Permainan Resep

Apakah anda dapat membaca resep dokter ?

Sebagian orang ‘mungkin’ bisa membaca tulisan dalam resep dokter, namun apakah anda paham akan arti atau makna dari tulisan resep tersebut. Tulisan dokter seringkali identik dengan tulisan yang sulit terbaca orang awam atau biasa disebut tulisan model cakar ayam. Hal ini dilakukan agar tak sembarang orang yang bisa membaca dan paham akan isi dari resep tersebut. Orang yang paham dan mengerti akan isi resep dokter tersebut adalah Tenaga Kefarmasian.

Tenaga kefarmasian adalah Apoteker dan Tenaga Teknis Kefarmasian. Apoteker adalah Sarjana Farmasi yang telah lulus sebagai apoteker dan telah mengucap sumpah jabatan. Tenaga Teknis Kefarmasian adalah tenaga kefarmasian yang membantu Apoteker dalam melaksanakan pekerjaan kefarmasian. Biasanya adalah Sarjana Farmasi, Ahli Madya Farmasi, Analis Farmasi dan Tenaga Menengah Farmasi/Asisten Apoteker. Istilah-istilah ini terangkum secara lengkap dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 889/MENKES/PER/V/2011.

Pekerjaan kefarmasian adalah pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusian atau penyaluran obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat, bahan obat dan obat tradisional. Dokter tidak bekerja sendirian dalam pelayanan kesehatan untuk masyarakat. Dokter erat kaitannya dengan Tenaga Kefarmasian. Ruang kerja tenaga kefarmasian sering disebut sebagai Instalasi Farmasi. Bernama instalasi farmasi jika berada di Rumah Sakit atau Klinik Kesehatan. Jika berada di luar kita mengenalnya sebagai Apotek. Yah! Tempat membeli obat dan menebus resep dokter. Apoteker adalah penanggung jawab utama dalam apotek. Artinya segala urusan pekerjaan kefarmasian dalam apotek menjadi tanggung jawab apoteker.

Apoteker dibantu oleh asisten apoteker dalam melaksanakan tugas kefarmasian di apotek. Asisten Apoteker adalah lulusan Sekolah Menengah Farmasi. Sekolah menengah farmasi adalah sekolah menengah kejuruan yang dikhususkan mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan farmasi. Lulusan sekolah menengah farmasi apabila melanjutkan pendidikannya di Akademi Farmasi (D3), maka ia menjadi Ahli Madya Farmasi. Apabila sekolah tersebut dilanjutkan ke strata S1, ia menjadi seorang Sarjana Farmasi. Dan apabila ia melanjutkan lagi sampai ke tingkatan profesi, ia akan menjadi Apoteker. Butuh sekitar 8 tahun apabila anda ingin menjadi Apoteker melalui jalur yang saya sebutkan berurutan ini.

Permainan Kuasa Obat

Tenaga kefarmasian memang dikhususkan untuk membantu Tenaga Ahli; dalam hal ini ‘dokter’ dalam melakukan tugas pelayanan kesehatan di masyarakat. Dokter memberikan resep untuk kemudian resep tersebut dijadikan sebuah obat untuk anda melalui apotek. Otomatis hal-hal yang berada di dalam resep hanya diketahui oleh dokter dan tenaga kefarmasian. Hal-hal tersebut rentan terjadi penyalahgunaan dan anda tak mengetahuinya sedikitpun. Ini adalah permainan yang seringkali berada di balik sebuah resep. Oh iya, tulisan dalam resep menggunakan bahasa latin, dan singkatan-singkatan penting yang sering digunakan dalam dunia medis. Tulisan tersebut hanya tenaga kefarmasian saja yang tahu.

Misalkan anda adalah seorang yang rutin melakukan check up kesehatan di tiap bulan. Pernahkah anda mencoba bertanya tentang obat yang anda dapatkan tersebut? pernahkah mencoba untuk mengamati obat yang anda dapatkan di tiap bulan tersebut. Mulai dari namanya, bentuknya, warna kemasannya, hingga jumlah obat yang anda dapatkan. Apakah sama di tiap bulannya, atau malah tidak. Anda harus curiga! Ini adalah indikasi awal adanya permainan di balik resep.

Obat adalah racun! Apabila takaran yang diberikan tidak sesuai, ditambah lagi bila obat yang diberikan tersebut tertukar, resikonya nyawa anda melayang. Otomatis tanggung jawab itu sepenuhnya menjadi milik tenaga kefarmasian yang sedang bekerja. Dokter hanya bertanggungjawab bila resep yang anda tebus berada di instalasi farmasi di bawah kekuasaannya. Bila anda menebus resep tersebut diluar apotek yang tak ada hubungannya dengan dokter tersebut, maka yang bertanggung jawab adalah tenaga kefarmasian di apotek itu. Permainan ini tak hanya dilakukan oleh dokter saja. Pihak apotek, dalam hal ini apoteker dan tenaga teknis kefarmasian juga melakukannya. Okeh! Mungkin tak seluruh dokter dan tenaga kefarmasian di Indonesia melakukan hal in, namun praktik semacam ini bukan hal baru lagi di dunia Kefarmasian.

