Logika Hidup Kita!

“Perilaku yang rasional secara individual tidak perlu mengarah kepada hasil akhir yang rasional secara sosial”

Pernyataan tersebut menjadi penting dalam masyarakat untuk ikut aktif memilih dalam pemilu. Memang tak persis seperti yang saya tuliskan di atas, namun intinya rasionalitas anda-anda sekalian tidak akan berpengaruh besar terhadap negara ini dalam 5 tahun ke depan. Serius!

Pernyataan di atas sebenarnya saya dapatkan dari buku Logika Hidup karya Tim Harford. Buku yang berisi pemikiran-pemikiran, hasil riset team dan hasil perjalanan Tim Harford dalam memandang realitas sosial dengan pendekatan ilmu ekonomi. Membahas soal tingkah laku (perilaku) masyarakat Amerika Serikat dari sudut pandang rasional seorang ekonom. Logika ekonomi di balik seks, kejahatan, rasisme, politik, judi, perceraian, hingga tentang revolusi. Semuanya berujung pada pernyataan bahwasanya manusia sesungguhnya adalah mahluk yang rasional, dan kita tak benar-benar menyadarinya.

Sebagai contoh dari buku ini;  fenomena Oral Seks. Kita (masyarakat yang memegang erat budaya timur) di mana etika menjadi sesuatu hal yang penting untuk dilakukan di sini, akan sangat mengutuk keras perbuatan tersebut. Hal begituan akan menjadi hal privat dan tabu untuk dibicarakan. Tim Harford mengambil data dari remaja-remaja yang doyan melakukan oral seks. Kecenderungan ini muncul bukan tanpa sebab. Oral seks yang dilakukan remaja-remaja yang bahkan belum menikah (masih berstatus pacaran) melakukan hal tersebut secara sadar. Remaja-remaja ini bukanlah mahluk bodoh yang tak mengerti dampak akan tindakan itu. Tim Harford mendapatkan hasil, bahwasanya oral seks remaja-remaja tersebut justru sangat rasional dan memikirkan masa depan mereka yang masih panjang. Rasional di sini karena, remaja tersebut tahu akan dampak penyakit kelamin, penggunaan kondom yang masih rentan akan serangan AIDS, dan juga biaya yang harus dikeluarkan apabila si wanita akhirnya hamil, atau juga biaya aborsi. Oral seks justru dipilih karena tindakan ini adalah yang paling aman, menguntungkan dan tak berdampak buruk bagi kesehatan mereka di masa depan.

Anda akan menyetujuinya atau malah mengutuk tindakan remaja-remaja tersebut? Barangkali kita akan lebih banyak mengutuknya. Menyalahkan orang tua karena tidak becus mengurusi dan mengawasi anaknya, menyalahkan pihak sekolah yang tak mengajarkan pendidikan moral yang baik, atau bahkan lingkungan pergaulan remaja-remaja kita yang sudah tercemar dan jauh dari hal-hal baik. Kita cenderung mengutuk, lebih tepatnya menjauhi hal-hal yang tidak sesuai dengan norma-norma kesusilaan yang kita anut sejak kita lahir, bahkan sejak orang tua kita belum lahir, norma itu sudah diwariskan turun temurun. Sehingga julukan masyarakat yang memegang erat budaya ketimuran sangat melekat erat di tubuh setiap individu-individu di Indonesia. Melalui agama; pendidikan akhlak ditanamkan, lewat budaya daerah; moral kita dibentuk, lewat lingkungan terkecil (keluarga); kita dibiasakan untuk mentaati semua perintah dan aturan yang sudah dibuat. Ada yang berhasil, ada pula yang gagal total.

Cerita lain soal FBI dalam proses penyelamatan seorang anak yang diculik. FBI memegang ketat prosedur penyelamatan. Dalam buku ini diceritakan sedikit, bagaimana FBI akan melakukan segala tindakan dengan catatan sandera yang ditawan tidak mati. Apapun caranya harus dilakukan. Tentu dengan prioritas keselamatan sandera yang paling tinggi. Cara paling mudah adalah dengan melobi pihak penculik untuk menyerahkan sandera dan menyerah untuk ditangkap. Cara ini terus dilakukan hingga mendapatkan kesepakatan bersama. Jika tidak maka, cara terkejam pun dilakukan, dengan catatan sandera harus selamat dan penculik diberi kesempatan untuk hidup (artinya tidak dibunuh, hanya dilumpuhkan) Bagaimana dengan keadaan penegak hukum di Indonesia apabila ada kasus seperti ini? Apakah mereka akan melakukan persis seperti yang saya tuliskan ini, atau malah mendobrak masuk dan membunuh semua penculik dan tak menyisakan kesempatan sedikitpun bagi mereka (penculik) untuk hidup? Ah, saya tidak tahu, yang saya tahu hanya teroris saja yang seringkali ditembak langsung (dibunuh) tanpa diberi kesempatan untuk ditangkap dan diwawancarai lebih lanjut, kenapa mereka melakukan tindakan tersebut. Oleh karena itu, cerita yang ini kita lewati saja, yah!

