Setitik Pemaknaan (soal) Bencana

“Malam Minggu malam yang panjang, malam yang asyik buat pacaran”

Lirik di atas tak berlaku bagi kami. Kami malah menghabiskan malam panjang itu dengan duduk berdiskusi. Sembari ngopi, nyamil, dan mengisap berbatang-batang tembakau. Saban malam minggu rutin. Kami disatukan oleh kesadaran akan betapa bodohnya mahluk yang bernama manusia. Tiap-tiap kami yang datang ‘wajib’ untuk mengutarakan gagasan, minimal pernyataan tentang tema yang sedang dibicarakan. Tiap-tiap kami mengutarakan gagasan dari hasil bacaan, pengamatan, pengalaman (faktor umur), dan tak jarang pula dari disiplin ilmu akademik. Kami tak mencoba untuk mencari siapa yang paling pintar dari diskusi tersebut. Akumulasi dari membaca dan berdiskusi rutin tersebut disepakati satu buah tulisan. Minimal! Kami mencoba memulai sebuah langkah kecil bersama. Demi apa? Tak demi apa-apa, hanya sekedar mencoba melangkah bersama saja. Kami bernama Ngoming!

Sabtu 8 Februari 2014, saya kebagian jatah menjadi pemantik. Acara dimulai –start– jam delapan, saya datang jam setengah sembilan. Saya tak jadi peserta terakhir ternyata, karena banyak kami yang datang terlambat. Acara lantas dimulai jam sepuluh. Tema kali ini adalah Bencana.

Yang tertempel lekat di kepala saya ketika mendengar kata bencana adalah alam. Bencana alam! Saya memulainya dengan sebuah peristiwa 1 November 1755 di Lisbon dari artikel karya M.Irsyad Zaki –Buletin Merah Putih Jember– tentang Bencana. Media karya PPMI Kota Jember yang terbit pada desember 2010. Kala itu, gencar bertaburan slogan “Pray for Indonesia,” saat Wasior, Mentawai, Klaten, Magelang, Sleman, dan Jogjakarta sedang ditimpa bencana. Slogan yang selalu muncul, bila negara ini sedang ditimpa bencana alam. Harus dimunculkan tepatnya, karena (konon) solidaritas bangsa ini semakin tipis. Jadi minimal solidaritas itu berbentuk doa!

Artikel zaki yang saya cuplik, berkisah seputar gempa, tsunami serta kebakaran hebat yang terjadi di Lisbon yang mengakibatkan 30.000 sampai 60.000 orang terbunuh (Karl Fuchs 2005). Sumber lain menyebutkan sekitar 70.000 (Gates dan Ritchie 2007). Atau barangkali memang 60.000 sampai 100.000 (Henrik Svenson 2009). Muncul pernyataan; apakah hal ini terjadi karena murka Tuhan, atau memang kesalahan manusia karena mengeksploitasi habis-habisan sumber daya alam?

Diskusi kemudian berlanjut dengan tanggapan salah satu pemuda yang hadir malam itu. Bencana harus dipahami pengertian definitifnya, sehingga ia bisa dikelompokkan katanya. Ada dua jenis bencana. Satu, bencana yang disebabkan karena kesalahan manusia, seperti banjir karena drainase tak berfungsi maksimal. Kedua, bencana yang disebabkan karena memang sudah waktunya, seperti meletusnya gunung berapi. Pengklasifikasian di sini diutarakan agar ada jarak antara manusia, alam serta Tuhan.

Masyarakat timur (umumnya) masih percaya akan adanya hal gaib, mistis! Sikap nerimo sering muncul bila bencana melanda. Argumen lain muncul di diskusi ini. Ada sebuah kisah kecelakaan kereta api yang menabrak pengendara sepeda motor. Kisah ini baru saja terjadi di Jogja. Kejadian bermula saat pintu palang perlintasan kereta api tiba-tiba terbuka dengan sendirinya saat kereta api sedang melintas. Pengendara motor yang saat itu melintas dan sedang membawa jerigen bensin, ia tertabrak kereta api tersebut. Apakah hal itu karena faktor human error, machine error? Apakah kisah tersebut dapat dimasukkan dalam sebuah bencana?

