ToBling: Toko Buku Keliling

Minggu lalu, tepatnya 8 April 2013 saya dan teman nekad memulai usaha baru. Usaha baru menjual buku-buku bacaan. Sebenarnya usaha ini sudah terlebih dahulu dijalani oleh Hary Wibowo. Teman dekat saya yang kebetulan dipercaya seseorang untuk menjualkan  buku-buku murah. Oh iya, teman saya di awal tadi mengaku sebagai seekor macan jadi-jadian; Macan remrem (baca Nody Arizona). Usaha baru ini diformat lebih serius daripada usaha jualan buku yang kemarin-marin. Lebih serius karena saya dilibatkan untuk pertama kalinya. Eh, bukan dilibatkan sebenarnya, lebih tepatnya dipaksa dan saya tak punya pilihan apapun selain menerimanya dengan lapang dada.

Usaha menjual buku yang dijalankan si mangklek (baca: Hary Wibowo) sebenernya sudah berjalan agak lama. Namun sayang, karena kesibukannya mencari jodoh, usaha ini ditempatkan di prioritas akhir. Prioritas akhir ketika uang di dompetnya menipis, maka usaha ini dijalankan kembali. Si Macan remrem berinisiatif untuk menformat usaha ini menjadi lebih serius dikit. Saya sih oke-okeh aja melihat latar belakang macan remrem adalah Mahasiswa Manajemen. Tentunya saya tertarik sangat!

Macan remrem ini adalah salah satu pengkolektor buku. Buku-buku mahal (belinya di toko buku) ataupun buku-buku murah (belinya di loak) semua dikoleksinya. Kebetulan di Jember, saya dan macan remrem sering berkunjung ke jalan kenanga II. Tempat toko buku paling murah di Jember. Si empunya toko sudah sangat hafal dengan wajah kami berdua. Nah, karena sudah hafal, dan macan remrem merasa sayang melihat buku-buku bagus terpajang rapi tak tersentuh sedikit pun. Insting manajemennya tiba-tiba menyala terang. Bagaimana kalau kita membantu menjualkan buku-buku tersebut ke kampus-kampus di Jember. Sontan saya mengiyakan. Toh apa ruginya. Mungkin eksistensi saya sebagai pemuda terkeren diantara pegiat pers mahasiswa sedikit tercoreng. Tak apalah pikir saya. Setidaknya buku-buku tersebut dibaca dan tak lagi tergeletak rapi di rak buku.

Si Mangklek, senyum sumringah, melihat saya dan macan remrem berinisiatif membuka usaha jualan buku. Ia turut menitip usahanya ke kami berdua. Sebenarnya saya rada jengkel. Kok enak dia hanya menitip tanpa bantu-bantu jualan. Alasannya saat itu ia sedang menjalankan tugas akademiknya, sehingga ia tak bisa membantu kami. Alhasil, jengkel saya sia-sia. Saya pun terpaksa mahfum.

Distribusi kerja kami lakukan bertiga. Saya mendesain brosur, macan remrem kebagian mengkatalog buku-buku yang akan dijual, sedang mangklek asyik tidur. Asem tenan, disaat kami sibuk kerja, eh si mangklek enak-enakan tidur. Tak apalah! Saya dan macan remrem tahu sakitnya penderitaan tak mendapatkan pacar semenjak duduk di bangku perkuliahan. Saya hanya membantu menyupportnya supaya tak patah semangat, syukur-syukur ia tak sampai beralih menjadi penyuka sesama jenis.

Nama usaha yang kami sepakati bertiga adalah Tobling. Akronim dari Toko Buku Keliling. Tinggal memilih tagline dari nama tersebut. Macan remrem mengusulkan; Jual buku buat beli kambing. Tagline yang absurd menurut saya pribadi. Si mangklek mengusulkan jual segala jenis buku. Saya rasa usulan tagline si mangklek masih nanggung. setelah berdebat tak serius, akhirnya kami sepakati taglinenya tak ada. Cuman melegitimasi bahwa usaha kami adalah usaha #1 yang dilakukan di Jember.

