Setitik Pemaknaan (soal) Bencana

“Malam Minggu malam yang panjang, malam yang asyik buat pacaran”

Lirik di atas tak berlaku bagi kami. Kami malah menghabiskan malam panjang itu dengan duduk berdiskusi. Sembari ngopi, nyamil, dan mengisap berbatang-batang tembakau. Saban malam minggu rutin. Kami disatukan oleh kesadaran akan betapa bodohnya mahluk yang bernama manusia. Tiap-tiap kami yang datang ‘wajib’ untuk mengutarakan gagasan, minimal pernyataan tentang tema yang sedang dibicarakan. Tiap-tiap kami mengutarakan gagasan dari hasil bacaan, pengamatan, pengalaman (faktor umur), dan tak jarang pula dari disiplin ilmu akademik. Kami tak mencoba untuk mencari siapa yang paling pintar dari diskusi tersebut. Akumulasi dari membaca dan berdiskusi rutin tersebut disepakati satu buah tulisan. Minimal! Kami mencoba memulai sebuah langkah kecil bersama. Demi apa? Tak demi apa-apa, hanya sekedar mencoba melangkah bersama saja. Kami bernama Ngoming!

Continue reading

Menguping

Senin siang Jogja sedang mendung, tapi hujan belum menampakkan diri. Saya pun bergegas akas mengantarkan seseorang yang janji temu wawancara di sebuah perusahaan kecil. Saya menghindari jalan raya, bukan soal kelengkapan motor atau pun ketakutan saya pada polisi lalu lintas. Saya memilih lewat gang-gang kecil, lebih cepat, pintas. Paling penting lewat gang kecil itulah saya tak berbuat dosa ‘misuh.’ Jalanan di Jogja selalu membuat saya melakukan dosa tersebut. Pengendara motor dan mobil di kota ini sepertinya punya kemampuan memutar dan menginjak pedal gas kendaraan dengan berlebihan, dengan sekuat kuatnya. Entah apa yang dikejar atau malah mereka-lah yang sedang terkejar. Atau barangkali di kota ini tak ada jalan tol seperti di kota saya. Bisa jadi mereka menganggap semua jalan di sini harus dilalui dengan kecepatan yang tinggi. Memikirkan keadaan ini membuat saya berdosa lagi.

Continue reading

Penyelamatan Hutan: Demi Apa?

Melindungi hutan berarti menghentikan perubahan iklim. Penghancuran dan degradasi hutan berpengaruh besar terhadap perubahan iklim dalam dua hal. Pertama, perambahan dan pembakaran hutan melepaskan karbon dioksida ke atmosfir. Kedua, kerusakan hutan akan mengurangi area hutan yang menyerap karbon dioksida. Kedua peran ini sangat penting karena jika kita menghancurkan hutan tropis yang tersisa, maka kita telah kalah dalam pertarungan menghadapi perubahan iklim.1

                Melindungi hutan tak semudah menuliskannya seperti paragraf di atas. Banyak hal yang ternyata luput dari perhatian kita. Perhatian masyarakat perkotaan umumnya hanya tahu bahwa hutan harus dijaga dan dilestarikan, sehingga ketika ada penebangan besar-besaran, pengubahan lahan hutan menjadi lahan pertanian atau peternakan, bahkan perubahan hutan menjadi kebun kelapa sawit, kita akan mengutuk habis-habisan. Hanya mengutuk! Padahal kalau kita coba telisik lebih dalam, justru para masyarakat yang tinggal dekat hutanlah yang justru berperan besar merawat hutan.

