Kedamaian Jumat Malam

Dulu, saya dan kawan LPM Jember waktu belum memiliki kontrakan tetap (Sekretariat PPMI Kota Jember) sangat intens bertemu di warung kopi. Mulai dari bulek, kantin ekonomi hingga warkop Cak Ndan (Depan PKM). Bertemu di warung kopi tak selamanya kami berbicara perkara serius. Perkara remeh-temeh yang paling banyak dibicarakan. Selayaknya percakapan warung kopi; mulai dari kenegaraan hingga kerumahtanggaan. Yang paling banyak memang perkara kerumahtanggaan; Soal cewek yang lagi diincar, teman yang lagi tak keliatan batang idungnya, hingga perkara akademik kami kupas disana. Bukan untuk sok-sokan haibat, cuman basa-basi perhatian agar hubungan perkawanan kami semakin intim.

Yang paling tak bisa lepas dari ingatan masa lalu tersebut, tentu adalah diskusi jumat malam. Persiapan diskusi selalu dibicarakan saat ketemu di warung kopi. Tak ada yang spesial. Tak ada persiapan-persiapan khusus untuk memulai diskusi Jumat malam tersebut. Peserta tetap saat itu tentunya: Sekjen Kota tercantik: Como Bacomboy, gue dan si kurus Oo Zaki. Punggawa pendukung saat itu beberapa dari PU dan Pemred LPM di Jember.

Persiapan yang dilakukan sembari ngopi-ngopi tersebut sebenarnya bisa juga disebut bukan persiapan. Lha intensitas pertemuan di warung kopi yang sangat rutin, seperti meminum obat 3 x sehari. Itu pun jumlah obat yang diminum bisa berlipat ganda. Anenhya kami tak pernah merasa bosan sedikit pun. Atau barangkali kebosanan itu tak pernah diucapkan. Tema diskusi Jumat malam selalu merujuk pada kebutuhan LPM, jarang diskusi jumat malam tersebut membicarakan hal yang sedang panas di tipi dan media mainstream. Pembicara yang diundang kebanyakan dari alumni-alumni LPM di Jember dan beberapa jaringan yang sudah dimiliki kawan-kawan LPM. Distribusi kerja pun terbilang mudah, masing-masing punggawa saling mengajukan diri utnuk menerima tanggungjawab tersebut. Jadi tak ada hal yang terlampau ribet. Undangan pun tak pernah kami ributkan. Awal-awal diskusi undangan kami buat secara resmi; tertulis, ditandatangani Sekjend Kota, di cap stempel, dilipat dan dimasukkan dalam amplop. Tiap LPM kami sebar 3-2 hari sebelum diskusi diadakan. Selanjutnya ‘Tuhan kecil’  (baca: Handphone) yang dimaksimalkan sebagai undangan.

TOR: Term of Reference atau catatan pemantik diskusi juga kami persiapkan. Fasilitator diskusi pun sudah kami hubungi jauh-jauh hari. Sisanya tinggal menunggu datangnya hari H. (Sebenarnya hari H ini apa sih, kok banyak yang mempergunakannya). Diskusi Jumat Malam selalu dimulai ba’da Isya. Sayangnya hal ini jarang diindahkan oleh kawan-kawan LPM. Kebanyakan datang molor dari jadwal. Sialnya hal ini berlangsung permanen. Yah terpaksa kami pun menerima dengan sedikit mangkel.

Fasilitas diskusi pun tak kami sediakan spesial. Cukup papan tulis dengan pacarnya: penghapus dan sepidol (gue iri, si papan tulis bisa punya dua pacar, huh!). Air minum, beberapa kopi dan keripik singkong. Itupun jika ada uang berlebih kami juga sediakan rokok dan snack yang harganya diatas keripik sedikit. Kami pun tak pernah mempersoalkan jumlah kawan yang hadir saat diskusi jumat malam tersebut. Toh mereka sadar, bahwa diskusi ini terselenggara dari mereka dan untuk mereka. Sayangnya Diskusi Jumat Malam ini sudah tak lagi rutin diadakan lagi.

