Menggonggsong Kopi

“Sama-Sama Pahit, Sama-Sama Menenangkan”

Paragraf di atas adalah sebagian dari puisi milik Kiki Febriyanti yang berjudul ‘Kopi dan Kamu’. Saya tak pernah bertemu dengannya secara langsung. Saya mengenalnya hanya lewat puisi yang ia tulis dan dari kawan-kawan bermainnya. Saya jatuh cinta pada puisi Kopi dan Kamu tersebut. Puisi itu saya temukan di antologi puisi “Periculum in Mora”. Antologi puisi yang tak bisa dijumpai di toko buku terkenal, sebab hanya diproduksi sedikit, distribusinya pun terbatas. Terbatas hanya di seputaran mahasiswa Sastra Univ.Jember, komunitas dan beberapa kawan-kawan pegiat seni di Jember.

Saya tak ingin membahas lebih jauh lagi tentang sastra, puisi atau malah Universitas Jember. Kali ini saya ingin membagi pengalaman seputar kopi. Kopi! Kumpulan biji-biji kecil seukuran kacang yang bisa bikin orang melek saat sedang mengantuk. Saya termasuk pemuda yang suka dengan kopi. Suka mengkonsumsinya, seperti makan nasi dalam sehari. Bisa tiga sampai lima gelas kopi saya tenggak dalam sehari.

Saking senengnya dengan kopi, saya mulai sedikit demi sedikit mencari tahu tentang kopi. Mulai dari menjadi kontributor web kopi: minumkopi.com, mencari tempat-tempat minum kopi yang asyik dan nyeleneh, hingga menemukan citarasa kopi yang lain daripada biasanya.

Tak cukup sampai disitu. Gaya hidup saya dalam mengkonsumsi kopi pun saya rubah total. Saya termasuk generasi yang dibesarkan dengan produk-produk instan. Tinggal menikmatinya tanpa perlu untuk susah-susah bekerja. Hal ini yang membuat saya merasa bersalah dengan tingkah laku tersebut. Dan saya berusaha sedikit demi sedikit merubahnya. Kopi instan yang dulu saya sering konsumsi kini sudah saya tinggalkan. Saya lebih suka menikmati kopi segar hasil produksi langsung, kopi-kopi yang seminggu sekali selalu diganti baru. Proses mengonggsongnya (menyangrai) kopi adalah proses yang paling saya suka dari produksi kopi. Butuh kesabaran dan instrumen yang memadai untuk mengonggsong kopi.

Tempat menikmati kopi pun, saya pilih-pilih. saya cenderung mencari warung kopi yang menyajikan bubuk kopi asli, bukan kopi instan. Susah mencari warung kopi tersebut. Beberapa warung kopi kebanyakan membeli langsung bubuk kopi, tanpa meracik sendiri kopi-kopinya. Jarang saya temui warung yang membeli langsung biji-biji kopi, menjemurnya sendiri, meramunya dan memperlakukan kopi-kopi tersebut hingga keluar citarasa khas dari kopi. Untungnya masih ada beberapa warung kopi yang masih melakukan hal tersebut.

Saya tak antipati terhadap keberadaan café kopi. Jikalau saya ada uang berlebih, tentu saya tak akan sungkan-sungkan pergi ke café. Café kopi tentunya berbeda dengan warung kopi. Café biasanya dilengkapi dengan alat-alat penyeduh kopi yang canggih, dilengkapi dengan seorang barista dan tentunya kopi-kopi yang disajikan masih dalam keadaaan segar. Beda lainnya tentu masalah fasilitas dan harga secangkir kopi yang disajikan.

Kembali ke masalah mengonggsong kopi. Proses ini adalah proses menjadikan biji kopi yang masih hijau menjadi coklat kehitaman, dan kadang sampai menjadi hitam. Ada banyak jenis sangrai kopi. Tak ada standar yang dibuat. Sebab citarasa kopi dihasilkan dari orang-orang yang mengerti tentang kopi. Dan saya sebenarnya tertarik dengan hal tersebut. Sayangnya pelatihan untuk menjadi orang yang mengerti tentang kopi dan tetekbengeknya cukup mahal.

Saya tak patah arang. saya pun mencoba menjajalnya sendiri. Saya mencari biji kopi segar, yang langsung dipetik dari kebun kopi. Sialnya saya tak punya kebun kopi. Ditambah lagi saya tak punya kemampuan untuk membedakan mana biji kopi yang sudah siap dipetik dan mana yang belum. Untungnya saya punya seorang kekasih yang bibinya punya kebun kopi. Saya pun menitip biji kopi segar kepadanya. Kebun kopi bibinya terletak di daerah Gunung Gamping, Sungai Lembu, Pesanggaran Banyuwangi. Kopi yang dihasilkan adalah kopi Buriah. Dan saya usut lebih lanjut, kopi ini termasuk kopi jenis robusta. Kopi Buriah adalah kopi yang digandrungi masyarakat Pesanggaran.

