Perempuan Tangguh

Sebelum merem tidur, biasanya saya senang melamun. Keadaan ruangan harus gelap, saya tak bisa tidur ketika lampu menyala. Ritual melamun, memang tak selamanya saya lakukan tiap hari, saat tubuh benar-benar letih, nih mata otomatis merem langsung. Saya jarang berada di rumah kepunyaan orangtua, nah pada saat jauh itulah, ritual melamun sering terjadi secara tiba-tiba. Ini salah satu yang pernah saya lamunkan, plus ngelantur dikit.

Bangun, bangun, bangun! “Sudah pagi ayo siap-siap, mandi trus sarapan, begitu teriakan Ibu yang menggema di rumah”, di waktu pagi buta ketika matahari masih malu menampakkan dirinya. Teriakan itu selalu menggema di telinga kami (anaknya), pengingat akan waktu sudah pagi saatnya bangun dan beraktivitas. Tak hanya kami, Ayah juga dibangunkan dari tidur lelapnya untuk segera beranjak dan beraktivitas. Tak cukup dengan teriakan, terkadang Ibu mengoyang-goyangkan badan saya dan adik-adik saya sampai kami tersadar, walau akhirnya tidur lagi. Dicubit, dipukul pun pernah. Apalagi disiram dengan air. Untung bukan air keras. Bisa-bisa malah operasi plastik nih muka.

Mulai dari kami kecil hingga dewasa, teriakan itu masih tetap menjadi aktivitas rutin yang berlangsung di rumah. Ibu selalu bangun saat Subuh datang, selesai shalat biasanya beliau pergi ke pasar untuk belanja. Selesai belanja langsung memasak sarapan pagi, membersihkan meja makan, membuat kopi dan susu bagi kami. Sembari mempersiapkan itu semua, Ibu menyalakan lampu kamar dan membuka korden (kadang saya menyebutnya hordeng) jendela, agar sinar matahari masuk ke rumah. Jendela pun dibuka lebar, biar udara dingin masuk dan menyadarkan kami yang enak terlelap (padahal malah bikin saya semakin nyaman melanjutkan tidur).

Sewaktu kecil secara naluriah saya menggangap tindakan Ibu di pagi itu sungguh menjengkelkan, enak-enaknya tidur, eh dibangunin secara paksa. Ketika beranjak dewasa dan pergi dari rumah (karena kuliah, iseng dan bosan dengan lingkungan kampung, terlebih lagi kota), saya merindukan hal tersebut. Tindakan beliau sangatlah perlu mengingat sekolah kami dan kantor kerja Ayah jaraknya cukup jauh dari rumah, sehingga kami diharuskan bangun pagi supaya tidak terlambat sampai di tujuan. Ada hal yang sangat penting, setidaknya saya menangkap bahwa Ibu mengajarkan kami disiplin, khususnya disiplin waktu.

Disiplin, itulah yang sering terlewatkan. Toh sekarang akhirnya perlu dibuat suatu aturan agar tercipta disiplin, contohnya ketika menabung di bank kita diharuskan mengambil nomor antrian atau berbaris berjejer rapi, itu disiplin.

Saat adzan berkumandang pun ketika kami berkumpul di rumah, kami diharuskan menghentikan semua aktivitas dan mengambil wudhu lalu menjalankan ibadah shalat fardhu, menunda-nunda aktivitas akan berimplikasi tidak akan dilakukannya aktivitas tersebut begitu yang diyakini Ibu, macam shalat, makan, mandi, dan lain-lain.

Tak perlu upah, bayaran atau gaji sekalipun mengenai apa yang Ibu kerjakan mulai dari pagi hingga malam, cukup dengan tindakan dan senyuman beliau akan sangat terhargai dan dihormati. Bila dibandingkan dengan seorang Ayah yang membanting tulang memeras keringat demi tercukupinya kebutuhan hidup keluarga dan membuat dapur tetap ngebul, aktivitas keduanya justru saling melengkapi satu sama lain, tidak ada yang berat sebelah, tidak ada pembeda diantara keduanya, semua sama alias setara. Tak ada istilah “Swarga nunut neroko katut”, keduanya saling mengingatkan dan saling melengkapi, ibarat tulang rusuk menjadi lengkap dengan dipasangkannya pria dan wanita.

Awalnya saya tak percaya dengan hal tersebut. Aneh, jaman kayak gini kok ada saling melengkapi. Yang saya percaya, manusia itu mengambil keuntungan dari apapun. Hubungan simbiosi mutualisme yang berjalan. Saya ndak percaya adanya manusia yang rela mengerjakan sesuatu, berhubungan dengan sesuatu tanpa ada pamrih. Minimal eksistensi diri, saya pun meragukan hal tersebut. Satu banding seribu mungkin perbandingannya.