Muncul argumen baru lagi. Masih seorang pemuda yang mengutarakannya. Hubungan manusia dengan alam dan dengan Tuhan sedang tidak baik. Begitu pula hubungan manusia dengan manusia. Bencana adalah peringatan tertulis (kitab-kitab suci) dari Tuhan kepada manusia yang melanggar aturan. Otomatis, hubungan manusia dengan Tuhan-lah yang harus dibenarkan. Dibenarkan untuk diperbaiki, agar tak muncul peringatan-peringatan lainnya. Contoh kasus kecelakaan kereta api di atas dihubungkan dengan argumen ini. Diskusi pun semakin panas, padahal di luar sedang deras-derasnya hujan.

Oh iya ada catatan yang disepakati bahwa ngoming, tak membatasi argumen-argumen yang dikeluarkan. Sudut pandang apapun dapat digunakan dalam diskusi ini. Peran moderator dalam diskusi ini yang menjadi beban terberat. Moderator bertugas mengathuk-gathuke apa yang diutarakan. Format diskusi yang membebaskan ini bisa mengakibatkan bokong panas, perut panas, serta durasi waktu diskusi yang tak menentu. Anehnya! Kami malah menikmati hal ini. Padahal seringkali diskusi ini tak diketemukan kesimpulannya. Kesimpulan diserahkan kepada masing-masing yang hadir. Toh ini bukan sebuah skripsi yang harus ada kesimpulannya.

Muncul argumen wah! lainnya. Kelaparan, kemiskinan, adalah juga sebuah bencana. Sesuatu yang given dapat diubah. Manusia dapat memindahkan garis takdirnya ke takdir yang lain. Argumen ini memperkuat sentilan rohani yang baru saja diutarakan. Memperkuat karena argumen wah! yang diberikan adalah kisah sahabat Nabi saat duduk di bawah pohon tinggi besar. Oh! Betapa beruntungnya pemuda yang jauh dari Tuhan mendapat siraman rohani yang begitu meneduhkan malam itu. Saya pun merasa beruntung dan bersyukur.

Selepas itu muncul pertanyaan perihal eksistensi manusia di muka bumi ini. Untuk apa manusia ada di bumi?

Pertanyaan yang muncul itu tak (melulu) harus dijawab oleh pemantik. Setiap pemuda yang hadir, diberi kekuasaan yang sama. Sama-sama bisa menjawab. Pertanyaan soal eksistensi manusia, sedikit disingkirkan sejenak.

Argumen lain muncul. Saat itu saya sedang berada di dalam gedung, tiba-tiba terjadi gempa. Awalnya saya hanya berdiam diri, tak panik. Namun ketika getaran gempa terasa begitu keras dan berlangsung lama. Saya pun lantas berlari keluar gedung. Di luar gedung, saya merasa sedikit lega dan menyesal. Kenapa saya tak bersikap cuek saja. Cuek agar terlihat cool, sebab saya sedang berada di pusat perbelanjaan. Banyak perempuan di dalam sana. Gengsi kalau pemuda seperti saya terlihat panik berlebihan. Namun soal cuek ini tak penting. Yang penting adalah; bagaimana insting manusia ketika bencana, seperti gempa sedang terjadi? Gempa yang terjadi tahun 2006 silam misalnya.

Cerita tersebut merasuk ke diri masing-masing. Mungkin rasa takutlah yang mendorong manusia untuk menyelamatkan diri dari bencana alam dengan cara apapun. Rasa takut benarkah? celetuk salah satu pemuda.

