Seputar Perempatan, Traffic Light dan Zebra Cross

Perempatan, kata yang agaknya secara harfiah menandakan adanya empat jalur jalan yang berbeda dan membentuk pertemuan diantara keempat jalur jalan tersebut. Secara umum saya masih beranggapan bahwa perempatan adalah empat jalur yang masing-masing jalur punya dua arah berlawanan yang dipisahkan secara tegas dengan adanya garis pembatas atau bisa juga sebuah pagar pemisah dan pada pertemuan ujungnya ditandai dengan adanya traffic light. Kebanyakan perempatan juga tidak berdefinisi seperti yang saya bayangkan tersebut, seringkali perempatan yang saya temui malah tidak ada dua jalur, apalagi garis pembatas dan juga traffic light pada pertemuan ujung keempat jalurnya.

Akhir minggu lalu tepatnya saya pulang ke rumah. Kereta Api Logawa sudah tidak lagi berhenti hingga Stasiun Kota (dikenal juga Stasiun Semut), biasanya saya mengompreng kereta lain yang berjalan hingga ke Stasiun semut, tapi itu tidak saya lakukan di hari itu. Saya lebih memilih menaiki angkutan umum untuk melanjutkan perjalanan dari Gubeng.

Perempatan Pacar keling-Kedung Sroko-Tambang Boyo Surabaya

Kebetulan angkot yang saya tumpangi sepi penumpang, sehingga saya bisa sakkarepan di dalamnya. Tepat di perempatan jalan Pacar Keling-Kedung Sroko-Tambang Boyo angkot saya berhenti untuk mencari penumpang. Perempatan ini sering saya lalui tiap kali pulang naik angkot, namun kali ini baru sempat coba ceritakan dalam tulisan ini.

Perempatan tersebut cukup ramai akan kendaraan; baik roda dua, roda empat, becak dan juga sepeda onthel. Ada sebuah pasar disana, lengkap dengan warung kopi, toko kelontong serta tempat pembuangan sampah yang berdampingan ketat dengan sebuah kali (sungai). Tak ada traffic light disana, apalagi polisi lalu lintas yang mengatur ramainya perempatan tersebut. Pangkalan becak, ojek serta angkutan umum ikut mewarnai ramainya perempatan tersebut.

Anehnya dengan segala keramaian itu para pengendara, pejalan kaki serta becak itu tidak menimbulkan kemacetan yang berarti, semua mengantri dan tertib layaknya pembeli tiket kereta api di peron stasiun. Padahal tidak ada traffic light, polisi serta rambu-rambu lalu lintas yang tegas untuk mengatur kelancaran jalan tersebut. Dengan kesadaran masing-masing orang yang ada di perempatan tersebut membuktikan bahwa kalaupun tidak ada traffic light, rambu-rambu bahkan polisi semua tetap berjalan tertib, walau cuaca sedang panas-panasnya.

Namun itu berarti bukan tanpa cela sama sekali, karena tidak ada penanda lalu lintas yang tegas membuat orang yang ada di perempatan tersebut seenaknya saja contohnya; karena tidak ada zebra cross maka para pejalan kaki harus sangat berhati-hati ketika menyeberang jalan –walau semua tampak berjalan tertib–, ditambah lagi tidak adanya tempat parkir khusus untuk para pengunjung pasar plus pangkalan dadakan bagi para tukang becak, ojek dan angkot menambah sesaknya jalanan di perempatan itu –sekali lagi walau semua tampak berjalan tertib–. Nampaknya karena tidak adanya aturan yang benar-benar ketat itulah yang membuat kondisi keramaian perempatan jalan tersebut tertib, aman dan tentunya ramai.

Perempatan Kantor Pos-Gedung BI Surabaya

Angkot saya kembali berjalan, kali ini lajunya agak cepat, sopir angkot sepertinya paham akan keinginan saya untuk cepat sampai tujuan. Tepat di perempatan Kantor Pos-Gedung BI saya turun. Saya sengaja memilih berjalan kaki sebentar kearah pangkalan angkot jurusan Gresik, itung-itung sekalian menghitamkan kulit saya yang terlalu putih.

Kali ini perempatan yang saya lewati sesuai dengan penafsiran saya akan sebuah perempatan –ada traffic light, pembatas jalan yang tegas, zebra cross dan rambu lalu lintas–. Dua buah traffic light berdiri tegak di perempatan ini, satu ada di jalur kearah Stasiun Semut dan satu lagi ada di jalur arah Tugu Pahlawan. Jumlah kendaraan yang ada di perempatan ini padat merayap, maklum jalur ini merupakan jalur jalanan di tengah kota. Berbeda dengan perempatan pertama yang saya ceritakan di awal tulisan.

