#5BukuDalamHidupku Epileptik

Novel grafis yang pertama kalinya aku beli. Hampir setahun lebih, aku belum sempat membacanya. Baru setelah pindah kosan! buku ini akhirnya terbaca jua.  Novel grafis ini terdiri dari dua bagian dengan judul sama. Penulisnya David B. Menceritakan secara detail persoalan masa kecilnya, bersama adik perempuannya, Ibu, Bapak serta kakak yang paling ia cintai. Novel grafis ini, menceritakan kisah penderita Epilepsi yang berjuang untuk bertahan hidup. Cerita masa silam seorang David B sebagai Pierre-Francis Beauchard. Latar belakang novel grafis ini dimulai di Orleans, Perancis, tahun 1964. Dua tahun setelah meletusnya perang Aljazair.

Pierre-Francis Beauchard adalah anak kedua dari keluarga Beauchard. Kakaknya bernama Jean-Christophe. Adiknya perempuan sendiri bernama Florence. Suatu ketika si Jean-Christophe saat bermain bersama kedua adiknya di atas motor milik pacar pembantu yang kerja di rumah mereka. Tiba-tiba Jean kejang, kepalanya membentur tembok hingga berdarah, ia pingsan, hampir jatuh dari motor, untungnya si Pierre memegangi tubuh Jean. Itu adalah cerita serangan pertama saat usianya masih 7 tahun. Pada Mei 1968, saat terjadi kerusuhan Mei 68 di Perancis umur Pierre 9 tahun, umur kakaknya Jean-Christophe 11 tahun. Pada usia inilah penyakit epilepsi menyerang semakin gencar menyerang kakaknya. Saat itulah keluarga Beauchard menghabiskan seluruh hidupnya untuk mengobati penyakit Jean-Christophe; Epileptik.

Epileptik, karya David B, Terbitan Gramedia, Release 2008

Epileptik, karya David B, Terbitan Gramedia, Release 2008

Pierre adalah seorang yang suka sekali dengan perang. Ia suka membaca buku tentang perang. Ibunya tiap kali ada waktu luang selalu ditanyai tentang perang. Ia jatuh cinta dengan Michel Strogoff; saat sebelum tidur diceritakan oleh Ibunya. Sejak saat itulah fantasinya akan perang mulai tumbuh. Ia membayangkan kuda, tombak, pedang, apapun senjata yang digunakan dalam perang. Ia berfantasi soal baju tempur para tentara. Ia mengkhayalkan itu semua dengan bermain bersama teman-teman di lingkungan rumahnya; Orleans, Perancis. Fantasi itu lalu ia tuangkan ke dalam gambar. Gambar yang dihasilkan terdiri dari detail-detail rumit.

Jean-Christophe. Bercita-cita menjadi pemimpin yang paling berpengaruh di dunia. Tokoh favoritnya; Adolf Hitler. Kamarnya dipenuhi dengan lambang nazi. Ia ingin dianggap sosok yang paling dihormati di kalangan keluarganya. Sialnya! Ia harus berperang dengan epilepsi seumur hidupnya.

Florence; anak buncit dari keluarga Beauchard. Ia satu-satunya perempuan. Ia selalu bermain dengan kedua kakaknya. Permainan perang-perangan lah yang paling disukainya. Ia selalu menjadi korban kedua kakaknya. Ia menjadi tokoh sentral dalam gambar-gambar yang dibuat oleh Pierre. Tokoh sentral yang selalu disiksa dengan berbagai macam cara. Bapak dan Ibunya selalu menjadi pembela si Florence ketika disiksa kedua kakaknya. Ia adalah Joan of Arc yang dihukum gantung.

Pierre-Francis Beauchard adalah anak yang paling disayang dalam keluarga Beauchard. Kegemarannya menggambar adalah kekuatannya. Ibu dan Bapaknya tak seberapa tahu tentang keahlian Pierre ini. Keduanya sibuk mencari pengobatan terbaik untuk Jean. Bapaknya adalah seorang Kristiani yang taat. Tiap minggu mereka selalu diajak ke gereja. Ketika yang lain sedang khusuk beribadat, si Pierre malah mengamati detail tiap kaca jendela gereja. Dan ia hafal detail-detailnya. Ibunya adalah seorang yang senang sekali membaca buku. Terlebih lagi buku-buku sejarah. Dan ini menular ke Pierre, ia suka dengan sejarah peperangan.

Kakek dan Nenek keluarga Beauchard juga digambarkan dalam Novel Grafis ini. Keduanya dijadikan media pengingat masa lalu. Kakeknya pernah terlibat dalam perang Dunia I dan II. Pierre memanfaatkan cerita kakeknya untuk memperkaya pengetahuannya tentang perang. Novel ini menggambarkan riwayat rumit sanak-keluarga Beauchard. Naik turunnya hubungan kakak-adik; Jean-Christophe dan Pierre Francis. Juga menggambarkan perjuangan mereka dalam menghadapi epilepsi. Novel grafis ini digambarkan dalam bentuk hitam putih, layaknya sebuah komik, namun ukurannya besar. Warna hitam-putih ternyata membantu menambah unsur kekelaman dalam cerita di buku ini.