Ada cerita menarik soal korban gempa jogja yang selamat. Ia tidak melakukan apapun. Ia hanya diam di tempat. Sembari menunduk. Banyak orang di dekatnya berlari-larian mencari selamat. Setelah gempa berhenti, hanya ia yang selamat. Orang-orang yang berlari di dekatnya, mendapat hal sebaliknya. Bagaimana anda bisa menjelaskan hal tersebut? Rasa takutkah?

Pernyataan-pernyataan yang dikeluarkan malam itu membuat diskusi Bencana menjadi tambah acak-adut. Apa yang harus dibahas lebih lanjut lalu dikerucutkan jadi sebuah hal paling penting?

Saya sebagai pemantik disarankan untuk mengerucutkan. Ah! Saya tak mampu, karena saya pun bingung, bahkan si moderator diskusi juga bingung. Moderator kemudian sedikit merunut. Memulai dari mengklasifikasikan tiga hal. Manusia, Alam dan Tuhan.

Saya lalu menimpali; Alam punya kemampuan memurnikan dirinya sendiri. Semisal sungai, apabila di satu titik kita membuang limbah kemudian di aliran yang sama namun titik yang berbeda kandungan limbah dalam air itu berkurang, bahkan ada yang sampai benar-benar tak terdeteksi.

Timpalan saya barusan, disetujui pemuda lain. Ia ikutan menimpali soal letusan gunung berapi. Muntahan material-material dari perut bumi yang ternyata sangat berguna bagi manusia.

Erupsi gunung awalnya memang menakutkan dan berdampak besar bagi kelangsungan mahluk hidup yang tinggal di daerah sekitar gunung. Muntahan lahar bersuhu sangat panas, dapat membunuh mahluk hidup, abu-abu vulkanik dapat menyebabkan infeksi pernafasan bagi manusia, aliran lahar dingin dapat mencemari air sungai dan air sumur. Namun setelah beberapa lama, material-material tersebut bisa sangat menguntungkan bagi manusia dan mahluk hidup lainnya.

Saya pun berceloteh lagi. Kali ini sedikit menyimpang. Manusia juga bisa memurnikan dirinya sendiri. Dengan obat-obatan. Industri Farmasi adalah terobosan baru di mana manusia bisa menunda sendiri kematiannya. Obat anti-oksidan contohnya, atau malah operasi plastik.

Celotehan saya yang kedua ini ditampik oleh salah satu pemuda malam itu. Harus dipahami terlebih dulu, obat hanya merangsang zat-zat semacam enzim, hormon di dalam tubuh manusia untuk mengatasi penyakit. Artinya obat tak menyembuhkan. Obat hanya perantara. Bahasa eksak yang saya pahami dari ujaran pemuda tersebut, bahwa obat adalah ‘katalis.’ Ia menambahkan, bahwa jika obat, atau malah industri farmasi adalah terobosan besar, maka ia mampu untuk menyembuhkan orang mati.

Saya sedikit kesal sebenarnya, lantas saya mencoba meluruskan yang ia tangkap dari pernyataan saya tentang ‘obat bisa menunda kematian.’ Saya memaksudkan menunda kematian adalah memperpanjang umur manusia. Bukan untuk menyembuhkan orang mati. Namun lagi-lagi saya yang ternyata harus diluruskan dari diskusi ini. Bahwa setiap argumen itu bisa menimbulkan kemungkinan argumen lain. Kemungkinan yang tak melulu satu, absolut. Paling mendekati benar. Soal manusia memapu memurnikan dirinya sendiri, bukan dengan obat. Namun dengan kekuatan dalam dirinya sendiri. Yoga misalnya. Atau malah bersugesti sehat terus-menerus kepada diri sendiri.