Praktik-praktik semacam itu adalah permainan kuasa obat. Obat yang anda dapatkan mungkin cocok untuk penyakit yang ada derita. Namun, ada bermacam-macam jenis obat. Jenis obat yang isinya sama hanya berbeda harga, kemasan dan juga pabrik pembuatnya. Pabrik yang paling banyak memberikan bantuan kepada dokter dan apotek tentunya akan dibantu penjualan produknya. Hal inilah yang dimainkan oleh dokter dan apotek. Hal ini juga bukan mainan lama. Sejak dahulu hal ini sudah dilakukan mereka. Tengok saja berapa sih gaji dari pekerjaan seorang dokter dan Tenaga Kefarmasian di Indonesia? apakah cukup? lihat bonus yang didapatkan bila hal ini dilakukan. Bonus-bonus seperti pemberian parcel, hadiah; pena, spidol, kalender, baju bahkan yang lebih ekstrem peralatan-peralatan elektronik hingga kendaraan bisa menjadi milik mereka apabila permainan ini dimainkan. Lihat saja spanduk, banner, kalender yang terpampang di apotek, apabila ia bermerk salah satu obat, tentu hal itu tak diberi secara gratis. Ada perjanjian yang dilakukan antara keduanya.

Coba tengok ketika anda sedang berobat di Rumah Sakit atau sedang berkunjung ke apotek pada jam-jam kerja. Apakah anda pernah menemui seorang dengan pakaian necis, membawa tas dan beberapa brosur/catatan di tangannya? jika iya, mereka dikenal sebagai sales obat. Nama keren mereka adalah Medical Representative, juga sering disebut Detailer. Kerjaan mereka adalah menawarkan produk-produk baru; produk obat dan sediaan farmasi kepada dokter dan juga apotek. Mereka diberi keleluasaan untuk berada di lingkungan kerja dokter dan tenaga kefarmasian saat menjalankan tugasnya. Sebab mereka adalah bakal pundi-pundi uang untuk dokter dan pihak apotek. Keleluasaan itulah yang membuat stock obat dan perputaran distribusi obat salah satu pabrik bisa sangat massif. Massif melalui resep yang dituliskan dokter dan permainan dari apotek. Permainan oleh apotek dilakukan dengan merubah resep yang dituliskan oleh dokter. Biasanya obat-obat dalam resep racikan. Hal ini bisa dilakukan karena apotek mempunyai kekuasaan penuh atas resep seorang pasien.

Begini, sebuah resep apabila obat di dalamnya tak dimiliki apotek, maka obat tersebut bisa diganti dengan obat lain yang mempunyai isi yang sama. Biasanya hal ini dilakukan dengan meminta ijin dokter pembuat resep terlebih dahulu dan memberi tahu pasien. Hal terakhir biasanya jarang dilakukan. Dalam kode etik kerja Tenaga Kefarmasian hal-hal tersebut diperbolehkan, asal memenuhi persyaratan yang berlaku. Persyaratan yang berlaku tersebut tertulis dalam Peraturan Menteri Kesehatan tentang Standar Pelayanan Kefarmasian. Tenaga kefarmasian, dalam hal ini Apoteker dilarang mengganti resep Obat Generik dengan obat paten.

Tahun 2004-an marak muncul pengenalan obat Generik ke masyarakat. Obat generik adalah obat dengan nama asli sesuai kandungan isinya. Contoh, obat dengan nama paten Pamol adalah Parasetamol sebagai obat generiknya. Maraknya pengenalan obat generik kala itu terjadi salah satunya karena maraknya terjadi praktik kecurangan yang saya sebutkan di atas. Obat generik adalah obat murah. Murah karena namanya sesuai dengan isinya. Akan menjadi mahal bila nama generik tersebut dibeli oleh perusahaan farmasi dan otomatis namanya diganti dengan nama baru (di-brand-ed). Obat paten adalah obat hasil ciptaan perusahaan farmasi, sehingga lisensi obat tersebut menjadi hak penuh perusahaan farmasi pembuatnya. Contohnya, Amoxycyllin (generik), obat patennya adalah Amoxan, Kalmoxillin, Kilmoxil, Intermoxil dan banyak lainnya.

