Buku, Kamu dan Kamar

Aku lupa buku yang pertama kali kupinjamkan padamu untuk kau baca. Maklumlah, lelaki sepertiku susah untuk disuruh mengingat barang yang telah kupinjamkan dan kuberikan padamu. Apalagi tanggal, jam, hari, hingga baju yang pernah kau pakai, nama-nama tempat serta pesan singkat disaat kita jadian pertama kali, peringatan setahun jadian, atau juga saat pertama kali kita bertengkar walau akhirnya berdamai kembali. Mungkin sama dengan materi Raditya Dika saat sedang Stand Up Comedy, tapi memang aku seperti itu, lupa dengan hal remeh temeh yang justru penting maknanya bagimu.

Seingatku, tiap kali kupinjamkan buku dan juga kupaksa membaca buku pastilah kusuruh kamu untuk membuat sedikit tulisan tentang buku itu, walau resensi seluruh buku itu belum semuanya kamu serahkan padaku. Mungkin aku terlalu berharap banyak, mengingat kamu seorang mahasiswa Sastra Indonesia yang tentunya tahu banyak tentang bahasa dan maknanya tentu akan sangat mudah untuk meresensi sebuah buku. Maklum, aku dibesarkan di lingkungan akademik eksakta. Hingga saat ini aku masih telat mikir ketika berdiskusi dengan teman-teman lingkungan akademik non-eksakta. Hal ini yang memacuku untuk belajar hal-hal di luar lingkungan eksakta. Karena keasyikanku belajar di luar lingkungan tersebut aku menelan banyak getahnya. Salah satunya adalah aku belum bisa menemukan fokus ‘hal’ yang akan kujadikan pegangan yang kelak jadi senjataku di masa depan.

Beberapa buku yang pernah kupinjamkan padamu sebagian milik pribadiku sendiri, sebagian lagi kupinjam dari teman, kubaca lalu kupinjamkan padamu. Kebiasaan burukku yang jarang membeli buku (lebih karena hutang dan juga kebutuhan lainku banyak) membuatkku senang meminjam (bukan mencuri). Terlebih lagi saat ini aku hidup digumuli oleh para pencinta dan pengkoleksi buku. Kamu adalah salah satu orang saja yang kupinjamkan buku milikku pribadi dan hasil pinjaman (ingat bukan barang curian). Perlahan-lahan kutinggalkan kebiasaan buruk ini sebab perilaku ini menyebabkan bukuku juga sering dipinjam dan tidak dikembalikan (semoga bukuku yang dicuri akan beranak-pinak dan bermanfaat) dan juga sudah banyak penjual buku murah merajalela.

Hasil resensimu yang terbit berkala di Partikelir (edisi magang kelompok dua bulan Oktober 2010) semuanya sudah kubaca, beberapa adalah buku yang sudah kubaca pula. Salah satu resensimu adalah buku Tuhan Ijinkan Aku Jadi Pelacur karya Gus Muh. Buku kecil yang cukup tebal dan kontroversial itu hanya kamu resensi 2 halaman saja. Sebenarnya resensimu ini cukup bagus namun sayang hanya sedikit sekali. Untuk menarik pembaca sudah sangat baik sekali dimana kamu tegas dengan kalimat; Novel ini menarik untuk dibaca dan menantang. Terutama bagi para aktivis gerakan Islam. Sebab, yang dijalankan adalah perjalanan seorang aktivis gerakan Islam. Dan kamu tegaskan dengan; novel ini bagi orang dewasa hanya sebagai entertainment saja. Tapi bagi orang muda yang sedang mencari jatidiri, yang belum matang, pilihan kata penulis menjadi semacam “ayat suci” yang akan menentukan sikapnya kelak. Namun sayang, kamu kurang menceritakan lebih tentang; apa sebenarnya tujuan penulis novel dengan novel karangannya ini?  Hal lain tentang buku ini adalah kenapa si Nidah Kirani memilih  dan menikmati untuk menjadi pelacur tak kamu bedah dan sajikan dalam resensi ini. kamu hanya menegaskannya lewat kalimat si penulis sendiri; “Hubunganku dengannya tak kurang dan tak lebih semata hanya seksnya saja, untuk pelampiasan kekosonganku. Lain tidak. Cinta? Taik.”

