Apa itu Media Persma

Saya pernah bergiat, lebih tepatnya mengalami alias berproses dalam UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) Pers. Satu-satunya UKM yang tak mau disebut UKM, melainkan ingin disebut sebagai Lembaga Pers Mahasiswa (LPM). Kenapa demikian? Agaknya UKM dianggap organisasi penyalur minat dan bakat semata, sedang Lembaga meminta lebih dari itu. Namun tak selamanya cita-cita atau lebih tepatnya harapan -mengusung nama Lembaga daripada UKM- tak terpenuhi. Banyak faktor yang menyebabkan hal tersebut terjadi. Ah, tiap tahun selalu saja ada problematika tersendiri yang harus dihadapi oleh awak UKM. Saat ini sepertinya UKM di Universitas Jember sedang bergelut dengan aturan Jam Malam.

Problematika di tiap tahunnya atau di tiap generasi, selalu menjadi tantangan untuk dihadapi bersama-sama. Ekspektasi terhadap UKM di tiap tahunnya sangatlah besar. Hal ini bisa dilihat dari jumlah anggotanya, media terbitannya serta agenda-agenda yang dilaksanakan. Saya tak akan berbicara soal jumlah anggota atau banyaknya agenda yang dilaksanakan. Saya ingin berbicara tentang media terbitannya. Tujuannya, permasalahannya serta latar belakang yang melandasi kenapa media itu harus terbit rutin atau bahkan tak usah terbit sama sekali. Persma tentu saja sering dipusingkan terkait agenda untuk menerbitkan media. Perihal tema, awak redaksi, narasumber dll, itu semua bisa diselesaikan dalam sebuah rapat redaksi. Dan saya tak ingin menyinggung penuh soal rapat redaksi. Permasalahan yang (mungkin) paling pelik adalah soal dana penerbitan. Soal terakhir ini rasa-rasanya tak perlu dibahas terlalu lama. Tak usah dipusingkan soal dana, karena di era sekarang ini sudah banyak Bank Pengkreditan Rakyat, atau barangkali Pegadaian bisa menyelesaikannya, hehe. Maaf, bukannya bercanda, soal dana sudah tak terlampau menjadi masalah jika anggota Jaringan Kerja, Iklan, Dana Usaha saling berkerjasama. Selain itu tentu saja Kampus sebagai penyumbang tetap dana UKM.

Membincangkan media persma, tentu membincangkan juga awak persmanya bahkan sampai membicarakan lembaganya. Mulai dari pilihan tema, bentuk tulisan, hingga isi media mencerminkan kualitas sebuah Lembaga. Terlampau berat memang, tapi ini kenyataan yang tak bisa ditampik. Media persma tentu saja bukan media terbitan pelajar. Media persma juga bukan media layaknya pers umum. Ada banyak pembeda diantara keduanya. Media persma tentunya mengutamakan kedalaman, sedang media pers umum lebih mengutamakan kecepatan, atau lebih tepatnya update informasi. Maksud saya, keberagaman informasi lebih banyak disampaikan oleh media umum, sedangkan persma biasanya hanya mengangkat 1 hingga 3 informasi (yang dianggap) penting lalu disajikan secara mendalam. Oplah terbitan media persma juga biasanya tergantung besaran dana, sehingga tiap tahunnya berubah. Tentang pasar (pembacanya) juga ‘kadang’ dipikirkan oleh awak persma. Hal-hal itulah yang kadang membuat awak lembaga persma tak kontinyu menerbitkan medianya, atau bahkan ada yang sampai tak menerbitkan medianya di satu periode kepengurusan.

