Abyssinia, Kampung Halaman Kopi

Akademisi kajian historis, para ahli botanikal, hingga para peneliti bersepakat bahwa tanaman kopi pertama kali ditemukan tumbuh liar di Abyssinia pada abad ke 9 M. Tanaman kopi tumbuh liar dengan sangat subur di dataran tinggi Abyssinia, Ethiopia. Kondisi ekologis lingkungan, hutan-hutan alami di Ethiopia, serta iklim tropis memberi alasan yang kuat bagi para peneliti untuk menyimpulkan bahwa kopi memang berasal dari dataran tinggi Abyssinia. Koloni masyarakat arab yang kebanyakan tinggal di daerah Harar, Abyssinia, membantu pembudidayaan tanaman kopi serta penyebarannya ke kawasan Yemen, Arab. Pembudidayaan tanaman kopi cenderung lambat kala itu, sehingga penyebaran kopi dari Abyssinia ke kawasan Yaman baru terjadi secara besar-besaran pada abad ke 15 M.

Sebelum kopi dibudidayakan dan disebarluaskan ke seluruh dunia, Abyssinia adalah kampung halaman pertama tempat ditemukannya kopi. Tanaman kopi yang tumbuh di Abysinnia diklasifikasikan menjadi dua varietas kopi. Pertama; Harari Kopi, tanaman kopi yang dibudidayakan melalui pertanian sederhana. Kedua; Abyssinian Kopi, tanaman kopi yang tumbuh secara liar di dataran-dataran tinggi Abyssinia.

Tanaman kopi Harari, dibudidayakan di daerah Harari, bagian dari district Harar, Abyssinia. Pertanian yang masih mengandalkan sistem irigasi dari air pegunungan Abyssinia, serta mengandalkan panas matahari yang terpapar langsung pada tanaman kopi. Cara pertanian yang masih sangat sederhana. Sistem pertanian inilah yang kemudian diaplikasikan koloni masyarakat arab di Yaman, untuk pembudidayaan kopi Harari. Pembaharuan sistem pertanian di Yaman dengan menggunakan biji kopi Harari, menghasilkan biji kopi Yaman yang terkenal dengan sebutan Mocha Yaman.

Tanaman-tanaman kopi liar tersebut tumbuh subur dan banyak ditemukan di pegunungan Abyssinia, sebagian lagi ditemukan di propinsi Guma, Sidamo, dan Kaffa. Kopi liar yang tumbuh subur ini dikenal dengan nama wild arabica. Tanaman kopi liar yang tumbuh di daerah Kaffa, Abyssinia ini kemudian dikenal dengan nama Kaffa Coffee. Tanaman-tanaman kopi liar yang tumbuh subur di dataran tinggi dan sebagian propinsi di Abyssinia, Ethiopia tersebut, kemudian disebarluaskan untuk dikembangbiakan.

Map-of-Abyssinia

Pembudiyaan dua macam varietas kopi Abyssinia yang berbeda tersebut, berpengaruh pada hasil biji kopinya. Kedua-duanya adalah varietas coffee arabica. Biji kopi yang dihasilkan melalui pertanian di daerah, Harari, Galla dan sebagian tempat di Abyssinia menghasilkan biji kopi yang lebih sedikit jumlahnya dibandingkan tanaman kopi yang tumbuh liar. Biji kopi wild arabica, atau lebih dikenal sebagai Abyssinian, Kaffa coffee menghasilkan biji yang lebih kecil daripada Harari Coffee. Kopi liar yang tumbuh di sebagian dataran tinggi Abyssinia menghasilkan rasa kopi yang kurang kuat, rasa dan aromanya. Namun hasil panen biji kopi abyssinian lebih banyak daripada panen biji kopi yang dibudidayakan secara pertanian sederhana. Kesuburan tanah dataran tinggi Abyssinian, kondisi iklim yang lebih sejuk, serta cadangan air irigasi yang lebih besar, membuat tanaman kopi liar di Abyssinia tumbuh dengan kelimpahan bunga yang sangat banyak. Hal ini tentu karena kondisi hutan-hutan alami membuat tanaman pendamping kopi tumbuh lebih banyak, dan tentu membuat tanaman kopi mendapat nutrisi yang lebih, dan juga tidak terpapar langsung oleh sinar matahari.

