Menguping

Senin siang Jogja sedang mendung, tapi hujan belum menampakkan diri. Saya pun bergegas akas mengantarkan seseorang yang janji temu wawancara di sebuah perusahaan kecil. Saya menghindari jalan raya, bukan soal kelengkapan motor atau pun ketakutan saya pada polisi lalu lintas. Saya memilih lewat gang-gang kecil, lebih cepat, pintas. Paling penting lewat gang kecil itulah saya tak berbuat dosa ‘misuh.’ Jalanan di Jogja selalu membuat saya melakukan dosa tersebut. Pengendara motor dan mobil di kota ini sepertinya punya kemampuan memutar dan menginjak pedal gas kendaraan dengan berlebihan, dengan sekuat kuatnya. Entah apa yang dikejar atau malah mereka-lah yang sedang terkejar. Atau barangkali di kota ini tak ada jalan tol seperti di kota saya. Bisa jadi mereka menganggap semua jalan di sini harus dilalui dengan kecepatan yang tinggi. Memikirkan keadaan ini membuat saya berdosa lagi.

Sesampai di tempat tujuan, saya memutuskan menunggu di angkringan sebelah tempat temu wawancara-nya (her). Saya lantas memesan Es teh dan menyulut kretek filter di saku saya. Sembari mengisap, saya pun memperhatikan sekeliling. Ada tiga perempuan paruh baya sedang asyik ngobrol. Seorang lelaki duduk di depan saya ikutan merokok. Saya pun menguping pembicaraan ketiga perempuan tersebut. Awalnya, saya kira pembicaraan mereka paling soal gosip, karena tak terlampau terdengar menarik di telinga saya. Sampai akhirnya muncul kata; Pemilu. Saya pun menebalkan indera pendengaran saya sembari memposisikan duduk yang lebih nyaman. Lelaki di depan saya masih anteng-anteng merokok.

salah satu perempuan adalah karyawan baru di sebuah Lembaga Survey. Entah Lembaga Survey Independent ataukah ikut bagian dari partai politik. Yang terdengar jelas di telinga saya paling kencang, hanya soal besar uang yang bisa diterima setiap harinya. Besar uang itu bisa bertambah, bila ada acara di luar survey. Sebentuk pelatihan, diskusi bahkan hanya sekedar acara pengajian bisa menghasilkan untung. Cukup datang, bubuhkan nama, tanda tangan, basa-basi dikit, dapat. Tawaran itu ‘sebentuk’ itu dalam bulan-bulan ini hingga akhir maret, bisa sangat banyak. Ketika April datang, biasanya rada berkurang, sebab hanya beberapa saja yang ‘kelihatannya’ lolos pasti mengadakan acara syukuran. Hal-hal semacam ini ternyata bisa diakses publik di tiap-tiap kota. Berbekal lamaran kerja yang ditulis sederhana, anda datang ke tempat-tempat Lembaga Survey, atau bisa pula partai politiknya langsung, diwawancara sejenak, bicara bla-bla-bla, anda bekerja. Kerja tak tetap, dengan jam kerja seenaknya. Seenak hati anda, jika pekerjaan anda sudah beres, anda tinggal menunggu sms, telpon apabila ada hal lain yang perlu dikerjakan lanjut.

Es teh saya teguk. Rokok kedua dan terakhir dalam saku, saya hidupkan. Lelaki di depan saya kini membuatkan secangkir kopi. Ada pelanggan baru datang di angkringan ini. Seorang lelaki. Dan ia ternyata teman ketiga perempuan tersebut. sak mene kurang? Tambahi eneh gulone, aku seneng manis, percakapan lelaki penjaga angkringan dengan lelaki teman ketiga perempuan itu. Saat kopi sudah dihidangkan, salah satu perempuan pergi. Lelaki itu duduk tepat di depan kedua perempuan yang masih tinggal dan berbicara pelan. Lamat-lamat si penjaga kopi menyapa lelaki tersebut. Akrab, hangat, seperti seorang teman lama. Lelaki yang baru datang itu langsung ikut dalam percakapan dengan kedua perempuan dengan sebelumnya basa-basi biasa. Saya kembali menguping percakapan mereka. Lelaki di depan saya kali ini ikut-ikutan menguping.