Buku yang lain adalah Dadaisme, masih ingatkah kamu? Buku hasil belanja di Kampung Ilmu di jalan Semarang, kota Pahlawan, Surabaya. Buku pemenang sayembara novel DKJ tahun 2003 itu tergeletak acak di tumpukan buku-buku motivasi kudapatkan dengan susah payah. Mengingat pemenang sayembara ini menghasilkan penulis handal contohnya Ayu Utami dengan ‘Saman’ pemenang sayembara novel DKJ 1998 menyingkirkan Korrie Layun Rampan. Dadaisme, karangan Dewi Sartika, sebuah judul buku yang kurasa aneh ketika ku mendapatkannya. Awalnya kukira ini hanya buku humor belaka, karena kukira isinya tentang gerakan dada. Buku ini kuhabiskan dalam waktu dua hari saja untuk pertama kali membacanya, lalu kuulang-ulang, hingga kubaca 3 kali. Tapi masih saja aku tak mengerti apa arti dan makna yang disampaikan si penulis.

Hingga kugoogling dan kuartikan kata dadaisme di KBBI, yang artinya aliran seni lukis dan sastra (muncul sekitar tahun l913 di Swiss) yang menolak segala aliran seni yang telah ada serta menanggalkan nilai tradisional dan memperjuangkan dikembalikannya seni kepada bentuknya yang paling primitif, beda lagi dengan arti dadaisme lain yang saya temukan di situs goodreads.com berbunyi; Aliran Dadaisme muncul saat berkecamuknya PD I, bulan Februari 1916, dimana saat itu keadaan dalam rongrongan perang. Nama Dada begitu saja diambil dari sebuah kamus Jerman-Perancis yang kebetulan berarti ‘kuda mainan’. Sinisme dan ketiadaan ilusi adalah ciri khas Dada, yang diekspresikan dalam bentuk main-main, mistis ataupun sesuatu yang menimbulkan kejutan. Yang ternyata tulisan review di situs goodreads tersebut penulisnya menyalin arti dadaisme dari orang lain yakni Soedarso, 1990: 99.

Kupinjamkan padamu untuk kamu resensi dan berdiskusi denganku. Sayangnya resensimu kau tuliskan lewat pesan singkat padaku. Padahal kamu tahu kalau aku jarang sekali menyimpan pesan singkat di ponsel lebih dari sehari.

Internet memudahkanku untuk mencari dan mengumpulkan beberapa buku-buku yang tak sanggup kubeli versi cetaknya. Irit sih! Sejam saja ngenet, aku sudah mendapatkan banyak. Aku pun menyimpan beberapa e-book dan pdf tersebut. Kukumpulkan rapi dalam laptop dan kubagikan beberapa untukmu. Beberapa sudah kamu baca, ada yang kamu bedah untuk tugas kuliahmu, ada yang kamu resensi, namun sayang lagi-lagi kamu lupa untuk memberinya padaku untuk kita diskusikan. Padahal kita bisa berbincang erat sambil ditemani kopi pahit untukku dan teh jahe kesukaanmu.

Mungkin kamu bertanya-tanya, kenapa aku menuliskan hal ini kepadamu?

Dasarnya aku adalah orang pendiam, tak banyak omong ketika berdiskusi tentang hal yang belum aku mengerti sepenuhnya. Ditambah lagi teman-temanku para pecinta sastra, seni, budaya dan hal-hal berbau filsafat. Jadilah aku suka sekali berdebat dengan hal teknis dalam sebuah diskusi, tak menangkap makna tersirat melainkan terburu-buru menanggapi makna yang terucap dan tersurat. Dan ini ternyata terbawa ketika aku berusaha berbicara untuk mengungkapkan makna yang tersurat di hadapan teman-temanku yang juga kau kenal. Beberapa dari mereka mungkin mengerti apa yang coba kuutarakan sewaktu diskusi, karena mereka membaca lebih banyak dariku dan beberapa lagi pernah hidup bersamaku (bukan berarti aku penyuka sesama jenis dan playboy), lalu bagaimana dengan temanku yang bukan kriteria diatas ini. Pastilah mereka akan kebingungan. Aku mencoba agar semua mengerti apa yang aku sampaikan dalam sebuah diskusi, bukan untuk sok pintar dan unggul dalam debat ketika diskusi, melainkan informasi harus disampaikan secara utuh agar tak terjadi misscomunication dan missunderstanding (hehe, berupaya go international) alias salah paham. Dan metode ini kupraktekkan kepadamu.

