Perkara Dua Ribu

Namanya M. Qomarudin, biasa dipanggil Qomar. Sialnya dia tak mau dipanggil nama tersebut. Ia memilih nama panggilan lain, jadinya adalah Como Bacomboy, Como! Bukan layaknya tokoh yang selalu diceritakan Kak Seto, si komo. Delapan tahun lebih kuliah pertanian ia selesaikan di Jember. Bukan karena malas, namun aktivitasnya menyaratkan dia kudu bepergian jauh ke beberapa daerah di Indonesia. Skripsinya tiga kali ganti judul, tentu saja jika dihitung waktunya, itu sama dengan 3 tahun.

Sebagai sarjana pertanian, Como sangat pintar dalam hitung-menghitung. Berbekal kemampuan tersebut, Angkringan Mojok merekrutnya sebagai kasir.

Como Bacomboy, nama baptis dari Muhammad Qomarudin

Di suatu malam minggu yang ramai, terjadi sedikit keributan transaksi di meja kasir AngMo. Saya sempat menguping kejadian itu.

Pelanggan: Sudah mas, berapa total semua?
Como: Iya mbak, tadi habis makan satu nasi sambel, es jeruk dua yah?

Pelanggan: Iya mas, berapa jadinya?
Como: Delapan belas ribu rupiah, mbak.

Pelanggan, mengeluarkan selembar lima puluhan.
Como menerima uang tersebut dan siap menjujuli. Tapi, tiba-tiba Como meminta pelanggan mengeluarkan lagi uang Rp2.000

Pelanggan sedikit kebingungan, dan menyerahkan uang dua ribu rupiah.
Como menyerahkan uang kembalian Rp32.000

Pelanggan makin bingung, mas Kasir harusnya kembalian saya jadi Rp34.000 karena tadi dua ribu saya kasih ke mas.
Como: Panggil saya Como saja, jangan mas, atau mas kasir, biar lebih akrab gitu mbak. Hehe

Pelanggan: (makin kesal) loh mas, saya gak nanya nama dan gak mau tahu situ siapa.
Como: Ya, barangkali mbaknya mau mengenal saya lebih jauh lagi. Kembaliannya memang Rp32.000. Dua ribu tadi saya pinjam dan simpan, biar besok mbaknya ke sini lagi dan bertemu saya.

Pelanggan tiba-tiba mengambil nafas panjang dan dihembuskan pelan-pelan ke muka si kasir dan berkata: Oh, gitu ya mas, ya udah deh, besok saya ke sini lagi sambil bawa tunangan saya. Makasih mas Como kasir.

Como langsung menundukkan kepalanya, hanya diam saja, dan pelan-pelan melirik mbak pelanggan yang pergi meninggalkan AngMo.

Advertisements

Mencicipi Kopi Wonosobo (Part 2)

Kiriman kedua kopi rahasia saya coba kemarin. Rasanya tak terlalu kuat seperti kopi pertama yang saya coba. Kopi kedua ini bijinya agak lonjong dan sedikit besar. Saya tebak ini pasti Arabika. Oh, iya si pengirim kopi rahasia ini akhirnya membalas japrian saya.

Namanya mas Akhmad Zaen. Masih muda dan berkuliah. Zaen ini baru pertama mencoba memproduksi kopi asal daerahnya. Minumkopi berkesempatan mencicipi produksi pertamanya. Kedua kopi yang ia kirim berasal dari Desa Slukatan, Mojotengah, Wonosobo.

Kopi pertama yang saya cicipi sesuai status di bawah ini adalah kopi Lanang. Sedang kopi keduanya yang saya cicipi kemarin adalah kopi Arabika. Tipikal rasa keduanya hampir mirip. Cuman rasa kopi Lanang sedikit nendang di lidah saya. Ketika saya tanyai lebih lanjut kepada Zaen, kopi produksi pertamanya ini masih perlu diperbaiki.

Proses pasca panen kopi kirimannya adalah metode fullwash, di roasting medium di tempat temannya, dengan mesin roasting kapasitas kecil, hanya satu kilogram. Roasting yang sudah cukup bagus, karena keseragaman warna kopi yang dihasilkan. Dapat anda lihat di bawah ini.

Secara rasa, kopi Arabika dari Desa Slukatan Mojotengah Wonosobo ini punya potensi cita rasa yang khas. Aromanya wangi, dan rasa yang yang keluar ada manis, asam dan pahit. Tinggal bagaimana proses pengolahan kopi yang akan dipilih. Saya kira metode ini bisa diutak-atik oleh Zaen. Begitupun dengan profil roasting, Zaen masih kurang nyaman dengan hasil roasting manualnya. Rasa kopinya masih kurang nendang apabila memakai rasio penyeduhan 1: 15, perlu lebih banyak memakai kopi, dengan rasio sekitar 1:10. Tentu anda bisa mencobanya sendiri, karena rasa kopi yang dihasilkan tiap-tiap orang tentu berbeda. Soal rasio kopi ini tiap orang bisa berbeda-beda loh. Tak bisa dijadikan patokan standar. Mengapa? Yah karena faktor air yang digunakan, suhu air, gilingan kopi, serta metode seduh. Percayalah, menyeduh kopi masa kini sudah terlalu banyak cara, tinggal anda sreg, dan banyak bereksperimen. Bahkan cara menyeduh kopi tubruk pun ada banyak pilihannya. Gak percaya nih. Yawdh c gpp.

