Panggil Aku Rahmat

Sahur..sahur, Imsak kurang lima menit. Teriakan pengingat yang kau ulangi hingga saat imsak pun tiba. Sembari itu kau pun melantunkan ayat Al-Quran dengan suara merdumu nan menyejukkan hingga tiba saat imsak. Ramadhan selalu menjadi bulan tersibukmu dan juga bulan kesukaanmu.

Panggil aku Rahmat, aku pengurus sekaligus penghuni masjid ini. Tiga tahun sudah aku disini, mengurusi masjid dan menjadi muadzin, begitu yang sering kau katakan pada tiap orang yang menanyaimu. Warga kampung memanggilmu Bilal karena lafal adzan yang sering kau lantunkan sebagai penanda sholat tiba sungguh merdu didengar.

Kiai Achmad, kiai tersohor yang dihormati warga kampung, memungutku dari jalanan, beliau yang pertama melihat bakat suaraku yang terlalu merdu untuk menjadi seorang pengamen, aku pun mengabdikan diri untuknya dengan menjadi santri sekaligus pengurus masjid. Aku selalu menolak uang yang sering diberikan padaku oleh siapapun termasuk Kiai Achmad, aku hanya mau menerima nasi bungkus dan segelas teh hangat karena itu sudah cukup bagiku.

Kini toa  masjid itu tak lagi bergema, semua hancur rata dengan tanah dirusak warga kampung menolak aliran sesat Kiai Achmad. Tak ada lagi suara merdumu yang biasa kudengar, kau pun mati dibunuh warga.[]

Catatan:
Muadzin =sang pengumandang adzan
Bilal =sahabat nabi yang mengumandang adzan
Toa =speaker masjid

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s