Meningkatkan Harga Jual Kopi Rakyat

Sebelum mengenal proses pengolahan basah kopi, harga kopi hasil panen petani Sidomulyo selalu taksir rendah. Ini dikarenakan petani Sidomulyo masih mengandalkan proses pengolahan kering dan tidak dikelola dengan baik. Kopi hasil panen, petik merah, hijau dan kuning dicampur jadi satu dan kemudian dikeringkan di bawah sinar matahari dengan alas terpal. Kopi dijemur di depan halaman rumah. Bercampur debu dan kadang asap kendaraan. Petani tak pernah meributkan hal ini, yang penting kopi mereka bisa laku dan utang modal bertani bisa terbayar. Entah itu kembali modal atau malah rugi.

Kelompok Tani Sidomulyo kemudian perlahan-lahan belajar cara panen kopi, pengolahan kopi hingga mengukur kadar air kopi. Bahkan sekarang sampai ke proses pengepakan menjadi bubuk kopi.

Petani-petani kopi di Sidomulyo sepertinya telah hapal teknik pengolahan kopi pascapanen. Pak Sunardi (41 tahun) adalah salah satu contohnya. Kopi yang sudah siap panen, dipetik dengan bantuan beberapa buruh petik. Biasanya 1 hektar kebun kopi membutuhkan 6 hingga 8 orang tenaga pemetik. Masa panen itu berlangsung mulai Juni hingga September. Setelah petik kopi dilakukan, dalam waktu minimal 15 hari berikutnya kopi sudah bisa dipanen kembali. Tanaman kopi robusta Sidomulyo idealnya dipetik sebanyak 4 kali.

Pak Sunardi bercerita tentang proses panen kopi. Proses petik kopi ini cukup membantu pemasukan bagi ibu-ibu rumah tangga di desanya. Tak sampai di situ saja, proses sortasi kopi juga membutuhkan bantuan buruh tani. Dalam sehari upah buruh saat panen kopi sekitar Rp30 ribu- Rp40 ribu, tergantung luasan kebun kopi.

Proses pengolahan pascapanen Kopi Sidomulyo ada dua. Kopi asalan dengan metode pengolahan kering, dan biji kopi hasil pengolahan basah. Kedua produk pascapanen kopi Sidomulyo itu diambil oleh PT. Indokom Citra Persada, salah satu eksportir kopi terbesar di Indonesia. Khusus untuk kopi hasil proses pengolahan basah kopi, mendapatkan harga lebih tinggi.

Untuk olah basah prosesnya dimulai dengan panenan kopi yang terkumpul ditimbang beratnya. Kemudian dimasukkan pulper, di mana hasilnya langsung difermentasi dalam bak khusus selama 24 jam. Setelah itu hasil fermentasi dijemur di bawah sinar matahari selama 1 hari. Setelahnya, kopi dikumpulkan untuk disortir. Kopi beras yang sudah kering dikemas dan selanjutnya diambil oleh PT. Indokom. Sedangkan kopi yang masih basah, dengan tampilan fisik kopi masih terbungkus kulit kambium, dimasukkan pulper dan hasilnya akan dikeringkan selama satu hari lagi. Hingga kadar airnya berada di bawah 20%.

Pengolahan kopi asalan atau dry process hasil panen petani Sidomulyo tak seketat proses pengolahan basah. Kopi hasil panen ditimbang dan kemudian dikeringkan selama 1 hari. Setelah dikemas akan diambil oleh PT. Indokom. Satu kilogram kopi asalan dihargai Rp23 ribu.

Proses pengolahan kopi robusta dengan metode wet process bernilai jual tinggi. Satu kilogramnya dihargai Rp30 hingga Rp40 ribu. Pak Sunardi, salah satu bagian operasional pengolahan kopi pascapanen bercerita, kopi robusta Sidomulyo dulunya hanya dihargai murah karena hanya menggunakan metode pengolahan kering, dijemur di atas terpal di depan rumah. Semenjak ada proses pengolahan basah kopi, kami petani kopi sedikit diuntungkan. Ditambah lagi, kini kami mempunyai pabrik pengolahan kopi pascapanen. Pabrik ini dinaungi oleh Koperasi Ketakasi hasil kerjasama dengan Disbun Jember dan Universitas Jember. Dengan adanya fasilitas dan ilmu untuk mengolah kopi pascapanen, kini petani Kopi Sidomulyo mampu menjual kopi bubuk olahan sendiri dengan label Kopi Ketakasi Sidomulyo.

Pak Sunardi melanjutkan ceritanya. Walau proses pengolahan kopi sudah dilakukan dengan baik, jumlah panen kopi sangat bergantung pada cuaca. Cuaca yang sangat panas justru malah merusak produktivitas tanaman kopi. Idealnya, dari luasan lahan 250 Ha yang ditanami kopi mampu menghasilkan 250 ton kopi. Atau perbandingannya 1 Ha menghasilkan 1 ton kopi. Tahun 2015 kemarin, kebun kopi di Sidomulyo mampu menghasilkan 250 ton kopi. Tahun ini produktivitas kopi berkurang, dari 250 Ha hanya mampu menghasilkan 200 ton kopi. Perubahan iklim menjadi salah satu faktor penting penurunan hasil panen kopi Sidomulyo.

Pabrik pengolahan kopi di Desa Sidomulyo sudah cukup lengkap. Pabrik ini baru berusia satu tahun. Ada pulper untuk mengelupas kulit ari kopi. Bak fermentasi juga sudah tersedia. Hingga alat roasting kopi berkapasitas 15 kg juga sudah tersedia, dan semuanya dijalankan oleh anggota Koperasi Ketakasi.

Progam penanaman kopi secara organik sedang digalakkan oleh Petani Kopi Sidomulyo. Sebanyak 25 Ha kebun kopi ditanami dan dirawat secara organik. Progam ini baru berjalan selama setahun. Dari 1 Ha kebun kopi organik untuk sementara ini masih menghasilkan 6 kuintal kopi. Harapannya tahun depan produktivitas kopi hasil kebun organik ini mampu menghasilkan dua kali lipat dari hasil panen sekarang.

banner-ekspedisi-kopi

Ekspedisi Kopi Miko 2016

Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di sini.