Unthinkable

“Apa yang kan anda lakukan, jika dihadapkan pada pilihan berikut: Membunuh Ibu dan dua anaknya demi menyelamatkan nyawa ribuan orang, atau menyelamatkan Ibu dan dua anaknya dengan mengorbankan nyawa ribuan orang? Mana yang akan anda lakukan? Ini bukan soal ujian di mana jika benar anda akan mendapatkan nilai 3 dan -1 jika salah. Ini soal nyawa. Dan nyawa itu nyata. Lalu jika anda dimasukkan dalam situasi sebagai seorang pengadil. Mana yang lebih manusiawi? Mana yang Benar? Mana yang Salah?”

Friksi di atas merupakan film Unthinkable. Film tentang terrorisme yang sedang marak di Amerika Serikat akibat adanya perang di Timur Tengah. Steven Arthur Younger, adalah tentara perang AS, seorang spesialisasi pembuat bom. Pasca diterjunkan ke daerah-daerah konflik di Timur Tengah, si Tokoh mengalami pergulatan emosi yang merubah pendiriannya secara 360o. Dari seorang yang bangga membawa nama bangsanya demi mendapatkan kebenaran dengan perintah/instruksi atasannya, ia berubah sebagai seorang yang mencari kebenaran dengan caranya sendiri tanpa ada satupun yang memerintahnya.

Dicomot dari situs: unthinkable.movie-trailer.com

Dicomot dari situs: unthinkable.movie-trailer.com

Sisi yang lain, seorang Agen FBI ditugaskan menyelidiki jaringan teroris dan menangkapnya satu-per-satu. Seorang agen yang dilengkapi dengan kemampuan rasio di atas rata-rata berkat kecakapannya saat masih bergelut di bangku akademik. Syarat utama yang tentunya harus dipenuhi untuk menjadi seorang agen FBI. Sayangnya, intuisi agen FBI ini masih sangat dominan. Bukan perkara si-Tokoh-FBI ini adalah seorang perempuan, namun dalam film ini secara gamblang kelihatan sekali karakter intuisi yang paling dominan berperan. Untungnya hal ini sedikit tertutupi dengan seorang proffesional Investigator, ia bernama banyak, ia agen H. Latar belakangnya, siapa yang memback-up dan melindungi diri pribadinya serta keluarga adalah pihak yang unclasiffied alias tak mudah tersentuh hukum.

Klasifikasi tokoh di atas ini menjadi tak terlampau penting saat anda menonton fim ini. Semua menjadi kabur. Anda diharuskan memilih salah satu sisi yang anda yakini paling benar. Sekali lagi yang paling benar. Sisi teroris atau sisi pemerintah (yang diwakili oleh agen-agen tersebut).  Tak ada kebenaran absolut. Karena kebenaran itu bergantung pada sudut pandang anda masing-masing. Tak percaya?

dicomot dari situs: theactofkilling.com

dicomot dari situs: theactofkilling.com

Sebelum  menonton film ini, coba anda menonton juga film Jagal atau lebih dikenal dengan The Act of Killing. Film karya Joshua Oppenhaimer, yang mencoba menampilkan The Act; cara atau tindakan untuk membunuh. Konon film ini diangkat untuk menampilkan sisi kelam kejadian 30 September 1965. Konon di sini dikarenakan masih banyaknya sejarah kelam yang belum diketahui masyarakat secara luas. Ada banyak sekali sudut pandang kejadian saat peristiwa 1965 itu berlangsung. Anwar Congo; sebagai seorang paramiliter dan anggota preman (ia lebih suka disebut free man) ditugaskan untuk menumpas habis PKI dan oknum-oknum yang berpotensi mengotori Indonesia. Mengotori Indonesia di sini diartikan mencoba menghancurkan Pancasila. Hal ini harus dipatuhi dan dilaksanakan oleh semua anggota paramiliter. Organisasi paramiliter tersebut adalah Pemuda Pancasila.

Ada satu percakapan yang menjadi penting untuk dilihat dan coba saya bandingkan dengan film Unthinkable. Percakapan antara Adi Z dengan salah satu wartawan media massa; Mana yang lebih kejam, kita atau mereka? Kita tentu merujuk pada paramiliter dan preman, sedang mereka adalah PKI. Adi Z menjawab kita lebih kejam daripada mereka, sedang si-wartawan berpendapat lain: Kita lebih sadis. Si Adi Z bersikeras bahwa sadis dan kejam adalah sama karena kata sifat, sedangkan wartawan berpendapat sadis itu tabiat.

