Putus Asa, Rokok, Perempuan dan BHP

Putus asa paling banci
adalah putus asa karena perempuan
ya, perempuan
aneh saat keintiman diuji kabut
peluh digerah, sejuk sepoi selat Madura
sampai menyapa Kamal: Aku datang lagi

Manusia-manusia polos ini tak sedikitpun
disentuh oleh putus asa

Akan hitam hariku oleh mendung
hambar jadi arang
putus akan asa sudah mati

kalau mau mati yo matio aja
jangan ajak teman-teman
he

dan perjalanan ini
akan tetap kita teruskan
untuk melawan putus asa dan lupa
sebelum dituduh sebagai manusia
yang mati sebelum waktunya

secangkir kopi dan sebatang rokok
menenangkanku untuk sementara
kucoret kertas
kumuntahkan semua dengan tulisan
aku tersenyum
begitu bodoh dan rapuhnya aku ini
aku melamun sejenak
sambil kuhirup rokokku ini

sebatang rokok sampai pada ajal
kepulan asap terakhir menandakan firasat
segampang itukah kita menguap
bukan berakhir pada hembusan nafas
terakhir

Ah, lamunan, rokok berbumbu asap
tidak akan menjadi keputusasaan
saat lidah ada perempuan di situ
namun anehnya manusia polos ini
tetap tidak putus asa
ini bukan cerita
tentang "jangan pernah putus asa"
ala D'massif
dia cerita untuk keresahan

kepulan asap, perjalanan, deru kereta
dan ceria perlawanan kecil ini
harus diteruskan
bukan untuk perempuan
perempuan hanya sosok anggun
yang akan menemani kita

perlawanan kecil ini
untuk mencabut UU BHP
dan mengeluarkan pendidikan
dari tirani kapitalisme global
dan keserakahan
agar suatu saat nanti
ketika pendidikan
sudah benar-benar hancur oleh BHP
kita tidak dituduh bungkam
oleh generasi mendatang

perempuan memang datang atas nama cinta
tapi manusia polos ini
dengan cinta dan sedikit keras kepala
bukan banci kami
karena sedang tidak putus asa
untuk perempuan
banci karena menyelamatkan perjuangan
untuk merdeka

lalu lembar perjuangan dibuka kembali
antara Bangkalan-Jember
yang menjemput waktu

Risih terdengar
cabut mencabur ketukan palu
kembang kempis semangat
ketika ditinggal perasaan
seengah hati tanda kegelisahan
butuh kecurigaan kadang

putus asa, BHP, perempuan?
ah, semua ada dalam harapan
harapan menjelma jadi parau kenyataan
padahal kenyaaan
perlu kita tanya ulang
apakah ketiga itu
demikian juga harap nyata
hanya mimpi dalam diri kita,
bagaimana kita meyakinkannya?

Haha, kawanku, haha
di tengah perjalanan yang kian padat
dan menyenangkan ini
kita telah bahagia
berkunjung ke kota-kota
untuk bermimpi tentang distribusi pendidikan
yang lebih merata

sesekali tentang segelas kopi
dan perempuan yang jadi puisi
tak mengapa bersikeras dan curiga
bahwa mimpi harus jadi nyata
di masa ini juga

Saya tiba-tiba kangen dengan kawan-kawan lama saat dulu masih berkutat dengan aktif dalam gerakan mahasiswa. Sebagian dari para penyumbang kata-kata ini sudah pada melanglang kemana-mana, hanya tinggal beberapa saja yah masih bisa saya temui. Kalau ada pertanyaan; Pada bagian mana si Fandy menyumbang puisi, atau si Hari, atau si Zaki? Jujur! Saya kelupaan pada bagian mana mereka menuliskannya. Silahkan dinikmati utuh, jangan separagraf saja. Barangkali ini bukan termasuk puisi, mungkin hanya ‘semacam’ puisi.

Puisi ini ditulis keroyokan, antara Bangkalan-Jember (saat dalam kereta Logawa). Sebagian di warung dekat bundaran DPRD Jember, oleh: Fandy Ahmad, Oo Zaki, Rizki Akbari S, Muhammad Qomarudin, Saiful Munir, dan Hari Wibowo.

30 Agustus 2009

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s