Masa-masa penemuan biji kopi Arabica dari Abyssinia, hingga akhirnya dibudidayakan oleh masyarakat arab, di Harar dan dibawa ke Yaman, telah menghasilkan jenis-jenis kopi lainnya. Kopi jenis Robusta, Liberica, dan Excelsa. Robusta tumbuh di sekitar Kongo juga wilayah tropis Afrika lain dan Excelsa banyak ditemui di dataran rendah Afrika Barat dan Tengah. Sedangkan Liberica, tumbuh di sekitaran daerah bernama Liberia.

Coffee Map of Africa and Arabia / All About Coffee © Wiliam H. Ukers

Kini proses pembudidayaan tanaman kopi mengalami kemajuan pesat. Tanaman kopi yang dulunya hanya dibudidayakan secara alami (tumbuh liar) dan melalui pertanian sederhana, kini dikembangkan. Persilangan antara varietas kopi. Pembudidayaan bibit-bibit kopi jenis baru, pertanian yang lebih maju dengan inovasi-inovasi teknologi tinggi. Pemanfaatan hewan-hewan untuk membantu proses fermentasi biji kopi juga banyak dilakukan. Salah satu contohnya adalah kopi luwak. Luwak mampu menghasilkan kopi dengan citarasa kopi yang terbaik yang pernah ada di dunia, walau saat ini Kopi Gajah dari Thailand sedang ramai diperbincangkan dan diburu para penikmat kopi.

Pengelolaan tanaman kopi oleh masyarakat asli Abyssinian, Somaliland, dan belahan Afrika lain, relatif masih sangat sederhana. Metode yang sederhana inilah yang kemudian membuat kopi Abyssinia kalah bersaing dengan kopi daerah-daerah lain. Pohon kopi yang awalnya tumbuh liar dan dikembangkan di Abyssinian, Ethiopia kini telah menyebar dan dibudidayakan di negara-negara lain di seluruh dunia. Tanaman kopi kini tumbuh dengan baik di Indonesia, India, Arab, Mexico, Amerika Tengah dan Selatan, serta negara-negara beriklim tropis lainnya. Peradaban yang bergerak lambat dan efek perang berkepanjangan, serta permainan pasar adalah segelintir permasalahan yang membuat kopi Abyssinian kalah pamor.

Abyssinia, yang kini kita kenal sebagai Ethiopia masih menghasilkan kopi-kopi terbaik. Proses pembudidayaan, pengolahan serta sistem perdagangan kopi adalah hal-hal yang terus mereka perbaiki dan tingkatkan. Salah satu contoh kopi-kopi andalan mereka adalah Ethiopian Harar Coffee yang berasal dari daerah Harar, kopi Ethiopian Yirgacheffe yang berasal dari daerah di kota Yirga Cheffe, Provinsi Sidamo (Oromia) di Ethiopia.

Ethiopia yang sejak abad ke 6 M hingga kini, masih terus-menerus mengembangkan tanaman kopi arabika khas mereka. Ethiopia kini juga masih menjadi produsen kopi terbaik di Afrika, dan juga salah satu pengekspor kopi arabika di dunia. Pendapatan negara Ethiopia hampir sepertiganya disumbang dari hasil ekspor kopi. Kalau kampung kelahiran kopi, Ethiopia saja bisa tetap hidup dan terus mengembangkan kopi khas mereka, masa kita ‘Indonesia’ tak sanggup mencontohnya?

 

Referensi;
Wiliam H. Ukers; All About Coffee;
https://www.gutenberg.org/files/28500/28500-h/28500-h.htm

Artikel ini pertama kali dipublikasikan di sini dengan sedikit sentuhan editor web tersebut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s