Bekerja itu Memproduksi Tenaga

Ibu, anakmu bukan berpejam mata terhadap betapa penting perkembangan pemikiran-pemikiran. Anakmu belum segila itu. Tapi ia merasa terlibat di dalam belum berhasilnya manusia memfungsikan ilmu pengetahuan untuk berpacu melawan laju kebobrokan. Anakmu memusatkan omongannya ini pada ironi yang anakmu sandang sendiri.

Ibu, kami sibuk merumusrumuskan keadaan, menit dan menggambar peta masalah, mengucapkan dan mengumumkannya. Pengumuman itu mandeg sebagai pengumuman.
Tulisan mengabdi kepada dirinya sendiri. Sedangkan Ibu, hampir tanpa kata, berada di dalam peta itu, menjawabnya dengan tangan, kaki dan keringat.

Kami menghabiskan hari demi hari untuk mengeja gejala, dengan susah payah berusaha menjelaskan kepada diri sendiri, sampai akhirnya kelelahan, lungkrah dan ngantuk –Ibu pula yang dengan tekun memijiti tubuh kami.

Ibu tak kehabisan tenaga. Apakah Ibu menyewanya langsung dari Tuhan? Ya, Bu. Bekerja itu memproduksi tenaga. Berpikir, yang hanya berpikir, selalu menciptakan keletihan, yang belum tentu ada gunanya.

Saya tiba-tiba merasa ada yang tak bisa saya ceritakan ketika membaca catatan ini. Sebagian besar pikiran saya tertuju pada Ibu di rumah. Ah! Saya jadi ingin pulang, sekedar melihat senyum Ibu, meminta uang untuk ngopi dan berbagi sedikit cerita sebelum tidur malam. Catatan ini diambil dari Buku: “Ibu, Tamparlah Mulut Anakmu”. Sebuah catatan harian Emha Ainun Nadjib.[]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s