PLASTIK

Ini bukan cerita soal band lawas yang digawangi Didit Saad ama Ipank. Ini beneran soal penemuan mahadahsyat manusia dalam sejarahnya. Ini adalah Plastik.

Awalnya saya tak tahu menahu soal plastik. Tahunya saya, plastik itu murah, bermanfaat dan banyak digunakan oleh semua manusia. Plastik yang saya tahu yah bermerk Tu**erware. Dulu saya dibesarkan dengan merk plastik itu. Saat bersekolah saya tak pernah lepas dari botol minuman lengkap dengan kotak nasi plastik (tentu saja yang saya makan isinya). Untungnya barang-barang plastik tersebut tak melekat pada saya saat bersekolah lanjut. Gengsi donk tentunya.


Lambat laun, plastik bermodifikasi. Artinya tak melulu digunakan untuk alat-alat pecah belah (piring, sendok, kotak makan dll) Ada lemari pakaian dengan kotak-kotak berwarna-warni. Biasanya dengan warna cerah, sebab warna cerah akan lebih menarik perhatian. Tak hanya itu saja, plastik juga kini digunakan untuk bahan alat-alat elektronik. Hape contoh terakhir. Varian vendor hape menawarkan harga bervariasi dengan plastik sebagai bahan yang paling murah. Yah tentu saja bahannya tak terlampau penting bagi sebagian pengguna alat komunikasi tersebut. Besarnya ukuran pixels hape, ram, memori, adalah yang dilihat.

Ada sebuah film dokumenter penting untuk ditonton. Khususnya bagi para pengguna plastik yang tak tahu ada hal ‘di balik’ plastik. ‘Addictied to Plastic’; sebuah film dari Ian Connacher. Film ini menampilkan; The Rise and Demise of a Modern Miracle. Hmm, apa itu? Silahkan anda cari filmnya, atau anda artikan sendiri bahasa inggris yang saya underline.

Poster

Setelah saya nonton film itu, alhasil saya merubah seluruh pandangan saya tentang plastik, khususnya mengenai cara saya berhubungan dengan plastik. Saya dulu tak pernah bisa lepas dari kresek. Kresek merupakan teman terbaik hidup saya. Kresek adalah sebuah tas bermanfaat yang harganya pun tak mahal. Kresek pun juga tersedia dengan bermacam-macam ukuran. Ah, dunia memang tak indah bila tak ada kresek!

Itu dulu. Sekarang pun, saya masih tetap tak bisa lepas dari kresek. Susah memang untuk lepas dari barang satu ini. Padahal plastik di muka bumi ini tak hanya kresek. Berpegang pada isi dari film dokumenter tersebut, perlahan-lahan saya mengurangi penggunaan plastik. Khususnya Kresek!

Plastik ternyata selain merupakan “Modern Miracle” ia juga merupakan “Enviromental Disaster”. Wuik bahasaku!

Artinya ada sisi lain dari plastik yang sangat merugikan. Plastik merupakan bahan yang tak bisa hancur. Hancur di sini bisa diartikan terurai. Hancur di sini ketika ia sudah menjadi sampah dan bahkan belum menjadi sampah. Kertas contoh pembandingnya. Kertas bisa terurai dan bisa didaur ulang. Plastik pun bisa didaur ulang, hanya saja ia mempunyai batas untuk didaur ulang.

Okey, mungkin anda gak percaya dengan apa yang saya tuliskan ini. Coba anda eksperimen. Anda buat dua lubang kecil di dalam tanah. Cukup 1 meter saja. Anda kuburkan di lubang pertama dengan sampah kertas, dan lubang satu lagi dengan plastik bekas. Lalu kedua lubang anda timbun hingga membentuk gundukan. Tandai masing-masing lubang.  Anda tunggu selama 1 bulan (semakin lama semakin baik). Lalu anda gali kembali kedua lubang tersebut dan lihat hasilnya. Catatan: Anda tak perlu menunggui kedua lubang tersebut, lakukan aktivitas anda seperti biasanya. Tak perlu melihatinya dengan cermat selama 1 bulan atau bahkan lebih.

Film Addictive to Plastic memaksa  saya untuk mencari lebih lanjut tentang apa itu plastik. Dan ternyata saya menemuinya di ruang-ruang akademik. Yah ruang kuliah. Ia berasal dari sebuah Natural Polymers, yang kemudian dengan kepintaran otak manusia, akhirnya jadi Polymers. Alam menyajikan seluruh bahan-bahan terbaik untuk digunakan sebaik-baiknya oleh umat manusia. Dan dengan akal, manusia tak perlu menggunakan seluruh bagian dari alam semesta. Melainkan hanya beberapa sampel kecil dari alam bisa berwujud benda-benda yang kita pakai saat ini.

