Cerpen Pertamaku

Judulnya gak enak dibaca. Kayak masih anak SMP atau SD yang lagi buat tugas menulis, haha! Sebenarnya ini bukan cerpen pertamaku. Pertama disini aku tulis karena cerpen ini dipuji oleh beberapa teman dan pembedah cerpen kala itu. Kala itu sekitar Maret 2011. Cerpenku ini dimuat bebarengan dengan cerpen teman-teman penulis lainnya dan juga diterbitkan dalam Jurnal cerpen Tikungan oleh Kelompok Tikungan Jember.  Saat dibedah pertama kali, aku termasuk  yang banyak dipuji. Bukan bermaksud sombong, walau pembedahnya tak sehebat dan setenar kritikus-kritikus yang ada di Jogja atau pula yang berada di Jakarta. Tak apalah yang penting aku termasuk salah seorang yang banyak dipuji.

Pujian yang dilontarkan sebenarnya cukup sederhana. Cerpenku dianggap mempunyai bahasa yang sederhana, mudah dimengerti, dan mudah diikuti. Yang menariknya lagi karena mudah diikuti, cerpenku dianggap mampu untuk membuat pembaca bertanya-tanya tentang akhir cerita. Saat klimaks/puncak cerpenku larut ke pembaca, mereka akan sangat tertipu ketika membaca bagian akhir cerpenku. Secara keseluruhan cerpenku dianggap bagus karena punya kecenderungan untuk menipu para pembacanya. Ini kata-kata pembedah loh yah, aku hanya mencoba menceritakannya kembali. 😀

Awalnya cerpen ini kubuat layaknya pelajar SMP diberi tugas mengarang bebas. Eh, kok malah cerpenku dianggap satu-satunya cerpen yang cerpen beneran. Padahal teman-teman lain menulis cerpennya dengan tema-tema yang bikin bulu kuduk merinding: darah, malaikat-malaikat, kecoak, pembunuhan hingga Tuhan. Puji-pujian itu membuatku sempat merasa tinggi; gak nginjak bumi, Asli! Beberapa hari semenjak itu, aku mencoba mengirimkan karyaku ini ke beberapa media mainstream. Media cetak dan media online. Iseng sih sebenarnya, karena aku ingin mencoba namaku lebih dikenal luas lagi, dan bukan hanya di lingkaran lingkungan dimana saat ini saya berada. Sebualan saya tunggu, masih gak ada kabar cerpen saya dimuat. Dua bulan berjalan, masih saja tetap sama. Saya tunggu hingga empat bulan, eh hasilnya tetap aja sama. Mungkin saat itu belum saatnya aku dikenal. Atau barangkali memang cerpenku tak layak dimuat di media mainstream. Tema yang aku angkat mungkin tak cocok bagi mereka, dan harusnya cerpenku itu dimuat dalam majalah anak saja. Ah, tak apalah, Aku tak patah arang, karena memang aku tak bercita-cita 100% untuk jadi seorang cerpenis. Karyaku ini kubuat tak untuk diri pribadi sendiri. Karya ini kukumpulkan dengan karya teman-teman lain untuk diterbitkan dalam sebuah jurnal demi menguatkan tradisi literasi di Jember. Sederhana sekali caraku dan beberapa teman-teman memulainya, kami melakukan diskusi-diskusi kecil, bikin kelompok diskusi-diskusi kecil, dan tentu saja, output dari hal itu semua. Penerbitan!

Cover Jurnal Cerpen Tikungan #1

Cover Jurnal Cerpen Tikungan #1

Hal-hal itulah yang membuatku tak terlampau lama untuk mutung, hanya gara-gara sebuah cerpen yang tak dimuat di media mainstream. Harapan menguatkan tradisi literasi di Jember yang harus terus digiatkan. Agaknya cita-cita bersama lebih mulia dibanding cita-cita personal. Ruang-ruang kemungkinan itu yang harus diperlebar, barangkali ketika itu tercipta, akan muncul individu-individu kuat dengan sendirinya. Amien. Tak perlu berlama-lama lagi, ini cerpen pertamaku (kalau tertib pengarsipan tentu ini bukan cerpen pertamaku :D), silahkan dinikmati dan dimaki-maki.

Mati Suri
di Ranjang

Pagi datang, kabut masih enggan menghilang, masih tetap tebal menyelimuti halaman depan rumahku. Kokok ayam bersahut-sahutan. Alarm handpone anak kos di lantai dua rumahku berdering kencang, lalu mati, lalu berdering lagi.