ToKo Buku Keliling

Urusan tagline, brosur serta katalog sudah beres. Hal yang kami lakukan berikutnya adalah memilih tempat jualan, karena ini pertama kalinya kami mencoba ‘agak’ serius. Macan remrem mengusulkan untuk berjualan di Fak.Ekonomi Univ.Jember. Macan remrem dan mangklek menyimpan dendam kesumat kepada tempat ini. Mereka menyimpannya rapat-rapat, dan tak memberitahuka alasannya kepada saya. Otomatis, karena saya sendirian, akhirnya saya mengikuti usulan tersebut.

Pagi hari, sekitar jam 8, saya dan macan remrem lepas landas menuju TKP. Tentunya kami sarapan dan menghabiskan sebatang kretek terlebih dahulu sebelum jualan. Selepas kretek habis, kami survey posisi jualan yang strategis. Tepat di depan kantor kemahasiswaan jurusan manajemen kami berlabuh. Karpet kami gelar, buku kami beber, dan tak lupa dua cangkir kopi kami pesan dari kantin FE Unej.

Sejam berlalu. Dua jam berlalu, buku-buku yang kami jual tak laku. Beberapa mahasiswa FE Unej melirik, dan membuka-buka buku di emperan depan kami. Namun tak satu pun yang terjual. Kami berdua mencoba bersabar. Maklumlah, masih tiga jam kami berjualan. Tepat  di jam 11an, si Macan remrem pamit sejenak untuk mengurusi surat perijinan penelitian. Saya terpaksa mengiyakan. Macan remrem terancam ganti judul dan mengulang kembali skripsi, jika penelitiannya tak diselesaikan di bulan April ini. Saya terpaksa berjaga sendirian di depan kantor akademik Manajemen FE Unej.

Stategi saya sederhana. Ada mahasiswi lewat di depan tempat saya jualan, saya promo jualan sekencang-kencangnya. Sedangkan bila ada mahasiswa yang lewat, saya diam seribu bahasa. Promo pilih kasih memang. Strategi kami berjualan agaknya berbeda. Kalau di toko buku lain, si penjual biasanya ganteng dan cantik. Sedang saya dan macan remrem bisa dikatakan mempunyai wajah biasa saja. Seperti SMS hoki, kami berdua tak cocok untuk kerja di darat. Sepertinya kami berdua cocok kerja di udara. Lepas pukul sebelas, beranjak pukul satu, si macan remrem datang dengan wajah sumringah. Tanda kalau ia sudah mendapat acc untuk melakukan penelitian demi skripsinya.

Dia buru-buru menanya; ada yang laku belum? Dengan semangat saya menjawab, belum. Kami berdua tertawa kecut. Barangkali kami sama-sama berkata sial dalam hati. Sudah hampir 5 jam berjualan tak ada satupun buku yang laku terjual. Disini si macan remrem baru mengungkap rahasia dendamnya memilih FE Unej sebagai tempat jualan pertama kami yang agak serius. Ia bercerita kalau kemarin, ia dan si mangklek tak mendapat untung sama sekali ketika berjualan. Sontak saya mencecarnya. Tak untung sama sekali itu maksudnya bagaimana? Rugikah atau tak laku sama sekali. Dan jawaban yang membuat saya drop; Tak satupun buku laku terjual. Asem, ternyata jualan kali ini sebatas melihat animo mahasiswa FE Unej terhadap buku murah.

Macan remrem rupanya sengaja memilih FE Unej sebagai tempat pertama percobaan Tobling ini. Kemarin ia dan si mangklek berjualan buku-buku campuran. Campuran disini artinya ragam buku lebih banyak novel, cerpen, kumpulan puisi dan sediki buku ekonomi. Sedang di percobaan kali ini, varian buku-buku ekonomi lebih dibanyakin. Eh ternyata gagal juga. Tak patah arang, saya dan macan remrem menunggu lebih lama lagi. Tentunya kami sedikit berpromo yang lebih keras.