Bagi yang belum tahu apa itu Natural Polymers, silahkan anda cari sendiri. Barangkali gambaran kecil ini (https://twitter.com/search?q=%23NaturalPolymers&src=hash) bisa sedikit membantu anda para pencari kata (keywords) di mesin jelajah automatik. Hehe, sekalian saya promosi akun kicauan. Tentang Polymers, saya juga sempat kicaukan, sila anda cari; #Polymers.

Jadi dari Natural Polymers; yang banyak dipakai masyarakat tempo doloe dan disebarluaskan oleh para pendatang asing (maknanya bisa bermacam-macam, seperti penjajah!) akhirnya terbentuk Polymers. Sebuah makro molekul yang tersusun dari monomer-monomer berulang-ulang yang disatukan dengan cara kimia. Definisinya kaku banget sebenarnya, bisa bermacam-macam, silahkan (lagilagi) anda cari definisi yang pas buat kalian. Contoh Polymers; PVC adalah Poly Vinyl Chloride. Nah! Anda pasti tahu apa itu PVC. Ia merupakan pipa-pipa yang kalian gunakan di rumah dan ia sebuah material plastik yang paling banyak digunakan di dunia ini. Dan juga ia ditahbiskan sebagai material plastik yang paling kuat dan tahan dalam kondisi apapun (tentu saja kecuali saat di gergaji).

Okey itu mungkin salah satu contoh material plastik yang telah dimodifikasi menjadi sebuah bahan yang berguna bagi kehidupan umat manusia. Tentu saja masih ada material-material plastik lainnya yang lebih bermanfaat, dan juga tentu pula sisi buruknya untuk lingkungan juga besar.

Tengok saja India, bagaimana mereka kerepotan untuk mengatasi limbah plastik. Munculnya sapi-sapi pemakan plastik banyak ditemui di India. Negara kita pun; Indonesia, sebenarnya juga tak punya cara untuk mengatasi permasalahan limbah plastik. Yah, barangkali ada beberapa penemu alat penghancur limbah plastik yang tak merusak lingkungan. Negara-negara majulah yang rata-rata punya alat dan cara terbaik untuk mengatasi permasalahan limbah plastik dan sampah tentunya. Indonesia mah, penangganan sampah yah hanya ditimbun saja. Ditaruh di lapangan tak terpakai, dikumpulkan hingga menjadi gundukan. Menunggu pihak penangkut sampah untuk mengangkatnya. Itu mah kalau diangkut. Kalau tak diangkut yah ujung-ujungnya, lapangan tersebut jadi TPS, atau yang lebih buruk; gundukan sampah tersebut dibakar.

Nah, pembakaran sampah plastik tak menyelesaikan masalah. Asap hasil pembakaran tersebut bisa menjadi polusi berbahaya untuk lingkungan. Terlebih lagi untuk manusia. Anehnya, banyak orang mengganggap membakar adalah solusi cerdas untuk menghilangkan sampah. Cara terbaik dan paling murah untuk mengatasi permasalahan wasted menurut saya; sampah kudu dipisahkan (organik dan non-organik), kedua sampah tersebut ditimbun saja dalam sebuah tanah lapang yang luas dengan kedalaman lubang yang sangaat dalam. Sampah-sampah organik bisa dimanfaatkan jadi pupuk dll, kalaupun tak dimanfaatkan sampah ini bisa terurai dengan sendirinya. Sedangkan sampah anorganik, inilah yang susah untuk terurai dan perlu perlakuan khusus.

Cara hidup ‘green’ sudah banyak digembargemborkan. Dengan slogan 4R: Reduce, Reuse, Recycle dan Replace. Dan tentu cara-cara ini takkan ada hasilnya, jika hanya melulu sebatas slogan belaka atau malah dibuat menjadi logo kaos anda. Cara-cara tersebut kudu menempel dalam tingkahpolah keseharian anda, khususnya saat berhubungan dengan yang namanya plastik. Dan satu lagi. Jika anda menemui plastik dengan logo green atau mudah terurai dengan sendirinya, mending anda tak usah memakainya. Mengubah pola kebiasaan menggunakan plastik susah terurai dengan plastik yang mudah terurai adalah bohong. Karena sama-sama menggunakan plastik. Saya sarankan anda membawa tas ransel yang cukup besar saat ingin berbelanja, atau anda gunakan tangan anda untuk membawa barang belanjaan anda. Sebab plastik serupa uang kertas serartus ribu jaman kuno. Di satu sisi menampilkan Bapak Proklamator Negara: Soekarno-Hatta, di sisi lain menampilkan gedung megah yang isinya orang-orang yang anda pilih dan tak anda kenal.[]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s