Peminum Kopi Abal (II)

Kebiasaan minum kopi di warung kopi Gresik itulah membuat kesenangan saya terhadap kopi terus bertambah. Hingga akhirnya saya tiba di Jember untuk kuliah. Aktivitas minum kopi saya masih tak berubah. Warung-warung kopi di Gresik, saya coba cari di Jember, dan ketemu. Salah satunya tepat berada di belakang kampus; Warung Kopi Buleck. Kopi dengan ampas tebal yang cocok untuk dibuat nyethe. Saking banyaknya kopi, dalam sajian satu gelas kopi di Jember, bubuknya hampir separuh gelas. Pahit dan kental. Teknik menyeduh kopi dengan bubuk hampir separuh gelas kadang saya pakai untuk menikmati kopi di dalam kosan. Sayang rasanya tak sama seperti sajian kopi Bulek.

Saya pikir semakin banyak bubuk kopi dalam gelas, maka semakin pahit dan kental kopinya, otomatis rasanya pasti nikmat. Tapi ternyata anggapan itu keliru total. Kekentalan kopi ternyata dipengaruhi oleh teknik penyajiannya. Cara penyajian French Press serta Vietnam Drip-lah yang menyadarkan saya. Keragaman teknik penyajian ini saya dapatkan otodidak, dari berkunjung ke warung-warung kopi di Jember, dan juga ke beberapa pecinta kopi asli, bukan kopi bubuk bermerk seperti Kapal Api. Dari pengalaman inilah, aktivitas minumkopi saya berubah lagi.

Pengalaman minum kopi dengan keragaman teknik penyajian membuat saya mencari-cari literatur soal kopi. Mulai dari keragaman jenis kopi, proses panen, pasca panen, hingga proses penyajiannya. Saya bermaksud mencari sajian kopi yang pas untuk saya nikmati sendiri. Kebiasaan minum kopi pagi, dan sore tak bisa saya tinggalkan. Ditambah pula kebiasaan berkumpul di warung kopi bersama teman-teman, membuat saya harus merasakan sensasi rasa kopi yang berbeda-beda. Awalnya saya kesulitan, sebab kopi yang saya minum tak jauh-jauh dari kopi Bubuk Kapal Api, dan kopi buatan warung tradisional dengan bubuk yang dijual bebas di Pasar. Sajian kopi single origin yang kemudian mencerahkan hidup saya. Kedai-kedai kopi di Jember yang menawarkan kopi single origin dan varian teknik penyeduhan menjadi target tempat berkumpul yang baru. Harga kopinya sedikit lebih mahal dari sajian kopi warung tradisional, namun soal rasa, sensasi di lidah, itu tak bisa digantikan dengan harga berapapun. Kebiasaan ngopi ini mulai berkembang di kehidupan saya, setelah tinggal di Jogja. (bersambung)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s