Maret: Bulan Perang!

Saya sebenarnya tak terlampau percaya pada bulan baik, hari baik atau bahkan jam baik. Terlebih lagi dengan zodiak dan juga primbon. Saya percaya ketika ada niat, konsep, kemauan dan dicampur dengan tekad, apapun yang akan dilakukan pasti bisa dilakukan, pasti! Yang lain hanya persoalan sepele, perihal dana, tempat, dll. Hanya kemalasan dan persoalan personal yang mungkin ‘agaknya’ membuat hal tadi menjadi gagal dilaksanakan. Mungkin tidak gagal, mungkin tertunda. Era sekarang ini, semua hal yang dilakukan oleh seseorang, berdua saja, bahkan oleh sekelompok orang ‘agaknya’ dipaksa untuk mentaati peraturan ruang, waktu, perijinan serta untuk apa hal tersebut dilakukan. Atau malah hal-hal ini tak berdampak begitu besar seperti yang saya khawatirkan, ah barangkali saya saja yang terlampau parno.

Perihal komunitas agaknya lagi-lagi saya berasumsi tak selalu didirikan untuk bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya. Saya rasa komunitas itu penting buat orang-orang yang berada di dalamnya. Tapi harus dipahami dulu bahwasanya komunitas ada banyak versi, yang paling mudah; komunitas profit atau non-profit. Tak perlu saya jelaskan secara utuh perihal profit dan non-profit, karena yang saya maksudkan ini adalah hal-hal material. Semua komunitas pasti profit, dalam hal kebermanfaatan kepada anggota, jejaring lingkar dalam dan kalau perlu sampai ke masyarakat sekitar. Ah, lagi-lagi saya tak bisa menjelaskan secara gambalang, sila anda cerna sendiri.

Perihal individu, personal diri. Saya percaya dengan apa yang dikatakan Marx dan Nietzsche tentang individu. Bahwa masyarakat harus dibentuk dari individu-individu berkarakter, kuat dan punya kemampuan untuk berkata ‘Ya’ pada hidup. Agaknya jika benar apa yang diungkap dua filsuf ‘gila’ tersebut akan menciptakan kolektivitas production pada masyarakat. Ah, maafkan saya jika terlampau salah mempersepsikan perihal individu dari Marx dan Nietzsche. Yang pasti saya percaya karya akan terbentuk jika individu-individu yang berkarakter itu berkomunal dan berkolektivitas bersama. Agaknya sebelum saya sebar lagi tulisan lama perihal kegiatan komunitas Tikungan di tahun lalu, ijinkan saya untuk sedikit mengulik kata-kata Hesiod dalam buku Nicomachean Ethics;

“Orang yang baik adalah yang menyelesaikan setiap persoalannya sendiri..
 Orang itu, juga, mengagumkan, mau mengikuti perkataan yang benar.
 Siapa yang tak bisa melihat kebenaran bagi dirinya sendiri, atau mendengarnya dari orang lain, atau dari yang tersimpan jauh dalam pikiran, dikatakan tak berguna.”

Catatan Harian Alien: Perang dan Budaya Literasi*

            Awal Maret 2012, di tengah guyuran hujan yang tiada henti menerpa Jember, sekelompok anak muda meluncurkan “Catatan Harian Alien: Perang dan Budaya Literasi”. Sekelompok anak muda ini menamakan dirinya Kelompok Belajar Tikungan Indonesia. Sebuah komunitas yang diisi oleh mantan pegiat organisasi intra kampus (UKM) dari beberapa kampus di Jember. Ada mantan pegiat pers mahasiswa, pegiat kesenian kampus dan mahasiswa pencinta alam. Acara yang bertajuk Perang dan Budaya Literasi ini diadakan selama seminggu, mulai dari 5 maret hingga 11 maret 2012, memanfaatkan Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Universitas Jember.

Bulan maret dipilih sebagai bulan perkenalan Kelompok Belajar Tikungan Indonesia ke masyarakat Jember karena menurut penahunan Masehi, Maret adalah turunan dari nama Dewa Mars, yang di mitologi dikenal sebagai dewa perang. Tapi ada juga yang mengenalnya sebagai sang perintis di medan laga, ujar Arys Aditia salah satu anggota Kelompok Belajar Tikungan Indonesia. Arys yang juga mantan pemimpin redaksi UKPKM Tegalboto Universitas Jember menambahkan “Catatan Harian Alien: Perang dan Budaya Literasi” dipilih sebagai tema penting yang ditawarkan kepada masyarakat Jember dengan harapan kesadaran baca-tulis juga menjadi tanggung jawab seluruh elemen masyarakat.