Percakapan lelaki yang baru datang, ternyata juga tak jauh-jauh dari Pemilu. Sedikit beda konteksnya. Kali ini si lelaki adalah seorang simpatisan sebuah parpol. Kedua perempuan tadi adalah pendukung dari si lelaki ini. Kabar-kabar dari parpol saingan mereka bicarakan. Sabotase! strategi mengacaukan acara dari parpol-parpol lawan. Money politik ternyata biasa terjadi saat-saat menjelang pemilu seperti ini. Bentuknya bisa bermacam-macam, sebagian sudah saya paparkan di atas. Argumen yang paling aneh yang saya dengar: Money politik kalo jumlah uangnya di bawah 200.000 itu bukan suap, itu sumbangan, kalo jumlahnya di atas itu baru bisa dikatakan suap. Soal seperti sembako, voucher belanja, voucher gas elpiji, kaos, atribut-atribut rumah tangga, itu adalah sumbangan juga. Duh!

Jika ada lawan yang berasal dari golongan kaya, konglomerat, dan melakukan hal tersebut, maka ia harus diwaspadai. Jika ada hal-hal yang menyimpang yang dilakukan lawan tersebut, hukumnya wajib untuk disabotase. Disabotase dengan cara apapun. Minimal melaporkannya ke badan pengawas pemilu sebagai tindak kecurangan. Cara-cara ini yang dilakukan oleh lelaki tersebut dan dibantu kedua orang perempuan paruh baya di angkringan ini. Mereka bekerja secara team. Mendung yang awalnya belum menampakkan hujan, kali ini tiba-tiba menurunkannya deras. Disertai angin kencang, membuat terpal angkringan bergetar-getar. Air hujan menyemprot-nyemprot ke arah saya karena kencangnya angin, keempat orang di depan dan di pinggir posisinya aman dari serangan percikan air hujan. Kali ini ada lelaki baru yang datang, langsung ikutan nimbrung percakapan mereka. Ia duduk di samping kanan saya. Kami berdua terkena serangan percikan air hujan. Dingin, ditambah angin kencang menerpa kami berdua. Lelaki di depan saya membuat kopi kepada lelaki ini. Kali ini kopi sachet dibuatnya.

Lelaki ini juga dikenal ketiga orang di depannya. Lelaki penjaga warung angkringan juga sedikit mengenalnya. Percakapan pun dilanjutkan. sabotase itu ternyata bukan berorientasi untuk menjatuhkan lawan politik parpol mereka. Sabotase itu dimaksudkan agar kampanye caleg-caleg baru dilakukan dengan adil, dengan fair. Caleg-caleg tak melulu orang yang berpunya. Ada pula caleg miskin. Entah ia maju karena dorongan orang-orang partainya, atau memang nekad! Sabotase dilakukan agar caleg miskin itu punya kans yang sama dengan caleg kaya. Caleg miskin biasanya ‘jarang’ memberi sumbangan, buah tangan, buah capek. Janji-janji manis diucapkan bila ia terpilih. Janji-janji manis berupa sumbangan, buah tangan, buah kerja keras orang-orang yang sudah mendukungnya ditunaikan kala ia sudah resmi dilantik. Entah ditepati atau malah sebaliknya. Ini baru soal janji-janji sumbangan, belum berbicara soal visi dan misi yang ditunaikannya setelah ia menjabat. Kalau sudah seperti ini bagaimana bisa membedakan kinerja, kapabilitas caleg kaya dan miskin? Duh!