Tulisan ini pernah saya sajikan dalam sebuah upgrading awak persma Jember di tahun 2011. Saya sengaja tak membahas detail hanya tentang media dan hal yang melatarbelakanginya. Saya justru sedikit menyentil persoalan kenapa persma harus membuat media? Kenapa persma itu ada? Yah, walau lagi-lagi tak detail layaknya sebuah karya ilmiah atau bahkan skripsi -yang hingga sampai kesimpulan-kesimpulan-.  Tentu saja keadaannya sekarang sudah sangat jauh berbeda. Permasalahan yang dihadapi juga sangatlah berbeda. Barangkali keadaannya mungkin tetap sama seperti saat saya dulu menyajikan materi ini. Kemungkinan-kemungkinannya sangatlah beragam. Untunglah materi ini saya buat sebagai bahan diskusi dan refleksi di semua periode kepengurusan, alias tak lekang waktu. Atau barangkali materi saya tak terlampau inheren lagi di kondisi saat ini. Ah, semuanya serba mungkin. Berikut materi saya tentang media persma:

Media Persma dalam era Kekinian*

“Apakah Media Persma saat ini bisa dikategorikan sebagai media penyadaran, pencerahan masyarakat dan perlawanan atas penindasan, ataukah hanya sebagai media alternatif belaka, ataupun hanyalah media kampus semata?”

             Secara definisi tentulah kita harus ingat bahwa persma adalah penerbitan pers (dalam bentuk majalah, tabloid, newsletter, atau media online-website) yang benar-benar dikelola oleh mahasiswa. Seluruh proses mencari berita (informasi), penulisan, tata letak, cetak dan distribusi dilakukan sepenuhnya oleh mahasiswa. Ada banyak persepsi tentang apa itu persma; Sebagai tempat latihan menulis, tempat pengkaderan, tempat penyaluran hobi, tempat bersenang-senang, tempat mencari jaringan, teman bahkan pacar.

Teori dasar organisasi selalu mensyaratkan adanya tujuan yang sama. LPM yang tercerahkan dalam tujuannya selalu mengambil keberpihakan kepada rakyat, masyarakat banyak yang termarjinalkan, juga berpihak pada kebenaran. Terkait dengan informasi (media informasi) selalu mengarah pada informasi milik rakyat yang menuju pada kedaulatan rakyat, atau masyarakat madani. Secara umum bisa ditarik benang merah bahwasanya persma adalah organisasi untuk mewujudkan cita-cita bersama. Apa itu cita-cita bersama; bahwa persma lahir sebagai bentuk perlawanan terhadap penindasan melalui kegiatan jurnalistik dalam sebuah media.

Proses kerja mulai dari mencari berita, mengolah, menginformasikan, mencetak dalam sebuah produk lalu mendistribusikan ke publik yang dilakukan oleh persma hampir bisa dikatakan sama dengan yang dilakukan pers umum. Akan tetapi kita (persma) tidak benar-benar sama dengan pers umum. Pertanyaannya mengapa demikian? Jawabannya lagi-lagi persma lahir sebagai bentuk perlawanan terhadap hegemoni media umum.

Embel-embel mahasiswa yang melekat pada kata ‘pers’ mempunyai arti yang cukup unik, berat dan ‘konon’ idealis. Mahasiswa adalah ras yang berbeda dengan manusia lain dari segi umur, imajinasi, intelektual, dan kebebasan berfikir, yang sering diartikan pelopor terdepan, generasi masa depan, agen perubahan. Contoh riil adalah peristiwa 98, dimana mahasiswa sebagai garda terdepan perubahan.

Atau melihat jauh ke belakang lagi: gerakan mahasiswa Indonesia di tahun 60-70-an, yang tak luput dari pengaruh flower generation di Barat, pernah memiliki kekuatan yang ampuh untuk turut membentuk budaya dan masyarakatnya. Pertanyaannya: bagaimana dengan generasi saat ini, dimana lingkungan yang sudah sangat jauh berbeda, musuh yang juga berbeda, dibesarkan dalam era teknologi yang jauh lebih berkembang dari masa lalu, apa kontribusinya terhadap masyarakat minimal di lingkup terkecil dari masing-masing kampus?