Saya mendapat setengah kilo biji kopi segar buriah. Biji-biji kopinya masih hijau, berbentuk kecil-kecil dan jarang yang berukuran besar. Saya pun sempat mengiler sejenak melihat biji kopi ini. Belum-belum saya sudah membayangkan rasa kopi segar yang saya racik sendiri. Saya pun tak sabar ingin segera mengonggsong biji kopi ini. Saya pun bergegas kembali ke rumah orang tua saya di Gresik.

Sesampainya di rumah. Saya memberikan kopi itu pada Ibu saya. Bukan malah tersenyum dengan hadiah tersebut, saya malah dimarahi. Dimarahi karena membawa biji kopi mentah yang belum digonggsong. Proses menggonggsong biji kopi, sudah sangat jarang ada di daerah rumah saya di Gresik. Saya pun disarankan membawa biji kopi tersebut ke warung-warung kopi untuk digonggsong. Sayangnya kebanyakan warung kopi di area rumah saya sudah tak lagi menggonggsong kopi. Alhasil biji kopi buriah tersebut terbengkalai selama 2 minggu tanpa saya sentuh sedikitpun.

Saya tak berhenti di situ saja. Saya menggali informasi bagaimana harusnya memperlakukan biji kopi segar untuk menjadi sebuah bubuk kopi dengan citarasa nikmat. Empunya warung kopi langganan saya di Gresik yang saya tanyakan caranya membuat kopi nikmat. Proses mengonggsong kopi adalah proses yang paling penting, ujarnya. Menggongsong kopi harus dilakukan di sebuah tungku dengan bahan bakar kayu. Panas apinya harus rata, sehingga proses menggonggsongnya kan lebih sempurna. Harus terus diputar-putar biji kopinya saat digonggsong tersebut.

Hal ini yang saya bingungkan. Sebab di rumah saya, sudah tak lagi menggunakan kayu sebagai bahan bakar. Tabung gas kuning 3 kg lah yang digunakan di rumah. Saya pun bertanya apakah bisa proses menggonggsong itu diganti menggunakan bahan bakar gas. Jawabnya bisa, namun prosesnya sangat lama dan boros gas, sebab pembakarannya kurang panas dibandingkan dengan menggunakan kayu.

Jawaban itulah yang membuat saya nekad untuk menggongsong sendiri biji kopi buriah. Saya menggunakan wajan besar dan sutil kayu untuk menggonggsongnya. Api pembakarannya saya setel kecil untuk mendapatkan panas yang merata, dan juga saya kan menggonggsongnya lama. Saya beranggapan dengan api kecil tersebut jumlah gas yang keluar tak terlalu banyak.

Saya menggongsongnya kurang lebih 3 jam. Saya aduk terus menerus biji kopi tersebut dengan sutil kayu. Indikatornya, jika biji kopi hijau itu sudah berubah menjadi coklat kehitaman. Begitu ujar adik saya, ia sering menggonggsong kacang, sehingga ia tahu kapan waktunya sudah matang. Setelah 3 jam lebih dikit, kompor saya matikan. Biji kopi buriah yang semula hijau berubah menjadi coklat sedikit kehitaman dan timbul bau gosong. Ditambah lagi ada bunyi pletak ketika saya menggonggsongnya. Indikator pletak itu saya dapatkan dari internet dan diperkuat oleh argumen kekasih saya. Indikator-indikator tersebut membuat saya yakin bahwa proses menggonggsong kopi tersebut sudah matang.

Hasil Gonggsongan I

Hasil Gonggsongan I

Keesokan harinya, biji kopi buriah yang berwarna coklat sedikit kehitaman tersebut saya bawa ke tempat penyelepan (penggilinggan biji kopi). Awalnya saya ingin mempergunakan blender untuk menggilingnya. Namun adik saya melarang hal tersebut, sebab pisau blender tak kuat untuk menghancurkan biji kopi. Di tempat penggilingan, saya malah disuruh pulang. Biji kopi hasil sangraian tersebut masih kurang lama. Empu penggilinggan menyuruh saya untuk menggonggsongkan hingga benar-benar gosong atau hitam pekat. Sebab jika belum berwarna hitam atau minimal coklat kehitaman sangat, maka kopi yang dihasilkan tak terasa nikmat.