Cerita lain lagi, soal kenapa masyarakat pedesaan lebih memilih pergi dari daerahnya untuk mengadu nasib di kota. Dengan iming-iming kesempatan kerja yang lebih besar, gaji yang besar dan biaya hidup yang juga tak kalah besar. Jakarta misalnya. Sampai saat ini kawan-kawan karib saya lebih memilih peruntungannya di kota tersebut. Dan mereka juga tahu konsekuensi dari tindakannya tersebut. Jakarta menjadi magnet. Tak hanya kawan-kawan saya, bahkan anda-anda sekalian juga ‘sempat’ berpikir dan ‘akan’ tinggal di Jakarta. Atau barangkali ‘sudah’ terjebak di dalamnya. Tim Harford dalam buku ini juga menemukan hal yang sama pada masyarakat AS. Mereka yang tinggal di daerah pinggiran, di daerah terpencil yang minim akan kesempatan dan gaji besar, cenderung memilih bernasib di kota besar. Harford mengemukakan ada hal lain yang dicari dan cenderung mudah didapatkan ketika kita berada di kota. Jaringan, relasi perkawanan dan bisnis yang lebih menguntungkan adalah hal-hal yang mudah dicari ketika berada di kota besar. Tentu hal-hal itu membutuhkan kemampuan yang harus dimiliki oleh masing-masing individu. Jika anda tak memiliki kemampuan apapun, maka yang harus anda lakukan adalah bekerja sekeras mungkin di kota dan hasilnya pun akan sedikit lebih besar dari apa yang anda dapatkan ketika hanya diam di desa.

Kota ibarat sebuah kulkas besar yang menyediakan kebutuhan untuk anda jemput. Walau berat dan menyita seluruh tenaga anda, namun kebutuhan tersebut niscaya manis ketika anda rasakan. Itulah mengapa sebabnya harga rumah, apartemen, kondominium, kos-kosan walau berharga selangit, masih saja tetap laku diburu, dan harganya setiap senin selalu naik.

Cerita soal Pil KB juga menarik. Wanita-wanita di AS, cenderung menggunakan Pil KB ketika memilih untuk menunda mempunyai anak. Pil KB merupakan investasi jangkan panjang. Wanita AS lebih memilih pendidikan tinggi, karier yang tinggi, dan gaji besar tentunya. Ketika memiliki anak dan melakukan hal tersebut secara bersamaan (pendidikan dan karier) maka gaji besar pun tak ada artinya. Biaya hidup memiliki anak berkali-kali lipat lebih besar daripada belum memiliki anak. Dan hal ini adalah hal positif. Pil KB adalah temuan yang revolusioner. Bagaimana jika di Indonesia? Pil KB? Anjuran memiliki dua anak saja cukup? Saya tak perlu menjawab hal tersebut, bukan! Anda sendiri sudah tahu jawabannya.

Sebentar, sebenarnya saya tak ingin menceritakan isi buku ini lebih jauh. Toh di awal paragraf saya sedikit menyinggung soal politik. Soal pemilu 9 Juni sebentar lagi. Siapa yang bakal anda pilih. Dengan embel-embel slogan mengguggah rasionalitas anda sebagai seorang warga negara. Pemilu yang katanya kewajiban yang harus dilakukan oleh semua warga negara Indonesia, demi menciptakan demokratisasi yang diimpikan selama ini. Demokrasi yang katanya dari rakyat, oleh rakyat untuk rakyat. Maka jika anda tidak memilih niscaya hidup anda selama 5 tahun ke depan akan tidak sama lagi seperti yang ada jalani saat ini. Tentu keterlaluan jika hidup anda selama 5 tahun ke depan masih tetap sama. Sama saja tak ada perubahan. Jelas ada: setidaknya anda lebih tua 5 tahun ke depan. Hidup anda, nasib anda ditentukan oleh kerja keras, usaha, ikhtiar anda sendiri. Barangkali sekali-kali anda meminta bantuan sanak keluarga, kawan dekat, tetangga karib atau bahkan pacar anda sendiri demi tetap hidup. Wajar!

Tapi perlu anda ingat, kehidupan anda itu bukanlah ditentukan oleh lingkungan tempat anda tinggal. Tempat anda kuliah, bekerja, atau malah tak punya tempat sama sekali seperti saya. Maka anda tak perlu susah payah untuk ikut memilih. Karena bagaimana pun juga suara anda milik anda sendiri. Ketika anda menyumbang suara, niscaya suara itu tak akan lagi dikembalikan. Anda akan diam, tidak bersuara lagi. Sekeras dan sekuat apapun anda berteriak anda akan tetap tak mengeluarkan suara.[]

 

Catatan kiranya penting untuk di baca terlebih dahulu:
*Buku Logika Hidup diterbitkan tahun 2011 oleh Penerbit PT.Gramedia Pustaka Utama, diterjemahkan dari buku The Logic of Life; The Rational Economics and Irrational World karya Tim Harford.
*Judul tulisan ini sedikit saya paksakan, barangkali yang lebih tepat adalah Logika Hidup Saya! bukan Kita!
*Saya tak berencana mengajak anda pembaca tulisan ini untuk golput, karena saya akan dikenai dosa jika anda melakukan hal itu tanpa anda pikirkan resiko bagi diri anda sendiri.
*Saya memang Golput. Kalaupun ada yang mau merubah pendirian saya, mari bicarakan soal biaya hidup saya selama 5 tahun ke depan. Niscaya saya berubah pikiran seketika, jika syarat ini dipenuhi!
*Remaja rentan pikirannya. Ia cenderung ikut-ikutan. Ketika ada trend yang lagi ‘in’ misalnya, selalu jadi rebutan, di sisi inilah Iklan, Provokasi media: Banner, Poster, Kampanye Hitam, hingga kabar dari mulut-ke-mulut yang belum diketahui kebenarannya seringkali mereka (remaja) yakini kebenarannya. Nah di sinilah letak permasalahannya. Bagaimana menyadarkan mereka? Saya tak bisa menjawabnya.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s