Pers mahasiswa adalah alat perjuangan. Bukan tentang kenaikan oplah dan peningkatan mutu pemberitaan yang menjadi prioritas, tetapi bagaimana pers mahasiswa menjadi wadah rembuk bersama yang pesannya bisa menembus dinding-dinding pengelompokkan yang primitif, apa pun wujud pengelompokkan itu. Untuk itu, pers mahasiswa harusnya tidak terasing dari komunitas masyarakat yang melingkupinya. Sebaliknya, ketika pers umum bias dan terkotak-kotak ketika mengupas isu yang sama, pers mahasiswa harus menjadi mediator bagi bertemunya gagasan dan pendapat publik, untuk kemudian dicarikan solusi yang memihak yang lemah.

Pers mahasiswa tidak harus selalu tergoda untuk membahas isu-isu besar dan berskala nasional –yang sudah pasti menjadi santapan dan keroyokan pers umum–. Jika ini yang selalu menjadi orientasi pers mahasiswa, bukan saja pers mahasiswa akan terlepas (decoupling) dari komunitasnya, tetapi ia juga pasti akan kalah bersaing dalam perebutan lahan yang sama dengan pers umum. Namun demikian, bukan berarti pers mahasiswa tabu nan haram menyentuh isu-isu nasional. Artinya semua yang terjadi diberitakan dengan jurnalisme ala mahasiswa.

Media Persma serta yang melatarbelakanginya

             Sebagai persma tentu yang dilihat adalah produknya/medianya, sebuah respon lembaga/organisasi atas realitas/fenomena yang terjadi. Tentunya bekal ilmu mulai dari metodologi ilmiah (penelitian ilmiah, penelitian sosial, penelitian kualitatif maupun kuantitatif) plus metodologi jurnalistik didapatkan awak persma saat pelatihan-pelatihan jurnalistik dasar, lanjut hingga tingkat yang lebih profesional. Ciri khas masing-masing persma dibentuk dari lingkungan masing-masing lembaga. Politik redaksi, sistim kaderisasi, sistim pembelajaran wacana hingga masa aktif berorganisasi (SK Lembaga) hampir tidak seragam di masing-masing lembaga. Hal tersebut tentu berpengaruh pada tampilan fisik dan juga konten media masing-masing lembaga. Faktor internal pun berdampak signifikan terhadap media terbitan seperti; tidak adanya dana penerbitan, minimnya anggota hingga kurangnya pengetahuan dasar tentang apa itu persma.

Pengetahuan tentang apa itu persma selalu menjadi borok yang selalu muncul tiap kali pengurus lembaga persma berganti. Sebenarnya cara paling mudah adalah membuka kembali catatan sejarah; munculnya Persma. Ini tak bisa diganggu gugat! Cara selanjutnya adalah melihat kembali visi dan misi lembaga persma masing-masing, kenapa harus ada lembaga persma di masing-masing kampus dan juga fakultas.

Ilustrasi oleh Ipank Ecpose

Ilustrasi oleh Ipank Ecpose

Tentang permasalahan SDM; Poin pentingnya ada di strategi pengembangan kualitas SDM di masing-masing lembaga bukan kuantitas. Tipe mahasiswa (SDM) tentu berbeda-beda. Tipe yang agak menonjol adalah tipe professional student, ini tipe mahasiswa yang karena alasan tertentu lebih memilih menghabiskan masa mahasiswanya hanya untuk kuliah dan kuliah. Tipe lainnya adalah tipe pragmatis student, tipe mahasiswa yang paham terhadap peliknya persolan kampus, masyarakat dan negara, tapi tak punya kepercayaan diri untuk merubah keadaan, tipe ini sering diselimuti perasaan kurang pede bahkan ada pula yang tejebak menjadi penjilat birokrat untuk sekedar mencari aman, atau pula mencari jabatan. Tipe yang jadi minoritas adalah tipe activis student, tipe mahasiswa yang tercerahkan dan mempunyai visi yang besar untuk membangun tatanan kehidupan masyarakat yang berkeadilan sosial. Dari sini lembaga persma berkewajiban untuk menempatkan tipe-tipe tersebut dalam ruang yang tepat. Upgrading hukumnya wajib, sebagai peningkatan kapasitas anggotanya agar mempunyai pemahaman yang utuh tentang persma.