Kebetulan ada teman saya; Lulusan IESP FE Unej datang berkunjung siang itu. Kontan, saya menghampirinya. Sekedar bertemu sapa dan bertukar cerita. Si macan saya tinggalkan sendirian berjualan buku. Setengah jam tak terasa waktu berlalu. Saya menghabiskan waktu dengan sarjana IESP FE Unej, teman karib saya. Saya langsung pamit undur diri. Teringat macan remrem sendirian berjualan buku. Ketika saya hampiri, ia tiba-tiba tersenyum getir sembari menyerahkan duit 30 ribu pada saya. Apa nih? Bukunya Kotler “Manajemen Pemasaran” laku. Sontak saya jawab Alhamdulillah. Loh kok Cuma 30 ribu, bukannya 40 ribu yah harganya? Macan remrem menjawab; saya terpaksa kasih harga segitu supaya laku, daripada gak laku. Hiyaa. saya tertawa melihat muka si macan sedikit cemberut. Aduh, kalau kayak gini terus, bisa-bisa kita rugi banyak dong. Si macan diam saja.

Saya sudah tak bisa menahan emosi. Tiap mahasiswa ekonomi yang saya pandangi muncul keinginan untuk menjitak kepala mereka. Tak tahu apa mereka bahwa buku yang kami jual adalah buku-buku babon. Buku-buku penting demi kelancaran mereka menjalani perkuliahan di FE Unej. Tapi saya masih tahu diri. Hal tersebut hanya terbayang di kepala saya. Ternyata tampilan fisiknya saja mahasiswa FE Unej yang borjuis, eh ternyata dompetnya kagak ada isinya semua. Pada kere-kere. Semuanya cuman pamer diri, eh di dalamnya ternyata pada kere-kere semua. Sumpah saya kesal nian saat itu.

Sebenarnya ada sisi menarik saat kami jualan hari itu. Beberapa dosen FE Unej pada mampir dan mengapresiasi keja kami berdua. Kami dikatakan kreatif. Jarang ada anak muda seperti kami yang mau berjualan buku-buku di dalam kampus. Kami sebenarnya bermodal nekad. Ijin berjualan pun sebenarnya tak kami minta pada birokrasi fakultas Ekonomi Unej. Kami hanya minta ijin pada satpam. Itupun hanya basa-basi singkat. Buku-buku yang kami jual sebenarnya adalah buku-buku lama yang telah kami daur ulang sehingga keliatan baru. Ada juga beberapa buku-buku yang memang baru. Beberapa dosen yang mengapresiasi kinerja kami bahkan ada yang mau mengajak kerjasama. Kerjasama untuk berjualan, tinggal membagi untung dari penjualan. Kami sebenarnya masih ‘rada’ sakit hati, gara-gara tak ada buku yang laku banyak. Alhasil tawaran menarik dari dosen FE tersebut kami terima tanpa tahu kapan tindak lanjutnya dieksekusi.

Jam 3 lebih kami bersepakat untuk menutup Tobling. Yah, walau hanya satu buku saja yang laku terjual, tak apalah. Toh kami menerima beberapa tawaran menarik dari dosen FE Unej. Itung-itung si macan dapat sedikit nama baik dan dimudahkan urusan skripsinya, hehe. Saya tak patah arang, ini pertama kalinya kami berjualan dengan agak serius. Tobling masih akan tetap ada, dan hadir untuk memuaskan dahaga akan buku-buku bacaan berkualitas. Sasaran berikutnya masih ada Fak.Sastra dan Fak FISIP Universitas Jember. Konon mahasiswa Sastra dan FISIP lebih mencintai buku daripada dandanan fisik mereka. Ah, ini hanya konon, semoga saja memang demikian adanya. Sampai sekarang saya tak menyalahkan sepenuhnya pada mahasiswa FE Unej yang tak mampir ke lapak kami dan membeli buku. Mereka lebih doyan ngobrol dengan teman sejawatnya, beberapa malah menghabiskan waktu untuk ngelamun gak jelas. Saya hanya merasa kasihan pada mereka yang tak tahu bahwa buku yang kami jual adalah buku-buku penting. Tak apalah, hari ini kami gagal, besok siapa yang tahu. Tobling akan tetap ada dan terus ada, hingga kami cukup punya modal mendirikan toko buku layaknya Gramedia. Amien.[]

Advertisements

5 thoughts on “ToBling: Toko Buku Keliling

  1. ini cuma usul. coba bilang menerima pesanan buku dari mereka yang butuh buku, mirip makelar memang. tapi si butuh buku akan menghubungi, dan Anda akan mencarikan buku yang dibutuhkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s