Ketika muncul progam-progam konservasi hutan, masyarakat yang tinggal di dekat hutan mulai diganggu. Diganggu dalam artian, progam-progam tersebut ternyata dibalik itu berbiaya cukup besar. Biaya-biaya yang masyarakat hutan pun tak banyak yang tahu. Hanya segelintir pihak yang tahu biaya tersebut dan memanfaatkannya. Faktanya, banyak masyarakat yang tinggal di dekat hutan masih miskin. Jalan masuk dan keluar hutan pun masih jauh dari layak. Coba anda berjalan-jalan menuju desa di kawasan hutan Taman Nasional Meru Betiri Jember atau ke Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi. Anda akan mendapati beberapa jalan yang masih susah untuk dilalui. Lalu tiba-tiba muncul berita ini:

Indonesia menerima bantuan lebih dari US$100 juta untuk mengembangkan mekanisme pengurangan emisi akibat deforestasi dan degradasi hutan atau reducing emission from deforestation and forest degradation (REDD). Bantuan ini akan digunakan untuk menyusun strategi dan peraturan baku REDD. “Keseluruhan ada lebih dari Rp 100 juta dolar,” kata Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan di sela acara peluncuran REDD Demonstration Activities di Jakarta, Rabu (6/1/2010).2

                REDD, atau Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation (Pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan) adalah sebuah mekanisme untuk mengurangi emisi GRK (Gas Rumah Kaca) dengan cara memberikan kompensasi kepada pihak-pihak yang melakukan pencegahan deforestasi dan degradasi hutan.3 Sederhananya masyarakat dilarang menebang hutan di dalam Taman Nasional, area hutan konservasi, atau pun hutan yang masuk di dalam progam REDD ini dan mendapat uang!

Hutan salah satu fungsinya adalah sebagai tempat penyimpan karbon/emisi di dalam bumi. Maka ketika penyimpan emisi tersebut ditebang, karbon yang terlepas akan tertampung di dalam bumi, lambat laun bumi akan semakin panas. Sederhananya kita akan hidup di sebuah oven panas. Contoh nyata akibat GRK adalah perubahan iklim yang tak menentu. Kemarau yang berkepanjangan di Indonesia, suhu dingin yang tak biasa melanda negara-negara Eropa, dataran es abadi di kutub semakin menipis.

Tentunya hal tersebut mau tak mau memaksa kita untuk berubah. Bahaya gas karbon memaksa kita untuk menghargai alam, khususnya hutan. Salah satu cara adalah dengan bersama-sama mengawal progam REDD ini. Dana yang dikucurkan sangatlah besar, hingga saat ini pun langkah-langkah dan kebijakan yang diambil oleh Pemerintah masih belum banyak diketahui. Tindakan kecurangan dengan dana yang sebegitu besarnya tentu sangat mungkin diselewengkan. Negara Indonesia adalah salah satu negara yang tergabung dalam United Nations Framework Convention of Climate Change (UNFCCC) negara-negara yang tergabung dalam progam REDD ini.

Bergabungnya Indonesia dalam progam ini, karena negara kita adalah salah satu negara dengan jumlah luas hutan 884.950 kilometer persegi atau sekitar 46,46 persen dari luas seluruh wilayah Indonesia.4 Hutan di Jawa Timur yang diwakili Jember dan Banyuwangi turut serta di dalam progam REDD. Selain itu Jambi dengan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh dan lahan gambut di Kalimantan turut diikutsertakan. Berkat pengundulan hutan dan lahan gambut, Indonesia menjadi negara pencemar polusi ketiga terbesar di dunia setelah Amerika dan Cina.5 Andaikata Indonesia tak termasuk dalam negara pabrik polusi dunia dan progam REDD ini tak berbayar, pemerintah kita pasti tak mau turut serta. Alasan simpelnya karena negara berkembang butuh membangun banyak pabrik (membangun investasi besar-besaran) dengan memanfaatkan wilayah hutan.

Bencana bukan karena alam marah dengan kita, apalagi karena murka Tuhan. Bencana terjadi dan ada karena ulah kita. Penyelamatan hutan menjadi penting di sini. Peran serta kita, LSM, organisasi masyarakat untuk mengontrol dan menjaga keberlangsungan progam REDD ini menjadi penting demi keberlangsungan hidup anak cucu kita selanjutnya, dan demi terjaganya bumi.6 Daripada hanya mengutuk, mulailah mengisi petisi ini: http://www.greenpeace.org/seasia/id/aksi-kamu/Protect-Paradise/