Puskesmas: Sehat Itu (Tak) Mahal!

Apa yang anda lakukan, jika anda menderita sakit gigi yang tak tertahankan? Apakah anda akan pergi ke poli gigi di puskesmas, merujuk ke Rumah Sakit Pemerintah, atau anda akan langsung berlari ke dokter gigi spesialis?

Jika anda warga kelas atas, tentu pilihan rasional berobat adalah pergi ke Dokter Spesialis Gigi. Jika anda adalah warga biasa-biasa saja atau cenderung termasuk golongan miskin, saya pasti akan menyarankan anda untuk minum air garam untuk sedikit mengurangi rasa sakit di gigi, setelah itu barulah kumpulkan uang anda secukupnya untuk pergi berobat ke Puskesmas. Jika anda miskin bersikeras untuk berobat dengan uang seadanya, larilah langsung ke Apotek. Tanya kepada penjaga apotek obat untuk sakit gigi. Mintalah yang paling murah dan manjur. Anda akan diberikan banyak pilihan obat. Khasiat ampuh atau tidaknya obat tersebut, tergantung sugesti. Sebab sugesti adalah pengobatan awal bagi seseorang yang sedang sakit. Kadang sugesti saja masih belum cukup meredakan nyeri gigi anda, maka nikmatilah.

Sakit itu “mahal” harganya! Seseorang yang hanya menderita sakit gigi, minimal harus merogoh kocek sebesar 50 ribu rupiah. Pilihan berobat paling murah yah ke Puskesmas. Anda mendapat pelayanan kesehatan berupa pemeriksaan langsung oleh dokter jaga, lalu anda diberi resep untuk kemudian ditebus di Instalasi Obat Puskesmas. Biaya resep dan obat yang anda dapat di Puskesmas sudah sangat murah. Sangat murah karena obat yang diberikan adalah obat generik. Kadang saking murahnya anda digratiskan untuk pelayanan tersebut.

Jangan sekali-kali mencoba lari ke Rumah Sakit Pemerintah tanpa rujukan dari Puskesmas terdekat di daerah anda, sebab biaya yang harus anda keluarkan akan sangat mahal. Mahal karena anda akan membayar dobel. Satu untuk biaya pemeriksaan oleh dokter, dan kedua biaya obat dari resep yang didapat. Apabila ternyata hasil pemeriksaan sakit gigi oleh dokter harus terlebih dahulu menjalani proses pemeriksaan tingkat lanjut, anda akan dikenakan biaya tambahan lagi. Belum lagi jika anda diharuskan untuk check up setelah pengobatan pertama berlangsung, dan ini biaya lagi tentunya. Beruntung bagi anda yang termasuk golongan kaya, sebab tak perlu pusing-pusing memikirkan besarnya biaya yang dikeluarkan. Cukup dengan sekali pencet nomor telepon, dokter akan langsung datang dan mengobati anda.

Akses mendapatkan pelayanan kesehatan di masyarakat saat ini cukup terbilang rumit. Rumit bagi yang tak memiliki Askes, Jamkesmas, atau Kartu Kesehatan yang diperoleh dari tempat kerja anda. Rumit sebab diharuskan mengisi blangko-blangko perijinan dan pengesahan yang menandakan bahwa anda ‘layak’ untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Rumit jika tak memiliki kartu identitas warga negara, ditambah lagi apabila sedang merantau jauh dari rumah. Kerumitan itu tampaknya tak akan berlangsung lama, sebab Januari 2014 mendatang, seluruh warga Indonesia akan diberikan kartu pelayanan kesehatan. UU Jamkesmas! Oh iya, rumit di sini hanya untuk kalangan miskin saja.

Pelayanan kesehatan di Puskesmas beberapa daerah di Indonesia sudah sangat murah. Murah karena pemeriksaan kesehatan oleh dokter dan obat yang diberikan gratis. Membayar hanya untuk uang pendaftaran saja. Tak lebih dari 10 ribu rupiah. Catatannya, obat yang anda dapatkan apabila tak ada di puskesmas maka anda diharuskan membelinya di luar. Dokter jaga Puskesmas pun kadangkala hanya tiba seminggu dua atau tiga kali saja, sisanya hanya mantri atau tenaga teknis kefarmasian yang menjaga Puskesmas tersebut. Warga asal Pesanggaran, Banyuwangi, Cinta Raga Suci Prestiyono, pernah dirawat inap karena Tipes. Cinta dirawat di UPTD Puskesmas Pesanggaran Banyuwangi selama seminggu. Sarjana Sastra Indonesia ini hanya mengeluarkan biaya total sebesar satu juta seratus ribu rupiah. Biaya tersebut adalah biaya kamar VIP (kamar mandi dalam, single bed, kipas angin serta televisi), makan dua kali sehari, obat-obatan selama rawat inap dan biaya dokter. Coba anda bandingkan dengan biaya yang harus anda keluarkan jika anda dirawat di Rumah Sakit? Cinta adalah warga umum. Orang tuanya bukan Pegawai Negeri Sipil. Kartu Kesehatan yang ia punyai hanyalah Jamkesmas. Itu pun tak berlaku ketika digunakan untuk berobat. Untungnya Puskesmas Pesanggaran Banyuwangi tersebut melayani seluruh warga secara gratis, walaupun tak punya Askes dan Jamkesmas. Warga hanya diminta menunjukkan KTP dan mendaftar biaya sebesar lima ribu rupiah. Kartu pendaftaran tersebut bisa digunakan seumur hidup. Tak ada lagi biaya yang dikeluarkan jika berobat berulang-ulang. Hanya cukup menunjukkan kartu tersebut jika berobat.