Dokter sebenarnya dibekali dengan perkembangan obat dan sediaan farmasi yang terbaru. Mereka biasanya memiliki buku-buku obat terbaru. Buku itu juga dimiliki oleh tenaga kefarmasian dan apotek. Buku itu berisi kandungan obat dan nama-nama patennya, nama branded serta nama generik. Buku yang memuat nama-nama obat, beserta sinonimnya serta lengkap dengan harga-harganya. Buku tersebut salah satunya adalah ISO; Informasi Spesialite Obat. Dokter mampu menuliskan obat yang tepat untuk pasien. Sayangnya hal ini biasanya dilakukan dengan melihat keadaan si pasiennya. Jika pasien adalah orang kalangan menengah ke atas maka obat yang dituliskan biasanya obat dengan harga yang mahal. Mahal dengan catatan, obat yang dituliskan dalam resep tersebut adalah produk dari pabrik pembuat yang telah bekerjasama sebelumnya.

Cara Menjadi Pemenang

Praktik kecurangan seperti itu sebenarnya tak boleh dilakukan. Konsumen dalam hal ini pasien yang nantinya akan dirugikan. Namun persaingan tak sehat antar perusahaan besar obat membuat hal itu umum dilakukan. YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia) sebenarnya sudah membuat aturan tegas tentang praktik semacam ini. Tahun 1999 Presiden BJ Habibie kala itu mengesahkan UU No.5 tahun 1999 tentang larangan praktik Monopoli dan Persaingan Tidak Sehat yang isinya untuk Perlindungan Konsumen. Sayangnya hal tersebut hanya sebatas UU tertulis dalam kertas saja, aplikasi di lapangan masih banyak terdapat kecurangan.

Praktik-praktik semacam ini dapat ditanggulangi, jika anda sebagai konsumen bersikap lebih skeptis. Skeptis untuk mencari tahu tentang resep yang anda dapatkan dari dokter. Bertanya tentang apa namanya, gunanya, harganya dan perbandingannya dengan obat generik. Anda mempunyai hak untuk bertanya demikian. Jenis-jenis obat yang begitu banyak di pasaran saat ini memudahkan anda untuk memilih. Anda harus lebih cerdas dalam menerima resep dan menebusnya. Cerdas disini artinya konsumen atau pasien harus lebih cerewet dalam bertanya. Baik itu saat sedang melakukan pemeriksaan kesehatan oleh dokter dan sedang menebus resep ketika berada di apotek. Manfaatkan waktu dengan bebas, tak perlu terburu-buru ketika sedang melakukan pemeriksaan kesehatan. Malu bertanya saat dengan dokter dan tenaga kefarmasian niscaya nyawa jadi taruhannya. Tidak ada lagi istilah obat murah itu tak berkhasiat. Sebab segala obat itu berkhasiat jika digunakan secara benar dan sesuai takarannya. Jika pasien berani untuk melakukan hal ini, maka anda yang keluar sebagai pemenangnya.[]

Catatan:
–          Saya adalah Tenaga Kefarmasian: Asisten Apoteker. Praktik kecurangan seperti itu pernah saya lakukan dulu saat sedang kerja.
–          Resep dituliskan dalam bahasa latin, ‘recipe’ yang berarti ambillah. Arti menurut KBBI (Kamus besar Bahasa Indonesia) resép/ n 1 keterangan dokter tentang obat serta takarannya, yg harus dipakai oleh si sakit dan dapat ditukar dengan obat di apotek; 2 keterangan tentang bahan dan cara memasak obat (makanan);
meresepkan; membuat resep: seorang dokter ~ antibiotik dng dosis tertentu kpd pasiennya.
–         Syarat sahnya sebuah resep juga diatur dalam perundang-undangan. Resep harus memuat informasi mengenai dokter secara lengkap meliputi: no ijin prakteknya, alamat prakteknya, paraf dokter serta tanggal penulisannya. Informasi ini dimaksudkan agar resep yang dituliskan ‘asli’ dari tangan sebuah dokter.
–         Asisten Apoteker dibekali pengetahuan tentang penggolongan obat. Informasi penggolongan obat tersebut digunakan untuk melayani distibusi (keluar-masuknya) obat, karena tak sembarang obat dapat dibeli bebas. Artinya ada obat-obat yang bisa dibeli dan didapatkan seseorang tanpa perlu menggunakan resep dokter.

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba http://blogfpkr.wordpress.com/

http://blogfpkr.wordpress.com/

Advertisements

3 thoughts on “Permainan Resep

    • Medrep juga banyak membantu kok. Salah satunya membantu dokter biar tak ketinggalan informasi soal sediaan obat-obat terbaru 😀

      Tulisan saya gak bagus-bagus amat kok, kalo bagus pasti saya juara satu di lomba itu 😀

  1. Pingback: Pengumuman Lomba Blog FPKR | Blog FPKR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s