Oke. Kenapa saya membandingkan friksi di percakapan The Act of Killing di atas dengan film Unthinkable? Karena kedua film ini menampilkan kebenarannya masing-masing. Kebenaran yang tak satu. Kebenaran yang diyakini tiap-tiap individu demi sebuah nama yakni Kemanusiaan. Dan jalan untuk mencapai atau menuju kebenaran itu yang menghalalkan semua cara. Cara di sini tak lagi bermakna benar atau salah, karena tujuannya satu: Kemanusiaan. Artinya seberapa banyak korban berjatuhan, salah ataukah benar tindakan untuk menghilangkan nyawa manusia itu tak jadi soal. Menghilangkan nyawa manusia dengan cara-cara: disakiti perlahan-lahan dengan tindakan penyiksaan atau menghabisi secara langsung pun tak jadi soal.

Kembali ke film Unthinkable. Demi terwujudnya tujuan menemukan lokasi bom maka, pihak tertinggi (birokrasi paling atas) dalam struktur pertahanan dan keamanan Negara memutuskan untuk membagi tugas. Agen Brody dan Tim ditugaskan untuk mencari lokasi bom sedangkan Agen H dan rekannya ditugaskan untuk mencari jawabannya dari teroris; Steven Arthur Younger. Oh. Iya, Steven Arthur Younger mempunyai nama baru: Yusuf Mohammed Atta. Dari sini konflik mulai dibangun. Agen Brody kesal karena ia tak diberi kuasa penuh untuk menginterogasi Yusuf. Sedangkan Agen H bersikap profesional. Ia tak mau diganggu ketika melaksanakan tugasnya, ia minta diberi kebebasan penuh untuk dapat melakukan apapun.

Agen H adalah seorang yang ahli menginterogasi tersangka untuk mendapatkan jawaban-jawaban yang dibutuhkan. Caranya menginterogasi menjadikan tersangka takut pada ia, sehingga jawaban yang di cari dapat dengan mudah diucapkan. Tersangka di sini adalah manusia yang bertekad kuat tak akan memberikan jawaban sampai semua tuntutannya dipenuhi. Patut diingat bahwa tersangka adalah orang yang tak peduli apakah tuntutannya nanti terpenuhi atau tidak. Ia hanya menyampai maksud (dalam hal ini dengan bom) kepada pemerintah bahwa apa yang dilakukannya selama ini salah. Perang terhadap Timur Tengah.

Agen H dulunya juga seorang tentara perang, artinya ia tahu bagaimana tabiat seorang teroris. Di sini agen Brody dengan intuisi dan rasionalitasnya, tipikal orang modern abad ini, tak sepakat dengan cara interogasi agen H karena melanggar UU dan melanggar HAM (Hak Asasi Manusia). Cara interogasi bisa dilakukan tanpa melukai tersangka, bercakap, dengan melemahkan psikologi si tersangka. Hal ini yang diyakini Brody sebagai cara yang tepat, efektif dan manusiawi.

Yusuf sengaja membiarkan dirinya tertangkap dan diinterogasi dalam awal cerita. Bisa ini diartikan ia siap di-apa-apa-kan. Menjadi menarik, kemudian saat proses interogasi, pergulatan emosi yang dipertaruhkan antara Yusuf-Agen H-dan-Agen Brody. Agen H hanya menanyakan satu pertanyaan saja: Dimana letak bom itu?

Menit berubah cepat menjadi jam. Jam berubah cepat menjadi hari dan pertanyaan agen H tak terjawab. Brody tentu kesal dengan tak adanya progess. Ditambah lagi tindakan interogasi yang dilakukan agen H sangat tak manusiawi pikirnya. Agen H terus-menerus melakukan pekerjaannya, sedang Brody sibuk mencari letak bom sembari mencari cara untuk meminta kekuasaan penuh menginterogasi Yusuf dan membuang agen H. Sayangnya hal ini tak berhasil. Kekuasaan diatasnya tak memberi ijin. Agen Brody dipaksa harus melihat, menikmati proses interogasi agen H, dan bekerjasama dengannya. Sampai keluarga Yusuf ditemukan. Disini proses interogasi semakin bertambah menarik.

