Paspor

Saya pernah membayangkan jika saya mengkritik orang terkenal lewat tulisan dan dipajang di media cetak. Yah tapi saya tau diri, saya tak akan pernah bisa ‘tuntas’ dalam hal apapun (menyedihkan!). Saya teringat kembali pada perdebatan cendekiawan di jaman baheula. Kritik dibalas dengan kritik; Tulisan dibalas dengan tulisan. Tak seperti sekarang ini, dimana otot lebih diutamakan daripada otak. Sepertinya kekerasan lebih terasa dampaknya.

Orang-orang besar, sperti Rhenald Kasali mungkin lebih mengutamakan mengunakan otaknya untuk menyikapi permasalahan yang terjadi saat ini. Asyiknya, Rhenald Kasali mungkin salah satu orang (dari segelintir) yang masih percaya kekuatan anak muda. Anak muda disini tentunya tak semua, tentu ada klasifikasi-klasifikasinya. Anies Baswedan juga mungkin salah satu yang menaruh besar harapan masa depan yang lebih baik di tangan pemuda-pemuda bangsa ini. Indonesia mengajar adalah salah satu contohnya. Membaca tulisan-tulisan beliau berdua sungguh banyak manfaatnya (saya berbicara demi diri saya sendiri). Salah satu tulisan Rhenald Kasali yang terbit rutin dalam sebuah kolom di JawaPos pernah membuat saya bergidik. Bergidik untuk menanggapinya. Menanggapinya untuk mencoba berdialog. Namun sayang. dialog itu sepertinya berjalan satu arah. Dialog kepada diri saya sendiri.

Berikut salah satu tulisan saya yang coba untuk menanggapi tulisan Rhenald Kasali tentang Paspor:

Paspor;
(Mengomentari tulisan Rhenald Khasali di Jawapos, Senin 8 Agustus 2011)

            Sebenarnya saya tidak pantas mengomentari tulisan beliau, namun saya bermaksud untuk membagikannya kepada kalian, terkhusus buat yang jarang sekali membaca koran atau juga buku. Tulisan beliau saya baca ketika berada di kereta Logawa dalam perjalanan pulang Jember-Gresik. Koran yang saya pinjam dari penumpang “Lelaki tua” di sebelah saya ketika di dalam kereta. Tulisan yang kemudian saya baca lagi di warung kopi ketika berada di Gresik. Awalnya saya bertekad untuk puasa pada hari ini, tetapi ternyata iklim tidak mendukung. Yah! saya terpaksa tidak menjalankan puasa saya untuk hari ini, maklumlah cuaca sedang terik ketika perjalanan pulang, sangat berbeda dengan cuaca di Jember.

Paragraf pertama tulisan dibuka dengan cerita saat membuka kuliah –beliau Guru Besar Fakultas Ekonomi UI, pakar Bisnis dan Strategi–. Beliau bertanya pada mahasiswanya “Apakah mereka mempunyai paspor?” jawab kelas saat itu hanya sekitar 5% yang punya paspor, beliau lalu melontarkan pertanyaan kedua; “Apakah kalian pernah naik pesawat?” Hampir 90% mahasiswa menjawab pernah. Dari sini beliau berasumsi mahasiswanya hanya pelancong lokal saja. Dari hal inilah beliau membuat tugas buat anak asuhnya –mahasiswa– untuk membuat paspor. Jelas sangat berbeda sekali dengan dosen pada umumnya, yang kebanyakan menyuruh mahasiswanya mengerjakan tugas paper. Dari sini walaupun saya belum pernah bertatap muka langsung dengan beliau, saya sudah sangat menyenangi kegiatan kuliah beliau, hehehe.