Tentang Tuhan dalam bencana, saya tak bisa menjelaskan lebih lanjut. Saya masih perlu banyak belajar tentang Tuhan. Setiap yang hadir sedikit bersepakat, ketika bencana datang melanda diri, maka masing-masing kami akan berbuat hal yang diyakini pengaruh insting dasar manusia. Entah itu merapal doa, lari tunggang langgang, atau bahkan hanya diam dan berteriak sekencang-kencangnya sembari meminta tolong.

Moderator lagi-lagi berusaha memfokuskan tema arah diskusi malam itu. Klasifikasi bencana itu sendiri, alam dan Tuhan sudah banyak dibicarakan. Jenis-jenis bencana itu sendiri sudah disinggung. Tentang Tuhan juga sedikit banyak menonjol. Soal manusianya? Ini yang dibicarakan selanjutnya.

Diskusi kembali ke soal budaya masyarakat timur. Hal mistis dipercayai sebagai sesuatu yang terjadi dibalik sebuah bencana. Hal mistis seringkali dimunculkan dalam sebuah mitos. Yang kemudian mitos-mitos itu dipercayai sebagai sebuah kebenaran. Tentu mitos-mitos yang dibuat dan dimunculkan ke masyarakat ada yang berpotensi baik dan juga buruk. Hal seperti dilarang menebang pohon, kencing di pohon besar misalnya. Barangsiapa yang menebang pohon tinggi besar, kencing di bawah pohon besar tanpa amit niscaya akan diganggu mahluk halus. Gangguannya bisa bermacam-macam bentuk. Jika hal ini ditelisik lebih jauh, hal tersebut akan bermakna pelestarikan pohon. Demi terjaganya keanekaragaman hayati. Diskusi dilanjutkan dengan argumen lainnya.

Mbah Maridjan menjadi sosok penting dibalik gunung merapi. Sebelum terkenal dan menjadi bintang iklan. Tak satupun masyarakat urban mengenal sosok Mbah Maridjan. Secara rasional, tentu kita akan sepakat bahwa area gunung berapi yang masih aktif terlarang untuk ditinggali. Hal ini ternyata tak berlaku di Indonesia. Seorang Mbah Maridjan begitu dipercaya oleh masyarakat sekitar lereng gunung merapi. Apa yang diutarakan oleh Mbah Maridjan akan diikuti oleh seluruh masyarakat lereng merapi. Ketika Erupsi Merapi beliau meninggal tanpa meninggalkan tempat tinggalnya. Apa yang bisa menjelaskan hal ini?

Lalu lihat pula para penduduk yang tinggal di dekat sungai-sungai di daerah Jakarta. Daerah yang tak boleh ditinggali oleh penduduk. Daerah resapan air, malah dibuat sebagai tempat tinggal. Kesadaran membuang sampah pada tempatnya masih sangat kurang. Pemahaman tentang fungsi drainase yang salah kaprah. Maka (kami tak heran!) bila datang hujan di Jakarta akan segera muncul genangan-genangan air, bahkan jika curah hujan tinggi, banjir pun pasti menyerang. Lihat pula pemukiman di Jakarta, tata ruang dan tata letak rumah yang saling berdempetan, kabel-listrik yang bersimpang ruwet, yang jika terjadi korsleting akan mengakibatkan bencana kebakaran. Bagaimana mengatasi hal ini?

Ada celetukan. Pendidikan bencana menjadi penting, ujar salah satu pemuda. Untuk kasus-kasus bencana alam, sudah saatnya kurikulum pendidikan dimasukkan tentang bencana. Lihat contoh negara Jepang. Bagaimana sikap cepat tanggap pemerintah dan respon warga ketika datang bencana patut menjadi pelajaran buat bangsa Indonesia.

