Bekerja itu Memproduksi Tenaga

Ibu, anakmu bukan berpejam mata terhadap betapa penting perkembangan pemikiran-pemikiran. Anakmu belum segila itu. Tapi ia merasa terlibat di dalam belum berhasilnya manusia memfungsikan ilmu pengetahuan untuk berpacu melawan laju kebobrokan. Anakmu memusatkan omongannya ini pada ironi yang anakmu sandang sendiri.

Ibu, kami sibuk merumusrumuskan keadaan, menit dan menggambar peta masalah, mengucapkan dan mengumumkannya. Pengumuman itu mandeg sebagai pengumuman.
Tulisan mengabdi kepada dirinya sendiri. Sedangkan Ibu, hampir tanpa kata, berada di dalam peta itu, menjawabnya dengan tangan, kaki dan keringat.

Kami menghabiskan hari demi hari untuk mengeja gejala, dengan susah payah berusaha menjelaskan kepada diri sendiri, sampai akhirnya kelelahan, lungkrah dan ngantuk –Ibu pula yang dengan tekun memijiti tubuh kami.

Ibu tak kehabisan tenaga. Apakah Ibu menyewanya langsung dari Tuhan? Ya, Bu. Bekerja itu memproduksi tenaga. Berpikir, yang hanya berpikir, selalu menciptakan keletihan, yang belum tentu ada gunanya.

Saya tiba-tiba merasa ada yang tak bisa saya ceritakan ketika membaca catatan ini. Sebagian besar pikiran saya tertuju pada Ibu di rumah. Ah! Saya jadi ingin pulang, sekedar melihat senyum Ibu, meminta uang untuk ngopi dan berbagi sedikit cerita sebelum tidur malam. Catatan ini diambil dari Buku: “Ibu, Tamparlah Mulut Anakmu”. Sebuah catatan harian Emha Ainun Nadjib.[]

ToBling: Toko Buku Keliling

Minggu lalu, tepatnya 8 April 2013 saya dan teman nekad memulai usaha baru. Usaha baru menjual buku-buku bacaan. Sebenarnya usaha ini sudah terlebih dahulu dijalani oleh Hary Wibowo. Teman dekat saya yang kebetulan dipercaya seseorang untuk menjualkan  buku-buku murah. Oh iya, teman saya di awal tadi mengaku sebagai seekor macan jadi-jadian; Macan remrem (baca Nody Arizona). Usaha baru ini diformat lebih serius daripada usaha jualan buku yang kemarin-marin. Lebih serius karena saya dilibatkan untuk pertama kalinya. Eh, bukan dilibatkan sebenarnya, lebih tepatnya dipaksa dan saya tak punya pilihan apapun selain menerimanya dengan lapang dada.

Usaha menjual buku yang dijalankan si mangklek (baca: Hary Wibowo) sebenernya sudah berjalan agak lama. Namun sayang, karena kesibukannya mencari jodoh, usaha ini ditempatkan di prioritas akhir. Prioritas akhir ketika uang di dompetnya menipis, maka usaha ini dijalankan kembali. Si Macan remrem berinisiatif untuk menformat usaha ini menjadi lebih serius dikit. Saya sih oke-okeh aja melihat latar belakang macan remrem adalah Mahasiswa Manajemen. Tentunya saya tertarik sangat!
Continue reading

Bahasa : Hal-hal yang mendasarinya, Kedudukannya serta Fungsinya.

Kali ini saya ingin membagi sebuah catatan. Catatan ini saya tulis untuk sebuah tugas kuliah. Tugas kuliah itu adalah tugas menulis tentang bahasa Indonesia. Tugas ini harus diselesaikan sebagai prasyarat mata kuliah Bahasa Indonesia. Mata kuliah umum yang wajib ditempuh. Jujur saat itu saya bingung. Bingung karena saya tak diajarkan secara utuh tentang Bahasa Indonesia. Maklum, Sekolah Menengah Atas yang saya tempuh dahulu kala adalah Sekolah Menengah Farmasi. Di Sekolah Menengah Farmasi pelajaran Bahasa Indonesia tak terlalu penting, sebab yang paling penting dan banyak dipakai adalah bahasa latin. Bahasa Indonesia diajarkan hanya sebagai pelengkap semata, semata-mata mengajarkan cara bertutur yang sopan dan ramah. Itu dulu, saat lulusan Sekolah Menengah Farmasi ‘hanya’ mendapat satu ijazah lulus dan didapuk sebagai asisten apoteker. Kabarnya saat ini lulusan Sekolah Menengah Farmasi mendapat dua ijazah. Satu ijazah asisten apoteker dan ijazah SMA, karena ijazah SMF saat itu agak susah untuk digunakan mendaftar di perguruan tinggi.

Continue reading