Iseng saya cari-cari di google. Saya buka firefox, muncul search engine babylon, lalu saya buka google lalu saya search fitrah perempuan. Jeduar!!! Ada banyak yang menarik, tapi saya hanya tertarik satu hal;

“Meminjam pendekatan model Gender and Developmen (GAD), fitrah kaum perempuan pada dasarnya berkisar pada tiga ranah aktivitas, yakni aktivitas reproduksi –seperti melahirkan dan mengasuh anak, mengurus pekerjaan rumah tangga (termasuk melayani suami), aktivitas produksi –seperti pekerjaan-pekerjaan yang menghasilkan uang (sektor publik), dan aktivitas komunitas –seperti aktif dalam organisasi”.

Nah, kalau hal ini diterapkan di jaman sekarang, rasanya tak ada yang bakal setuju. Lha, wong sekarang sudah banyak organisasi perempuan yang menentang adanya tindakan merendahkan perempuan dalam hal apapun. Laki-laki pun kadang melakukan di atas. Anehnya di Indonesia, fitrah tersebut cenderung dipertahankan dan tetap diperuntukkan bagi perempuan. Hanya saja lebih dialihkan tanggung jawab tersebut kepada seorang tenaga ahli. Aktivitas reproduksi, mengasuh anak misalnya, diserahkan ke baby sitter. Kaum-kaum kaya, papa, borjuis, entong-entong kaki alias bersantai, menyerahkan segalanya kepada bawahan, tenaga ahli, buruh, alias asal punya duit semua bisa dibeli, tenaga diri tak terkuras penuh. Saya kaget ketika tahu kalau melahirkan seorang anak itu ternyata bisa diwakilkan pada orang lain. Menitipkan benih ke rahim orang lain. Kalau memang karena faktor genetis alias memang tak bisa melahirkan sendiri, ya saya anggap wajar. Yang kurang ajar itu, hal tersebut dilakukan hanya untuk mempertahankan diri agar tak beresiko mati. Fak bener!

Kaum-kaum kelas menengah (ke bawah), dan bahkan kaum miskin melakukannya tanpa mewakilkan pada orang lain. Barangkali hal tersebut yang agaknya membedakan kaum atas dengan bawah. Rata-rata kaum atas kalau terserang sakit, penyakitnya aneh-aneh, sedang kaum bawah tak terlampau kronis, sebab tenaga diri digunakan sepenuhnya dalam aktivitas sehari-hari, sedang kaum atas agaknya sebaliknya. Ah biarlah kalau saya dianggap mengada-ada, tak cukup bukti, fakta atau malah dokumen yang menunjukkan argumen tersebut benar. Saya memang terlampau emosi, melihat kaum-kaum atas berdiri tegak dengan kaki-kakinya menginjak kaum bawah. Jurang pembatasnya terlampau jauh sekali. Padahal nih negeri kaya raya, tapi tetep aja banyak yang miskin. Kok bisa? Ah, silahkan anda cari jawabannya sendiri diri.

Untungnya saya dibesarkan di keluarga kelas menengah (kadang-kadang jeblok, kadang-kadang konstan dan tak pernah sedikitpun beranjak naik.) Pendidikan yang diajarkan sedari kecil, baik dari rumah, lingkungan dan sekolah, efeknya baru terasa setelah saya menginjak bangku kuliah. Terlambat kah? Kalau ada standar usia, mungkin saya tergolong yang terlambat. Masa-masa remaja, hampir seluruhnya saya isi dengan senang-senang, tak terpikir untuk berhenti walau sejenak. Untungnya saya tak terlampau terjerumus lebih dalam. Beberapa teman dekat saya ada yang akrab dengan sel tahanan, ada yang menikah dini, ada pula yang meninggal di usia muda. Hal-hal kecil, dan sebagian kejadian langsung di depan mata membuat saya lebih berhati-hati untuk melakukan sesuatu saat ini. Saya lebih suka membatasi diri untuk keluar rumah, mengobrol dengan banyak orang. Saya lebih selektif, memilih jadi manusia kamar, walau kadang saya melakukan hal-hal yang sering saya laukukan saat masih remaja; senang-senang.

Kalau ternyata, standar kehidupan manusia Indonesia yang diyakini bahwa usia-usia 25-30 tahun adalah usia yang pas buat menikah, dan sudah seharusnya mempunyai pekerjaan tetap (tetap besar penghasilannya). Saya bukan termasuk di dalamnya. Tekanan memang datang bertubi-tubi, baik dari rumah, tetangga, saudara, teman yang kebanyakan juga seudah begitu, Ah saya tak mengganggapnya serius. Bahkan saya malah kepingin tidak melakukan hal tersebut. Bukan untuk selamanya, melainkan untuk saat ini. Saya masih pingin melakukan hal yang saya senangi namun tanpa bikin sakit orang lain atau malah melukai orang lain. Ah gimana sih bahasa penjelasannya. Kadang saya terlampau bingung menggunakan bahasa tutur ke tulisan. Kalau memang mobil Dr. Emmett itu ada (Film Back to The Future, 1985), saya bakalan antri untuk ikut mencobanya. Saya pingin kembali ke masa-masa saya masih menginjak bangku SD. Momen itu ingin saya ulang kembali di saat ini.[]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s