Perayaan

Dalam hitungan beberapa jam lagi agustus akan berakhir. Bulan yang selalu dinanti setiap kalangan masyarakat. Bukan karena di bulan agustus adalah hari Kemerdekaan Negara ini, melainkan bulan delapan ini selalu punya daya tarik tersendiri. Saya selalu menyebut agustus sebagai bulan perayaan.

Dahulu kala, sebelum saya masuk ke dalam “lingkungan hidup” perguruan tinggi, agustus selalu jadi momen yang saya rayakan karena banyaknya lomba-lomba yang diadakan dan juga banyaknya hari libur nasional. Sekarang cara pandang saya bertambah. Agustus selalu jadi momen persiapan, perubahan untuk masuk ke dalam semester baru. Agustus selalu menjadi bulan penerimaan mahasiswa baru di Indonesia. Siswa SMA yang telah lulus, beramai-ramai mendaftar masuk di perguruan tinggi, baik itu swasta atau pun negeri. Bagi mereka yang sudah lulus dari perguruan tinggi, Agustus juga jadi bulan yang dinanti. Berbagai Job Fair diselenggarakan di bulan ini. Lulusan Perguruan Tinggi dan SMA/SMK berbondong-bondong pula meramaikan Job Fair di bulan agustus. Agustus selalu punya daya tarik magis yang khas.

Agustus kali ini pun terasa spesial. Dimana Ramadhan 1434 H jatuh di tahun 2013 ini. Perayaan Kemenangan setelah melawan hawa nafsu sebulan penuh, dituntaskan tepat di bulan agustus. Ini semakin melengkapi perayaan Kemerdekaan RI yang ke 68 tahun. Sebuah perayaan rutin yang selalu dinanti oleh setiap masyarakat Indonesia. Semoga saja, Kemerdekaan RI yang jatuh pada 17 Agustus tak selalu dianggap sebagai momen untuk merayakan berulang tahunnya negeri ini. Kontemplasi, Refleksi dan Perubahan serta Aksi ke arah yang lebih baik, demi majunya negeri tentu akan jadi hal yang ‘wajib’ dilakukan oleh setiap warga negara Indonesia. Ah! Semoga hal itu terjadi.

Bagi, mahasiswa seperti saya ini. Agustus selalu jadi bulan sibuk. Sibuk mengerjakan persiapan untuk menghadapi semester baru. Sibuk untuk beradaptasi lagi dengan mahasiswa-mahasiswa baru. Hal ini dipertegas dengan banyaknya kegiatan-kegiatan yang dilakukan. Mulai dari KRS-an, persiapan ospek, pengenalan kehidupan kampus, pengenalan kegiatan kemahasiswaan adalah contoh-contohnya. Masyarakat lingkungan sekitar kampus di berbagai kota juga keciprat untung di bulan agustus. Masuknya mahasiswa baru bisa menjadi untung yang menjanjikan. Rumah kos-kosan dan juga kontrakan selalu ramai dicari. Di beberapa kota besar bahkan dibuat khusus Apartemen demi menyambut mahasiswa baru. Mahalnya biaya masuk dan biaya semester perguruan tinggi ditambah lagi biaya hidup yang mahal, serta mitos yang melekat pada masyarakat :bahwa mahasiswa itu kaya semakin berimbas kepada naiknya harga-harga. Mulai dari harga kos-kosan, harga makanan, minuman hingga harga kopi.

Saya termasuk salah satu mahasiswa yang terimbas dengan kenaikan harga-harga tersebut. Kiriman Orang tua pun harus saya racik sedemikian hemat demi mencukupi kebutuhan hidup selama sebulan. Trik lawas yang sering saya gunakan, yah; “Gali lobang sebanyak-banyaknya” Cari utang demi tercukupi kebutuhan. Jangan terlalu dianggap serius, sebab bagi mahasiswa lama, mereka (bangkotan, tua dan sedang dalam masa-masa keemasan) selalu punya cara tersendiri untuk mencukupi kebutuhan hidupnya selama berkuliah.

Kembali ke masalah perayaan. Agustus kali ini, pemilihan Gubernur dan Kepala Daerah dilaksanakan di berbagai kota di Indonesia. Momen untuk memilih pemimpin-pemimpin yang sesuai dengan pilihan masing-masing individu di tiap daerah. Ah! Saya termasuk individu yang tak terlalu mementingkan untuk mengikuti hal tersebut. Saya sudah tak percaya lagi kepada para calon-calon pemimpin. Siapapun dan dari mana pun. Saya Golongan putih sejak pemilihan umum 2010 kemarin. Saya tak ambil pusing kepada siapa yang jadi dan siapa yang tidak.

Sejatinya, tiap individu butuh sebuah perayaan. Entah itu perayaan kelahirannya kembali (ultah) atau merayakan keberhasilan atas hal yang sudah dicapai. Positif atau negatif yang pasti perayaan merupakan momen untuk sedikit berelaksasi. Perayaan mungkin terdengar buruk konotasinya bila tak diimbangi dengan hal-hal yang berfaedah. Seperti mengadakan pesta kembang api di akhir tahun, demi menyambut tahun baru. Mengadakan pesta besar-besaran ketika ultah diperingati. Atau juga melepas masa lajang, dengan mengadakan pesta bujang. Hal-hal seperti itu mungkin agaknya terdengar arogan, salah dan hanya mampu dilakukan oleh individu-individu yang kaya. Nilai-nilai moral, kepantasan serta kentalnya budaya timur masih jadi pertimbangan bagi sebagian kalangan untuk mengadakan sebuah perayaan. Agustus barangkali hanya jadi sebuah bulan biasa, bagi para individu-individu tersebut. Namun bagi sebagian masyarakat Indonesia yang masih percaya dan cinta kepada negara, agustus adalah bulan tak biasa.

September sebentar lagi datang. Tinggal menunggu beberapa jam lagi, berlalunya waktu. Bulan pergantian musim, dari penghujan ke kemarau. September jadi bulan baru untuk memulai segala aktivitas. Terlebih lagi bagi saya sebagai seorang mahasiswa baru, september jadi bulan dimulai kegiatan perkuliahan aktif. Ketergesaan kembali datang lagi. Tak ada waktu untuk sedikit melambat. Sebab tertinggal sedikit saja, akan susah untuk mengejar. Sedikit jam yang tersisa ini kiranya tepat (bagi saya!) untuk membuat beberapa catatan-catatan rencana demi menyambut datangnya september. Sebab lepas dari agustus, rutinitas kembali berlanjut. Tak ada waktu untuk berleha-leha, sebab tak ada tanggal merah. Lalu bagaimana dengan anda?

Advertisements