Hujan berhenti derasnya. Ia masih meneteskan sedikit demi sedikit airnya dalam bentuk gerimis. Seseorang yang saya antar belum juga keluar. Es teh yang tinggal separuh, saya minum. Rokok ketengan di angkringan saya comot, langsung bakar. Kali ini pembicaran bukan lagi soal sabotase. Kali ini soal mencari anggota (team) kerja untuk survey. Mengisi angket survey sesuai dengan target koresponden yang harus dipenuhi dalam sehari. Sasaran paling mudah adalah warga sekampung. Minimal tetangga yang belum punya kerja tetap. Biasanya kalau warga tak di dapat, maka sasaran empuk berikutnya adalah mahasiswa. Tinggal mendatangi asrama-asrama mereka, berbicara sejenak, mengucap janji-janji manis seperti uang yang diterima serta sertifikat yang didapat. Seringkali hal tersebut berhasil. Mahasiswa ternyata kebanyakan adalah kaum yang tak berpunya. Tinggalnya saja di asrama. Kadang pula mahasiswa-mahasiswa ini tak perlu dibujuk, diundang untuk datang dan bekerja. Mereka sendiri datang saat musim-musim menjelang pemilu seperti saat ini.

Percakapan berhenti. Mereka pergi ke lantai dua di rumah sebelah angkringan ini. Saya pun sendirian. Hanya ditemani lelaki penjaga angkringan.
Saya pun iseng bertanya; Iku kerjo piye mas? Koyoke menarik bayaranne?
Lelaki itu: Kerjo nyebar survey nang kampung-kampung, instansi, tempat yang ditetapkan sebelumnya. Muter-muter. Awal nek seng durung biasa mesti sambat kesel, tapi nek wes biasa malah enteng.
saya; owalah! Melu sopo toh mas, krunguku mau iku Lembaga Survey, bener tah?
Lelaki angkringan; iyo bener mas.
saya lagi; Kok iso akeh ngunu bayaranne, paling sitik rongatus, paling akeh iso sampek sijian. Iku opo Lembaga Survey Swasta po?
Lelaki itu; Iyo Lembaga survey, akeh-akehe milike partai mas. Masio akeh bayaranne tapi yo kerjoe nyesuaikan target. Biasane kerjoe tim, nek dewean yo ambruk mas. Wayah koyok ngene iki partai-partai do podo jor-joran. Koyok nang daerah kene iki, parpole gak disubsidi pusat, tapi yoh jor-joran bayaranne.

Setelah itu, seseorang yang saya tunggu, muncul juga. Sepatu yang ia kenakan, langsung ia copot. Tak pakai kaos kaki. Kresek yang ia siapkan di tasnya dikeluarkan. Ditukar sandal. Dan ia duduk di pinggir kanan saya. Antara senyum dan gelisah mucul di raut mukanya. Ia sedikit lega setelah prosesi wawancara. Saya menawarinya minum. Ia tak mau. Tenggorokannya sedang sakit, tak mau minum es. sayangnya ia juga tak mau minuman hangat. Untung, saat itu saya lupa tak bawa dompet. Lelaki angkringan di depan saya tertawa dan senyum-senyum melihat ekspresi orang di kanan saya menceritakan hal wawancaranya. Semua yang dialaminya diutarakan di angkringan itu. Yang besar-besar dan penting saja. Detail kecilnya tak diutarakan di tempat itu. Langit sudah sedikt cerah. Air tak turun lagi. Rintik-rintik pun tak ada. Saya pun memutuskan untuk kembali ke kost. Es teh dan sebatang rokok tak lupa saya bayar. Tentu dengan uang yang saya pinjam terlebih dahulu padanya, karena saya lupa bawa dompet.

Bulan-bulan menjelang pemilu adalah buah ranum kesempatan. Mendapatkan rejeki berlimpah. Tinggal bagaimana anda berusaha mencari pohon dengan buah yang paling ranum. Setelah anda ketemu dengan pohon yang mempunyai buah paling ranum itu, anda hanya perlu membuat wadah sebesar-besarnya untuk menampung. Buah itu kan jatuh dengan sendirinya. Anda tinggal menampungnya lekas agar buah dari pohon lain juga bisa anda pungut. Sebab pohon itu tak hanya satu.[]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s