Peminum Kopi Abal (I)

Soal rasa lidah tak bisa bohong, sebab selera tergantung pada tingkat kepekaan alias sensitifitas lidah masing-masing. Ini bukan sedang promo produk mie instan yang sangat saya butuhkan saat sedang tanggal-tanggal tua. Ini soal kopi. Soal berbagi pengalaman pribadi minum kopi, yang terus berevolusi semenjak kenal dan bergaul dengan para ahli-ahli kopi. Ahli kopi mulai dari penyuka kopi saset sampai kaum pemuja kopi spesiality (kopi mahal nan terbatas sekali keberadaannya, kalaupun ada jumlahnya sangatlah sedikit)

Saya termasuk generasi 90an. Generasi yang dibesarkan di lingkungan yang hanya menyukai kopi bubuk Kapal Api serta kopi-kopi instan Nescafe. Selain merk kopi tersebut saya tidak mau meminumnya. Hal ini disebabkan oleh Bapak saya. Yah, karena saya masih kecil dan belum punya uang sendiri. Satu-satunya uang yang saya punyai itu pun uang saku pemberian Bapak dan Ibu. Pagi hari sebelum berangkat kerja biasanya Bapak meminum kopi sachet Nescafe, sorenya setelah mandi barulah beliau meminum Kopi bubuk Kapal api. Saya yang selalu berangkat dan pulang bersama Bapak tak ketinggalan mengikuti kebiasaan ngopi tersebut. Hingga akhirnya kami sekeluarga pindah rumah, kebiasaan ngopi itu pun berubah.

Varian kopi dalam kemasan yang lengkap dengan gula, kadangkala juga susu dan krimer mulai bermunculan. Bapak saya pun mengalihkan kopi kesukaannya. Nescafe ia ganti dengan Top Coffee. Varian Original dan Mocha adalah kesukaan Bapak dan juga Ibu. Nescafe sudah terasa tidak enak lagi di lidah mereka, alasan lain mereka karena faktor harga. Kopi bubuk Kapal Api, masih tetap menjadi pilihan pertama Bapak di kala sore tiba. Saya yang sudah agak besar (SMP) sudah mulai meninggalkan kebiasaan minum kopi di rumah. Saya lebih suka minum kopi di luar, bersama teman-teman sekolah, di warung dan kedai kopi.

Pindah rumah berarti pindah lingkungan. Awalnya kami tinggal di Surabaya, dan sekarang menetap di Gresik. Gresik menawarkan warung kopi yang lebih menggoda daripada menikmati sajian kopi di rumah. Cangkir keramik, dengan gagang yang selalu patah, dan ampas kopi yang kental memudahkan untuk menyethe rokok serta harganya yang sangat murah. Hal-hal inilah yang mengubah kebiasaan minum kopi saya. Kopi yang disajikan warung-warung kopi di Gresik bukan kopi bubuk Kapal Api. Tiap kali saya bertanya, jawabannya selalu Bubuk kopi biasa, beli di pasar gresik. Penjual kopi di Gresik selalu menyebutnya bubuk kopi biasa. Aneh, padahal Gresik tak punya lahan/kebun kopi, bagaimana bisa mereka menyebutnya kopi gresik. Hal ini yang tak bisa saya pahami sampai sekarang. (bersambung)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s