Seven Pounds

Pengalaman adalah guru yang paling baik. Saya percaya dengan hal tersebut. Pengalaman tak melulu soal perjalanan, petualangan atau bahkan bertegur sapa dengan orang-orang yang belum pernah ditemui sebelumnya. Hal remeh temeh pun bisa jadi suatu pengalaman. Setidaknya itu yang saya percayai. Buku, Internet dan juga Film bisa jadi guru terbaik. Saya sudah hampir 4 bulan tak menonton film secara utuh. Ada bosan menyergap saya ketika menonton film di masa-masa itu. Mungkin banyaknya permasalahan yang sedang saya hadapi menuntut saya untuk tak menonton film. Alhasil saya kurang apdet film-film bagus. Untungnya setelah gelap pasti datang terang. Saya merasa ingin kembali merasakan letupan-letupan emosi ketika menonton film. Dan Seven Pounds menjadi pilihannya.

Will Smith berperan sebagai aktor utama dalam film ini. Saya jadi teringat Pursuit of Happyness, dimana si Will Smith juga berperan sebagai aktor utamanya. Dan ternyata Seven Pounds dibuat oleh sutradara yang sama dengan Pursuit of Happyness.

SevenPounds

Di Pembuka film ini saja, membuat saya memposisikan tubuh untuk duduk lebih nyaman. Will Smith ingin mati, bunuh diri, menelpon Rumah Sakit untuk dirinya sendiri. Fak, kok ada orang seperti itu.

“Tuhan menciptakan dunia dalam tujuh hari, aku menghancurkannya dalam tujuh detik.”

Kalimat ini memacu saya untuk menghabiskan film ini dalam sekali duduk. Walau ada momen saya harus ke kamar mandi untuk kencing sejenak. Manusiawi kan?

Will Smith berperan sebagai Ben Thomas. Seorang pegawai pajak IRS, yang menagih orang-orang yang menunggak pajak. Pendekatan yang dilakukan untuk menagih, yang membuat film ini menarik. Serangkaian tes dilakukan oleh Ben Thomas kepada para penunggak pajak.

Awalnya saya kira seperti itu. Ternyata asumsi saya salah total. Untung, saat itu saya menonton film ini sendirian saja. Sebab jika saya menonton bersama teman, yang jadi malah diskusi alias ngobrol saat film berlangsung. Saya termasuk penggerutu saat menonton film. Ada kalanya saya tak terima dengan momen-momen yang terjadi dalam sebuah film. Dan hal itu yang membuat saya cepat merasa bosan ketika menonton film dengan alur yang lambat dan percakapan yang membosankan. Untunglah film ini tak termasuk kriteria tersebut.

Ada potongan-potongan cerita saat film ini berjalan. Potongan itu memori-memori masa silam Will Smith dengan istrinya. Istrinya tewas dalam kecelakaan. Ada rasa kehilangan dan bersalah yang dirasakan oleh si aktor utama, ketika ia sedang sendirian. Memori itu muncul tiba-tiba ketika ia sedang melamun dan tertidur. Potongan-potongan itu terjadi tidak utuh, hanya sekelebatan saja. Ini yang membuat asumsi saya terhadap film ini semakin berantakan. Gelap!

Titik terang mulai muncul ketika adik Will Smith muncul dalam film ini. Ia menanyakan kabar kakaknya yang tak lama kelihatan. Susah ditemui dan dihubungi.

Ada beberapa nama-nama yang disusun oleh Will Smith untuk dihubungi dan ditemui secara langsung. Dengan berlaku sebagai pegawai pajak, ia menghubungi nama-nama tersebut. Satu persatu ditemuinya. Diteliti latar belakangnya, dicari sebab-sebabnya mengapa mereka tak membayar pajak. Harta-harta kekayaannya, lingkungannya hingga gaya hidup mereka ditelusuri lebih dalam.

Setelah itu semua dilakukan, ternyata nama-nama tersebut bukanlah penunggak pajak. Melainkan nama-nama tersebut adalah orang-orang yang menanggung permasalahan hidup yang cukup berat. Ada Ezra Turner; Tuna netra dengan kemampuan piano yang cukup mahir dimana kesendirian dan kegelapan menjadi teman terbaiknya. Ada Emily Posa; Wanita yang didiagnosis menderita masalah jantung yang cukup kronis, yang membuatnya tak mampu lagi bekerja berat.

Disini Will Smith berperan sebagai Tuhan. Yah Tuhan! Ia berlagak mampu membantu dan menyelesaikan masalah-masalah yang diderita oleh orang-orang tersebut. Ia membantunya walau ia sendiri perlu utnuk dibantu. Nama-nama tersebut bukan dipilihnya dengan acak, melainkan sudah ia telusuri dengan bantuan teman baiknya. Titik terang itu mulai muncul semakin banyak.

Potongan-potongan masa silam Tuhan mulai terungkap.

Dalam suatu perjalanan pulang, Will Smith menerima sms ketika menyopir. Mobil yang ia kendarai berjalan cepat. Istri disampingnya mengingatkannya agar hati-hati. Dan BRAK! Ada mobil di depan yang melaju kencang, dengan reflek seadanya, Will Smith menghindari mobil di depannya. Naas  mobil yang ia kendarai jatuh ke dalam jurang. Sedang mobil yang ia hindari terpontang-panting keras akibat mengerem mendadak untuk menghindari kecelakaan. Tujuh orang didalamnya tewas seketika. Termasuk Istrinya Tuhan.

