Tugas Khutbah

Aktivitas berdakwah seperti ceramah, kultum hingga khutbah awalnya saya kira mudah sekali melaksanakannya. Tapi ternyata saya salah! Hal-hal tersebut tidaklah mudah untuk dilakukan. Hal tersebut terpaksa saya lakukan demi mendapatkan nilai dan melengkapi absensi perkuliahan wajib saya di kampus swasta Islami.

Dosen pembimbing mata kuliah ‘agama’ menyuruh tiap-tiap mahasiswa untuk membuat satu tulisan singkat yang nantinya akan dibacakan dengan model ceramah. Tulisan singkat yang bertujuan untuk dakwah. Dakwah di sini jangan hanya diartikan mengajak pendengarnya untuk merubah aktivitasnya yang salah, bukan juga untuk mengajak non muslim agar masuk Islam. Dakwah di sini lebih kepada bercerita yang mengungkapkan manfaat-manfaat atau ilmu bagi pendengarnya. Soal membuat tulisan macam gini mah, saya anggap mudah.

Tulisan yang dibuat masing-masing mahasiswa diharuskan untuk dibacakan selama 7-10 menit. Kalau lebih juga tak apa, asal jangan berjam-jam lamanya. Sampai tiba datangnya hari berceramah itu.

Kegiatan ini dilakukan di asrama Mahasiswa Kampus swasta Islami. Tiap mahasiswa dibagi menjadi 3 kelompok kecil. Masing-masing kelompok didampingi satu petugas yang mencatat nilai. Sebelum kegiatan dimulai, pendamping memberikan arahan kepada seluruh mahasiswa yang hadir saat itu. “Setiap laki-laki diharuskan untuk membawakan materi ceramahnya dengan gaya khutbah salat Jumat, sedang perempuan membawakannya dengan gaya kultum.”

Sontak laki-laki yang hadir, termasuk saya kaget mendengar keputusan tersebut. Pihak pendamping ternyata tak berkoordinasi dengan dosen pengampu mata kuliah. Ketika dosen di kelas memberikan tugas ceramah dengan gaya bebas, namun di asrama kami malah diharuskan membawakannya sesuai keinginan pendamping. Alasannya setiap mahasiswa dari semua prodi dengan mata kuliah yang sama, metode ceramah yang digunakan adalah sama. Laki-laki membawakannya khutbah Jumat, sedang perempuan membawakannya lebih bebas.

Untungnya kami (laki-laki) dibebaskan untuk membaca tulisan yang kami buat. Kami juga diperbolehkan membaca ayat-ayat wajib khutbah Jumat dari telepon pintar dan juga dari kitab-kitab yang sudah disediakan. Khutbah Jumat ternyata punya kekhasan sendiri. Bacaan awal khutbah, pertengahan kutbah, hingga penutup khutbah Jumat untungnya beredar bebas di jejaring internet. Yah, apa sih yang gak ada di Internet saat ini.

Tentu kemudahan ini ternyata tak berbanding lurus saat saya kebagian waktu maju untuk berkhutbah. Pelafalan ayat-ayat suci Al-Quran terakhir saya lakukan tidak tahu kapan tepatnya. Pembacaan quran yang sa lakukan hanya sebatas yang saya hapal. Sisanya saya baca terjemahan bahasa Indonesianya.

Pembacaan quran versi terjemahan Indonesianya saja ternyata juga susah. Beberapa kali saya musti mengulangnya, kadang saya lompati begitu saja. Beberapa ayat bahkan saya bacakan lirih; hanya saya saja yang bisa mendengarnya. Mulut, lidah dan mata saya nampaknya tidak dapat berkoordinasi dengan baik saat itu. Kontan, seluruh khutbah saya bacakan datar, tanpa adanya tekanan pada beberapa bagian kata. Tanpa ada gestur apapun. Lidah rasanya kaku dan berlipat-lipat sehingga apapun yang saya ucapkan membuat kuping saya berdengung tak paham maksudnya. Teks yang saya buat menjadi tak berguna sama sekali. Sepuluh menit yang menyiksa. Saya pingin segera turun dari mimbar dan segera pulang ke kosan saat itu. Beberapa teman yang belum kebagian maju juga merasa was-was, takut mengalami kesulitan-kesulitan seperti saya.

Selepas kejadian itu, saya tak berpikir tentang nilai ‘apa’ yang akan saya dapatkan. Sebab penilaian pendamping lebih kepada pembacaan (tulisan dan bacaan wajib khutbah), sikap, serta gestur dan ditutup dengan pembacaan doa-doa wajib dalam khutbah Jumat. Sesungguhnya yang saya lakukan saat maju berkhutbah saat itu hanyalah membaca saja, beberapa bacaan malah saya ucapkan dengan bergumam tak jelas. Kalau dibandingkan dengan anak SD disuruh membacakan karangan pendeknya, saya termasuk anak yang membaca dengan mengeja huruf demi huruf. Sial!

Sejak kejadian itu, saya mengubah pandangan terhadap seorang pendakwah, khususnya para pengkhutbah Jumat. Aktivitas yang mereka lakukan ternyata butuh pelatihan serta keahlian khusus. Sebenarnya keahlian ini bisa dipelajari. Dimulai dari yang sederhana; rutinitas mengaji misalnya. Kebiasaan mengaji rutin akan membantu seseorang menjadi fasih dalam membaca. Bukan fasih dalam menghafal. Sebab menghafal rentan lupa. Ini yang menjadi kendala saya pribadi sebenarnya. Hafalan beberapa surat-surat pendek Al-Quran saya kuasai sepenuhnya, namun ayat-ayat panjang serta surat-surat panjang lain dalam Al-Quran, saya hanya tahu sedikit bahkan ada yang tak tahu sama sekali. Yang penting mah hafal, urusan membaca bisa diatasi dengan cara mengeja perlahan-lahan, atau membaca teks bahasa Indonesianya saja.

Hal memalukan sebenarnya untuk saya ceritakan dalam blog ini. Namun catatan ini harus tersimpan. Minimal esok ketika saya membacanya lagi, saya akan mengumpat keras, sambil meneteskan air mata. Rindu akan masa-masa lalu. Masa di mana saya masih melihat segala jenis profesi yang berurusan dengan ceramah dan khutbah itu mudah. Ah! betapa salahnya anggapan saya. Menjadi seorang pengkhutbah Jumat saja tidak bisa, apalagi bercita-cita menjadi seorang ‘pengkhutbah super’ seperti Mario Teduh. Eh! Lebih baik jadi pendengar saja. Bebas untuk memilih kapan harus mendengar, kapan harus tidur.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s