Pusat-pusat pelayanan kesehatan seperti UPTD Puskesmas Pesanggaran di atas perlu untuk diadakan di tiap-tiap daerah di Indonesia. Pelayanan yang memakan birokrasi berbelit-belit sudah tak jamannya lagi. Masyarakat yang hendak berobat cukup mendaftar dan diberi kartu Puskesmas, kartu itu dapat dipakai untuk seterusnya. Masyarakat yang tak memiliki kartu Askes dan Jamkesmas dapat tertolong dengan sistim seperti ini. Begitupun masyarakat yang tak memiliki Kartu Tanda Penduduk maka ia juga patut mendapatkan pelayanan kesehatan yang sama.

Tentang pelayanan dokter jaga juga perlu untuk dibenahi. Pasien tak perlu lagi menunggu dokter untuk datang bertugas. Dokterlah yang harus selalu standby di Puskesmas. Otomatis, dokter jaga diperbanyak jam kerjanya. Tak cukup bila hanya bertugas seminggu dua atau tiga kali jaga. Obat-obatan yang tersedia juga perlu ditambah jenisnya, diperbanyak! Jenis obat suntik, obat minum, obat oles dan penanganan medis perlu untuk disiapkan. Obat-obatan generik diperbanyak, jenisnya juga ditambah, sehingga pasien puskesmas tak harus membeli obat di luar. Tenaga teknis Kefarmasian yang bekerja di Puskesmas di tiap daerah juga perlu ditingkatkan kompetensi kemampuannya. Juga perlu untuk diperhatikan gaji perbulannya. Obat menjadi penting, karena dengan pasien mendapatkan obat, pasien sudah mendapat sugesti awal kesembuhannya.

Poli-poli spesialis dalam Puskesmas perlu untuk ditambah. Ditambah tentu saja berimbas kepada semua hal. Hal seperti dokter spesialis, fasilitas medis, serta obat-obatan perlu untuk dipekerjakan di Puskesmas. Selama ini poli khusus yang ada di Puskesmas hanya sedikit jumlahnya. Seperti Poli anak, Poli Gigi, Poli Kandungan (Bersalin) dan Poli Umum. Itupun dengan jumlah dokter spesialis yang sedikit jumlahnya. Kadangkala di satu Puskesmas hanya dua atau tiga dokter saja yang menangani seluruh pasien. Pasien dengan segala jenis penyakit dan keluhan. Fasilitas pelayanan kesehatan dalam Puskesmas juga penting untuk dilengkapi. Jam buka pelayanan kesehatan pun perlu untuk ditambah, sehingga jika ada keadaan darurat pasien bisa langsung tertangani.

Jika hal-hal ini diperhatikan oleh Pemerintah, khususnya Dinas Kesehatan dan Menteri Kesehatan Republik Indonesia, niscaya tak ada lagi warga yang mati. Mati karena tak bisa mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai. Mati karena terlambatnya penanganan medis. Mati karena harus berurusan dengan perijinan yang berbelit-belit. Mati tak terurus! Tentu saja perhatian tersebut dilakukan memperbesar jumlah anggaran untuk pos-pos kesehatan: Puskesmas dan Rumah Sakit Pemerintah. Atau membuat sistem kesehatan seperti yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta dengan progam kartu Jakarta Sehatnya.

Puskesmas merupakan benteng pelayanan pertama yang penting untuk diperhatikan oleh Pemerintah. Surat rujukan yang dikeluarkan oleh Puskesmas apabila ada keadaan yang tak bisa tertangani bisa untuk dipakai di berbagai Rumah Sakit. Tentu tak seluruh Rumah Sakit mau menangani surat rujukan tersebut. Apalagi Rumah Sakit Swasta. Kebijakan-kebijakan satu pintu, harus dilakukan secara tegas oleh Pemerintah. Sosok Joko Widodo; Gubernur DKI Jakarta menunjukkan bahwa hal itu mudah dilakukan. Kartu Jakarta Sehatnya membuat masyarakat daerah-daerah lain cemburu. Cemburu akan mudahnya warga Jakarta; warga yang termasuk golongan kelas bawah mendapat pelayanan kesehatan murah. Ketegasan dan keberpihakan seorang pemimpin pada warganya, jarang terjadi di Indonesia. Sosok Jokowi lah yang dibutuhkan masyarakat di tiap-tiap daerah di Indonesia.

Warga-warga miskin, kelas menengah ke bawah. Warga yang tak memiliki pekerjaan tetap, tak memiliki Askes dan juga Jamkesmas harus diprioritaskan mendapatkan kemudahan akses pelayanan kesehatan. Pelayanan kesehatan yang profesional. Tak dibedakan dengan warga golongan kelas lainnya. Pelayanan kesehatan yang diberikan secara murah tapi tak murahan. Jika ini terwujud maka tak akan ada lagi istilah “Orang Miskin Dilarang Sakit”,  sebab “Sehat itu Mahal!”[]

Tulisan ini diikutkan dalam lomba http://blogfpkr.wordpress.com/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s