Aku meminjamkan bukuku dan pinjaman buku kepadamu lalu kamu resensi lalu kita berdiskusi, harapannya agar aku bisa menyampaikan informasi buku tersebut kepadamu dan juga sebaliknya. Apakah dari kegiatan tersebut membantu aku dan kamu untuk bisa menerima informasi, saling tukar dengan mudah. Jawabannya tentu saja iya, walau kita kadang-kadang berdebat mempertahankan argumentasi masing-masing. Dan hal ini juga kulakukan perlahan-lahan dengan temanku, kita bertukar buku dan juga materi bacaan yang sama lalu kita diskusikan. Ternyata sangat membantu sekali. Kelihatannya sungguh rumit dan ribet. Tak apalah, sebab ku menilai diriku adalah seorang yang perfeksionis.

Kelihatannya sombong sekali orang dengan label tersebut. namun bagiku malah sebaliknya. Aku ingin semua yang kusampaikan pada orang lain dan juga padamu terlihat sempurna. Capek memang, mengingat aku juga melihat sesuatu yang tak sempurna atau tak semestinya terjadi begitu saja. Bukan hal-hal yang besar melainkan hal-hal kecil yang ada di sekelilingku. Salah satu temanku berujar kalau aku adalah manusia solutif. Manusia yang selalu berusaha memberikan solusi bagi orang lain. Bagiku jawaban itu penting, oleh karenanya aku berusaha mencarikan jalan keluar/solusi bagi temanku. Minimal aku bisa lebih profesional dalam hubungan antar manusia dan tidak bermaksud untuk menjadikan kebiasaan ini aku praktekkan dalam dunia nyata, menjadi sales, MLM atau pusat operator misalnya.

Itulah sebabnya aku menikmati kesendirian. Bukan berarti aku hidup benar-benar sendiri tanpa bantuan orang lain. Sudah sejak bangku SMP aku suka menyendiri setelah melakukan aktivitas rutin. Aku selalu punya tempat rahasia untuk menikmati momen kesendirian itu. Serupa Nedena yang membisu dan hanya bicara dengan Michail Malaikat bersayap satu berwarna hitam dalam Dadaisme, serupa Nidah Kirani yang kosong tak merasakan apapun walau sedang bercinta di atas ranjang, atau juga serupa tukang nasi goreng yang diam saja ketika melayani pembelinya, menuruti semua kemauan pembelinya, mengingat wajah si pembelinya kala sedang dibanjiri pelanggan nasi gorengnya yang termuat dalam cerpen Koh Su karangan Puthut, EA.

Sebab yang paling penting menurutku adalah apa yang tercipta dari itu semua, seperti gambar langit Nedena yang selalu berwarna selain biru, tulisan-tulisan Nidah Kirani kepada temannya, tingkah polahnya ketika berdiskusi dan saat Kirani kuliah, serta Nasi Goreng lezat Koh Su yang tak ada tandingannya. Itulah juga kenapa tak ada hal yang kuhasilkan secara sempurna, sebab semuanya kuambil dan perlahan-lahan kukerjakan. Walau skala prioritas itu penting, namun tetap saja kepentingan umum lebih diutamakan daripada kepentingan pribadi, setidaknya masih ada kamar kosong untuk menyendiri, kalaupun tak ada kamar mandi bolehlah.

Jujur saat ini aku ingin memiliki lagi sebuah kamar sendiri, seperti saat aku masih numpang hidup di rumah pamanku, Surabaya. Kamar yang cukup luas, lengkap dengan perabotan dasar dan tambahan. Dasar: kasur, seprai, kaca, lemari dan sebuah meja untukku menulis dan membaca. Tambahan seperti radio mobil yang kutak-utik hingga bisa kupakai mendengarkan kaset pita koleksi dan mendengarkan beberapa siaran radio Surabaya. Plus sebuah kipas angin yang membantuku melalui hawa panasnya Surabaya.  Kamarku kala itu lengkap dengan dua kasur yang bisa kupergunakan semua. Ditambah lagi dua pintu yang membuatku nyaman karena bisa menikmati fajar datang. Ah, aku ingin memiliki lagi kamar seperti itu. Dan pastinya akan kulengkapi dengan jaringan internet, sehingga ku tak perlu keluar kamar untuk tahu apa yang terjadi di luar sana.[]

Advertisements

4 thoughts on “Buku, Kamu dan Kamar

  1. Pingback: Untukmu, R | Lingkaran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s