Nasi Kekel

Tepat kiri jalan disamping halte SMP 2 Negeri, pas di tikungan lampu merah jalan PB.Sudirman menuju alun-alun Jember ada sebuah gang kecil yang buntu dan juga kecil sekali namun selalu ramai disesaki orang. Kenapa tempat sekecil itu selalu ramai disesaki orang? Karena di dalam gang tersebut ada warung nasi “kekel”. Masakan yang difavoritkan orang penderita patah tulang ini menjadi incaran favorit para pengunjung. Dengan sajian yang selalu panas ditambah lagi kekelnya yang empuk menjadikan warung ini ramai dikunjungi.

Spanduk Kekel berformat tanda tambah.

Spanduk Kekel berformat tanda tambah.

Awalnya saya tak pernah tahu ada tempat makan sekecil ini di Jember, dan enak pula. Ini semua gara-gara Ayah teman saya; seorang Kondektur kereta api (bukan masinis loh yah) mengajak makan di tempat tersebut. Awal itu adalah sekitar tahun 2006-an. Pertama kalinya saya menginjakkan kaki saya di Jember. Dan dari situlah saya sering berziarah ke tempat ini. Namun sayang teman saya dan Bapaknya sudah tak lagi berkunjung ke-Jember. Alhasil hanya saya saja yang sering menziarahi tempat ini. Hitung-hitung mengenang kembali peristiwa lalu. Oh iya, saya berziarah bukan untuk menabur bunga atau malah berdoa, melainkan mengisi perut saya (baca: makan!).

Harga jual yang ditawarkan cukup murah di kantong. Kekel satu mangkuk cukup Rp.5500 sedang nasi putih cukup Rp.2000 saja. Selain kekel juga terdapat menu andalan lainnya yakni; Nasi Goreng, Nasi Goreng Mawut, Mie Goreng dan juga Mie kuah. Minuman yang ditawarkan pun standar warung kebanyakan, yakni Teh dan Jeruk yang dapat dinikmati baik itu panas atau juga dengan Es batu. Saking ramainya warung tersebut, para pengunjung yang lapar rela untuk menunggu dengan tertib alias mengantri. Warung kekel SMP 2 ini menurut hemat saya adalah warung makan cepat saji dalam artian; cepat disajikan dan cepat dimakan alias dihabiskan, karena setting warung tersebut dibuat hanya untuk makan saja bukan buat nongkrong atau berlama-lama setelah makan.

kekel

seporsi kekel belum termasuk nasi

Jam buka warung ini dimulai pada bada’ maghrib (jam 18.00) dan tutup setelah dagangannya habis, sekitaran pukul 22.00 Wib. Bahkan ketika ramai tak sampai pukul sepuluh malam, warung tersebut sudah melaut alias tutup. Dengan harga yang murah dan rasa yang lumayan nikmat membuat para keluarga, anak-anak hingga para pelajar (siswa dan mahasiswa) berantrian untuk mencoba kekel di gang sempit tersebut. Kalau saya beri penilaian dengan rating bintang 1 sampai 5 maka warung kekel ini saya beri rating bintang 4. Saya sudah mencoba soto kekel ini berkali-kali, kerena wanita yang merebut sebagian dari kesunyian suka makan di tempat itu. Satu tips saya ketika anda ingin mencobanya, datanglah pada saat adzan Isya berkumandang (sekitar jam 18.30 Wib), karena biasanya sedang sepi. Kalaupun anda datang pada saat tersebut masih tetap ramai dan sesak pengunjung yah terpaksa kalian juga harus mengantri seperti yang lain. Anda jangan mencoba untuk datang pada hari minggu, sebab biasanya tempat ini tutup.

Harga yang saya ceritakan diatas tersebut adalah harga dua tahun lalu, hehe. Sekarang harga-harga kebutuhan pokok sudah pada naik. tentu saja ini berimbas naiknya harga makanan di warung nasi kekel ini. Seporsi kekel dipatok 7 ribu rupiah, itu belum nasi putihnya dan minumannya. Namun hitung-hitungan untung-rugi, pembeli rata-rata beruntung mendapatkan harga murah seperti itu. Bandingkan dengan harga kekel di kota-kota lain, tentunya tak ada yang semurah itu. Standar kukira.

Harga-harga makanan di Jember masih relatif murah. Terlebih buat para mahasiswa yang kiriman per-bulannya kembang-kempis tak tentu. Dan saya pun masih sering menghabiskan waktu untuk makan nasi kekel di tempat ini. Saya sebenarnya berharap si empu nasi kekel mengenali saya karena sering makan di tempatnya. Hitung-hitung porsi kekel dan nasinya buat saya ditambah. (Amin! Semoga itu yang terjadi.)

Oh, Iya lupa. Paragraf pertama saya agaknya menjustifikasi bahwa kekel adalah makanan favorit bagi penderita patah tulang. Kenapa demikian? Begini ceritanya. Ayah saya pernah mengalami kecelakaan motor, dan saya tepat dibelakangnya saat kecelakaan itu berlangsung (lebih tepatnya dibonceng). Saya tak mengalami luka yang serius, cuman lecet-lecet dikit dan sedikit robek di bagian lutut celana kain hitam saya. Sedangkan Ayah bengkak di bahu kirinya. Awalnya hanya kukira Bengkak besar muncul di bahu kiri Ayah itu hanya keseleo saja. Setelah itu kami langsung lari ke rumah sakit untuk di rontgen, dan ternyata tulang bahu kirinya retak dan harus dioperasi agar tak terlampau parah. Ayah diberi waktu 3 bulan, dilihat perkembangannya, jika tak ada perkembangan yang baik maka terpaksa harus segera operasi. Obat-obat yang diberi dokter saat itu kebanyakan adalah obat penguat tulang, agar tulang bahu kirinya mendapat asupan mineral. Ayah tak sepenuhnya percaya kepada Dokter, ditambah lagi biaya operasi tulang itu mahal. Alhasil ayah pergi ke sangkal putung. Semacam pengobatan alternatif bagi penderita patah tulang.

Anehnya setelah sebulan berobat di sangkal putung, bahu kirinya sudah tak bengkak lagi. Ada dua botol besar yang diberi si sangkal putung. Tiap pagi, sore dan malam, airnya harus dioleskan ke bahu kirinya. Tak cukup dengan metode pengobatan alternatif itu saja. Ayah juga meminum obat-obat penguat tulang (vitamin tulang). Ada juga makanan yang dikonsumsi Ayah rutin selama sebulan, tiap dua hari sekali ia makan nasi kekel. Saya pernah menanyainya, kenapa kok rajin makan kekel, beliau menjawab: Kekel ini baik untuk tulang. Kekelnya saja, gajihnya tak usah dimakan, sebab kebanyakan gajih bisa berdampak buruk untuk tubuh. Oleh sebab itulah saya percaya kalau kekel itu baik dan makanan favorit bagi penderita patah tulang. Haha, subjektif memang, tapi ini nyata terjadi.[]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s