#5BukuDalamHidupku Aku adalah Manusia Kamar

Saat aku masih numpang tinggal di rumah pamanku; Surabaya. Kamar yang kuhuni cukup luas, lengkap dengan perabotan dasar dan tambahan. Dasar: kasur, seprai, cermin, lemari dan sebuah meja untukku menulis dan membaca. Tambahan seperti radio mobil yang kuotak-utik hingga bisa kupakai mendengarkan kaset pita koleksi dan mendengarkan beberapa siaran radio fm Surabaya. Plus sebuah kipas angin yang membantuku melalui hawa panasnya Surabaya. Kamarku kala itu lengkap dengan dua kasur yang bisa kupergunakan semua. Ditambah lagi dua pintu yang membuatku nyaman karena bisa menikmati fajar datang. Ah, aku ingin memiliki lagi kamar seperti itu.

Kamarku sekarang tak ada dua pintu. Hanya satu. Tak ada radio mobil yang bisa kuotak-atik. Tak ada lemari, cermin, kasur apalagi meja. Hanya ada kardus kertas yang kupaksa menjadi meja. Cermin kuganti dengan menggunakan layar laptop, kala mati baru bisa dipakai untuk bercermin. Tak ada lemari, hanya ada kardus yang kujejali pakaian-pakaianku. Apalagi kipas angin. Cukup jendela saja yang kubuka lebar dan kutunggu datangnya angin, pengganti angin buatan kipas. Jujur saya merindukan perabotan-perabotan di kamar lamaku. Dan kasurku cukup satu, tipis tapi menghangatkan.

***

Cerpen Manusia Kamar adalah cerpen yang sampai sekarang terngiang hebat kala aku sedang melamun sendirian dalam kamarku ini. Kamarku ini mungkin tak senyaman kamarku dulu. Namun kesendirian dalam kamarlah ternyata membuatku betah dan senang berlama-lama di dalamnya. Barangkali hanya di kamarlah aku bisa menjadi diri aku sendiri.

Cerpen ini kubaca saat pertama kali aku membeli buku Seno Gumira Ajidarma yang berjudul Matinya Seorang Penari Telanjang. Manusia kamar adalah salah satu cerpen yang ada di dalamnya. Namun sayang, karena kawan-kawan lingkungan tempat tinggalku adalah pencinta Seno, alhasil buku ini hilang entah kemana. Untungnya memori cerpen Manusia Kamar begitu melekat erat di dalam kepalaku. Buku ini aku dapatkan di pasar loak jalan semarang; Surabaya. Bermodal nekad dengan mengubek-ubek buku-buku di rak yang disusun rapi oleh penjaganya. Sudah mengobrak-abrik tentunya tak afdol bila tak kutawar semurah mungkin. Maklumlah, pendapatanku masih bergantung pada belas kasihan Ibu-Bapakku.

Cerpen ini sejatinya dimuat dalam buku yang berjudul Manusia Kamar. Sayangnya aku tak berhasil mendapatkannya. Untung, aku mendapatkan cerpen Manusia Kamar ini dalam di buku Matinya Seorang Penari Telanjang. Diterbitkan kembali dan dimasukkan dalam buku ini. Mungkin karena kegelapan yang tersaji dalam cerpen manusia kamar cocok dengan kumpulan cerpen lain dalam buku Matinya Seorang Penari Telanjang. Oh, iya! Buku ini dituliskan dengan versi baru. Cerpen Matinya Seorang Penari Telanjang diubah dari bentuk aslinya. Pencinta Seno Gumira pasti tahu perbedaannya. Diubah karena cerpen ini diangkat menjadi film layar lebar -bukan sinetron- lalu penulis mengadaptasi dan menuliskannya secara ulang. Setelah Manusia Kamar, Matinya Seorang Penari Telanjang adalah cerpen favoritku yang kedua.

matinya seorang penari telanjang

Matinya Seorang Penari Telanjang oleh Seno Gumira Ajidarma diterbitkan oleh Galang Press, 261 Halaman, Release tahun 2000.

 Kenapa Manusia Kamar begitu melekat?

“Kata orang, dunia memang mengecewakan. Dunia menjadi buruk karena ulah manusia. Dia memang makin lama makin pesimistis.”