Agen H dengan cara interogasi bahwa ia adalah ‘Kekuasaan’ yang harus ditakuti oleh Yusuf demi sebuah jawaban, tertolong dengan ditemukannya Istri dan kedua anaknya. Kekuasaan yang diberikan agen H kepada yusuf melalui penyiksaan, pemberian ketakutan, kini kan bertambah berkali lipat. Istri dan kedua anaknya lah digunakan sebagai bagian dari pemberian ketakutan itu. Awalnya cara ini berhasil meyakinkan pihak kekuasaan paling atas namun cara yang dilakukan Agen H membuat pihak tertinggi bergidik. Tekad kuat Yusuf awalnya mulai luntur setelah melihat istrinya diintimidasi oleh agen H. Saat ia akan berbicara dan mulai menyerah tiba-tiba sang Istri digorok di depan mata Yusuf, Agen Brody dan tim interogasi oleh agen H. Seketika itu pula semua tim interogasi berkali lipat sangat merasa tak senang dengan agen H. Perlu diketahui pula, saat agen H ditunjuk, tim interogasi yang terbentuk sudah tak suka terhadap agen H.

Hal tersebut membuat Yusuf murka. Ia bertambah kuat keyakinannya untuk tak memberi tahu posisi bom tersebut. Ketika yusuf murka, agen H sempat jatuh mentalnya. Ia merasa tak diberi kepercayaan dan kebebasan penuh untuk melakukan tugasnya. Sampai akhirnya, agen Brody membujuknya untuk kembali melakukan tugas, sebab waktu semakin berjalan, dan kesempatan untuk menemukan sisa bom akan tak tercapai.

Agen H kembali percaya diri. Ia minta kepada seluruh tim, khususnya kepada Brody untuk memberikannya kendali penuh. Dan semua setuju. Cara terakhir yang diajukan agen H adalah dengan mengintimidasi kedua anak Yusuf. Anak laki dan perempuannya, yang masih berumur di bawah 10 tahun. Sontak semua tim menjadi bertambah was-was. Bagaimana tak waspada, Istri Yusuf saja digorok di depan mata mereka, kali ini anak-anak Yusuf yang digunakan. Lalu bagaimana akhirnya?

Apakah nasib ribuan warga AS akan terselamatkan dengan mengorbankan Istri dan anak-anak Yusuf. Ataukah sebaliknya? Atau seluruhnya tak terselamatkan? Silahkan kembali lagi ke paragraf pembuka.[]

Catatan:

  • Deskripsi film dan alur cerita dalam catatan ini sengaja tak saya buat utuh dan lengkap sebagaimana menonton film dalam sebuah tulisan. Yah karena saya ingin menulis tulisan, bukan menulis filmnya kembali.
  • Film Unthinkable ini fiksi, sedangkan film Jagal adalah non-fiksi. Pengkategorian ini tak terlampau penting mengingat kejadian dalam film-film ini adalah nyata terjadi. Cara penyampaiannya saja yang diperhalus dengan mengkategorikan jenis film tersebut.
  • Anwar Congo adalah Anggota Pemuda Pancasila, tokoh yang disegani di kalangan petinggi dan masyarakat Sumatra Utara, khususnya kawasan Medan Cinema (bioskop medan yang dulu sempat terkenal dan akhirnya tutup).
  • The Act of Killing bisa diartikan; Cara kerja, tindakan atau seni untuk membunuh, sedangkan Unthinkable; tak dapat/tidak mungkin dipertimbangkan, tak terpikirkan, out of borders.
  • Kalau anda berpikir film ini juga menampilkan sisi profesional-nya atau bahkan amatir-nya (prosesi membunuh) agen H dan Anwar Congo, maka anda meyakini kebenaran itu tak absolut. Dan tindakan ini bernilai relatif, seperti yang diujarkan Adi Z.
  • Nilai-nilai intrinsik seperti Agama, HAM, Hak Individu, serta jenis kelamin hanya ditampilkan saja tak kurang tak lebih, artinya anda bisa pula menganalisis lebih jauh kedua film ini, misalnya dari sudut pandang keyakinan anda (Agama), atau bisa juga dari permasalahan gender. Saya tak bernafsu membahasnya lebih jauh. Rentan Bid’ah!
  • Yang menjadi menarik untuk dijawab, karena saya pun tak cukup kapabilitas untuk menjawab ini: Lalu mana yang paling benar? Mana yang Salah? Mana yang manusiawi, mana yang tidak? Saya sarankan anda memutar lagu-nya Koil: “Rasa Takut adalah seni”.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s