Paragraf kedua mulai menyentuh maksud dari judul tulisan ini. Paspor; sebuah kartu wajib yang harus dimiliki WNI untuk bisa bepergian keluar negeri secara legal. Menurut beliau; tanpa paspor manusia akan kesepian, cupet, terkurung dalam kesempitan. Setelah 2 minggu, mahasiswanya yang sudah mengurus paspor bertanya pada beliau; “Untuk apa paspor ini?” beliau menjawab pergilah keluar negeri yang tak berbahasa Melayu, yang tentu saja artinya tidak boleh ke Malaysia, Singapura, Timor Leste ataupun Brunei Darussalam. Pergilah sejauh kemampuan kalian serta terjangkau. Mahasiswanya melontarkan lagi pertanyaan; “Uang dan tiketnya bagaimana pak?” beliau berujar tidak tahu. Dalam hidup ini hanya orang bodoh yang selalu memulai pertanyaan hidup, apalagi memulai misi kehidupan dan tujuannya dari uang. Hampir pasti jawabannya hanyalah tidak ada uang, tidak bisa dan tidak mungkin. Pertanyaan seperti ini tidak hanya ada di kepala mahasiswanya melainkan juga para dosen steril yang kurang jalan-jalan.

Beliau mengatakan; bagi mereka yang tak pernah melihat dunia, luar negeri terasa jauh, mahal, mewah dan menembus batas kewajaran serta buang-buang uang. Maka tak heran banyak dosen yang takut bersekolah di luar negeri dan memilih melanjutkan studi di almamaternya sendiri. Bagi beliau dunia yang terbuka bisa membuat sejuta kesempatan untuk maju. Pengetahuan teknologi, kedewasaan serta kebebasan bisa didapatkan dari perjalanan tersebut. Dari sini saya berasumsi bahwasanya pepatah; “Pengalaman adalah Guru terbaik” adalah benar dan dianut oleh beliau. Para Backpacker dicontohkan beliau tak jauh berbeda dengan remaja Minang, Banjar atau Bugis yang merantau ke Jawa dengan bekal seadanya dan tak jarang yang Bonek; bondo nekat. Salah satu mahasiswa beliau yang menjalankan tugas berpergian tersebut mendapatkan banyak sekali pengalaman, begabung dengan PKI (Pedagang Kaki Lima Internasional) yang menjajakan barang-barang dagangan, mendapat banyak uang dolar dan tentunya jalan-jalan. Saat wisuda paspor si Mahasiswa ini telah dicap 35 kali oleh pihak imigrasi, yang menandakan bahwa ia sudah melanglang buana ke 35 negara berbeda. Pasca lulus, mahasiswa ini tidak kebingungan lagi mencari kerja dan akhirnya bekerja di luar negeri.

Bagi Pak Rhenald, sangat penting sekali buat para pendidik mengajak anak didiknya bepergian menatap dunia. Sebagai contoh; Dengan bekal 500.000 IDR, siswa SD Pontianak dapat keluar negeri, ke daerah Kuchink. Akan sangat berbeda sekali kondisi daerah perbatasan kita dengan kondisi di Kuchink. Dimana Pemda dan Pemerintah RI sangat tidak memperdulikan keadaan masyarakat Indonesia di daerah perbatasan. Dengan pengalaman jalan-jalan tersebut, nantinya nurani siswa tersebut akan tergerak saat masa mereka memimpin negara tiba.

Saat saya membaca tulisan beliau, saya sangat tersungging –lebih parah dari tersinggung– bukan pada bagian mahasiswa tukang demo –saya gak pernah ikut demo, tapi sering ikutan menggagas demo, hehehe– saya belum pernah ke Luar negeri, ke Timor Leste pun belum pernah. Jangankan ke Luar negeri menjelajahi pulau-pulau di Indonesia pun saya hanya beberapa kali saja. Pendidikan tidak hanya ada di dalam ruang kelas saja, melainkan dunia ini luas dan terbuka sejuta kesempatan untuk maju, bahkan lebih! Agaknya saya sepakat dengan hal tersebut. dan hal ini yang jarang sekali diajarkan di bangku pendidikan kita apalagi oleh para pendidik kita. Bahkan saya sekarang tidak tahu apakah masih ada pelajaran PMP dan kenapa juga jurusan Sejarah Fak.Sastra jarang peminatnya?