Kemungkinannya tentu banyak, perkara pergantian punggawa LPM salah satunya. Pergantian ini sedikit merubah kontinyuitas adanya diskusi jumat malam. Yah, karena kaderisasi LPM juga penting. Sialnya bagi kami, punggawa senior lambat laun juga disibukkan dengan aktivitas pribadinya. Tentu saja intensitas pertemuan kami di warung kopi tak serutin minum obat lagi. Hal buruk ini ternyata sedikit merubah keberuntungan kami. Sekretariat tetap PPMI Kota Jember akhirnya kami miliki. Perlahan-lahan ruang-ruang diskusi kami coba hidupkan kembali di rumah baru ini. Dan hasilnya sukses, ruang-ruang diskusi itu terbuka lagi. Muka-muka baru mulai bertebaran dan mengisi diskusi-diskusi Jumat Malam. Tema yang diangkat juga sedikit dirubah. Kalau awal diskusi Jumat malam berbicara soal kebutuhan  LPM, kali ini agak kami arahkan ke tema-tema pendidikan.

Muka-muka baru bertebaran, punggawa-punggawa lama sedikit bertindak sebagai pendorong muka baru untuk melanjutkan tradisi ini. Jaman boleh beda, teknologi boleh canggih, tapi ruang-ruang diskusi harus tetap ada dan berlanjut.

Ah, saya lupa kelanjutan cerita ini. Terlalu banyak naik-turunnya kondisi (eksternal dan internal) punggawa dan muka baru yang menyebabkan tak suksesnya ruang diskusi untuk berlangsung kontinyu. Seperti kata Iwan Fals (sebelum ia jadi bintang iklan kopi): “Satu-persatu sahabat pergi dan tak pernah kembali.” Kenyataan itulah yang membuat realitas berjalan seperti biasa. Dan jujur hidup gue pun jadi biasa lagi 😦

Situasi kegalauan ini tak membuat punggawa tetap pengisi warung kopi itu berkurang. Oh iya Warung Cak Ipul juga jadi tempat favorit kami meminum obat. Dan dasar si kurus Oo Zaki, yang hobinya kala itu masih suka menulis puisi sebelum ia terjebak hebat dalam permainan poker, ia menulis puisi tentang jumat malam. Ah saya jadi kangen mahluk menyebalkan satu itu. Berikut puisinya sekaligus penutup catatan melankolis ini.

Kedamaian

hari ini adalah zona belaian
paling lebay
yang besok pagi
akan membunuh pikiran kita

menghujam tenggorokan
sampai ke ujung jantung

kedamaian
hari ini adalah palsu
paling rakus
yang besok pagi
akan menelan jumat malam

jangan biarkan
karena dunia ketiga
sedang onar

karena kita sedang diringkus
bidadari-bidadari palsu

aku iba
pada seluruh kedamaian
yang gaduh paling gaduh ini

maka hari ini
diskusi adalah panglima
yang besok pagi akan membuat kita
menjadi manusia lagi

kedamaian sesungguhnya
adalah diskusi
yang akan kita gelar lagi
jumat malam ini

(puisi ini ada di draf jejaring sosial saya tertanggal 29 Agustus 2009 pukul 02.19 Dini Hari, saya lupa tepatnya kapan M.Irsyad Zaki memberikan untuk saya simpan).

Kereta Ekonomi

Dalam Kereta Ekonomi

Pelayanan yang tak adil untuk kaum Difabel

Moda transportasi massal yang satu ini kian hari kian diperbaiki. Pelayanan hingga fasilitas dalam kereta terus diperbaiki. Ada beberapa hal yang mungkin terluput dari perhatian para petinggi KAI. Fasilitas Kereta Api ekonomi tak berpihak pada kaum difabel. Kereta KRL yang pernah saya naiki; Prameks, Jogja-Solo PP, fasilitas tempat duduk kaum difabel dibuat khusus. Sayangnya fasilitas tersebut tak diterapkan di kereta ekonomi selain KRL. Konon kabarnya bulan Juni tarif kereta ekonomi akan dinaikkan selangit. Sayangnya hal tersebut tak berbanding lurus dengan fasilitas dan pelayanan di dalam Kereta Api Ekonomi. Ini (masih) satu hal yang luput dari perhatian para petinggi KAI. Lainnya silahkan anda tambahi sendiri.[]