Tak perlu menggantungkan harapan tersebut pada sistim pendidikan formal. Toh kurikulum tersebut dimunculkan sejak tahun 2006 dengan nama Progam Adiwiyata. Tahun 2010 baru terjadi MoU antara KLH (Komunitas Lingkungan Hidup) dengan Kemendiknas, agar progam Adiwiyata benar-benar diterapkan. Harapannya muncul sekolah-sekolah Adiwiyata demi terciptanya upaya pelestarian lingkungan hidup dan pembangunan yang berkelanjutan. Entah saat ini apakah progam ini sudah berjalan maksimal atau belum. Progam yang saya baru tahu dari Diskusi bersama Deputi Menteri Lingkungan Hidup. Dies Natalis XIX PPMI di Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin 2011 silam.

Pendidikan formal tak cukup untuk menjelaskan, atau malah sanggup mengatasi persoalan bencana. Khususnya bencana alam. Gempa Aceh misalnya. Ada bangunan-bangunan lawas, rumah panggung. Rumah dengan struktur rangka pembentuknya adalah kayu, yang ketika diteliti, rumah tradisional tersebut malah tahan gempa. Justru rumah-rumah yang dibangun dengan biaya yang lebih besar dan berbahan batu bata, bentuk rumah pada umumnya yang kita ketahui malah hancur berantakan. Hal-hal tersebut tak didapatkan dan diajarkan di bangku pendidikan formal.

Hal-hal di atas, argumen yang bercampur baur tak mencoba untuk disatukan. Semua hal yang dibicarakan mulai dari sebelum bencana, bencana dan setelah bencana, dibicarakan dengan tak berurutan. Tak pula lengkap dan tak dapat dipertanggungjawabkan lebih jauh kebenarannya. Masing-masing argumen tersebut perlu kiranya untuk ditelisik lagi lebih jauh. Barangkali ada banyak ketersesatan pikir yang perlu untuk di analisa lebih dalam. Setidaknya demi menghindari sikap nerimo terhadap bencana. Menumbuhkan rasa solidaritas terhadap sesama manusia tentu tak harus menunggu saat terjadinya bencana. Peran pers sebagai media informasi masyarakat, baik itu televisi, koran maupun internet sangat penting. Penting untuk memberikan informasi, membangkitkan semangat kebersamaan, dengan bahasa yang tak lebay, dengan berita yang tak didramatisir, dan yang paling penting adalah tak dipolitisi pihak-pihak tertentu.

Sudah tak ada lagi sosok seperti Nabi Nuh AS yang menyelamatkan umatnya dari bencana besar. Tak ada sosok Superman yang menyelamatkan bumi dari bahaya kehancuran. Armageddon; bencana hujan meteor besar memaksa Negara AS bertindak ‘hero’ menyelamatkan warga dunia.

Menunggu datangnya sang juru selamat dari bencana adalah tindakan bodoh. Sama halnya dengan nerimo alias pasrah dengan datangnya bencana. Menyelamatkan diri dari bencana bukan berarti menghindari murka Tuhan, atau malah dianggap menghindari kematian. Toh perdebatan panjang diskusi malam itu tak berhasil untuk mencapai sebuah kesimpulan. Setidaknya bencana tak melulu soal definisi KBBI:

“Sesuatu yg menyebabkan (menimbulkan) kesusahan, kerugian, atau penderitaan; kecelakaan; bahaya: pemimpin yg tidak jujur akan menimbulkan — bagi negara dan bangsa; dl — , dl bahaya; dl kecelakaan; 2 ark gangguan; godaan: mereka mengadakan selamatan untuk menolak — roh jahat; alam, bencana yg disebabkan oleh alam (seperti gempa bumi, angin besar, dan banjir).”

Acara diskusi ditutup pukul satu lewat. Hujan sudah berhenti. Perut kami lapar, kaki pegal-pegal, yang tua kesakitan pinggang, mata agak sedikit ngantuk. Ada pula yang menutup dengan membuang hajat. Di semua kesakitan tersebut kami tetap tertawa, berbicara dan saling tersenyum hangat, padahal tak ada satu pun pemudi yang ikut dalam diskusi ini sampai selesai. Ini bencana sebenarnya.[]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s