika kita coba keluar dari sistem tersebut maka kita akan di cap sesat, padahal belum tentu juga kita sesat, bisa jadi ketika berada dalam sistem itu kita menjadi sesat.

Selain keempat hal diatas ada juga rintangan berfikir jelas macam prasangka, propaganda dan authority.

Prasangka yang selalu mengaburkan kita membuat kita tak dapat berfikir jernih, wajar saja kita sering sekali susah menerima pendapat orang lain. Prasangka ibarat sebuah perisai tak terlihat dalam tubuh kita, ketika bukti, data dan informasi yang disodorkan kita yang begitu akurat, sering kali kita masih menampikkannya. Prasangka salah satu rintangan yang paling dominan yang membuat kita susah berfikir jernih.

Ketika kita berfikir jelas dan informasi kita kuat dapat langsung diputarbalikkan menjadi sesat oleh propaganda macam tv, media massa, radio, sugesti-sugesti yang diberikan membuat kita mengikuti alur-alur itu dan terkesan kita sudah di set oleh propaganda itu. Jalur yang awalnya kita sudah tahu tiba-tiba berubah total akibat adanya jalur-jalur baru yang disugestikan lewat propaganda itu.

Hampir sama dengan propaganda, authority dapat berupa kebiasaan, tradisi, media massa, keluarga, agama. Misal ketika dalam prosesi makan bersama seluruh keluarga kita makan dengan menggunakan tangan kiri, langsung pada saat itu semua keluarga akan mencibir. Penerimaan yang tidak kritis terhadap authority berdampak pada usaha untuk menentukan mana yang benar dan yang salah dan sering kali kita tidak bebas untuk melakukan itu.

Jalan yang paling mudah (nih menurutku pribadi sih sebab ada banyak kemungkinan/cara yang bisa dilakukan) untuk mendapatkan proses berfikir secara jernih adalah dengan dialog/diskusi. Proses dialektika sangat sekali diperlukan sehingga sasaran dan tujuan yang akan dicapai dapat terwujud. Jadi tanggalkan atribut pendukungmu, hilangkan benteng, perisai dalam tubuhmu, buka seluas-luasnya ruang fikiranmu, jauhkan prasangka, propaganda, hindari ejakulasi dini, hindari jawaban instan, selanjutnya buka keran-keran dialog sebanyak-banyaknya agar sasaran yang mau dituju dapat terwujud. Semoga.[]