Peminum Kopi Abal (III)

Jogja, yang disumpeki pelajar-pelajar dari seluruh Indonesia untuk menimba ilmu di perguruan tinggi membuat kota ini dijejali beragam kedai-kedai kopi. Warung-warung kopi tradisional jumlahnya sedikit sekali. Tradisi masyarakat Jogja yang lebih menyukai minuman teh daripada kopi menjadi salah satu alasan utamanya. Angkringan dulu saya anggap sebagai warung kopi tradisional khas Jogja. Sayangnya sajian kopi yang ditawarkan kebanyakan kopi sachet. Kalaupun kopi bubuk, Kapal Api menjadi pilihan utamanya. Kopi Joss, yang terkenal itu, hanya ada di beberapa angkringan saja. Itupun kopi yang diracik, kadang masih menggunakan kopi bubuk Kapal Api. Salahkah? Tentu tidak, namun bagi lidah saya yang terlanjur berevolusi menyukai kopi-kopi single origin, membuat rasa kopi bubuk biasa tak marem rasanya. Untunglah di beberapa kedai kopi Jogja, masih ada yang menawarkan kopi khas Gresik; seperti Blandongan, Mato dan juga Lembayung.

Kebiasaan berburu kopi masih tetap saya lakukan hingga saat ini. Kedai-kedai kopi di Jogja, terus saya singgahi, demi terpuaskannya libido saya akan kopi. Kopi single origin menjadi favorit saya saat ini. Penyajian French press yang paling saya gemari. Penyajian dengan metode ini menghasilkan rasa kopi yang pas dengan selera lidah saya. Alasan lainnya yang paling penting karena penyajian French Press menghasilkan kopi dalam jumlah yang sedikit lebih banyak. Metode penyajian kopi secara aeropress menarik saya untuk mencobanya, walau kopi yang disajikan jumlahnya lebih sedikit jika dibandingkan dengan French Press. Metode espresso juga pernah saya coba, namun karena jumlahnya lebih sedikit lagi, membuat sajian espresso tak cocok di lidah. Soal harga kadang juga jadi pertimbangan berat.

Varian penyajian kopi dan jenis-jenis kopi yang beragam jumlahnya, membuat saya tak bisa menentukan sajian kopi yang paling favorit. Aktivitas ngopi yang berubah-ubah inilah yang membuat saya menyukai semua sajian kopi. Lingkungan menjadi faktor penting yang mengubah aktivitas minum kopi saya. Setiap daerah menawarkan ciri khas sajian kopi yang berbeda-beda. Bagi saya semuanya menawarkan citarasa dan sensasi yang nikmat di lidah. Penikmat kopi yang tinggal di kota-kota besar tentu aktivitas ngopinya akan berbeda dengan orang-orang yang tinggal di desa. Saya beruntung termasuk ke dalam masyarakat yang pernah tinggal di kota dan desa. Kalau saya disuruh memilih, saya lebih suka tinggal di desa. Asalkan ada sebuah rumah dengan kebun kopi di halaman belakangnya. Kopi yang saya minum saya petik sendiri dari halaman belakang rumah.

Jadi siapa yang mau memberi saya rumah di desa lengkap dengan kebun kopinya?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s