Acara ini berlangsung selama seminggu penuh, ada pameran foto dan desain grafis dengan tema: Energi Manusia. Disusul dengan pementasan teater sebanyak 3 kali; Tikus-Tikus, Anak-anak Balon dan Penjara-Penjara karya Halim Bahriz (mantan Ketum UKM Kesenian Universitas Jember). Ada juga nonton bareng Film Dokumenter “Dongeng Rangkas” yang bekerjasama dengan Forum Lenteng Jakarta dan Saidjah Forum. Ada pula Diskusi Jurnalistik yang bertema “Media Watch: Sebuah Undangan menjadi Pembaca yang Kritis”, ada pula peluncuran Buku Antologi Puisi Dua Kota; Jember-Jogjakarta PP, Buku Puisi Punggung-Dada karya Halim Bahriz dan Arys Aditia serta Newsletter Rumah Baca Tikungan. Kesemua acara ini adalah hasil cipta karya dan rasa; Kelompok Belajar Tikungan Indonesia sebagai bentuk pengenalan budaya literasi dan pengenalan komunitas ini kepada masyarakat Jember.

Maret 2012Maret 2012

Acara ini juga didukung oleh beberapa komunitas seniman di Jember dan unit-unit kegiatan mahasiswa yang sadar akan pentingnya mengebalkan budaya literasi di Jember kepada masyarakat Jember dan khususnya kepada masyarakat kampus. Nody Arizona salah satu koordinator Rumah baca Tikungan mengungkapkan; Semua sesungguhnya tahu dan memahami bahwa literasi adalah sebuah konsep dan kosakata purba yang belum mendapat tempat yang layak di hati masyarakat. Para peggiat literasi seperti kami, yang sehari-harinya mencoba mencari kemungkinan penyebaran serta pengawetan budaya baca-tulis malah dianggap aneh; dianggap alien. Karena hal inilah maka dipilih Catatan Harian Alien: Perang dan Budaya Literasi sebagai tema utama. Nody, mantan Pemimpin Redaksi LPM Ecpose Fak.Ekonomi Univ.Jember pun menambahkan; kami sadar bahwa ada sistem tak kasat mata di Jember yang menghalangi penyebaran budaya literasi maka yang harus dilakukan adalah berperan dalam arti yang luas, hingga muncul kemungkinan bahwa sistem itu bisa rontok dan budaya literasi semakin dicintai oleh masyarakat.

_DSC2199

Mengebalkan Budaya Literasi

Berangkat dari kegelisahan masing-masing personil di Kelompok Belajar Tikungan Indonesia tentang kondisi kehidupan kampus di Jember, yang tak memberikan ruang untuk berekspresi dan berkreativitas. Belum lagi masalah rendahnya budaya literasi di Jember yang notabene dijangkiti oleh para mahasiswa-mahasiswa di Jember. Hal ini dibuktikan dengan sepinya pengunjung perpustakaan Universitas Jember, dimana mahasiswa yang akan menempuh skripsi saja yang memanfaatkan perpustakaan tersebut. Fasilitas Wifi justru yang paling banyak digunakan oleh para mahasiswa, padahal sistem perpustakaan Universitas Jember belum berbasis online seperti kampus UGM atau UI. Kampus yang seharusnya menjadi salah satu tempat yang memberikan efek pencerahan masyarakat melalui mahasiswanya malah menjadi sebuah gedung tinggi, kokoh, angkuh dan berjarak kepada masyarakat. Kampus sudah tak bisa lagi diharapkan! Keresahan itulah yang mendorong Kelompok Belajar Tikungan Indonesia membuat bengkel eksperimen untuk mengebalkan budaya literasi di Jember.

Budaya literasi dipilih bukanlah tanpa sebab. Budaya literasi diyakini sebagai jalan membentuk karakter masyarakat yang cerdas, kreatif dan berdaulat. Dimulai dengan membuat Rumah Baca, Kelompok Belajar Tikungan Indonesia perlahan-lahan berusaha mengebalkan budaya Literasi di Jember. Segmen yang dilirik adalah siswa-siswa mulai dari sekolah dasar, mahasiswa hingga warga sekitar area Rumah Baca tersebut. Sistem peminjaman yang tak terlalu rumit dan bertele-tele menjadi salah satu andalan agar Rumah Baca ini dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat. Tak hanya rumah baca saja, Kelompok Belajar Tikungan Indonesia juga membuat diskusi rutin, reading group, musyawarah buku, nonton film bareng hingga membuat pertunjukan teater untuk umum.

Setahun lebih, Kelompok Belajar Tikungan Indonesia berjalan. Komunitas ini hadir untuk mengebalkan budaya literasi di Jember dengan tidak main-main. Sayang, ketika peluncuran komunitas ini dilakukan, hanya mendapat sedikit respon dari masyarakat kampus, khususnya para akademisi kampus. Mahasiswa yang hadir pun hanyalah dari jejaring kampus saja. Mahasiswa serasa sudah terlalu apatis dan tak terlalu suka dengan acara yang berbau-bau literasi. Mungkin juga karena hujan deras mengguyur Jember di bulan maret. Namun komunitas ini tetap yakin bahwa masih ada celah yang bisa dimasuki demi mengebalkan budaya literasi di Jember. Sebuah kelompok yang masih punya keyakinan, bahwa masih ada yang bisa dilakukan di tengah-tengah bombardir gaya hidup dan pemberhalaan pada yang nihil.[]

*Tulisan ini pernah dipublish di blog lama, sayang uda ilang tuh blog.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s