Saat sebagian dari mereka baru tersadar dari tidur lelapnya, mengucek-ngucek lalu mengusap tai matanya, menguap,  dan meregangkan otot tubuhnya, aku sudah berdiri di depan rumahku, berpakaian rapi lengkap dengan sepatu bututku, tidak lupa sepeda ontelku telah kuparkir di depan halaman rumahku. Aku siap menjalani aktivitas pagi ini dengan persiapan yang lebih daripada hari biasanya. Ini hari pertamaku kuliah di Fakultas Sastra, pilihan yang aku idam-idamkan semenjak SMA.

Namaku Soleh Makmur, pemberian ibuku—Mariam—yang menginginkan aku menjadi anak saleh dan makmur dalam hidup baik dunia dan akhirat. Dan itu telah terbukti semenjak aku kecil hingga aku berhasil masuk Kampus Hijau. Aku heran kenapa kampus ini dikatakan Kampus Hijau, padahal jumlah pohon di kampus berkurang dari tahun ke tahun, hanya di fakultasku saja pohon-pohon tumbuh lebat tak terawat. Aku mengambil Jurusan Sejarah, karena semenjak aku SMA suka sekali dengan pelajaran sejarah apalagi tentang  sejarah negeri tercinta; Indonesia. Semenjak SD, lalu SMA dan akhirnya berhasil masuk ke Jurusan Sejarah, adalah berkat ketekunan belajarku. Dengan ketekunan itu pula aku tak pernah membayar satu sen pun biaya sekolah.

Ibuku seorang tukang cuci dan pemilik rumah kosan putra. Rumah kami cukup dekat dengan Kampus Hijau, dari mata pencaharian itulah kebutuhan hidupku dan adik perempuanku tercukupi. Bapak telah lama meninggal dunia, tepatnya sejak aku lulus SMP. Beliau mati tertimpa batu di tempat kerjanya. Resiko yang harus ditanggung untuk seorang Kuli batu. Semenjak kecil aku dan adikku sudah diajarkan tentang kemandirian diri, sebuah sikap yang susah dipelajari dan hanya bisa diperoleh melalui waktu dan proses pendewasaan diri. Adikku bernama Fatimah, setiap pagi selalu kubonceng dan kuantar ke SMA yang berjarak dua kilometer dari rumah dengan sepeda ontelku. Dia tidak pernah mengeluh dan tidak pernah menolak ketika kuantar berangkat ke sekolahnya.

Pagi ini adikku menghadapi hari terberatnya, ujian akhir yang paling menentukan lulus atau tidaknya masa studi selama tiga tahun. Pagi ini aku dan adikku sama-sama tegang, aku tegang karena baru pertama kali merasakan bangku perkuliahan, sedangkan Fatimah tegang karena ia merasa tidak cukup mampu untuk menjawab tes ujian akhir hari ini. Pagi ini Ibuku memasak sarapan yang cukup spesial. Nasi goreng lengkap dengan telur ceplok plus susu hangat yang dicampur dengan kuning telur.

“Kenapa sarapan pagi ini begitu berbeda Bu?”  tanyaku.

Ibu menjawab: “mumpung ada sedikit rejeki lebih biar kalian juga merasakan sesuatu yang spesial pada pagi ini.”

“Jangan lupa berdoa sebelum kalian mengerjakan sesuatu,” ujar Ibu.

Dengan semangat, sarapan spesial serta doa dari Ibu, aku dan adikku terasa mempunyai energi positif pada pagi ini. Tepat pukul setengah enam kami berangkat dari rumah, tak lupa ibu berpesan supaya hati-hati di jalan. Jalanan yang sesak dan ramai dipenuhi motor serta sebagian mobil,  membuat Ibu menghawatirkan kami.

Kami berangkat melewati jalanan berlubang, karena tak ada jalur khusus untuk pengguna sepeda ontel. Harga sepeda motor kini sangat murah—tidak bagi kami—sehingga sepeda ontel ditinggalkan dan dianggap terlalu kuno. Aku mengayuh perlahan di tengah asap knalpot yang bertebaran, debu, dan komplotan pengguna motor ugal-ugalan yang memaksa kami merangsek pelan-pelan.

