Ode untuk Akurium Raksasa

Awal bulan begini, tiba-tiba hape hitam putih saya banyak menerima pesan singkat. Aneh, biasanya cuman satu, dua orang saja yang kirim pesan. Eh ini malah buanyak bener yang sms ( maaf lebay). Eh, ternyata tempat saya berproses dulu sekarang mau ganti pengurus. Malah ini sudah hari kedua resmi berjalan bagi pengurus baru; PU dan Pemred. Tempat saya berproses dulu itu di Lembaga Pers Mahasiswa.

Biasanya sih, saya cuman ngasih selamat via sms. Tapi kenapa hari ini saya pingin menuliskannya di blog ini. Sebenarnya uda kepikiran buat bikin satu tulisan panjang semacam Ode untuk Alpha: tentang kisah saya dulu saat masuk dan berproses di dalamnya. Ah, ntar malah dianggap melankolis. Gengsi donk jadinya.  Saya tak mau tulisan itu nantinya menjadi semacam catatan sejarah saja, atau malah ntar saya dianggap sebagai motivator. Motivasi bisa didapat dimanapun, dari siapapun, tergantung bagaimana cara kalian mendapatkan dan mengusahakannya. Nek jaman sekarang metode dekonstruksi kayaknya uda banyak menjamur, nah kalian kenapa gak pernah pake hal itu untuk bikin Lembaga itu berubah. Bukan berarti apa yang sudah kalian lakukan itu gak ada pengaruhnya, atau gak ada perkembangan. Setiap apa yang sudah dilakukan, saya yakin pasti ada nilai positifnya. Minimal untuk diri kalian sendiri.

Saya nulis begini bukan berarti saya sudah tak mau lagi membantu atau peduli pada kalian. Saya tak mau dianggap jadi seorang munafik, karena melupakan tempat saya berproses dulu hingga saya bisa jadi kayak gini sekarang (jadi tambah keren :P). Saya merasa bersalah, karena tak menyempatkan diri untuk datang, sekedar setor muka ke kalian. Saya pernah berujar (saat masih jadi anggota dulu); alumni itu lebih layak dimintai duit saja daripada ndengerin omongannya yang kayak petuah bijak layaknya motivator dan kiai. Eh, ternyata saya ngerasakan sendiri jadi seorang alumni, gak punya duit banyak, yah terpaksa saya membagi apa yang saya punya. Ada sedikit buku-buku dari saya untuk perpustakaan kecil kalian. Andaikan saya punya kekuatan untuk kembali menjadi muda, atau ada mobil bikinan Dr. Emmet (Film Back to the Future) saya pasti meminta untuk kembali merasakan momen menjadi seorang peggiat pers mahasiswa. Ah sudah yah, tak perlu berpanjang-panjang sekali. Ada catatan lama, pernah saya tulis dulu di media tempel (INTEL) yang cetak cuman dikit. Saya bagi kembali. Tak apalah jika kalian anggap saya sebagai seorang motivator, tapi saya harap untuk saat ini saja. Mungkin esok ketika saya sudah berkecukupan mohon kalian jangan anggap saya sebagai seorang motivator lagi yah. Anggap jadi seorang dermawan rupawan gitu. Okeh! ha.ha.ha.

Nih tulisan lama kira-kira tahun 2009 kalo gak 2010. Waktu itu saya agak emosi perkara tak ada lagi anggota yang benar-benar berkomitmen kerja. Kebanyakan sih Omdo: Omong Doang. Nah ini saya bikin buat pelecut dan ejekan bagi mereka yang tak pernah serius berproses dalam Unit Kegiatan Mahasiswa. Oh, iya. Selamat kepada pengurus baru LPMM Alpha periode 2013-2014. Tak apa jika saat ini kalian stres karena terpilih. Tapi jangan lama-lama yah. Sudah saatnya tak lagi bingung untuk membagi waktu antara akademik dan organisasi. Uda banyak cara dan celah yang bisa kalian manfaatkan. Sudah tidak saatnya takut berkata benar.

Sekretariat Alpha, jaman dulu tahun 2007 - 2011.

Sekretariat Alpha, jaman dulu tahun 2007 – 2011.

Akuarium Raksasa

“Kampus adalah tempat penampungan sementara, tempat penangkaran, tempat pendewasaan cara berfikir yang diarahkan untuk menjadi sebuah robot, itu yang saya amati, lihat dan rasakan”

             Pertama kali masuk ke dalam Kompleks Gedung ORMAWA F MIPA bagaikan masuk ke dalam sebuah kumpulan akuarium raksasa berwarna putih tanpa ada korden yang menutupi masing-masing sekret hanya ada stiker, gabus, pamflet dan poster yang menutupi kaca sekret. Mahasiswa yang ada di dalam sekret ibarat sebuah ikan yang hidup dalam akuariumnya masing-masing. Tepat di tengah akuarium raksasa ini ada lapangan bulu tangkis, kadang pula dipakai tempat main bola pingpong, kadang juga buat kumpul berdiskusi atau hanya sekadar mengobrol.

