Hidup Walter Mitty dan Nemo Nobody

Maaf! Hanya kata itu yang tepat untuk saya utarakan kepada halaman-halaman blog yang kosong melompong dalam beberapa bulan kemarin. Hanya ada satu tulisan remeh-temeh yang saya publish kembali, dengan sedikit perbaikan. Dan ini pun bisa dibilang tulisan remeh-temeh. Rutinitas di luar blog yang saya jalani, semakin terasa membosankan, kering. Namun hal tersebut malah menguras energi. Mulai dari waktu senggang hingga materi. Bergelut dengan sejumlah aktivitas akademik demi sebuah titel Sarjana, yang konon banyak diperlukan pabrik-pabrik. Yah! Pabrik. Kampus hanyalah sebuah jalur untuk pabrik mendapatkan tenaga yang katanya mumpuni. Duh! Sekali lagi maaf!

Segala aktivitas yang membosankan itu, akhirnya harus saya jalani juga, sebab saya manusia. Sebab konon, bila manusia tak menjalani ritual keseharian yang jelas maka ia tak ubahnya seperti sampah. Sampah yang tak bermanfaat. Tak bisa didaur ulang. Hanya bisa dibakar, ditimbun, atau malah dibiarkan saja hingga ia terurai membusuk menjadi serpihan-serpihan kecil, yang tak bisa hancur hingga ia tidak bisa dikenali lagi. Hal itulah yang membuat saya terpaksa menjalani rutinitas yang membosankan ini.

Di sela-sela hal yang membosankan itu, saya berusaha untuk sedikit membaca, menonton film, bercakap dengan sedikit orang. Akumulasi dari sedikit itulah yang saya bawa merenung sembari menunggu mata terpejam.

‘Hal terindah tak perlu diperhatikan,’ dialog Sean Penn dengan Ben Stiller dalam film “A Secret Life of Walter Mitty”. Film remeh temeh yang saya tonton saat senggang. Film karya Ben Stiller, dimana ia juga jadi pemeran utamanya. Film yang membuat citra Ben Stiller sedikit berubah. Aktor yang lebih dikenal sebagai spesialis aktor komedi, dalam filmnya ini berubah total menjadi aktor yang rada serius. Tagline dalam cover film ini sebenarnya tak jauh-jauh amat dengan apa yang saya utarakan di awal tulisan ini. “Stop Dreaming, Start Living.”

The Secret Life of Walter Mitty (2013)

Aktivitas melamun, bermimpi, tak patut dijalani, di era yang menuntut manusia untuk berakselerasi maksimum. Terjebak dalam rutinitas keseharian, khususnya para pekerja, membuat hidup terasa kering. Tak ada tantangan. Yang ada hanyalah pertanggung jawaban untuk pemenuhan kebutuhan.

Ben Stiller adalah manager bagian aset negatif di sebuah perusahaan majalah lifestyle. Kerjanya mengolah aset film negatif (klise foto) untuk dijadikan bahan-bahan dalam majalah tersebut. Dan kerja kali ini adalah kerja terakhir. Majalah gaya hidup itu akan diubah total. Awalnya diterbitkan secara cetak dan sekarang dibuah menjadi majalah online. Perkembangan pesat teknologi Internet, membuat majalah cetak menjadi tidak laku. Singkatnya, kerja Ben Stiller kali ini adalah kerja terakhirnya. Personalia perusahaan akan mengurangi jumlah para pekerjanya, alias PHK.

Faktor kerja terakhir inilah, serta situasi perusahaan yang sedang turun, membuat seluruh pegawai majalah bekerja ekstra keras, demi terwujudnya edisi cetak terakhir. Terkhusus pula buat Ben Stiller. Sembari menjalani rutinitas pekerjaannya, diceritakan pula aktor utamanya adalah seorang jomblo. Umur yang menginjak kepala empat yang tak juga memiliki pendamping, membuat hidupnya semakin suram. Masa-masa kritis bagi seorang lelaki. Alhasil film ini, menjadi film biasa. Film yang menampilkan perjuangan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Yah, film biasa. Hanya saja saya tertarik dengan beberapa kutipan-kutipan dialog. Serta foto-foto serta scene yang ditampilkan dalam film ini. Selebihnya biasa.

Mr Nobody (2009)

Sebelum film itu, saya menonton film lain. Jauh-jauh hari. Film Mr.Nobody. Film yang harus ditonton hingga akhir, barulah keseluruhan cerita bisa dipahami. Alurnya tak beraturan. Setiap alur, diisi oleh kemungkinan-kemungkinan yang mungkin untuk menjadi akhir dari film ini. Film yang bersoal sulitnya memilih sebuah pilihan. Kesulitan tersebut membuat si pemilih memikirkan, lebih tepatnya meramalkan kemungkinan-kemungkinan pilihan yang ia pilih. Itupun si pemilih masih sulit menentukan pilihannya. Alhasil dibuatlah pilihan ketiga. Pilihan dengan kemungkinan-kemungkinan yang lain dan berbeda, dari pilihan yang ditawarkan. Singkatnya, film ini membuat penonton berpikir. Endingnya benar-benar meledak!

Aktornya Jared Leto. Ia berperan sebagai Mr. Nemo Nobody. Jika dibahasakan menjadi Tuan Nemo bukan siapa-siapa. Film ini sebenarnya hampir mirip dengan film Butterfly Effect. Hampir mirip. Dalam Film Mr. Nobody ini, banyak disisipi penjelasan-penjelasan ilmiah, tentang apa itu waktu, teori penciptaan bumi, rasa takut, rasa cinta (berkembang biak) dan banyak lainnya. Film Butterfly Effect, hal itu semua tak ada. Penyisipan di sini yang saya maksudkan, seperti seorang dosen yang menjelaskan pelajaran. Lengkap dengan gambar-gambar bergerak, foto, tulisan, serta penjelasan eksplisit.

Kalau di film awal menekankan pentingnya berusaha keras, dan berhenti berimajinasi, maka di film Mr. Nobody justru sebaliknya. Di film Ben Stiller: manusia itu nyata, apabila ia berkontribusi. Sedang dalam film Mr. Nobody, kenyataan itu dipertanyakan. Sungguh sebenarnya kedua film ini tak pantas dikomparasikan. Saya saja yang iseng mengkomparasikannya. Kedua film ini jelas sangat berbeda. Satu film menampilkan alur yang biasa, sedang film kedua menampilkan alur yang maju-mundur, bolak-balik.

Perenungan yang bisa diambil dari kedua film ini, manusia itu bisa didefiniskan bermacam-macam. Kenyataan itu juga bisa didefinisikan. Ah, saya ngomong apa ini. Selebihnya anda bisa menonton sendiri kedua film tersebut.

Saya hanya asal berpendapat saja. Tidak ada yang namanya perenungan. Yang ada, hanyalah; jika manusia sedang bosan dengan rutinitas kesehariannya, maka ia butuh berekreasi. Salah satu rekreasi yang bisa dinikmati, adalah menonton film. Dan ketika rekreasi itu selesai, bersiaplah kembali ke rutinitasmu yang membosankan. Selamat Hidup!

Advertisements