Adalah haram apabila titik tekan pengembangan SDM pada kemampuan individu dan spesialisasi (Spesialisasi sering diidentikkan dengan profesionalitas. Spesialisasi merupakan syarat yang ditawarkan adam smith untuk membentuk masyarakat kapitalis, yaitu: Pertama, Negara menahan diri; Kedua, Individu melakukan spesialisasi) apalagi dikaitkan dengan urusan aktualisasi diri. Semisal seorang fotografer hanya tahu persoalan foto, seorang reporter hanya tahu persoalan pencarian berita, seorang layouter hanya tahu persoalan tata letak,Tidak! Spesialisasi tidak dibenarkan, melainkan konsentrasi kerja. Konsentrasi kerja berorientasi akan pemahaman utuh, namun dalam kerja keseharian dilakukan pembagian kerja agar kinerja bisa efektif dan terkonsentrasi. Konsentrasi kerja juga mengutamakan kerja sama tim yang baik. (Konsentrasi kerja ditawarkan kaum sosialis untuk melawan spesialisasi. Dalam sejarahnya, orang-orang besar selalu punya pemahaman dan kemampuan yang multidisiplin ilmu (lintas disiplin ilmu). Bahkan seorang Bethoven merupakan ahli musik yang juga ahli matematik dan fisika, juga menguasai berbagai bahasa).

Adalah wajib dilakukan LPM untuk membekali para anggotanya dengan kemampuan analisis dasar terhadap kasus, peristiwa maupun fenomena. Perlu pemahaman lebih jauh terhadap kasus, peristiwa, maupun fenomena kaitannya dengan penulisan berita. Adapun pendekatan analisis dasar bisa dipecah menjadi beberapa pendekatan semisal filsafat dasar, pengantar teologi pembebasan, analisa sosial dasar, pengantar hukum kritis, analisa ekonomi dasar dll. Dalam proses ini anggota harus dibekali wacana kritis secara lebih radikal (mengakar alias sampai tuntas).

Hal yang patut untuk diingat bahwasanya Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) dalam melakukan pengembangan SDM (atau bisa dikatakan pengkaderan) adalah mentranformasi ide-ide perjuangan bukan semata-mata untuk mencetak kuli tinta profesional alias wartawan.

Idealnya ketika ini semua sudah dilaksanakan dan diterapkan dalam masing-masing LPM maka media persma akan sesuai dengan definisi dan cita-cita bersama. Akan tetapi dalam kondisi kekinian media persma yang dihasilkan masih jauh dari definisi tersebut. Lantas apa yang salah?

Muncul spekulasi bahwasanya persma saat ini masih terlalu takut untuk berkreativitas, bereksperimen, takut salah dan takut meng’ada’. Atau mungkin persma saat ini memang lagi malas-malasnya beraktifitas dalam lembaganya masing-masing. Atau mungkin saya yang salah berspekulasi?

*Tulisan ini disarikan dari;

            – Pengantar diskusi pada Diklat Jurnalistik tingkat Lanjut Nasional oleh Lembaga Pers Mahasiswa Ekonomi Ecpose, Fakultas Ekonomi, Universitas Jember, 14 Mei 2001.Khudori (Wartawan majalah berita mingguan GAMMA.)

            -Pengantar diskusi DIKLAT Jurnalistik Se-jawa-Bali-Nusa Tenggara yang diadakan UAPKM-UB pada tanggal 13-15 Mei 2002, untuk materi Strategi Peningkatan Kualitas SDM Pers Mahasiswa .Rijal Asep Nugroho (Sekjend PPMI 2002-2004, Mahasiswa Teknik Elektro Udayana, Kord. Pengembangan SDM PMM Maestro FT Unud 2002-2003.)

            – Catatan Diskusi LitbangNas PPMI 2004 melalui Milis; Sebuah Catatan kecil Tentang Gerakan Mahasiswa Mereka Membidani Sejarahnya Sendiri, Lisabona  Rahman.

Advertisements

One thought on “Apa itu Media Persma

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s