Bagi yang ingin menikmati rasa dan memesan kopi produk dari Desa Slukatan Mojotengah Wonosobo bisa menghubungi akun Twitter Akhmad Zaen di @xsuren

Bagi Anda yang punya produk kopi dan ingin memperkenalkan pada publik, bisa menghubungi minumkopi.com jangan sungkan, dan tak dipungut biaya.

Mencicipi Kopi Wonosobo (Part 1)

Pagi ini (20/7/2017) saya mendapat kiriman dua bungkus roast bean kopi dari saudara Akhmad Zaen. Beliau menghubungi tim minumkopi untuk mencicipi kopi hasil roasting manualnya. Saya bersyukur mendapat kesempatan pertama mencicipinya.

Grinder manual sebagai alat menggiling roast beans kopi Wonosobo @ Rizki AS

Saya buka kemasan kopi polos berwarna coklat terang kirimannya. Sleeeenng, bau wangi menyerbak hidung saya. Satu kantong wangi cokelat, satu lagi wangi bunga. Saya tak bisa menjelaskan bunga apa yang wanginya mirip kopi ini. Saya lantas mengambil grinder manual di tempat persembunyian rahasia saya. Grinder manual yang langsung rusak karena saat awal beli saya langsung menghajarnya dengan menggiling kopi setelan espreso, halus sekali. Saya harus menunggu beberapa bulan untuk mendapatkan burr, dan gerigi grinder sparepart pengganti. Akibat kejadian ini, saya menggiling kopi perlahan-lahan, dimulai dari setelan kasar hingga paling halus.

Roast Bean Kopi Wonosobo yang dikirim oleh kawan Wonosobo @ Rizki AS

Kopi pertama yang saya cicipi adalah kopi bulat kecil, bundar tidak lonjong, berwarna coklat kehitaman, berbau wangi cokelat dan ada sedikit bau mentega. Kamu gak tahu jenis kopi yang saya maksud ini, silakan googling sendiri yah. Buka Mozilla anda, ketik Google, lalu masukkan kata: kopi bulat kecil, bundar. Tet, anda akan ketemu banyak jawabannya.

Lanjut kerja. Saya giling beberapa kali dengan sangat berhati-hati, ya, harap maklumlah, saya takut grinder rusak lagi. Menunggu adanya sparepart pengganti grinder ini tuh lama beud.

Kopi sudah saya rasa pas untuk diseduh dengan french press alias plunger. Hari ini saya bangun terlalu pagi, dan sudah menghabiskan 300 ml kopi tubruk. Mencicipi kopi kiriman ini dengan tubruk, bisa modyar perut saya. Maka dari itu saya memilih menyeduh dengan french press.

Hasil gilingan grinder manual, saya giling sebanyak tiga kali dari kasar sampai ukuran medium @ Rizki AS

Sembari menunggu waktu selama 4 menit saya bekerja produktif dengan aktivitas memandang ampas kopi turun ke bagian bawah plunger. Sebuah pekerjaan menyenangkan. Lewat 4 menit, saya tekan plunger, dan saya tuang dalam gelas keramik kecil. Cangkir putih khas gelas ngopi di warung Jawa Timuran. Sayangnya gagang pegangannya masih lengkap, belum sempat saya tugel.

Seduhan kopi, berbau wangi, ada aroma anggur dan kacang-kacangan. Warna seduhannya tak terlalu hitam dop. Masih berwarna coklat gelap. Duh, penggambaran warna saya sungguh buruk, untung muka saya sedikit lebih baik.

Sruput pertama, rasanya kurang. Saya seruput lagi tiga kali. Kopi ini manis, padahal gak ada gula. Tak ada pahitnya, kecut pun enggak. After tastenya manis. Saya menunggu beberapa menit, agar suhunya sedikit mendingin. Saya sruput lagi. Ada sensasi berbeda, kini after tastenya berubah, menjadi sedikit pahit, manisnya masih terasa. Ini lidah saya kenapa sih. Saya tunggu beberapa menit kemudian sruput lagi. Rasanya kini sedikit kecut, aftertastenya pahit menyenangkan. Menyenangkan karena rasanya pahitnya tak seperti mengemut tablet parasetamol.

Saya penasaran, ingin tahu asal kopi yang saya cicipi. Saya langsung menjapri si pengirim, Akhmad Zaen. Balasan yang saya tunggu akhirnya…….(bersambung ya)

Saat dingin, kecutnya terasa kuat, aftertastenya pahit. Sensasi rasa yang saya bagikan ini tidak bisa menjadi patokan loh ya, karena setiap lidah punya kemampuan merasakan hal yang berbeda dengan yang saya rasakan. Lha, gimana, saya minum wiski aja berasa asin padahal gelasnya gak dikasih garam. Eh…