Dari mulai pertama kali masuk sampai saat ini kehidupan dan kondisi ORMAWA relatif tidak berubah malah cenderung ditinggalkan ikan-ikannya. Ikan-ikan yang “biasa” hidup di dalam akuarium seperti kehabisan air dan mencari tempat yang banyak air, batu-batu koral yang indah, karang besar nan megah. Akuarium raksasa yang bernama Kompleks Gedung ORMAWA F MIPA hanya merupakan salah satu bangunan “kota air” kampus F MIPA UNEJ ada kota Biologi, Matematika, Kimia, Fisika, Kantor Dekan, Laboratorium dan lain sebagainya. Pertanyaan; Apa yang membuat akuarium raksasa ditinggalkan, terasa tak ada kehidupan disana, hanya kota air selain akuarium raksasa banyak disinggahi dihidupi oleh ikan-ikan itu?

Tentu ada banyak kemungkinan. Asumsi saya ini pun bagian dari kemungkinan. Masalah Tanggungjawab, amanat, dari orang tua untuk menjadi seorang mahasiswa yang konsentrasinya belajar, belajar dan belajar agar cepat lulus dalam waktu yang singkat dan mempunyai IPK tinggi. Salah satu faktor kenapa akuarium raksasa cenderung dibiarkan sepi karena kalau terlalu lama singgah di akuarium raksasa maka lulus dalam waktu yang singkat adalah mustahil. Tahun demi tahun berganti, ikan dewasa dilepas ke laut, datang ikan kecil yang akan dididik supaya bisa survive ketika dilepas di laut. Berulang seperti itu, tapi ternyata tidak ada juga perubahan yang dibawa oleh ikan-ikan ini ke dalam akuarium raksasa. Kalaupun ada slentingan yang mengatakan akuarium raksasa tahun demi tahun selalu berkembang pesat, justru saya meragukan hal tersebut.

Perubahan disini bukan dalam artian kuantitas tetapi lebih ke kualitas, sehingga tujuan Tridarma Perguruan Tinggi : Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian Masyarakat bisa terwujud. Suapan makanan dan nutrisi  yang diberikan para pemelihara, pendidik, penampung hanya akan membuat ikan-ikan kenyang untuk sementara waktu dan bekal itu tidak cukup untuk dibawa oleh ikan setelah dilepas ke laut. Fungsi akuarium raksasa disini adalah untuk membekali mereka dengan cara tidak memberi mereka makanan dan nutrisi melainkan si ikan sendiri yang mencari makanan dan nutrisi dengan bekal keahlian, kecakapan serta kemampuan agar nantinya bisa bertahan hidup di laut lepas.

Lalu kenapa hal yang seperti ini tidak membuat si ikan tertarik atau hanya sekedar mencicipi tinggal di akuarium raksasa, apa ada penghalang, pembatas yang dibuat sehingga si ikan tidak bisa masuk, bisa juga karena memang si ikan hanya mau disuapi terus hingga dewasa. Kota air yang tersekat dalam sebuah karang besar nan megah [tempat penangkaran] dimana didalamnya dihiasi batu-batu koral yang keliatan indah, air yang tenang, bersih, biru dan dikelola dengan sangat manis, anggun dan gagahnya oleh segerombolan pendidik, pelatih, pemelihara [dosen dan kroni-kroninya] membuat si ikan terlena, mengikuti lalu beralih hidup di sana dengan nyaman. Masalah prioritas selalu menjadi halangan ikan untuk masuk ke akuarium raksasa [padahal sejatinya karang adalah sebuah tempat tinggal yang bagus untuk berkembang]. Prioritas hanya kuliah, KKN/Magang, penelitian/skripsi lalu lulus dipegang kuat oleh mahasiswa F MIPA khususnya Fakultas Eksakta (bukan dalam artian Non eksakta lebih baik).

Waktu yang selalu memburu, membuang waktu itu ibarat sebuah dosa karena kata pepatah “Waktu adalah pedang, waktu adalah uang ” membuat singgah dan mencicipi kehidupan di akuarium raksasa adalah sia-sia membuang-buang waktu. Kalau tolok ukurnya adalah lulus dengan cepat dan nilai IPK tinggi yah saya juga mau, tetapi itu bukan capaian yang mumpuni percuma cepat lulus, IPK tinggi tanpa keahlian, kecakapan, kreativitas dan kemampuan untuk bertahan (survive) sama saja bunuh diri di luar sana, kawan. Di era yang katanya ada mobil berjalan di atas air sekarang ini (waduh ikan di laut dikunjungi mobil) pengetahuan dan kemampuan akademis sangatlah kurang, harus diimbangi dengan kecakapan, keahlian, kreativitas, kemampuan untuk survive yang tidak diberikan di dalam kota-kota air yang kita huni ini.

Ini  hanyalah opini dan argumen marah-marah saya, setidaknya itulah faktanya yang saya lihat sekarang. Ada musuh yang tidak terlihat, ada tembok penghalang besar yang saya sendiri (sebagai si ikan yang menghuni akuarium raksasa) tidak tahu dan tidak bisa menerka-nerka siapa dan dimana. Sebuah proses mulai dari ikan kecil yang tak tahu apa-apa hingga menjadi ikan dewasa yang mumpuni membutuhkan waktu yang tidak singkat, sesuatu yang instan, karbitan sangatlah kurang untuk menghasilkan sesuatu yang mumpuni di era sekarang ini. Bagi kawan ikan yang sekarang masuk dan menghuni kota air khususnya menghuni akuarium raksasa mari berproses dan jangan takut untuk berproses.[]

Advertisements

2 thoughts on “Ode untuk Akurium Raksasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s