 *** 

            Buku ini aku pilih sebagai bagian dari #5BukuDalamHidupku karena buku ini mengingatkanku pada saudara di Surabaya. Aku menyebutnya dengan panggilan Mas, harusnya om atau pakde. Ah! silsilah keluarga membuatku bingung untuk memanggilnya seperti apa. Saudaraku itu sudah menikah. Istrinya menderita epilepsi. Suatu ketika aku pernah melihat serangan epilepsi itu datang. Hampir sama dengan apa yang kulihat dalam buku ini.

Ketika serangan datang, ia kejang-kejang, teriak-teriak keras. Saat itulah kami yang ada didekatnya harus memeganginya kuat-kuat Memindahkannya ke temapt yang lebih nyaman. Setelah dipegangi, bagian-bagian tertentu dari tubuhnya harus dipijat, untuk memulihkan kesaradannya. Minyak beraroma kuat juga kadang harus dioleskan ke leher dan juga hidung. Serangan itu juga membuatnya mengeluarkan liur yang banyak, terkadang bila serangan itu kuat dan lama teriakannya semakin keras, kejangnya juga bertambah kuat. Butuh 5 menit untuk menunggu serangan itu reda dengan sendirinya. Dan saat ia sadar, ia menjadi lupa tentang apa yang telah terjadi 10 menit lalu.

Serangan itu kadang tiba-tiba datang secara bertubi-tubi. Pernah datangnya 2-3 kali dalam sehari. Pernah datangnya hanya sekali saja. Saudaraku menghadapi hali ini dengan tak membiarkan Istrinya untuk terlampau lelah. Setres juga bisa berpengaruh. Kadang ketika tak melakukan aktivitas apapun juga tak bisa mencegah terjadinya serangan itu datang. Istri saudaraku tak seperti Jean-Christophe. Penyakitnya tak terlampau serius seperti Jean-Christophe dalam buku ini. Setahuku, proses penanggulangan dan sistem imun yang dibangun saudaraku cukup kuat untuk menghadapi datangnya serangan. Yah! walau sistem imun itu tak didapatkan lewat multivitamin serta makan makanan 4 sehat 5 sempurna (karena sangat mahal biaya itu semua). Serangan yang datang ditanggulangi dengan memijat syaraf-syaraf di bagian tubuhnya. Pengobatan seperti memijat dan meminum ramuan tradisional (jamu) dilakukan rutin. Perlahan demi perlahan serangan itu tak datang dengan durasi waktu yang cukup lama.

Penderita penyakit ini biasanya mudah sekali lupa. Lupa akan kejadian, wajah seseorang, alamat, nomor telepon. Lupa! Namun tak terlampau serius layaknya amnesia. Hanya sekedar pelupa. Oh, iya tubuh mbakku itu juga tak gemuk. Cenderung ceking malah, ketika serangan itu datangnya rutin. Untungnya kedua pasangan itu sama-sama menggemari olahraga. Mas ku itu kerja sebagai seorang pelatih bulutangkis di salah satu klub bulutangkis ternama di Surabaya. Sedangkan istrinya juga kadangkala berlatih disana. Pola hidup seperti ini: rajin olahraga, banyak minum air putih. Resepnya kadang juga aku tak terlampau paham detailnya, kadangkala makan pun tak terlampau bernutrisi. Namun efek yang dihasilkan ternyata cukup berhasil. Kini tubuhnya tak lagi ceking. Cukup proporsional.

Anak mereka dua; sulungnya lelaki yang berada di bawahku terpaut 5 tahun. Sedang yang nomor kedua adalah seorang perempuan. Si lelaki ini yang paling dekat denganku. Masa SD-ku selama 1 tahun pernah kuhabiskan bersama dengannya saat aku masih numpang tinggal di rumah pamanku;Surabaya. Masa SMA ku selama 3 tahun pun kuhabiskan dengannya, gara-gara hal itu ia pun bersekolah SMA yang sama denganku. Kini ia sedang menenun hasilnya. Ia bekerja dan telah lulus dari D3 Akademi Farmasi di Surabaya. Adiknya, rutin dilatih bermain bulutangkis. Gara-gara hal itu postur tubuhnya menjadi sangat tinggi, padahal usianya masih sangat muda. Masih kelas 2 atau 3 SMA (Lupa!). Kakaknya berbeda sama sekali. Perutnya buncit, doyan makan. Tubuhnya gemuk. Pasca lulus dan bekerjalah tubuhnya menjadi sedikit lebih kecil tapi tetap gemuk.

Kedua anak saudaraku itu tak mewarisi sedikitpun penyakit Ibunya. Keduanya dekat denganku. Sama-sama tinggi. Tinggi tubuhku pun terlampau beda tipis dengan mereka. Mereka sangat doyan makan, dan aku pun kadang mengikuti kebiasaan mereka; banyak makan. Sayangnya aku tak bisa gemuk. Keduanya sangat jago bermain bulutangkis. Aku pernah mengalahkan si sulung, saat tubuhnya masih gemuk. Ah! tiba-tiba saja aku ingin bermain bulutangkis kembali.

Novel Grafis karya David B inilah membawaku kembali ke memori lama saat masih di Surabaya. Penggambaran detail kecil nan rinci membuatku pulang kembali memikirkan hal-hal konyol yang pernah terjadi bersama kedua saudaraku itu. Kebersamaan dengan mereka. Pengalaman bersama mereka. Alasan-alasan itulah yang membuatku memasukkan Novel Grafis ini sebagai bagian dari 5 Buku dalam hidupku.[]

Advertisements

2 thoughts on “#5BukuDalamHidupku Epileptik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s