Didasari perasaan bersalah akibat peristiwa tersebut, Will Smith mencari tujuh orang yang memerlukan bantuannya. Tujuh orang tersebut akan dibantunya hingga ia bisa untuk melanjutkan hidupnya lagi. Dengan cara apapun akan ia tempuh.

Awalnya saya kira Will Smith adalah petugas pajak IRS. Dan ternyata itu salah. Adiknya yang ternyata adalah petugas pajak IRS yang asli. Identitas adiknya yang dipakai selama mencari ketujuh nama-nama tersebut. Hanya foto diri saja yang dirubah, sehingga orang akan mengira ia adalah petugas pajak IRS asli.

Separuh bagian gelap kini sudah menjadi terang.

Adiknya yang kehilangan kartu identitas diri mencoba mencari dan menemuinya. Pertemuan dengan salah satu nama; Emily Posa membuat Will Smith semakin dihantui peristiwa kecelakaan mobilnya kala itu.

Setiap film pasti ada bumbu-bumbu percintaan yang disajikan di dalamnya. Dan itu disajikan dalam adegan-adegan Will Smith dengan Emily Posa. Penderita masalah jantung ini jatuh cinta kepada Will Smith. Ia selalu muncul saat sedang dibutuhkan ataupun tidak. Dan Will Smith pun mau-tak-mau harus menuruti semua permintaan Emily Posa. Akan tetapi ending sempurna percintaan antara mereka tak akan pernah terjadi. Sebab Will Smith sudah menjelma sebagai Tuhan.

Gelap itu sepenunhnya berganti terang di akhir film ini.

Waktu kematian Tuhan sudah tak bisa ditunda lagi. Nama-nama seperti Emily Posa dan Ezra Turner sedang membutuhkan bantuannya. dan untuk memenuhi harapan tersebut, dan sebagai bentuk penebusan kesalahan masa silam Will Smith, maka ia harus segera mati.

Bak Mandi di motelnya diisi air hingga penuh. Es batu yang disiapkannya turut dimasukkan dalm bak tersebut. Adegan pembuka film diulangi secara lambat dan jelas di akhir bagian film ini. Ia menghubungi 911 untuk memberitahukan ada yang bunuh diri. Dan itu adalah Ia sendiri. Ia bunuh diri dengan menyetrumkan diri pada ubur-ubur peliharaannya sejak kecil.

Bagian akhir film ini teman terbaiknya menjalankan wasiat-wasiat yang dipercayakan Will Smith. Tuhan juga butuh asisten untuk menjalankan rencananya. Beberapa jam setelah kematiannya, organ-organ penting dalam tubuhnya ia sumbangkan kepada nama-nama yang telah ia tulis. Organ-organ terakhir yang ia sumbang ini, adalah organ paling vital dalm menunjang kehidupan seorang manusia. Bagian terpenting ini jatuh kepada Emily Posa, Wanita yang sangat mencintai dirinya.

Kalau kemarin headline berita dihebohkan ada seorang bapak berani menjual organ tubuhnya demi pendidikan anak perempuan kesayangannya. Disini, di fim Seven Pounds, Will Smith menyumbangkan organ-organ tubuhnya untuk menebus kesalahan masa lalunya. Ia memilih untuk bertindak sebagai Tuhan, dengan membantu orang-orang yang tak dikenalnya. Ia adalah Tuhan untuk tujuh orang asing. Orang asing yang sudah tak tahu lagi harus meminta pertolongan pada siapapun.

Saya tiba-tiba teringat pada perkataan Aristoteles yang dibukukan oleh muridnya dalam Nicomachean Ethics: “Aristoteles melihat kebaikan moral sebagai tujuan segala perbuatan manusia. Segala hal itu (kekayaan, kekuasaan atau kesehatan) barangkali bagus dan berguna, tapi tidak membawa kebahagiaan yang sebenarnya. Kebahagiaan yang sebenarnya tercapai bila manusia berhasil mewujudkan kemungkinan-kemungkinannya yang terbaik.”

Disini kemungkinan-kemungkinan terbaik itu dibuat dengan cara apapun oleh Will Smith. Ia bertindak tanpa memperdulikan dirinya sendiri. Ia merasa sudah tak layak hidup sesudah peristiwa kecelakaan mobil yang menewaskan tujuh orang termasuk Istrinya sendiri. Masa depan yang terang benderang di depannya, seketika itu menjadi gelap hitam. Impiannya menuju luar angkasa, seketika itu diubah. Ia merencanakan hidupnya untuk menebus dosa tujuh orang. Ia siap menanggung beban hidup tujuh orang asing.

Film ini menguras emosi bagi yang menontonnya. Bagi yang terlampau lemah untuk meneteskan air mata, saya pastikan akan menangis ketika menonton film ini. Saya tak termasuk yang lemah itu. Jujur saya merasa ada bercermin ketika menonton film ini. Saya menilai saya adalah Will Smith dalam dunia nyata ini. Saya lebih suka mengurusi orang lain daripada menyelesaikan masalah saya sendiri. Namun saya tak berani melakukannya diluar batas kemampuan saya, apalagi sampai menyumbangkan organ tubuh dan saya pun belum berani menjadi Tuhan bagi orang lain. Letupan pengalaman-pengalaman akan lain anda rasakan ketika menonton film ini. Anda akan merasakannya sendiri setelah menontonnya. Seven Pounds bisa diartikan banyak. Dan jujur saya tak bisa mencari padanan Bahasa Indonesia sebagai artinya.[]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s