Perempatan kali ini didominasi oleh mobil, motor, bus kota serta sedikit becak dan sepeda onthel. Kali ini, becak dan sepeda onthel terasa sekali diasingkan di perempatan ini. Untungnya pejalan kaki diberikan penanda zebra cross lengkap sebuah pos polisi yang mengatur ramainya lalu lintas di perempatan tersebut.

Sayang pada hari sabtu, pos polisi kosong, entah memang dibiarkan kosong atau si polisi lagi keluar cari makan sehingga kendaraan yang ada di perempatan tersebut bisa seenaknya saja, motor bisa masuk di jalur mobil dan jalur mobil juga bisa menyelinap di jalur angkutan umum, semua sama sekali tak tertib. Dengan penanda lalu lintas yang cukup lengkap para pengendara malah sama sekali tak mematuhinya, mereka akan mematuhinya jika ada polisi yang berjaga. Seringkali terjadi tabrakan dan kecelakaan tepat di perempatan ini. Traffic light yang berdiri kokoh tidak dilengkapi dengan penghitung digital –yang saat ini sedang trend dan digunakan di tiap kota–, barangkali hal ini yang menyebabkan ketika lampu kuning menyala para pengendara sudah memacu kencang kendaraannya sebelum lampu hijau menyala sehingga tak jarang dari arah berlawanan ada kendaraan yang melintas dan tabrakan pun tak dapat dihindari.

Tepat saat saya akan menyeberang di atas zebra cross ketika lampu sudah menyala merah sebuah becak dengan bapak tua sebagai sopirnya melaju kencang menerobos. Dengan nafas tersengal-sengal tukang becak berusaha mendahului motor-motor dari arah berlawanan, namun karena laju motor lebih kencang daripada becak menyebabkan si tukang becak melakukan manuver berbahaya melewati celah-celah sempit diantara motor yang sudah melaju karena lampu hijau –dari arah berlawanan sudah menyala–. Tak ayal pisuhan khas Suroboyo pun terlontar dari mulut para pengendara motor, untungnya si tukang becak selamat dari insiden tabrakan.

 

Kesadaran

            Seringkali peraturan itu dibuat untuk dilanggar. Berbagai hukuman dan denda yang terpampang jelas ketika kita melanggar aturan tersebut,  tak membuat jera. Saya pun akui bahwa saya bukan seorang yang taat akan peraturan. Entah karena memang kita suka sekali untuk melakukan hal tersebut atau karena kita masih belum bisa mengerti akan penanda-penanda yang ada dalam jalan.

Kalau kita amati penanda itu banyak macamnya, mulai dari tulisan yang terpampang tegas dan juga gambar-gambar/simbol yang terpampang tegas juga, seperti rambu dilarang belok kiri.

Apakah memang sebagian besar masyarakat kita masih buta huruf sehingga untuk membaca tulisan yang terpampang pun tidak bisa, lalu bagaimana dengan penanda gambar atau simbol, apakah buta warna masalahnya sekarang, atau karena pengertian akan gambar tersebut yang bisa banyak maksud. Ataukah penanda dengan gambar dan kata-kata dalam sebuah tulisan masih dirasa tak cukup sehingga dibutuhkan penanda suara sehingga rambu-rambu tersebut dapat dengan jelas dimengerti masyarakat.

Contoh sederhananya; palang pintu kereta api. Umumnya palang pintu tersebut dilengkapi rambu dilarang melintas saat kereta lewat. Palang pintu yang kadang digerakkan manual atau bisa otomatis dipersenjatai pula suara peringatan yang tergaung keras. Dengan atribut sebanyak itu para pelanggar peraturan akan “dipaksa” untuk menurut, walau sering juga kita lihat dan dengar masih banyak yang masih ‘nakal’.

Lagi-lagi kita harus dipaksa untuk bersepakat bahwa ketika ada musibah (dalam hal ini bermakna kecelakaan) kita baru akan ‘sadar’. Benarkah? Saya rasa tidak, sebabnya jumlah kematian akibat kecelakaan lalu lintas selalu tinggi, padahal tiap kali kita disadarkan melalui serentetan kecelakaan lalu lintas.

Penanda apapun yang ada, baik itu simbol/gambar, tulisan maupun suara tak cukup untuk menjelaskan fenomena maraknya pelanggaran aturan yang berlaku, padahal ini bicara tentang ‘nyawa’. Sosialisasi berkendara, berlalu-lintas, berkelakuan di jalanan, tak akan pernah cukup sukses ketika kita tetap mematikan kesadaran tertib berlalu lintas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s