#5BukuDalamHidupku Matahari di atas Gilli

Sedari kecil lingkungan tempat tumbuhku menyediakan seluruh kebutuhan hidup lengkap. Orang tuaku termasuk kalangan yang mengerti bahwa pendidikan termasuk kebutuhan yang paling primer. Sebagai anak sulung aku difasilitasi dan didukung untuk mendapatkan pendidikan yang terbaik. Dan aku membayar itu dengan tak pernah tinggal kelas. Mulai dari SD, SMP hingga SMA. Aku bahkan termasuk anak yang paling pintar. Tak pernah berada di bawah 10 besar. Selalu ranking. Itu dulu, saat semuanya masih murah. Bensin masih murah, masak-memasak masih pakai minyak tanah. Bus kota masih ramai dipakai masyarakat, sepeda motor masih minim jumlahnya.

Lulus SMA, aku langsung bekerja. Ijazah SMK memudahkanku mendapatkan kerja. Semua itu berlangsung sangat cepat. Cita-cita membahagiakan orangtua semakin mudah. Cita-cita untuk tak lagi meminta uang, tapi berganti menjadi memberi uang. Tapi hidup ternyata tak melulu soal diri sendiri dan keluarga apalagi soal uang. Masih ada lingkungan sekitar yang musti diperhatikan. Aku sadar akan hal tersebut saat menemukan buku; “Matahari di atas Gilli”. Buku karya Lintang Sugianto yang release tahun 2004. Membaca buku ini membuat apa yang telah kulakukan selama ini belumlah cukup. Belumlah cukup berefek pada lingkungan sekitar. Apa yang kulakukan bahkan tak ada artinya sama sekali. Saat itu tiba-tiba aku tak berani menatap cermin. Seperti disiram bergalon-galon air. Air yang membuatku basah kuyup, dingin mengiggil hingga memucatkan warna kulit. (Lebay yah!)

Matahari di atas Gilli, Release 2004 karya Lintang S

Matahari di atas Gilli, Release 2004 karya Lintang S

Buku ini menceritakan perjuangan wanita bernama Suhada. Kisah seorang gadis bernama Suhada yang terlahir dari latar belakang anak yang tidak tahu asal-usul orang tuanya,. Dia adalah gadis yang dididik oleh seorang perempuan yang bekerja sebagai pembantu rumah sakit. Suhada dididik dengan penuh kasih sayang dan semangat untuk menjadi wanita yang mandiri dan cerdas. Hingga pada akhirnya ia menjadi lulusan terbaik di SMA tempat ia mengenyam pendidikan

Seusai lulus SMA Suhada menikah dengan Suamar seorang pemuda dari Pulau Gilli. Suhada kemudian mengikuti suaminya ke Gilli dan tinggal di sana. Di Gilli, Suhada melihat anak-anak yang masih tertinggal dengan pendidikan. Anak-anak itu belum mengenal pendidikan, khususnya membaca, dan menulis. Melihat kondisi anak-anak tersebut, Suhada berusaha memberikan pendidikan kepada anak-anak di pulau itu dengan penuh kesungguhan. Suhada mendidik anak-anak tersebut dengan mengalami berbagai macam tantangan serta rintangan. Namun setelah berusaha akhirnya Suhada berjaya meyakinkan penduduk Pulau Gilli berkenaan kepentingan ilmu.

Suamar adalah seorang lelaki yang tak punya keahlian khusus. Sebagai seorang lelaki, ia merasa harus bertanggung jawab terhadap keluarganya. Khususnya kepada istrinya; Suhada. Gilli adalah sebuah pulau yang dikelilingi oleh laut. Penduduk Gilli kebanyakan berprofesi sebagai nelayan, tukang pembuat kapal. Segala pekerjaan yang berhubungan dengan laut. Kebutuhan hidup mereka bergantung pada laut.

Kehadiran Suhada di pulau Gilli tersebut sangat bermanfaat. Ia mampu mengubah dan memberikan pemahaman kepada penduduk pulau tersebut tentang kebermanfaatan ilmu. Selain itu, ia selalu memberikan contoh yang terbaik dalam segala hal, terutama kesetiaan terhadap suaminya dan kesungguhan dalam mendidik anak-anak di pulau tersebut.

Suhada adalah lilin penerang. Ia mengubah gelapnya Gilli secara perlahan-lahan. Buku ini menyajikan konflik; pentingnya ilmu pengetahuan ataukah bekerja demi mencukupi kebutuhan hidup. Tentang adat-istiadat pun demikian. Cara berfikir masyarakat yang masih kolot. Diubah perlahan-lahan pula oleh seorang Suhada. Seorang wanita! Matahari di atas Gilli, matahari bisa diartikan Suhada. Namun sebenarnya ini bisa juga penggambaran betapa dekatnya Matahari dengan pulau Gilli. Pulau yang sangat panas. Oh iya pulau ini nyata adanya. Terletak di Probolinggo, Jawa Timur.

Membaca buku ini membuatku terkaget-kaget. Masak masih saja ada orang yang buta huruf. Orang yang melakukan aktivitas; kencing, mandi serta berak langsung di laut. Sanitasi lingkungan yang buruk. Pulau yang tak ada toiletnya, akses air bersih susah, tanah yang kering plus jarang sekali turun hujan. Ah! Tak dapat sekalipun aku membayangkan bisa hidup lama di pulau itu. Suhada memberikan pendidikan sederhana kepada masyarakat Gilli, terutama kepada anak-anak kecil. Pelajaran bahasa. Membaca dan menulis menggunakan Bahasa Indonesia. Yah! Bahasa. Betapa satu bidang saja dalam pendidikan dapat mengubah segalanya. Suhada memulainya dengan perlahan-lahan. Mengubah tirani adat-istiadat kolot dan ketertutupan pola pikir masyarakat. Ia mendekati mereka perlahan-lahan. Diketuknya pintu demi pintu. Diajaknya perangkat desa, orang-orang tua, pembesar desa, segala yang mempunyai kekuasaan, untuk sama-sama membantu mengubah Gilli. Suhada layaknya seorang ‘pendidik Indonesia Mengajar’ di jaman sekarang. Seperti seorang ‘Penyala’ yang merubah kegelapan dengan sebuah lilin.

Di buku ini, pendidikan menjadi barang langka. Penting untuk didapatkan. Didapatkan untuk dimanfaatkan demi keberlangsungan hidup dan menaklukkan dunia. Pendidikan bukan untuk dinikmati pribadi. Tetapi untuk dibagi, diaplikasikan dalam hidup ini. Semua orang berhak untuk mendapatkan pendidikan. Suhada menjadi contoh bahwa tak ada yang tak mungkin dilakukan untuk merubah nasib. Ia menjadi matahari bagi masyarakat Gilli. Matahari yang memberikan sinar hangatnya bukan panas menyengat. Membaca buku ini membuatku iri. Bisakah aku menjadi seperti Suhada? Kalaupun di setiap pulau di negeri ini ada seorang seperti Suhada barangkali sudah tak ada lagi masyarakat yang masih buta huruf. Mungkinkah?.[]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s