Entahlah

Sembilan bulan lamanya blog ini dibiarkan kosong. Sesekali saya melihatnya dari luar, dan tidak berusaha untuk masuk ke dalamnya. Ibarat wanita hamil, sudah seharusnya saya melahirkan sebuah gumaman baru di sini. Bukan sengaja untuk membiarkan blog ini suwung, dan mengupdatenya tepat 9 bulan lebih. Kalau mau dicarikan alasan kenapa blog ini tak diurus, tentu saya bisa mencarikannya beberapa. Soal aktivitas keseharian misalnya, bisa jadi alasan utamanya. Tapi itu tak saya coba tulis di sini sebagai permintaan maaf.

Aktivitas menulis seharusnya tak bisa diabaikan. Toh tulisan saya di sini hanyalah hal-hal yang tak penting-penting amat. Saya tak berusaha sedikitpun untuk ikut dalam arus mengkritisi isu yang sedang ramai diperbincangkan. Dalam kurun waktu sembilan bulan ini, tentu sudah banyak kejadian yang harusnya saya ikut ‘turut’ memperbincangkannya ke dalam kamarmuntah ini. Sayangnya kemalasanlah yang menjadi faktor utama. Seringkali saya mengerjakan sesuatu yang tidak mempunyai faedah atau manfaat bagi diri saya sendiri. Minimal membuat saya bahagia pun tak ada. Kegiatan literasi membaca-menulis, kini hanya membaca saja yang sa lakukan, menulis hanya sesekali saja, itupun dengan cara dipaksa. Aktivitas menulis ibarat mandi. Jika tak mandi dalam sehari, gatal rasanya. Herannya saya malah menikmati rasa gatal itu.

Kehadiran sosial media membunuh banyak hal bagi saya pribadi. Akun cuit misalnya; tak memberikan keleluasaan bagi saya untuk mengembangkan ide yang mau sa sampaikan. 140 karakter, saya harus mencari-cari kata yang tepat untuk menyampaikan ide-ide saya ke dalam cuitan tersebut. Kata-kata singkat, bahasa yang tak baku, kadang pula terkesan dipaksakan demi terpenuhinya 140 karakter. Belum lagi akun bukumuka. Akun sosmed yang menawarkan kesenangan untuk mencari-cari informasi-informasi terkini. Entah kadar kebenaran informasi tersebut valid atau malah tidak. Namun sosmed bukumuka mampu mengalihkan saya sampai 9 bulan lamanya untuk tak menulis hal tak penting di sini.

Saya sebenarnya khawatir dengan keadaan ini. Dipaksa menulis bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Tapi saya musti bersyukur dengan hal itu, sebab saya pun sedikit-sedikit kembali menulis. Saya rindu menulis hal-hal yang tak penting. Menulis muntahan-muntahan yang susah untuk diterima. Muntahan yang berbau menyengat laiknya tikus mati, berwarna kuning kecoklatan, dengan limpahan cairan kental serupa dahak. Bau dan bentuk yang tak enak untuk dihirup apalagi dihisap. Muntah yang tak sanggup membuat orang lain ikut muntah. Muntah yang justru membuat orang lain menyingkir dan tak mau kembali.

Muntah ini sukur-sukur melahirkan muntahan baru lagi. Saya harus sering-sering menjaga agar kamar ini tetap ada. Setidaknya membuat saya sendiri jijik untuk membacanya. Barangkali kemalasan ini harus saya ubah menjadi sesuatu yang lebih tak berguna lagi. Yah,minimal saya punya cara tersendiri untuk melihat seberapa kuat saya menjaga hal-hal yang tak penting ini tetap menjadi tak penting.

Kalau saya ditanya seseorang tentang apa yang paling membuatmu bahagia, tentu dengan lantang saya jawab; Entahlah!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s