Jangankan paspor, sebagian besar teman dan juga saya sangat malas untuk memperpanjang masa aktif KTP –saya bahkan baru tahu kalau sekarang sudah ada E-KTP– bahkan ada pula teman yang tidak punya kartu identitas warga negara Indonesia sama sekali kecuali KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) itupun sudah lama mati alias tidak aktif lagi. Birokrasi yang rumit ditambah pungutan liar yang merajalela membuat banyak teman saya yang tidak punya kartu identitas. Mungkin juga rata-rata teman saya suka dan terinspirasi dengan “Alexander Supertramp dalam film Into the Wild”. Bagaimanapun juga ada sebuah sistem yang harus kita ikuti dan patuhi. Dengan sebuah paspor di tangan, kita bisa mendapatkan sebuah pelajaran berharga. Itulah kenapa Fisikawan Indonesia Yohanes Surya bisa mendapatkan beasiswa di luar negeri, bahkan banyak mahasiswa ataupun dosen yang benar-benar berpikir terbuka yang mampu selangkah lebih maju daripada kita yang steril-steril saja. Sebenarnya saya juga agak memperhitungkan biaya yang harus saya keluarkan ketika ingin travelling ke Luar negeri, tapi ternyata harus saya akui bahwasanya pikiran masih sempit dan tidak membaca banyak peluang untuk bisa ke Luar negeri. Lalu pertanyaan yang mengganjal saya kenapa harus bepergian ke Luar negeri, kenapa tidak di lokal saja? Maksud dari travelling ke Luar negeri adalah bukan sekedar cuci mata, shopping dan refreshing melainkan benar-benar menyerap dan memahami realitas yang terjadi dan ada disana, tak cukup hanya dengan nonton film dan baca buku saja.

Harus kita akui bahwa perkembangan negara kita masih sangat lamban dan jauh berbeda dengan negara-negara tetangga, bahkan peringkat migas (minyak dan gas bumi) kita berada di bawah Timor Leste –baca di Jawapos 8/08/11 bagian Ekonomi-Bisnis–. Ansis Uba Ama; penulis buku Republik facebook.com melontarkan humor “Rakyat Indonesia adalah Rakyat terbaik di Dunia”, bayangkan 230 juta lebih rakyat taat membayar pajak, dan uang hasil pajak tersebut –yang hampir 70% digunakan untuk pembangunan– masih saja di korupsi, bahkan dilarikan dengan entengnya oleh seorang macam Gayus. Pegawai rendahan seperti Gayus saja melarikan sebegitu banyak apalagi pegawai dengan level lebih tinggi dari Gayus. Ampun seribu kali ampun, kurang sabar seperti apa rakyat kita melihat kelakuan para wakil rakyat yang harusnya mengabdikan dirinya untuk rakyat justru memperkaya dirinya sendiri. Harusnya mereka itu ditelanjangi dan digantung diatas tiang setinggi-tingginya, biar  mampus kelaparan, kepanasan, kehujanan dan juga kesambar petir. Korupsi sedang tren di negara kita, artisnya para pejabat tinggi, wakil rakyat menghiasi layar kaca televisi kita, layaknya drama Misteri Gunung Berapi yang mampu menghipnotis kita semua. Isu-isu penting lainnya mengenai pendidikan, lingkungan hidup, kesejahteraan sosial masyarakat, dll menjadi sedikit dikesampingkan. Oleh sebab itulah media cetak masih tetap laku hingga saat ini. Selemah-lemahnya Imanmu dalam membaca, bacalah koran.[]

 

*Tulisan beliau bisa anda search sendiri, sudah banyak yang membaginya. Sebagian besar tulisan ini berdasarkan asumsi saya semata, jadi wajar bila ada bagian-bagian yang terasa tak enak dipandang (emang ini lukisan apa). Oh Iya, ini murni subjektif, kalo kalian gak terima silakan bikin tulisan anda sendiri.

Advertisements

2 thoughts on “Paspor

    • Iya, saya juga belum sempat untuk pulang, kabarnya KTP yang baru (E-KTP) sama aja, cuman pencatatan/pengarsipannya yang dibagusi. Eh, KTP itu berguna loh jangan pesimis, minimal bisa buat jaminan untuk ngutang bensin eceran :D.
      Terimakasih telah mampir, mari berbagi 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s