Lampu merah berdurasi semenit membuat dadaku sesak dan adikku terbatuk-batuk karena asap knalpot yang bertebaran tebal, hitam dan pekat. Lampu hijau menyala, motor-motor mengebut kencang, saling mendahului satu sama lain, begitupun dengan mobil. Dengan keringat serta tubuh yang panas kukayuh kencang sepedaku, sekuat apapun kukayuh tetap saja tidak mampu mengejar meraka, hingga pada suatu turunan tajam kecepatan sepeda ontelku sangat tinggi. Adikku langsung berteriak histeris, “Kakak!!! Jangan kencang-kencang, aku takut, turunan ini tajam, di akhir turunan nanti ada tikungan sempit.”

Aku tak menggubrisnya, toh tiap hari aku juga melewati turunan tajam ini. Entah kenapa adikku pada hari ini begitu ketakutan setengah mati ketika kubonceng melewati turunan ini, padahal dia biasanya nyanyi-nyanyi ketika kuturuni turunan ini dengan kecepatan tinggi.

Saking tingginya kecepatan sepeda ontelku, dua hingga empat motor kulewati di turunan ini. Seperempat jalan menuju akhir turunan kurem sepedaku, tapi remnya ternyata blong, tak kehabisan akal, dengan cucuran deras keringat kurem ban depan dengan sepatu butut sebelah kanan hingga jalan sepedaku bergelombang seperti sedang melaju di atas paving, akibat dasar sepatuku yang tak rata. Sepeda perlahan-lahan pelan, tapi masih tetap melaju dengan kecepatan tinggi. Kutekan sekuat tenaga kaki kananku untuk memperlambat laju ontelku, tapi laju ontelku tetap saja kencang. Tak mau terjadi hal yang bisa membuatku dan Fatimah masuk Rumah Sakit, kusuruh Fatimah loncat dari boncengan.

“Gedubrak!!!” adikku jatuh di daerah kosong dan aman di pinggir turunan jalan.

Ia meringis kesakitan hanya luka lecet yang membalut di kedua kakinya, akibat jatuh yang tidak sempurna. Aku masih di atas ontelku, mencoba mengendalikan laju tinggi akibat remku yang blong. 300 meter lagi tikungan. Aku kaget setengah mati, di depan tikungan ada lubang sebesar pantat galon air minum, di sebelah kananku melaju motor yang tadi sempat kusalip. Penuhnya ruang di jalan memaksa aku mengangkat setang ontelku hingga ban depan terangkat untuk menghindari lubang, dan itu berhasil. Tapi aku lupa masih ada ban belakang. Aku tak bisa menghindarinya. Ban belakangku melewati jalan berlubang sebesar pantat galon air minum itu dan menyebabkan sepedaku terbalik 180 derajat, aku terpental ke tengah jalan. Motor yang kusalip tadi menghantamku bertubi-tubi.

Motor pertama menghantam tubuhku, motor kedua melindas kakiku dan motor ketiga melindas otakku dan tiba-tiba secercah cahaya putih silau nampak jelas di mataku. Bulat kecil, membesar, semakin membesar, sangat membesar dan akhirnya memenuhi seluruh mataku.

***

Aku terbangun dengan keringat dingin, degup jantungku tak pernah terasa sekencang ini. Ada suara isak tangis yang sayup—dan bahagia—dari ibuku dan Fatimah. Aku seperti kehilangan ingatan dan tak sadar bahwa aku telah berada di ranjang Rumah Sakit negeri kelas dua. Aku masih bingung aku ada di mana dan sedang mengalami apa dan terkena apa.

Kuamati dengan seksama keadaan sekitar. Ada sajadah, yang masih terhampar lebar di depan ranjang tidurku. Ibuku mengucap syukur berkali-kali dengan keras, adikku menangis bahagia melihatku telah sadar dan membuka mata.

“Soleh, anakku,” kata ibuku, “kamu sudah tiga bulan mati suri di ranjang keras rumah sakit ini, kamu mungkin tidak ingat kenapa penyebab kamu berada di sini. Kamu jatuh dari atap rumah gara-gara tergelincir, jatuh dengan kepala di bawah, tangga besi menimpa kepalamu dan kau langsung tak sadarkan diri hingga kau baru sadar hari ini.”

Mimpi buruk yang kualami ternyata hanya benar-benar mimpi, aku tak pernah kuliah di Jurusan Sejarah Fakultas Sastra—dan yang paling beruntung—aku tak perlu mengalami kecelakaan yang menyedihkan itu.[]

Advertisements

One thought on “Cerpen Pertamaku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s