Gelang

Sedari SMP saya suka memakai gelang. Awalnya adalah karet bekas nasi bungkus, saya gunakan sebagai gelang. Kemudian, berlanjut ke pita rambut teman-teman perempuan saya. Karet dan pita rambut tersebut saya pakai hingga kulit pergelangan tangan saya membekas hebat, karena saking ketatnya itu gelang. Ketika sudah membekas itu barulah gelang tersebut saya lepas. Tren gelang kemudian beralih ke karet drum, saya pun ikut-ikutan memakainya. Pernah sampai 10 gelang karet drum saya pakai selama seminggu. Sialnya kulit saya jadi gatal-gatal. Dan gelang karet drum tersebut saya lepaskan untuk selamanya.

Berlanjut ke masa SMA, kesukaan memakai gelang saya tinggalkan sejenak. Aktivitas meramu, meracik puyer, membuat kapsul, hingga membuat larutan farmasi membuat saya takut memakai gelang. Kalau ada zat kimia yang tertinggal di gelang, kulit saya bisa jadi tak seputih sekarang. Beraktivitas dengan zat-zat kimia yang reaktif butuh tindakan yang hati-hati.

Lulus SMA, dan lanjut kuliah, saya mulai memakai gelang lagi. Gelang yang saya pakai kebanyakan kepunyaan adik dan Ibu saya. Gelang bunder-bunder kecil sederhana tanpa manik-manik itu incaran saya. Lamat laun kebiasaan memakai gelang gratisan ini saya ubah.

Masa kuliah adalah masa bersenang-senang bagi saya. Bukannya fokus menyelesaikan studi, saya justru bermain dan berjalan-jalan ke beberapa daerah di Indonesia. Kesempatan jalan-jalan ini selalu saya manfaatkan untuk berburu gelang. Satu hingga dua gelang selalu saya beli di tempat yang saya singgahi.

Ada satu gelang yang cukup punya kenangan istimewa bagi saya. Gelang kayu diubet-ubetkan langsung ke tangan pemiliknya. Gelang ini saya dapatkan dari Banjarmasin. Tepatnya di pedalaman, di suku Dayak di sana. Gelang ini masih saya pakai hingga sekarang.

Gelang lainnya, saya beli di pusat souvenir di beberapa tempat. Ada dari Malang, Bromo, Semeru, Jogja, Martapura, dan sisanya diberi oleh kawan-kawan baik saya.

Gelang yang saya pakai ini terus bertambah hingga saat ini. Gelang yang tak pernah saya lepas ketika beraktivitas harian. Oh, ada satu momen yang mengharuskan saya mencopot seluruh gelang ini. Saat saya sedang melangsungkan ujian akhir semester, dua tahun lalu di bangku kuliah. Aturan yang mengharuskan laki-laki tak boleh berpenampilan seperti perempuan, dan berlaku juga sebaliknya.

Gegara aturan ini, saya menghabiskan waktu setengah jam hanya untuk mencopot seluruh gelang yang melekat di tangan saya.

Total ada 13 gelang yang terpakai di pergelangan tangan saya yang putih ini. Saya pun masih akan menambah jumlah gelang di tangan ini hingga nanti berjumlah 27. Kenapa harus 27? Karena setelah 26 adalah 27. Itu.

Jumlahnya ada 13 gelang yang saya pakai hingga saat ini

Bagi kawan-kawan yang punya gelang spesial dan jarang ada di pasaran, jangan sungkan-sungkan menghubungi saya. Niscaya saya beli. Kalau dikasih gratisan ya Alhamdulillah. Hehehe….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s