Aku tak se-ekstrim-si-Aku dalam buku ini. Aku masih tak bisa hidup tanpa keluar kamar. Tanpa membatasi pergaulan dengan manusia lainnya. Apalagi mematikan jalur komunikasi dengan siapapun dalam rentang waktu tak yang tentu. Aku hanya menjadi manusia kamar, saat sedang tak ingin keluar. Keluar kemanapun. Walau dunia saat ini tak beda jauh dengan apa yang diceritakan dalam cerpen Manusia Kamar ini.

Awalnya aku kira si Aku dalam cerpen Manusia Kamar adalah seorang buron kelas kakap yang tak mau ketangkap, jadinya ia berusaha membatasi aktivitasnya dan pergaulannya. Untungnya dugaan tersebut salah. Barangkali manusia kamar memang benar adanya. Apalagi era Millenium ini dimana kecanggihan teknologi membantu seseorang mendapatkan informasi dengan mudah. Cukup dengan sekali tekan, apapun bisa didapatkan.

Aku termasuk yang seperti itu. Termasuk yang suka sekali mendapatkan informasi dalam sekali duduk dan sekali tekan. Yah! Internet memudahkan akses informasi tersebut. Sayangnya aku tak sehebat aku dalam Manusia Kamar-nya Seno Gumira Ajidarma. Aku masih butuh kawan untuk berdiskusi. Aku masih butuh bercakap-cakap panjang, intim serta berkelanjutan dengan beberapa orang. Aku masih butuh udara segar di luar kamar. Butuh matahari pagi untuk kulitku ini. Butuh senyuman pacar di kala sedih. Ah, Aku tak lebih dari manusia biasa ternyata. Tak sama sedikitpun dengan manusia kamar.

***

Membaca Manusia Kamar menjadikanku lebih menghargai kawan. Menghargai untuk mendengarkan apapun, siapapun, tentu dengan kekuatan yang sangat terbatas. Kekuatan untuk meladeni tentunya. Menghargai waktu; untuk tak berlama-lama melakukan sesuatu yang tak kusenangi walau terkadang malam lebih menyejukkan dari siang ataupun pagi. Menghargai informasi dari apapun, baik itu buku, internet, cerita kawan, kenangan kawan, apapun itu. Informasi apapun itu bisa jadi penting buatku,  sebab informasi diriku lah yang tak penting untuk diketahui oleh siapapun. Yah! Sebab semua orang adalah guru, dan semua lingkungan adalah sekolah.

“Malam memang menyingkapkan kepalsuan. Di balik kekelaman itu topeng-topeng dibuka dan bentuk asli yang serba gombal itu pun bisa kutangkap, kekelaman seperti memberikan perasaan aman dan terlindung. Bisa kudengar bisik-bisik sekongkol politik, kasak-kusuk para penyebar gosip. Bisa kulihat para penipu diri beraksi. Antara strip-tease dan lonceng gereja, antara penggarongan dan azan subuh, antara perzinahan terbuka dan perzinahan tertutup.Agak sulit mencari orang normal. sebagian terlalu fanatik, sebagian lain dekaden”.

Ah, beruntungnya aku sudah tak berkamar dengan perabotan dasar dan tambahan kala tinggal di rumah pamanku. Tak ada  kasur, seprai, cermin, lemari dan sebuah meja, kipas angin dan bahkan dua pintu. Cukuplah satu jendela besar sebagai kipas angin alamiku. Cukuplah beralaskan kardus buku sebagai mejaku menulis. Cukuplah satu kasur tipis dilengkapi selimut tebal membantuku mengusir dinginnya angin jendelaku. Cukuplah satu pintu saja yang selalu terbuka bagi siapapun. Namun dengan kunci yang juga satu. Satu hanya milikku, tak ada duplikatnya. Gemboknya pun satu, tak bisa dibuka oleh siapapun. Sehingga siapapun yang ingin masuk, harus melaluiku dulu. Sebab kadangkala aku juga butuh kesendirian. Kesendirianku sebagai Manusia Kamar. Manusia Kamar dengan versiku sendiri tentunya.[]

Advertisements

One thought on “#5BukuDalamHidupku Aku adalah Manusia Kamar

  1. Pingback: Pengumuman Pemenang Proyek Mudik Blogger #5BukuDalamHidupku | Rumah Merah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s