Saya Sedang Menggonggsong

Saya Sedang Menggonggsong

Saya termasuk orang yang ngeyelan. Saya tak sepenuhnya percaya hal tersebut. Saya percaya hasil sangraian saya sudah benar-benar matang. Saya menyuruh empu penggilingan untuk menggiling sedikit hasil sangraian tersebut. Setelah digiling, hasilnya bubuk kopi masih berwarna coklat muda. Serupa warna bubuk susu coklat. Hasil gilingan itu saya coba seduh dengan air panas di rumah. Hasil seduhannya pun masih belum berbau kopi nikmat, warna seduhannya pun masih berwarna coklat tua belum sepenuhnya hitam selayaknya hitam kopi. Saya pun penasaran dengan rasanya. Saya pun coba cicipi.

Jujur saya tak bisa menggambarkan rasanya dengan tulisan. Rasa kopinya seperti meminum jus biji kopi. Berasa minum sayuran. Tak ada rasa pahit, yang ada rasa tawar dengan sedikit masam. Perut saya langsung bereaksi setelah meminum kopi tersebut. Ngeyelan saya ternyata salah. Hasil gonggsongan saya belum sempurna.

Pagi harinya, saya coba menebus kesalahan. Saya kembali menggongsong kopi coklat sedikit kehitaman tersebut. Kali ini api gas saya perbesar. Saya gonggsong sedikit lebih lama, hingga warnanya benar-benar hitam. Sekitar 3 jam lebih, muncul bunyi pletak dari biji kopi tersebut. Warnanya juga berubah. Beberapa biji kopi sudah hitam, beberapa lagi masih coklat gosong. Saya pun mengaduknya lebih teratur, agar hasil gonggsongan lebih rata di semua biji kopinya. Bubuk kopi yang sebagian sudah digiling saya campur dengan biji kopi yang sedang saya gonggsong. Saya berasumsi jika bubuk coklat ini saya gonggsong lama tentunya akan merubah warna coklat menjadi hitam. Setelah bunyi pletak semakin sering dan bau gosong sudah menyeruak di dalam dapur, saya pun mematikan kompor gas.

Buru-buru saya dinginkan. Setelah itu saya langsung bawa ke tukang penggilingan. Empu penggilingan melihat hasil kerja keras saya cukup lumayan. Walaupun saat itu ia pun menyuruh saya untuk kembali menggonggsongnya, sebab sebagian masih kurang hitam sedikit. Namun karena bau kopinya sudah sedikit keluar, maka saat itu semua hasil sangraiannya ia giling. Saya dikenakan biaya 2 ribu rupiah saja untuk setengah kilo biji kopi. Murah. Saya tak mengira harga menggiling kopi hanya segitu.

Hasil gilingan saya pandangi sesampainya di rumah. Warnanya sudah sangat coklat, tapi kenapa baunya masih seperti bau biji kopi sebelum disangrai. Saya coba bandingkan warnanya dengan kopi bubuk kapal tangker kesukaan Bapak saya. Bubuk kopi hasil gonggsongan sendiri warnanya terlihat lebih muda dibandingkan kopi kesukaan Bapak saya. Baunya pun sangat berbeda. Saya pun semakin penasaran. Selepas maghrib saya pun mencoba mencicipi kopi tersebut. Anenhya bau seduhan kopi tersebut tak seperti kopi tubruk yang biasa saya minum di warung kopi langganan saya. Warnanya pun sekit lebih cerah alias belum hitam sepenuhnya. Saya coba. Rasanya tak membaik selepas proses gonggsongan hingga dua kali. Masih tetap tak berasa minum kopi. Seketika itu saya putuskan saya gagal dalam proses menggongsong kopi. Hasil olahan saya belum sempurna benar.

Untungnya saya tak menangis saat itu. Saya kecewa berat. Saya pun tanya kepada kekasih saya dan mencari beberapa informasi membuat kopi yang enak kepada mbah gugle. Kekasih saya memberi tahu, bahwa kopi buriah harusnya dideplok alias ditumbuk untuk menghasilkan bubuknya setelah disangrai. Proses menyangrainya pun harus benar-benar rata dan hitam. Dan bau dari hasil sangraian tersebut bukan lagi bau gosong, melainkan bau harum biji kopi yang terbakar sempurna. Proses tradisional ini masih banyak dilakukan oleh beberapa masyarakat di daerah Pesanggaran.

Saya pun mendapat hikmah dari proses kengeyelan saya untuk mengolah biji kopi buriah. Kopi saya belum benar-benar pahit, dan sama sekali tidak menenangkan. Alhasil setengah kilo bubuk kopi tersebut saya ikhlaskan kepada teman dekat Ibu. Saya mendapat banyak pelajaran dari hal ini. Setidaknya untuk mendapatkan rasa kopi yang nikmat dibutuhkan kerja keras yang besar pula, keahlian serta banyaknya pengalaman.[]

Advertisements

2 thoughts on “Menggonggsong Kopi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s